« June 2007 | Main | August 2007 »

Die Hard 4.0

  Kemaren jam 16.30 aku, Eva dan 2 orang teman gurunya nonton filmnya Om Bruce Willis di “Die Hard 4.0” di bioskop 21 Ciwalk. Karena ada program beli karcis murah di sebuah Bank yang diikuti salah satu teman Eva, maka sore itu hanya dengan mengeluarkan 10 ribu perak, bisa nonton deh di tempat yang lumayan nyaman dah.
Cerita filmnya sendiri dimulai dengan sebuah transaksi antara seorang pemuda (yang kemudian menjadi partner main bintang utama di film itu) dengan seorang perempuan keturunan China – Eropa gitu. Transaksi yang dilakukan secara virtual tersebut, sempat diragukan oleh sang pemuda dengan pertanyaan “Apakah ini legal?”. Dan, dengan suara seksinya, sang perempuan berhasil meyakinkan pemuda tadi untuk mengirim hasil kerja. Film selanjutnya menunjukkan serangkaian pembunuhan dengan cara di bom-nya beberapa rumah tiap kali sang pemilik rumah menekn tombol “delete” di komputer dan serangan lain yang satu-satu menyerang Washington DC. Sembari itu muncul credit tittle dari pemain dan kru film tersebut.
Film bener-bener dimulai ketika Om Bruce yang berperen sebagai Jhon McClane (tua-tua keladi euy… biar udah keliatan tua, teteup ganteng rek!) mendapati putrinya yang lagi indehoy dengan calon pacarnya (pembicaraan mereka menjadi guyonan segar dengan istilah “calon pacar” tadi). Maksudnya si Om Jhon itu sih baek, tapi anaknya, Lucy, menganggap sebagai turut campur sang bapak yang berlebihan. Bahkan kemudian dia nggak mau make nama belakang bapaknya sebagai nama belakangnya juga.
Habis itu, Jhon mendapat tugas dari FBI, tempat dia bekerja untuk mencari seorang hacker komputer yang nama belakangnya “Mattew”. Berbekal dengan itu, nggak tahu gimana caranya, Jhon berhasil mendapatkan rumah pemuda pertama tadi yang kemudian ketahuan namanya sebagai Mattew Farrel (apa Farrel Mattew ya? Halah….) Awalnya si Dek Farrel ini malas menerima kedatangan Jhon yang ternyata bertitel “detektif”, tapi karena ketahuan juga bahwa di saat yang sama ada percobaan pembunuhan kepada dirinya dan Jhon berusaha menyelamatkan, maka seharian itu mereka berdua jadi teman jalan.
Cerita berlanjut dengan cerita keduanya menyusuri jalan dan keadaan kota DC yang makin kacau balau dengan serangan virtual yang FBI sendiri nggak tahu darimana. Sarana-sarana umum mulai diutak atik jadi berantakan, tabrakan di sana sini, kebingungan masyarakat nggak bisa dihindari bahkan virtual gedung putih yang hancur (untung boongan meski sempat buat waktir semua penguasa FBI) dan banyak lagi yang intinya membuat khawatir kota tempat berdiam Presiden US itu. Tentu saja, karena hal ini jadi sibuk semua deh…
Nah, ketika Jhon membawa Farrel, yang tersadar bahwa apa yang diperbuatnya menimbulkan masalah besuar begitu, Jhon sempat dicuekin Bowman selaku pimpinan di sana. Apalagi ketika ia melihat Farrel, pemuda kurus, berantakan, stres dan sedang kelaparan akibat dikejar-kejar daritadi. Tapi, ketika Farrel mengatakan semua itu adalah serangan total dan menyatakan beberapa bukti, mereka berdua diminta untuk ke Dept. Pertahanan saja.
Sayangnya, sebelum sampai di sana, keduanya masih juga diburu oleh orang-orang yang memang bertugas untuk membunuh Farrel.
Untungnya, si pemuda ceking itu bersama seorang jagoan, maka ia nggak perlu kuatir dan akan merasa aman ketika bersamanya. Bahkan dengan mobil polisi yang udah nabrak sana sini, setelah Jhon keluar dari mobilnya, tiba-tiba aja mobil itu melayang dan menabrak helikopter yang sedari tadi mengincar mereka dan terbang rendah. *Bom* meledaklah mobil dan helikopternya. Hebat.
Lebih hebatnya, ternyata salah satu penumpangnya masih selamat tuh dan memberi laporan kepada bosnya yang makin BT aja, inceran utama mereka lolos bersama sang jagoan.(ckckckck... dasar pilem)
Selanjutnya cerita berlanjut tentang penyelamatan Pak Jhon dan Farrel atas yang terjadi di kota penting itu. Jhon yang gaptek dan Farrel yang penakut menyatu bersama untuk mencoba meminimalisir serangan lebih lanjut. Mereka saling melengkapi. Misi jug aditambah dengan penyelamatan atas Lucy yang ditawan Thomas Gabriel selaku otak dari rangkaian teror selama ini. (nggak basi juga ide cerita seperti itu ya?) Seperti kebanyakan film heroik Hollywood lainnya, film ini memang mau menampilkan seorang tokoh utama yang sangat jagoan untuk menyelamatkan kota. Biar separah apa pun luka yang diderita, bahkan sampe berdarah-darah (hiii… aku sebel sebenernya kalo ada adegan pake darah begini) atau diserbu sama banyak musuh bahkan berkelahi dengan sang cewek bersuara seksi yang ternyata jagoan kungfu dan punya nyawa 10 itu (saking susah matinya), nyatanya pahlawan mah teteup pahlawan.
Akhir cerita sih bisa ditebak deh.
Nggak jauh-jauh kok dari glory.
Tapi, ada satu perbincangan yang bagiku sangat menarik. Perbincangan ini terjadi antara Jhon dan Farrel ketika mereka mencoba lepas dari pembunuhan kesekian kali dan berusaha menyelamatkan kota dengan menuju pusat kendali listrik di sebelah Virginia Barat. Kurang lebih obrolannya begini:

Farrel : Kamu memang pahlawan (sambil melirik Jhon)
Jhon : (senyum-senyum saja) Apa sih pahlawan itu? Hanya sebuah sebutan. Selebihnya? Dicerai istri, tidak diaku ayah oleh anaknya dan hanya dapat pujian sambil tepukan di punggung lalu bla-bla-bla. Selanjutnya? Dilupakan.
Farrel : Tapi dalam 6 jam ini kamu sudah menyelamatkanku 10 kali. Lalu, kenapa kamu mau menjadi seorang pahlawan?
Jhon : Ya, karena kalau tidak ada yang mau, siapa yang mau lagi? Harus ada yang memulai.

Well.
Jadi, bakal tetep jadi pahlawan nih, Om Jhon bin Bruce?
Berarti bakal ada Die Hard 5,6,7,8…nih….

                            

Papaku berdasi

Hari-hari gini nih, hari-hari dimana anak sekolah memulai tahun ajaran barunya. Jalanan suka mendadak ramai dengan anak-anak sekolah yang memakain seragam baru.

Fira, keponakan tercintaku, anaknya Mas Tio, sudah jadi anak SMP sekarang. Puji Tuhan, Alhamdulilah, dia diterima di SMPN 5, salah satu SMP terkenal di Bandung. Padahal dulu-dulunya diragukan. Dibanding Nadin, adeknya, si Teteh Fira ini secara hasil nilai rapor selama ini sedikit di bawah adeknya. Jadi, Ayahnya pun nggak berharap banyak dia bisa masuk di Negri. Si Adek Nadin saja yang berani ngatain Tetehnya, "Ah, paling Teteh juga bakal balik lagi sama Nadin di Darul Hikam (sekolah mereka sejak TK). Tenang aja, Teh..."

Dan, ternyata Teteh Fira berhasil membuktikan dia mampu untuk membuktikan tantangan masuk ke sekolah negri. Sebagai Tante tercintanya, bangga dong keponakannya bisa begitu.

Tapi, yang pengen aku ceritakan hari ini bukan itu sebenernya.

Di depan kantorku itu, ada TK yang konon uang masuknya aja bisa 5-10 juta!

Bujubuneng... hehe... (kalo kata temanku, mending gua masukin langsung aja anak gue ke perguruan tinggi daripada ke TK dulu...)

Nah, hari gini nih, buat TK A alias kelas 0 kecil, adalah hari pertama mereka dilatih untuk nggak ditungguin orang tuanya. Biar orang tuanya suka nyuri-nyuri cara biar bisa nungguin, tetep aja susah untuk mengamati gerak gerik mereka. Alhasil, tangisan dan jeritan karena ditinggal Mama Papanya jelas banget terdengar di telingaku. Lha wong kantorku dan TK itu deketan banget.

Aku sih nggak masalah. Malah kadang jadi hiburan tersendiri. Habis suka lucu-lucu sih. Udah pipinya tembem, rada ndut, kulitnya putih jadi begitu dia nangis atau teriak, merah deh semuanya. Huaa... pengen nyubit.

Cuman, diantara kelucuan anak-anak itu, 1 hal yang bikin aku suka tertegun sekaligus terharu. Ini nggak ada hubungannya dengan mereka. Justru berhubungan dengan orang tua mereka.

Sekitar jam 10.00 WIB, waktunya anak-anak kelas A itu pulang sekolah. Nah, pas saat itu tuh orang tua mereka akan berkerubung di depan pintu sekolah. Kalo pas bubaran gini, segala macam jenis penjemput ada deh. Dari supir, baby sitter, Mama-mamanya (yg sering banget jadi bahan cuci mata karena dandanan mereka ya *wow* dan dapet julukan "macan" = mak-mak cantik) sampe..., yang ini nih yg tadi aku bilang bikin terharu: Papa mereka yang masih berdasi.

Kalo Mamanya jemput, itu biasa. Supir atau baby sitternya malah sudah sangat biasa. Tapi, kalo Papanya yang masih mengenakan dasi rapi, baju juga masih belum kusut dan terlihat sekali membagi waktu antara kerja dan menjemput anak (terlihat dari sibuk nelpon nyuruh ini itu, tapi begitu anaknya keluar menyudahi), kalau aku menjadi anaknya, aku pasti akan merasa senang dan bangga. Sesibuk apa pun Papaku ternyata masih mau meluangkan waktu untuk menjemputku. Uhhh..., ini pemandangan indah buatku.

