Secuil "Lelana, jiwa-jiwa yang pulang"
Aku ingin mendirikan senyummu pagi ini. Bersama embun jernih menetes satu-satu laksana titik-titik penghubung bumi dan langit.
Biarkan tenda di bibir tipismu berdiri. Lebih merekahlah ujung-ujungnya membiaskan rasa terdalam yang mungkin tak dapat kau ungkapkan.
Jangan pedulikan mentari.
Ia memang akan menyembul lalu menari. Tapi, itu hanya sementara sebab awan akan muncul mengiringi. Embusan bayu pun akan menyebarkan aroma beda yang jika kau biarkan melingkupi jiwa raga maka tiada lagi terasa rasa indah lainnya.
Teruslah tersenyum, sayang…
Senyummu sungguh menggugah langut1ku terdalam. Biarkan langut itu merekah di segenap dadaku. Pengganti penat sekian lama.
“Sudah sarapan, sayang?” sekecup ciuman mendarat di pipi kiri dari arah belakang.
Kepalaku menoleh.
Senyum yang tadi sangat ingin kudirikan berhadapan muka dengan muka.
Aku sumringah.
Niatku kesampaian sudah.
“Sudah dong,” aku menjawab dengan riang ceria. “Kamu sendiri?”
Perempuan cantik ini memutar badan lalu duduk di sebelahku. Sebentar ia bersender di pundakku.
“Enak makanannya?”
Sekali lagi kecupan gratis di pipi kananku. Lengkap sudah ciuman pagi ini di pipiku.
“Pagi ini indah, Ren,” ujarku pelan sambil memandang ke depan. Satu perincit menggodaku untuk buat sekadar memperhatikannya. Perincit itu menngoyang-goyangkan buntutnya seolah mengejek genit.
“Buatku pagi selalu indah, bila ada selalu bersamamamu.”
Kupalingkan wajah. Surpraise dengan jawabannya barusan.
“Aku suka dengan keterkejutanmu barusan. Seperti anak kecil saja.” Ren sedikit mencubit pipiku.
“Oh ya?” aku lebih menggodanya.
“Ih, kamu ini menambah bikin gemas saja.” Ren tak mampu menahan rasa gemasnya.
Saat-saat seperti ini yang sangat kutunggu karena kamu akan menjalani semacam berantam kecil. Tentu saja yang tidak akan mencederai. Malah membikin kami lebih mesra.
Pagi yang tadi kurengek-rengek agar dapat menghangatkan sesuasana, serasa iri melihat kejadian ini.
Masa bodoh.
Tidakkah mereka tahu bahwa pagutan pagi menambah gairah yang bahkan aku pun tiada bisa melukiskannya dengan jelas?
Perincit yang tadi bergoyang genit, kini pelan merentangkan tanda tanya di lagunya. Kurasa, ia ingin meninggalkanku pada suatu hal.
Kunikmatilah pagi dalam satu rangkaian rasa hati. Tiada peduli sang mentari mulai baswara2, menggeliat.
^^^^^
“Menurutmu, apa itu hidup?”
Keningku sebentar berkerut, “Hidup adalah yang kujalani sekarang. Kurasakan dan kunikmati.”
Mata bulatnya memandangku tak berkedip. Sepertinya ia mau menyanggah, tapi sedang mempersiapkan kalimat pastinya.
“Kenapa harus berpikir keras tentang hidup? Bukankah ketika kau bernafas, itulah hidupmu?” aku berusaha menetralkan suasana. Jengah juga dilihat seperti itu.
“Bagiku hidup adalah ketika kau dan aku boleh bersama begini,” suaranya lirih, tapi begitu dalam. “Aku bisa menarik nafas, itu karena udara yang kau berikan padaku. Menyegarkan. Menenangkan. Bukan Cuma memberikanku udara hidup, tapi juga jelmaan kebahagiaan yang tak pernah aku kira sebelumnya.”
Ah.
Perempuanku ini begitu cerewetnya. Tapi, dalam kalimat per kalimatnya menyimpan berjuta makna. Bahkan mampu membuat dadaku berdebar kencang.
Adakah aku begitu berarti baginya? Adakah aku memang bak udara segar yang tersedot masuk ke dalam paru-parunya hingga membuatnya bisa hidup hingga hari ini?
“Sungguhkah aku begitu berarti bagimu, Ren?”
Kepala berambut indah memanjang itu mengangguk-angguk.
“Waktu memang baru mempertemukan raga kita. Tapi, batin dan jiwaku seperti sudah lama mengenalmu. Sangat mengenalmu. Kamu seperti semesta yang sejak ku ada, menemaniku kemana-mana.”
“Jika semesta yang menemaniku sekian lama itu mendadak pergi, kepada siapa lagi ku dapa merentangkan rasa?’
Kutertegun atas segala penjelasannya.
Tak tersangka sedikit pun bahwa kalimat-kalimat lancar mengalir dari mulutnya. Bibir tipisnya itu bergerak-gerak tanpa bisa dikendalikan. Laksana air hujan yang jatuh ke bumi begitu saja. Tak ada yang bisa mengendalikan. Bahkan oleh jengkerik yang berusaha menyudahinya.
