« July 2007 | Main | September 2007 »

Secuil "Lelana, jiwa-jiwa yang pulang"

Aku ingin mendirikan senyummu pagi ini. Bersama embun jernih menetes satu-satu laksana titik-titik penghubung bumi dan langit.

Biarkan tenda di bibir tipismu berdiri. Lebih merekahlah ujung-ujungnya membiaskan rasa terdalam yang mungkin tak dapat kau ungkapkan.

Jangan pedulikan mentari.

Ia memang akan menyembul lalu menari. Tapi, itu hanya sementara sebab awan akan muncul mengiringi. Embusan bayu pun akan menyebarkan aroma beda yang jika kau biarkan melingkupi jiwa raga maka tiada lagi terasa rasa indah lainnya.

Teruslah tersenyum, sayang…

Senyummu sungguh menggugah langut1ku terdalam. Biarkan langut itu merekah di segenap dadaku. Pengganti penat sekian lama.

Sudah sarapan, sayang?” sekecup ciuman mendarat di pipi kiri dari arah belakang.

Kepalaku menoleh.

Senyum yang tadi sangat ingin kudirikan berhadapan muka dengan muka.

Aku sumringah.

Niatku kesampaian sudah.

Sudah dong,” aku menjawab dengan riang ceria. “Kamu sendiri?”

Perempuan cantik ini memutar badan lalu duduk di sebelahku. Sebentar ia bersender di pundakku.

Enak makanannya?”

Sekali lagi kecupan gratis di pipi kananku. Lengkap sudah ciuman pagi ini di pipiku.

Pagi ini indah, Ren,” ujarku pelan sambil memandang ke depan. Satu perincit menggodaku untuk buat sekadar memperhatikannya. Perincit itu menngoyang-goyangkan buntutnya seolah mengejek genit.

Buatku pagi selalu indah, bila ada selalu bersamamamu.”

Kupalingkan wajah. Surpraise dengan jawabannya barusan.

Aku suka dengan keterkejutanmu barusan. Seperti anak kecil saja.” Ren sedikit mencubit pipiku.

Oh ya?” aku lebih menggodanya.

Ih, kamu ini menambah bikin gemas saja.” Ren tak mampu menahan rasa gemasnya.

Saat-saat seperti ini yang sangat kutunggu karena kamu akan menjalani semacam berantam kecil. Tentu saja yang tidak akan mencederai. Malah membikin kami lebih mesra.

Pagi yang tadi kurengek-rengek agar dapat menghangatkan sesuasana, serasa iri melihat kejadian ini.

Masa bodoh.

Tidakkah mereka tahu bahwa pagutan pagi menambah gairah yang bahkan aku pun tiada bisa melukiskannya dengan jelas?

Perincit yang tadi bergoyang genit, kini pelan merentangkan tanda tanya di lagunya. Kurasa, ia ingin meninggalkanku pada suatu hal.

Kunikmatilah pagi dalam satu rangkaian rasa hati. Tiada peduli sang mentari mulai baswara2, menggeliat.

^^^^^

Menurutmu, apa itu hidup?”

Keningku sebentar berkerut, “Hidup adalah yang kujalani sekarang. Kurasakan dan kunikmati.”

Mata bulatnya memandangku tak berkedip. Sepertinya ia mau menyanggah, tapi sedang mempersiapkan kalimat pastinya.

Kenapa harus berpikir keras tentang hidup? Bukankah ketika kau bernafas, itulah hidupmu?” aku berusaha menetralkan suasana. Jengah juga dilihat seperti itu.

Bagiku hidup adalah ketika kau dan aku boleh bersama begini,” suaranya lirih, tapi begitu dalam. “Aku bisa menarik nafas, itu karena udara yang kau berikan padaku. Menyegarkan. Menenangkan. Bukan Cuma memberikanku udara hidup, tapi juga jelmaan kebahagiaan yang tak pernah aku kira sebelumnya.”