Perkara nantinya belum tentu ada waktu lagi, momen awal-awal sekolah itu pasti punya kesan tersendiri. Setidaknya itulah salah satu cara supaya sang Papa yang sibuk bisa dekat dengan anaknya.

Jadi inget si kembar Lintang-Wahyu. Tiap pagi, ayahnya nggak lupa "pa-pung" alias mandikan mereka. Setelah mandi, pasti mereka bertiga akan nonton VCD lagu atau permainan anak-anak sambil makan pagi. Buat Koko, sang ayah, ini adalah tugas wajib yang nggak bisa ditinggalkan. Kalo mandi sore, Koko mengusahakan karena dia kan karena pulang kerjanya suka ga tentu. Paling Endah, sang istri, Ibu Lintang-Wahyu yang menggantikan.

Ahhh... senang ya dapat perhatian dari ortu gini. Meski mungkin dianggap kecil dan sepele.

...tentang arti seorang...

Nikah3 Sahabat sejati adalah:

* .... membuat kita merasa dicintai di seluruh dunia.
* .... tidak mengukur persahabatan Anda dengan waktu yang Anda habiskan bersamanya.
" .... seperti pintu yang terbuka, tapi bukan keset yang bisa diinjak.
* .... mengerti bila Anda terlalu sedih untuk bicara, dan tahu keberadaannya bisa mengurangi kesedihan itu.
* .... tidak buta terhadap kesalahan Anda, tapi mereka bisa melihat ke balik kesalahan itu.
* .... tidak akan menutup telepon ketika Anda memintanya menunggu.
* .... bisa mengubah pertengkaran menjadi tawa
* .... merupakan karunia terbesar dan yang paling sedikit kita pikirkan untuk memperolehnya
* .... yang mampu mengeluarkan apa yang terbaik dari diri Anda.

Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada menyakiti seorang sahabat..., tidak ada yang lebih menyembuhkan daripada dimaafkan seorang sahabat.

Persahabatan terdiri dari telinga yang mau mendengar, hati yang mau memahami dan tangan yang siap menolong.

Seleksilah kawan-kawan Anda dengan menggunakan tangan yang dibungkus sarung tangan sutera dan pertahankan mereka dengan tangan yang terbungkus sarung tangan kulit yang keras.

Persahabatan dibangun atas komitmen untuk menjadi seorang sabahat bukan di atas keinginan untuk memperoleh seorang sahabat

"Dalam Masa kejayaan, teman-teman mengenal siapa kita. Dalam kesengsaraan, kita mengenal siapa teman-teman kita."

Berita Lelayu

Kado2 Kemarin, 24 Juli 2007,  aku mendapatkan 2 berita sedih. Dua-duanya tentang berita kematian dari dua orang yang kukenal baik.

Yang pertama adalah Om Ci, Om sepupu jauh yang meninggal karena sakit di Purwokerto. Nyaris setahun lalu, aku pernah bertemu beliau dalam penguburan keponakannya di Cirebon. Waktu itu dia bilang kalo dia sudah bnyk melakukan diet supaya meringankan sakitnya. Kalo nggak salah diabetes. Tp, dia tetap merokok. Meski nggak sekereta waktu lalu.

Waktu kemaren nggak sengaja aku mengontak Mas Tio, kakak sepupuku, dan ketauan deh berita itu. Sedih sih, apalagi aku memang nggak seberapa dekat dng Om sepupuku satu ini sejak kecil karena faktor jarak. Ada perasaan, kok nyuekin keluarga ya?

Tapi, ya mau gimana lagi...

Orang kedua yg membuatku sedih banget kemaren adalah seorang seniorku di GEMA. Beliau orang pertama yang menjadikan GEMA itu ada.

Namanya Pak Suryanto.

Orangnya berperawakan sedang saja. Putih. Berkacamata dan selalu tersenyum kalau ketemu orang. Kalo ketemu denganku, Pak Sur senangnya bercanda aja. Ada saja yang membuatnya senang menggodaku. Apalagi kalo sudah berhubungan dengan tulisan. Dia juga senang kalau menelponku menyebutku, "Halo, bisa bicara sang sekertaris eksekutif?" Halahhhhaaa... Biasanya aku ketawa-ketawa habis beliau candain seperti itu.

Ciri khas beliau yang semalam bikin aku nangis dan sempat jd pembicaraan hangat dengan Ibrahim (yg ngasih kabar pertama kali ttg kematiannya) adalah kalau ngirim SMS, hurufnya besar-besar semua. Kadang-kadang hanya untuk memberitahukan sesuatu, sampe beberapa pengirimannya beberapa kali. Dan, dua minggu lalu, aku baru dapet SMS darinya yang mengucapkan selamat atas dimuatnya profileku di majalah Hidup. Dengan gaya khas di SMSnya, aku sempat balik balas candanya.