Lalu, mengapa kamu menolak apa yang kuinginkan supaya kita bisa bersama?” aku balik bertanya.
Perempuan tercintaku ini kembali memandangiku lama. Dalam teduh padangan matanya itu aku temukan sebentuk keraguan tak bernala.
Sekali lagi, ia pandangi aku lama. Entah karena aku terpesona atau tak mampu keluar dari daya magis tatapannya, aku bergeming.
“Bagaimana alam bisa lebih menjelaskan tentang rasa hatiku padamu? Mereka sudah jelas-jelas memberitahu padamu. Bahkan mulutku tak dapat membendung kerasnya hatimu.”
“Memangnya sekerasa apa hatiku padamu, Ren?” aku memeluknya pelan. Ingin menyatakan betapa hatiku ini tak pernah merasa membatu dan belu, sebab aku yakin ia akan selalu bersama.
“Jika senja meredup memanggil malam maka kau seperti burung-burung yang menghantarkan pesan. Sepertinya kau tak rela senja pergi, tapi kau juga senang menjemput malam. Kalau sudah begini, sebenarnya pada siapa kau berpihak?”
Aku terdiam.
Kemanjaan yang sempat kuhadirkan di atas pangkuannya, kutarik kembali. Ada rasa tak menyenangkan mengalir tiba-tiba dalam aliran darahku.
Bukan karena sindiran halusnya tadi, tapi juga pada penyadarannya pada satu masa yang mengharuskanku memilih tegas.
“Jika malam bisa mendekatku pada pagi, bisa jadi aku lebih memilih bersama malam.”
“Tapi, senja adalah perpaduan antara siang dan pagi. Apakah kau tak ingin memilih senja saja?”
“Bagiku, pagi lebih inspiratif. Dia adalah perpanjangan malam yang meski sepi dan kelam, dia juga membawa ketenangan.”
Kepala perempuan itu menggeleng-geleng. Sepertinya menyatakan keheranan dalam keputusasaannya.
“Aku mencintaimu. Tapi, cintaku dibatasi oleh dogma-dogma yang kau buat sendiri.” Ren merengut. Dari bibir seksinya keluar komat kamit nggak jelas.
Lucu sebenarnya.
Namun, semua menjadi berubah serius begitu kalimat belakangan kelar ia ucapkan. Padahal tak pernah ku ingin keseriusan itu menuntaskan kesempatanku buat menikmati bibir seksinya berkomat kamit tak jelas.
“Kadang sebentuk komitmen bukan menjadikan keluasan yang membuat. Ia justru pengikat erat yang tak bisa dilepas.”
“Aku tak berkehendak mematahkan komitmenmu. Aku juga tak ingin kau mematahkan komitmenku. Masing-masing kita memiliki pohon komitmen yang harus dijaga agar tak tumbang bahkan pada rantingnya sekali pun.” Bibir seksi itu menyerocos lagi. Sepertinya tak habis kalimat dari bibirnya. “Tetapi, bebaskan rasa saja agar kita pun bebas menarikan hidup. Lebarkan benak supaya kita dapat meneruskan nafas. Aku percaya pada keindahan yang telah kita lakukan bersama ini.”
Ooohh…
Aku mungkin manusia bodoh yang mencoba menepikan keindahan itu untuk mempertahankan keindahan lainnya. Bila diminta memilih, aku pasti tiada kuasa memilih karena bagiku semua adalah bagian hidupku.
Aku plin plan?
Ya, sebab kurasa aku dikaruniakan banyak indah lain yang tak ingin kulepas.
Termasuk pada perempuanku kali ini. Tak ada yang dapat menggambarkan hati kami bahkan pada senyumnya yang aku percaya tiada akan habis ia berikan padaku.
“Aku mencintaimu…”
“Aku juga mencintaimu, Ren…”
“Keindahanmu tiada akan menumbangkan apa yang telah kita sepakati bersama.”
“Aku percaya padamu.”
“Kelak pagi dan senja akan menjadi saksi yang tak perlu disangsikan lagi.”
“Aku percaya padamu…”
Setulus Hatimu Semurni Cintamu3
(Arie Koesmiran)
Tak sekali aku ingin 'tuk mengkhianati cintamu
Setulus cintamu, semurni cintaku
* Sayang, percayalah aku
Engkau kan kusayang selama hidupku
Sayang, percayalah aku
Pada bintang dan rembulan
Ku berjanji setia selalu
(kembali *)
** Usah menangis
Oh, sayang, usaplah air matamu
Ttak sekejab pun, ku tinggalkan
Aku milikmu selamanya
Repeat *, **
(ucapan) :
percaya... tak mudah dilakukan
percaya... memerlukan pengertian
tapi, sayang...buat aku, belajarlah
belajarlah mengerti diriku
dan percayalah aku...
da ram dam da ra ram
1 langut = rindu, kangen
2 baswara = bersinar, bercahaya
3 dari www.tembang.com


Recent Comments