Ah.

Perempuanku ini begitu cerewetnya. Tapi, dalam kalimat per kalimatnya menyimpan berjuta makna. Bahkan mampu membuat dadaku berdebar kencang.

Adakah aku begitu berarti baginya? Adakah aku memang bak udara segar yang tersedot masuk ke dalam paru-parunya hingga membuatnya bisa hidup hingga hari ini?

Sungguhkah aku begitu berarti bagimu, Ren?”

Kepala berambut indah memanjang itu mengangguk-angguk.

Waktu memang baru mempertemukan raga kita. Tapi, batin dan jiwaku seperti sudah lama mengenalmu. Sangat mengenalmu. Kamu seperti semesta yang sejak ku ada, menemaniku kemana-mana.”

Jika semesta yang menemaniku sekian lama itu mendadak pergi, kepada siapa lagi ku dapa merentangkan rasa?’

Kutertegun atas segala penjelasannya.

Tak tersangka sedikit pun bahwa kalimat-kalimat lancar mengalir dari mulutnya. Bibir tipisnya itu bergerak-gerak tanpa bisa dikendalikan. Laksana air hujan yang jatuh ke bumi begitu saja. Tak ada yang bisa mengendalikan. Bahkan oleh jengkerik yang berusaha menyudahinya.

Lalu, mengapa kamu menolak apa yang kuinginkan supaya kita bisa bersama?” aku balik bertanya.

Perempuan tercintaku ini kembali memandangiku lama. Dalam teduh padangan matanya itu aku temukan sebentuk keraguan tak bernala.

Sekali lagi, ia pandangi aku lama. Entah karena aku terpesona atau tak mampu keluar dari daya magis tatapannya, aku bergeming.

Bagaimana alam bisa lebih menjelaskan tentang rasa hatiku padamu? Mereka sudah jelas-jelas memberitahu padamu. Bahkan mulutku tak dapat membendung kerasnya hatimu.”

Memangnya sekerasa apa hatiku padamu, Ren?” aku memeluknya pelan. Ingin menyatakan betapa hatiku ini tak pernah merasa membatu dan belu, sebab aku yakin ia akan selalu bersama.

Jika senja meredup memanggil malam maka kau seperti burung-burung yang menghantarkan pesan. Sepertinya kau tak rela senja pergi, tapi kau juga senang menjemput malam. Kalau sudah begini, sebenarnya pada siapa kau berpihak?”

Aku terdiam.

Kemanjaan yang sempat kuhadirkan di atas pangkuannya, kutarik kembali. Ada rasa tak menyenangkan mengalir tiba-tiba dalam aliran darahku.

Bukan karena sindiran halusnya tadi, tapi juga pada penyadarannya pada satu masa yang mengharuskanku memilih tegas.

Jika malam bisa mendekatku pada pagi, bisa jadi aku lebih memilih bersama malam.”

Tapi, senja adalah perpaduan antara siang dan pagi. Apakah kau tak ingin memilih senja saja?”

Bagiku, pagi lebih inspiratif. Dia adalah perpanjangan malam yang meski sepi dan kelam, dia juga membawa ketenangan.”

Kepala perempuan itu menggeleng-geleng. Sepertinya menyatakan keheranan dalam keputusasaannya.

Aku mencintaimu. Tapi, cintaku dibatasi oleh dogma-dogma yang kau buat sendiri.” Ren merengut. Dari bibir seksinya keluar komat kamit nggak jelas.

Lucu sebenarnya.

Namun, semua menjadi berubah serius begitu kalimat belakangan kelar ia ucapkan. Padahal tak pernah ku ingin keseriusan itu menuntaskan kesempatanku buat menikmati bibir seksinya berkomat kamit tak jelas.

Kadang sebentuk komitmen bukan menjadikan keluasan yang membuat. Ia justru pengikat erat yang tak bisa dilepas.”