Dan, kemarin sore, lewat pemberitahuan dari Ibra, Bapak yang selalu bilang, "Kalau ada apa-apa, bilang ke saya ya, Njar. Jangan ragu-ragu. Saya akan bantu sebisanya. Tapi, saya nggak mau tampil lho. Dari belakang kamu saja. Biar kamu yg maju.", dipanggil Gusti Allah penciptanya karena stroke. Seminggu sebelumnya, konon, tensinya sempet di atas 200. Dioperasi bagian apanya gitu, diharap bisa lewat masa krisisnya selama 5 hari, ternyata beneran lewat.

Selamat jalan, Pak Suryanto...

Terima kasih untuk selalu menyemangati dan memotivasiku agar selalu memberi yang terbaik dalam karya dan karsaku.

Selamat jalan juga, Om Ci...

Terima kasih pula untuk selalu mengingatku sebagai salah satu keponakanmu meski aku sendiri sering lupa bahwa aku punya Om sebaik Om Ci.

Gusti Allah memberikan tempat terbaik di sana...

"Yang berasal dari debu akan kembali lagi menjadi debu. Yang berasal dari Allah akan kembali lagi kepada Allah."

Amin.

Khatulistiwa Literary Award 2007

Link: http://khatulistiwaliteraryaward.wordpress.com/

Salam buku!

Siaran Pers Khatulistiwa Literary Award 2007

Undangan untuk Mengirimkan Karya

Sampai penyelenggaraannya yang ketujuh, Khatulistiwa Literary Award (KLA) selalu memicu kontroversi dan perdebatan. Penghargaan ini pun telah melewati sejumlah perubahan dalam sistem penjurian maupun kategori yang dilombakan. Tahun ini, anugerah sastra yang diprakarsai oleh QB World Books diadakan kembali dengan semangat pembaruan, setidaknya lewat bertambahnya kategori penghargaan. Beberapa perbaikan dalam penyebaran informasi mengenai penghargaan ini juga akan dilakukan. Hal ini bukan untuk menyelesaikan polemik, tetapi sebagai usaha tak kenal lelah mendukung perkembangan sastra di Indonesia.

KLA 2007 menghadirkan sebuah kategori baru, yaitu Penulis Muda Berbakat. Kriterianya adalah sebagai berikut:
Karya pertama yang ditulis oleh penulis Indonesia dalam bahasa Indonesia.
Karya bergenre fiksi, baik sastra maupun teenlit atau chicklit.
Karya merupakan terbitan pertama dari penulis.
Penulis berusia maksimal 30 tahun ketika karya diterbitkan.
Diterbitkan dalam kurun waktu Juni 2006 sampai Juni 2007.
Merupakan karya sastra asli yang diterbitkan pertama kali dalam bentuk buku. Cetak ulang tidak diperkenankan.
Peserta mengirim buku sejumlah 6 (enam) eksemplar ke Panitia KLA 2007.

Untuk kategori Prosa dan Puisi, kriterianya masih sama dengan KLA yang lalu, yaitu:
Karya sastra yang ditulis oleh penulis Indonesia dalam bahasa Indonesia.
Berupa kumpulan cerpen, novel atau kumpulan sajak.
Diterbitkan di Indonesia dalam kurun waktu Juni 2006 sampai Juni 2007.
Merupakan karya sastra asli yang diterbitkan pertama kali dalam bentuk buku. Cetak ulang tidak diperkenankan.

Panitia KLA 2007 mengundang rekan-rekan penerbit untuk mengirimkan judul yang ingin diikutsertakan lewat formulir yang tersedia sehingga dapat diterima panitia selambat-lambatnya 31 Juli 2007. Sebuah judul boleh diikutsertakan dalam kategori Prosa dan Penulis Muda Berbakat. Dewan juri akan memilih sepuluh (10) judul untuk masuk ke dalam longlist yang diumumkan tanggal 22 Agustus 2007.

Formulir pendaftaran dapat diunduh di http://khatulistiwaliteraryaward.wordpress.com atau diperoleh dari panitia yang dapat dihubungi di khatulistiwa.literary.award@gmail.com.

Penerbit yang bukunya termasuk dalam longlist akan menerima pemberitahuan resmi dari panitia dan diwajibkan mengirim 10 buah buku dan 1 buah dokumen soft copy untuk setiap judul atau 1 buah buku, 9 buah print out manuskrip dan 1 buah dokumen soft copy untuk setiap judul.

Nominasi atau shortlist akan diumumkan di bulan Oktober 2007. Pemenang untuk setiap kategori akan dimumkan pada malam penganugerahan KLA 2007 yang rencananya akan diadakan pada akhir November.

Hadiah untuk masing-masing kategori adalah sebagai berikut:
Prosa Rp 100.000.000, 00
Puisi Rp 100.000.000, 00
Penulis Muda Berbakat Rp 25.000.000,00

Kunjungi http://khatulistiwaliteraryaward.wordpress.com untuk membaca daftar pemenang, nominasi dan juri KLA terdahulu. Informasi lengkap mengenai tata tertib, sistem penjurian, profil panitia dan berita terbaru dapat segera dijumpai juga di sana. Panitia dapat dihubungi di khatulistiwa.literary.award@gmail. com untuk wawancara dan pertanyaan-pertanya an seputar KLA 2007.

Panitia KLA 2007
Jalan Cempaka Putih Tengah XIII / 18
Jakarta 10510
Telp / Fax: 021 – 421 6085
============ ========= ======

Chusnato
(021 99751645)

Gratiagusti Chananya Rompas
(081 61147962)

============ ========= ========

Tata Tertib Khatulistiwa Literary Award 2007

Panitia penyelenggara sama sekali tidak terlibat dalam pemilihan dan proses penilaian juri.

Hasil dari setiap tahap penjurian akan dikirim dalam amplop tertutup kepada akuntan publik yang ditunjuk.

Identitas juri akan dirahasiakan sampai tahap penjurian berakhir. Hal ini akan dicantumkan dalam memorandum antara panitia penyelenggara dengan para anggota juri.

Apabila ada juri yang – secara sengaja maupun tidak sengaja – melanggar perjanjian ini, maka penilaian juri tersebut akan didiskualifikasi dan tidak akan dimasukkan dalam tabulasi final.

Keputusan juri, yang akan diumumkan oleh akuntan publik yang ditunjuk, adalah sah dan final serta tidak dapat diganggu-gugat. Tidak diperkenankan surat-menyurat kepada anggota juri selama penjurian berlangsung.

Bila dalam hasil penilaian final muncul dua nama dengan jumlah nilai sama, hadiah akan dibagi dua.

Penerbit yang bukunya termasuk dalam longlist, shortlist dan menerima penghargaan wajib mencantumkan logo KLA di sampul depan buku.

Pajak hadiah akan ditanggung oleh penerima hadiah.

============ ========= ========= ========= ========= ======

* Mohon disebarkan ke sejumlah milist dan berita komunitas yang berhubungan dengan buku, dan terutama susastera... Trimakasih

WO merangkap tukang nasi goreng

Nikah4 

Hari Senin kemarin aku menjadi saksi sekaligus “komandan lapangan” alias “danlap” alias Wedding Organization/WO kecil-kecilan dari pernikahan Kaka dan Aloy di Cimahi. Jangan tanya capenya gimana karena aku menangani dari awal pengantin persiapan, pertama ketemu, di gereja hingga di gedungnya. Memang sih, acaranya sederhana saja. Pasangan pengantin memang tidak ingin pesta mewah. Yang penting sah secara agama dan negara saja. Tapi, tetep saja nguras tenaga dan pikiranku.

Lha kok bisa jadi Danlap?

Awalnya ketika seringkali aku melihat kebingungan pengantin mengikuti runtutan acara di gereja. Mereka yang mestinya jadi raja-ratu sehari terpaksa ikut sibuk dan celingukan kanan kiri kalau bingung harus gimana selanjutnya.

Meski ada buku Misa dan latihan di hari sebelumnya, tapi hal-hal kecil di luar pikiran suka terjadi. Apalagi kalau berasal dari keluarga besar yang kadang semua orang ingin terlibat. Ini yang paling repot sebab biasanya keluarga yang dianggap tua menganggap dirinya berpengalaman lalu berinisiatiaf membantu “mengarahkan” pengantin. Plus juga kejadian-kedian kecil yang dilakukan petugas lain, seperti fotografer dan video shooting yang kadang ngambil gambar di tempat-tempat yang mestinya “batas suci” seperti di altar.

Sebab hal-hal itu deh, makanya aku kepikiran untuk nyoba bantu temen-teman yang menikah terutama di gereja supaya lebih khusuk.

Emang sejak kapan jadi Danlap?

Tepat waktunya aku lupa. Pastinya mereka menikah di Gereja Mahasiswa alias GEMA, tempat bersejarah bagi mereka dan familiar buatku.

Yang jelas sejak pasangan Eduard-Monik menyatakan ingin menikah, aku pernah menawarkan diri jadi Danlap. Hebatnya, mereka setuju menjadi pasangan uji coba hehe… Thx Du-Nik…

Saat itu aku hanya membantu membuatkan teks Misa, menyiapkan petugas Misa termasuk koor dan Danlap di gereja saja. Untuk lebih dari itu, aku nggak berani. Saat itu kan aku Cuma bermodalkan pengalaman melihat banyak pasangan serta Misa Pemberkatan yang ada.

Dari pernikahan Edu-Monik, mulai deh banyak tender. Ciee… Kebanyakan memang dari teman-temanku saja. Sampai beberapa pasang, aku tetap tidak mau keluar dari batas jadi Danlap Misa. Soalnya kalau lebih dari itu, aku belum berani. Apalagi saat itu yang namanya WO masih sedikit, didominasi oleh WO-WO terkenal dan sudah lama. Aku yang nggak tahu apa-apa ini pasti akan ketilep.

Ada seorang senior yang pernah ngajak untuk buat WO sebatas Gereja saja, tapi lebih luas. Maksudnya nggak di GEMA saja. Dia beranggapan dengan modalku mengenal seluk beluk liturgi, relasi dengan petugas gereja seperti kelompok koor, relasi dengan para pastor, administrasi gereja-gereja dan hal lain yang berhubungan sudah cukup membuat WO.

Lagi-lagi aku menolak. Aku merasa nggak pantes saja.

Apa yang kukerjakan selama ini kan bener-bener karena ingin membantu teman-teman, bukan untuk membuat lahan baru pekerjaan.