Aku tak berkehendak mematahkan komitmenmu. Aku juga tak ingin kau mematahkan komitmenku. Masing-masing kita memiliki pohon komitmen yang harus dijaga agar tak tumbang bahkan pada rantingnya sekali pun.” Bibir seksi itu menyerocos lagi. Sepertinya tak habis kalimat dari bibirnya. “Tetapi, bebaskan rasa saja agar kita pun bebas menarikan hidup. Lebarkan benak supaya kita dapat meneruskan nafas. Aku percaya pada keindahan yang telah kita lakukan bersama ini.”

Ooohh…

Aku mungkin manusia bodoh yang mencoba menepikan keindahan itu untuk mempertahankan keindahan lainnya. Bila diminta memilih, aku pasti tiada kuasa memilih karena bagiku semua adalah bagian hidupku.

Aku plin plan?

Ya, sebab kurasa aku dikaruniakan banyak indah lain yang tak ingin kulepas.

Termasuk pada perempuanku kali ini. Tak ada yang dapat menggambarkan hati kami bahkan pada senyumnya yang aku percaya tiada akan habis ia berikan padaku.

Aku mencintaimu…”

Aku juga mencintaimu, Ren…”

Keindahanmu tiada akan menumbangkan apa yang telah kita sepakati bersama.”

Aku percaya padamu.”

Kelak pagi dan senja akan menjadi saksi yang tak perlu disangsikan lagi.”

Aku percaya padamu…”

Setulus Hatimu Semurni Cintamu3 

(Arie Koesmiran)

Tak sekali aku ingin 'tuk mengkhianati cintamu

Setulus cintamu, semurni cintaku

* Sayang, percayalah aku

Engkau kan kusayang selama hidupku

Sayang, percayalah aku

Pada bintang dan rembulan

Ku berjanji setia selalu

(kembali *)

** Usah menangis

Oh, sayang, usaplah air matamu

Ttak sekejab pun, ku tinggalkan

Aku milikmu selamanya

Repeat *, **

(ucapan) :

percaya... tak mudah dilakukan

percaya... memerlukan pengertian

tapi, sayang...buat aku, belajarlah

belajarlah mengerti diriku

dan percayalah aku...

da ram dam da ra ram

1 langut = rindu, kangen

2 baswara = bersinar, bercahaya

3 dari www.tembang.com

                            

Gua Butuh Pundakmu Untuk Bulan Depan

   Tahun lalu, ketika bencana gempa bumi melanda Yogyakarta, Jawa Tengah dan sekitarnya, bersama teman-teman dari Gema, PMII dan sukarelawan lepas dari Bandung dan sekitarnya berniat membantu para korban gempa. Melalui jaringan perteman yang sudah lama terjalin, tak susah bagi kami menentukan hendak kemana atau bagaimana atas niat baik tersebut. Setelah berpikir dan melihat segala kesempatan atau kemungkinan yang ada, kami memutuskan untuk pergi ke Yogya dan Jawa Tengah (terbagi dalam 2 kloter) setelah 3 minggu bencana itu muncul.

Keputusan ini sempat diketawain dan dianggap nggak serius membantu. “Ngapain lu, Njar dateng hari gitu. Udah telat. Gak guna kale,” gitu kata seorang teman. Tapi, kami punya alasan kuat kenapa hal itu kami lakukan. Selain karena persiapan, terutama masalah SDM yang memang tidak bisa begitu saja setuju menjadi sukarelawan dalam waktu tertentu sebab kebanyakan adalah mahasiswa yang masih kuliah, masalah pendukung lain harus dipertimbangkan, seperti masalah dana dan perlengkapan agar kami nggak justru nyusahin di sana.