Hingga sudah begitu banyak pasangan yang mulai tahu reputasiku di bidang satu ini.

Ehem.

Nggak tahu mereka percaya dan pengen banget aku menjadi Danlap di pernikahan mereka. Kalau dulu sebatas di GEMA saja, lama-lama mulai keluar GEMA di sekitar Bandung dan bahkan di luar Bandung juga pernah di non-gereja. Sekali dua kali, diantara mereka, terutama yang mau pernikahan sederhana saja, mereka ingin aku juga menangani penyelenggaraan pesta/perjamuan sederhananya. Jadi aku pun turut mengkonsep acaranya sampe ke detail-detailnya.

Tadinya ragu-ragu karena itu berarti aku harus tetap mencari tahu banyak hal. Meski biasanya konsumsi dan dekorasi sudah ditangani, teteup aja hal lain yang nggak kalah penting apalagi di bagian acara yang bikin aku pusiiiinnnggg…

Dan, semua niat itu aku lakukan untuk ungkapan rasa bahagiaku bagi pasangan yang berbahagia. Itu sebagai salah satu pelayananku untuk banyak orang dan terutama buat Sang Pemberi Hidup. Sejauh ini, kalau waktunya tepat, aku merasa mampu serta acaranya nggak neko-neko, aku nggak pernah menetapkan budget tertentu. Paling hanya pengganti hal-hal yang menyangkut kegiatan. Itu pun akan ada kwitansi sebagai bukti.

Kalau ada syarat mutlak yang selalu kuminta adalah, hari itu aku harap pasangan pengantin dan para kelurga diminta nurut sehari dengan si anjar, nggak peduli ada anggota keluarga yang lebih tua atau lebih pengalaman. Hal ini untuk mencegah dua perintah dalam peristiwa penting itu yang bisa buat amburadul suasana. Kan kasian pengantennya juga.

Asal yang menanggapku senang dan puas, itu sebuah kebahagiaan tersendiri yang susah menyatakan berapa bayarannya.

Kok nggak di prof-in aja “Danlap”nya?

Huaaa….

Sejauh ini aku masih belum yakin

Selain karena aku masih ada pekerjaan sehari-hari, entah yaaa…. Mungkin harus ada orang lain yang bener-bener mau kerja sama denganku sebab selama ini aku mengerjakan sendiri, dari awal sampe akhir. Termasuk juga kalau harus ngangkut kursi meja, ngerayu Pastornya klo lagi rada ngambek karena pengantennya telat, nyari kantong plastik/rantang kalo konsumsinya kelebihan, siap dikomplain kalo ada yang nggak beres biar nggak ada hubungannya dan buat nasi goreng untuk calon pengantennya!

Lha terus… Kamu sendiri gimana? Bakal menjadi Danlap juga untuk diri sendiri?

Hihi…

Karena tau repotnya gimana, kayaknya saatnya nanti lebih asyik kalo orang-orang tahunya si anjar ini sudah menikah secara agama dan negara yaaa..

(pasti banyak yang protes….)

"07-07-07" bukan hari keramatku...

Aku nggak ngerti deh, gara-gara angka keramat "07-07-07" kemaren, lalu lintas seharian muaaacccceeetttt... Bener-bener deh.

Yang dari Bandung-Jakarta biasa ditempuh 2-2,5 jam atau sial-sialnya 3 jam, ternyata sodare-sodare... daku hrs rela di dlm travel yg terjebak macet selama 4 jam!!!

Alhasil, daku hanya bisa sempat menghadiri Misa pernikahan Mbak Dini 10 menit saja. Sebab selain telat datang, ndilalah Misanya juga telat dan aku pun harus kembali ke pool travel sebelum jam 15.00 WIB untuk kembali ke Bandung dan pergi ke resepsi nikahan lainnya. Jadwal sudah aku susun sedemikain rupa termasuk kemungkinan telat-telatnya. Tapi, kan nggak sampe separah itu.

Dan, waktu akan kembali ke Bandung, lagi-lagi aku terjebak macet.

Kali ini judule PASRAH. Soale sudah pasti nggak akan terkejar. Buyar semua jadwal.

Maafkan aku, Mbak Dini-Mas Dika dan Ita-Hogen...

Maksud hati ingin menjadi saksi kebahagiaan kalian juga, apa boleh buat 777 buatku bukan jadi hari keramat. Hiks....

(Sumpe LU?!) Novel Tinlitku Cetak Ulang!

 

SMS dari Donna, editorku di GPU: 05.07.07 11.39 Don-GPU Mpok, KAS mau cetak ulang tuh.

Selesai baca, mata terbelalak, nggak percaya, langsung nyoba nlp dia, tp nggak diangkat. Langsung deh bls SMS-nya:

"Hehe lg ga bs ngangkat tlp ya? Sumpe lu KAS mau ctk ulang? Hua.. Br kmrn gw rasan2 sm tmn gw gmn crnya lg naekin oplah KAS"

Rada siangan dikit, aku memastikan ke Mas Rinto, penanggungjawab GPU di Bandung. Jawab Mas Rinto (stelah rd lm):

05.07.07 13.53 Rinto GPU Sptnya begitu, krn di stok persediaan tinggal sisa 1000eks. Sukses ya Mbak.