Dan, pada kenyataannya, kedatangan kami sangat dinantikan. Bahkan rentang waktu yang kami jadwalkan, diminta diperpanjang per-kuoternya. Itu bukan saja karena memang tenaga dibutuhkan, tetapi juga lebih karena tenaga kami menjadi tenaga aplusan/gantian dari tenaga yang sudah ada. Seperti yang sudah diketahui, setelah gempa itu muncul, begitu banyak orang berdatangan. Mereka sukarela membantu tanpa peduli diri mereka sendiri. Tapi, kerusakan dan korban yang muncul sangat banyak maka tenaga sukarelawan yang ada tidaklah cukup untuk membantu semua. Alhasil, diri sendiri mulai kepayahan. Nggak kuat lagi terus menerus membantu meski dalam hati kecil masih punya keinginan kuat.

Nah, saat itulah kami datang, mengganti tenaga-tenaga dari sukarelawan yang memang sudah lelah. Secara kemanusiaan, hal ini bisa sangat dimaklumi. Malah para penduduk merasa welcome sebab tidak ditinggalkan setelah bencana itu mereda.

Hal serupa, kemarin terjadi juga.

Seorang kakak beradik yang kebetulan dekat denganku, hari Selasa pagi 14 Agustus 2007 kehilangan ayahanda tercinta mereka di Bogor. Ayah mereka meninggal karena sakit. Kepergian yang boleh dibilang mendadak ini jelas membuat terkejut Djohan dan Titin, kakak beradik yang dekat denganku itu. Pagi itu pun begitu aku dikabari, aku sempat shock juga.

Beberapa teman yang mengetahui segera menyusun rencana untuk sekadar berbagi dan berbela sungkawa dengan mereka. Aku pribadi, di hari itu nggak bisa menyatakan bersedia ikut atau tidak. Soalnya selain jauh, aku juga telanjur berjanji dengan yang lain dan rasanya nggak bisa begitu saja dibatalkan.

Tapi, bukan itu yang mau aku ceritakan.

Yang mau aku ceritakan adalah bagaimana beberapa teman berdebat tentang waktu yang tepat untuk pergi melayat. Ada yang merasa bahwa harus hari itu juga mengingat Titin adalah teman baik yang saat itu memang pastinya shock dan down atas musibah yang menimpa keluarganya. Diharapkan, sebagai teman baik, sahabat dekat dan tempat curhat selama ini, kami mau meluangkan waktu atas kesedihannya.

Sementara yang lain, karena kondisi waktu yang sudah menjelang siang, punya pekerjaan rutin yang tidak bisa sembarang ditinggal dan alasan kuat lain, menyangsikan apakah ia bisa segera ada di sisi Titin saat itu juga. Perdebatan dua pendapat ini sempat menemukan jalan buntu.

Untuk urusan berduka dan kondisi yang tak terduga ini, aku sudah pernah mengalami dua kali. Dua-duanya dengan kondisi yang sama, ditinggal oleh orang-orang yang aku cintai: Bapak dan Ibu.

Jangan ditanya saat kejadian itu menimpa. Air mata tercurah atau teriakan terdengar lantang rasanya nggak cukup menyatakan betapa aku merasa kehilangan mereka. Terlebih ketika setelah Ibu meninggal, tahun 2003, aku benar-benar tidak punya siapa-siapa sebab aku tunggal.

Di saat orang-orang terkasih itu pergi, memang aku sangat berharap teman-teman dekatku datang menghibur atau sekadar menemani. Rasanya ada kebahagiaan ketika ada teman begitu perhatiannya. Tapi…, di saat hari H kejadian menimpa, aku sama sekali tak pernah berpikir dan menghapal siapa saja yang datang. Aku sibuk dengan diriku sendiri. Meredakan sedih yang menimpa. Dan, itu bisa kuatasi sebab ada saudara dan teman lain yang datang. Teman-teman lain yang aku tahu susah datang karena jarak, bisa aku maklumi.

Jadi, aku sangat tidak masalah kalau teman-teman tidak bisa datang di hari H itu.