Huaaaa... Aku beneran nggak percaya. Sampe sekarang. Soale br hr Rabu kmrn aku jalan sama Aty dan Lona ke Gramedia Merdeka Bandung trus mikir2 gimana caranya lagi buat "mengurangi tumpukan" novelku itu. Kan soal promosi udah kemana-mana nih. Lha kok hr Kamis kemaren dpt kabar itu?

Emang sih, waktu wawancara di radio Eltira Yogya itu, Mbak Jati dari GPU Yogya jawab pertanyaan dari pendengar, sudah berapa novelku laku? Mbak Jati jawab 3500 eks. Saat itu juga, aku langsung melongo, memandang Mbak Jati nggak percaya. Bener gitu? Hihi...

Aku merasa nggak percaya gitu krn di GPU kan jenis tulisanku beda dng tulisanku selama ini. Jadi, rasa dag dig dug apakah tulisanku itu bisa diterima masyarakat pembaca membuatku jd kaget sekali bgitu tahu setelah nyaris 2 bulan dari terbitnya, ternyata dicetak ulang.

Thx God. Dari awal buku itu ada, aku memang minta restu supaya buku itu bisa diterima banyak orang.

Puji Tuhan... Dia mendengarkan doaku.

Naaahhh..., buat yg baca berita ini, apakah Anda sudah membeli tinlitku yg judulnya "Karena Aku Sayang"? Huaa...., nyesel deh baca cerita ini hihi...

Hatur nuhun ka sadayana yaa...

Yogya di Amplas

Ini sisa ceritaku seminggu lalu ketika kota Gudeg itu aku kunjungi.

Ceritanya, seorang kakakku sejak sebelum ada rencana ke Yogya sudah berjanji akan mengajakku nonton. Waktu itu dengan nada bergurau nanya ke dia, “Emang bioskop ada di Yogya? Bukannya yang terakhir kebakaran?”. Kakakku jelas nggak terima dituduh begitu. “Jangan salah, sekarang kan ada Amrukmo Plaza. Ada bioskop 21 di sana.” Bisa bangga deh orang Yogya karena hal itu hehe… Soale emang terakhir aku dengar dari teman-teman yang tinggal di sana, di Yogya lebih terkenal VCD/DVD ketimbang bioskop.

Dengan adanya mol kebanggaan Yogya yang konon ikut retak-retak saat gempa bumi tahun lalu itu pastinya banyak wong Yojo yang bergaul di sana. Aku jadi penasaran karenanya.

Nah, pas hari Sabtu sore setelah beristirahat sejenak di rumah kakakku, jadi deh aku ke sana. Naik motor melewati jalan-jalan yang, bener deh, nggak tau jalan apa saja. Hihi… Bukan saja karena menjelang magrib, tetapi juga karena baru kali itu aku lewat jalanan itu.

Setelah sampai di tempat parkir yang buanyuak, terdiri dari sekitar 3 tempat, (dan semuanya penuh oleh motor ckckckck....)kakakku memarkir motornya, jalan deh kami ke Amplas yang kini jadi sering bahan cerita teman-temanku di Yogya.

Begitu kaki menginjakkan gedung megah itu, ada yang lain melingkupi diriku.

Kenapa?

Awalnya sih nggak aku pedulikan, tapi lama-lama, baru aku sadar, aku sekarang lagi ada dimana ya? Kok nggak berasa Yogya-yogyanya? Saat ada kesempatan sedikit berkeliling karena film belum diputer dan kami bermaksud makan dulu, perasaan itu makin nambah jadi. Bener ya kakiku menginjak tanah Sultan? Kayak masih ada di Bandung atau malah di Jakarta. Nggak Cuma karena bentuk bangunan atau pertokoan modern yang ada di sana, tapi orang yang lalu lalang di sana juga, wahhh… seperti bukan orang Yogya yang pernah aku temui waktu lalu, sebelum hari ini. Ketika aku utarakan pada kakakku, dia cuma senyum-senyum saja. Secara dia orang Yogya gitu loh… Nggak kerasa kale…

Lalu esok harinya, aku diculik Ukki-Vera untuk berjalan keliling Yogya setelah sebelumnya ke rumah mereka dulu di Klaten. Pasangan yang tergolong pengantin baru itu menceritakan banyak tempat dan hal yang berhubungan dengan Klaten dan Yogya.

Saat kami hendak makan malam (jangan tanya arahnya kemana hehe…, nggak hapal lah) yang letaknya di pusat kota, Ibunda Ukki yang ikut serta menunjukkan sebuah bangunan lama nan megah yang nampaknya sudah tidak terurus dan gelap. Kalo nggak teliti, nggak tahu deh ada bangunan di sana. Saking gelapnya.

Itu Hotel Ambarukmo yang sudah tutup. Tapi, ada kamar yang lampunya masih nyala. Katanya itu kamar Kanjeng Putri Roro Kidul,” jelas Ibunda Ukki.

Aku ngangguk-ngangguk saja.

Kemaren waktu ke sana dengan kakakku, aku nggak sempat merhatikan gedung lama itu. Nggak tau kenapa aku tertarik saja memperhatikan gedung yang pernah berfungsi jadi Hotel terkenal itu. Rasanya aku punya kenangan di sana deh. Tapi, aku lupa.