Ketika lewat dari tujuh hari, sebulan kemudian atau saat momen-momen tertentu yang mengingatkan, barulah aku merasa amat sangat membutuhkan orang-orang yang mengenal dan dekat denganku. Sebab di saat itulah, a shoulder to cry on kurasa sangat kubutuhkan.

Nggak ada yang pernah tahu betapa repotnya aku mengatasi perasaan sedih dan kehilangan yang luar biasa ini. Terlebih lagi ketika sendiri. Suara-suara alam atau barang elektronik, nggak mampu juga menghibur. Kerelaan hati atau sepanjang doa, masih juga membuat air mata ini berderai-derai mengalir lancar.

So…, atas dasar pengalaman itu, aku lebih memilih belakangan jenguk ketika ada kesedihan menimpa teman-temanku. Bukan untuk menjadi pahlawan kesiangan, tapi lebih karena mencoba membiarkan juga ia berproses mengatasi kesedihannya sendiri.

Aku yakin, di saat kesedihan itu muncul, di saat itu juga penguatan akan tumbuh seperti selimut yang mampu menghangatkan. Tinggal bagaimana orang lain saja mencoba peka atas kebutuhan untuk sekadar menambah penghiburannya.

Kisah Jemmy Tanpa Lengan

 

Panggil dia Jemmy. Seorang laki-laki 32 tahun dan sudah berkeluarga. Dua anaknya yang lucu-lucu melengkapi kehidupannya.

Jemmy adalah teman main ku saat kami masih berkuliah dulu. Meski dari dua Perguruan Tinggi yang beda, pergaulan kami nyatanya bisa mempertemukan bahkan mengakrabkan kami. Banyak hal telah kami lalui bersama. Yang tidak bisa aku lupa adalah ketika dia bersedia mengantarkan aku ke Jakarta untuk urusan Reuni yang akan diselenggarakan. Dengan mobil civix (kalo nggak salah), itulah kali pertama ia berani pergi ke Jakarta sendiri, tanpa disupiri. Banyak gelak tawa menyertai prjalanan kami. Meski masih kagok dan ragu, akhirnya kami bisa sampai ke tujuan dan kembali ke Bandung dengan selamat.

Dalam perkuliahan, Jemmy termasuk yang paling cerdas. Seangakatannya, dia dikenal sebagai mahasiswa berprestasi. Terbutkti ketika wisuda dia termasuk dalam mahasiswa cumlaude karena termasuk cepat dan memiliki nilai di atas rata-rata.

Setelah kuliah, Jemmy mendapat lowongan kerja di sebuah oil company dunia yang terkenal yang menjadi incaran lulusan seperti dirinya. Dia menjadi seseorang yang sangat beruntung sebab bisa diterima di sana. Apalagi kemudian kebahagiaan itu dilengkapi juga dengan keberhasilannya menyunting seorang teman perempuan, yang sama-sama teman mainku juga, menjadi kekasih hatinya. Lengkaplah kebahagiaan hidupnya. Semua orang mengakui bahwa dia adalah satu manusia beruntung mendapatkan banyak keberhasilan dalam hidupnya.

Kelengkapan itu pun semakin memberi arti luar biasa dalam hidupnya ketika setelah meresmikan hubungannya dengan sang pujaan dalam ikatan suci, ia dikaruniai sepasang anak, laki-laki dan perempuan yang lucu-lucu. Karena alasan keluarga ini pula, ia rela melepas pekerjaannya di perusahaan oil company terkenal tersebut. Ia lebih memilih untuk berwiraswasta bersama sang istri.

Meski sama-sama di Bandung, tapi karena rumahnya termasuk ada di “ujung dunia” nan macet, maka aku dan dia jarang sekali ketemu. Hingga ketika suatu hari, Dody, yang juga temannya memberi kabar mengejutkan: “Mbak masih inget Jemmy kan? Tadi aku ketemu dia di Borromeus. Lagi kemo. Mbak jangan kaget ya kalo Jemmy kehilangan tangannya karena penyakitnya.”