Kok sayang ya nggak dimanfaatkan? Dibiarkan membusuk begitu.

Kata Ibunda Ukki lagi, mestinya gedung hotel itu akan dijadikan bagian dari Amplas. Cuman, nggak tau kenapa, nggak ada yang berani merobohkannya. Jadi dibiarkan begitu saja. Nggak termanfaatkan. Waktu kutanya kenapa nggak difungsikan lagi, Ibunda Ukki bilang karena kalah bersaing dengan hotel-hotel lain.

Ah, sayang sekali…

Secara kacamata awam, aku pikir hotel yang kepemilikannya adalah milik Sultan itu kalo dibenahi lagi dengan baik, rasanya bisa deh menjadi hotel yang menarik, bersejarah dan mencerminkan kota Yogya. Seandainya aku punya duit aja. Atau andaikata bangunan itu bisa dibeli pake daun plus kayu bakar…(maksudnyaaaa…???)

Hari Seninnya, 25 Juni 2007, kuniatkan juga menemui Dewi, teman baikku saat di Bandung yang pindah ke Yogya. Dewi ini pernah motret aku untuk buku keduaku, “Kidung Senandung Cinta Untukku”. Sebuah fotonya juga kugunakan di novel teenlit. Kini, Dewi sedang menunggu hari melahirkan. Jadi, begitu ketemu, dia sedang “membawa” perutnya yang besar. Sempet kuatir kalau dia nekad bepergian bawa mobil untuk menemuiku sementara perutnya membesar begitu. Tapi, dasar Dewi, dia tetep nggak berubah dari jaman masih jomblo dulu. Selain dia memang sedang bersiap untuk menanti kelahiran sang buah hati, dia juga masih boleh dan kuat untuk kemana-mana. So, begitu kita sudah deal janjian di radionya Endah untuk bertemu, selanjutnya dia malah yang bermaksud untuk mengajakku keliling Yogya lagi.

Berhubung belum makan siang, Dewi ngajak makan siang dulu. Setelah rundingan beberapa tempat, terpilihlah food court di Amplas. Lagi-lagi Dewi nggak masalah dengan kondisi perut ndutnya. (padahal hari Sabtu sebelumnya, kakakku paling males ke food court itu, entah apa alasannya)

Sambil makan siang, kami bercerita ngalur ngidul. Salah satunya tentang internet gratis di pusat perbelanjaan itu. Rupanya, suami Dewi adalah penyelenggara hal itu bisa terjadi. Pemilik provider-nya maksude. Kata dia biasanya memang laptop yang bekerja di sana dan hanya diberi jatah 2 jam saja. Ooo…, pantes ketika kakakku nyoba make poselnya, nggak bisa. Tapi, Dewi nggak jelasin lebih lanjut kenapa hal itu lebih lanjut. Kami lebih tertarik bercerita tentang teman-teman yang sudah tersebar luas kemana-mana.

Disela obrolan itu, Dewi bercerita tentang bangunan hotel tua di sebelah Amplas ini. Dia membenarkan apa yang diceritakan Ibunda Ukki itu. Dewi malah menambahkan bahwa ada sebuah bangunan semacam pendopo di belakang Amplas persis yang sama sekali tidak berani disentuh oleh kontraktor mol satu itu. Tepatnya dimana, Dewi juga nggak tau persis. Pokoknya bangunan itu dianggap keramat.

Dewi juga setuju ketika kukatakan tentang rasaku yang seperti nggak di Yogya. “Alfred yang sering ke Yogya juga bilang begitu kalo ke tempat ini,” jawab Dewi menyetujui.

Saat bercerita ngalur ngidul itu tercetus nama Deny dan Rita, sepasang teman kami yang kini berdomisili di Jepang.

Ah ya…

Baru ingat sekarang… Mantan Hotel Ambarukmo itu adalah tempat resepsi Deny dan Rita sekitar tahun 2001 arau 2002 lalu. Kami, teman-teman pengantin yang berbahagia saat itu beramai-ramai datang ke Hotel tersebut. Kami memang diinapkan di hotel megah tersebut, tetapi di sebuah hotel lain di seberang jalan.

Tapi, yang nggak aku lupa adalah pesta resepsinya yang tidak terlalu mewah, tapi sangat berkesan. Buktinya begitu disebut Hotel Ambarukmo, ingatanku seperti kembali ke masa lalu meski teteup… lupa dulu hehe…

Diantara hari-hariku di dekat Ambarukmo bersejarah dan megah itu, aku juga sempat melewaati dan atau berkunjung sejenak ke Marlioboro, Pasar Beringharjo dan tempat lain yang Yogya banget deh… Nah…, kalo di tempat-tempat itu, aku benar-benar yakin bahwa kaki dan tubuhku saat itu memang sedang berada di sebuah kota yang membikin banyak orang ingin tinggal di sana. Entah berapa seniman mengabadikan kota yang nggak pernah mati bahkan ketika malam melingkupi bumi.

Adakah kondisi yang “Yogya banget” masih tetap dirasakan hingga masa nanti atau akan tergeser kemoderan yang sering dijadikan alasan agar mengikuti jaman?