Ketika Dody memberitahu hal itu, aku masih nggak *dong*. Aku masih berpikir, arti kata “kehilangan tangan” tidak berarti luar biasa. Daripada penasaran, aku sengaja mencari tahu nomor telepon istrinya untuk memastikan yang terjadi. Dan, setelah mendapatkan, inilah cerita sebenarnya.

Kejadiannya sangat cepat. Ketika Jemmy memutuskan untuk berhenti bekerja, rupanya dia tetap ditawari oleh bosnya untuk bekerja kembali. Dengan alasan keluarga, Jemmy nggak langsung terima. Sampe akhirnya sekitar Mei-Juni 2006 lalu ia bersedia untuk ikut tes lagi, termasuk tes kesehatan meski itu cuma sekadar formalitas saja sebab sebenarnya dia sudah diterima dan dibutuhkan.”

Pas pemeriksaan kesehatan itu, lengan kanan Jemmy terlihat ada tonjolan. Karena masih dalam rangka kerja, Jemmy nggak ingin hal itu diperbesar. Nanti saja setelah kembali ke Indonesia, dia akan periksan lebih lanjut. Saat periksa itulah, ketahuan ternyata itu adalah bibit kanker tulang yang sedang berkembang. Maka, Jemmy memutuskan untuk berobat alternatif dulu saja.”

Tapi, perkembangan kanker itu cepat sekali. Pengobatan alternatif itu tidak mampu menahan pertumbuhan kanker itu. Disinyalir kanker itu (yang konon memang ada bibitnya di setiap manusia, tapi berkembang atau tidaknya tergantung kehidupan masing-masing orangnya) berasal dari tempat kerja yang berhubungan dengan radiasi tingkat tertentu. Tapi, semua sudah menjadi bubur. Tak ada yang perlu disalahkan. Akhirnya, kami memutuskan berobat ke Singapura. Saat itulah pemeriksaan membuat kami harus berpikir cepat, dibiarkan tapi kemungkinan kanker itu menyebar kemana-mana, atau diamputasi untuk mengurangi penyebaran kanker itu.”

Sekitar September 2006, dengan tidak terlalu panjang berpikir, Jemmy memutuskan pilihan kedua. Ia merelakan tangan kanannya diamputasi habis. Jauh, sebelum kejadian itu terjadi, dia memang sudah menyiapkan diri untuk segala kemungkinan yang terjadi, termasuk amputasi ini. Dalam kesakitannya selama ini, dia sudah belajar mengoptimalkan tangan kirinya. Maka setelah diamputasi, ia masih mampu mengemudikan mobilnya dengan tangan kiri.”

Well…

Sesaat aku tertegun begitu mendapatkan cerita dari sang istri.

Luar biasa sekaligus mengharukan.

Dari sisi seorang istri, perempuan yang sudah hampir 7 tahun menjadi istri Jemmy itu memang sangat tabah, kuat dan mampu menerima segala kenyataan yang terjadi. Bahkan ia juga bisa menguatkan sang suami. HEBAT. Dari sepasang anak-anaknya yang lucu, Jemmy juga mendapat kekuatan lebih. Mereka tidak kaget begitu mendapat Papanya sudah tidak bertangan kanan lagi.

Dan, kemaren, hari Sabtu 11 Agustus 2007, ketika menyebarang hendak menuju toko buku Alebene, aku sekilas melihat seseorang tanpa lengan sedang menawar bendera di pinggiran trotoar. Karena nggak ada tempat lain untuk berjalan, aku melewatinya.

Ketika ekor mataku melihat sang pembeli, spontan aku berseru, “Jemmy?!!”

Yang dipanggil terkejut juga. Karena kondisinya yang berbeda kini, baik aku maupun dia jadi kagok hendak mau apa. Tapi, itu hanya beberapa detik karena dengan tangkas ia mengangkat tangan kirinya lalu mengajakku *tos*. Gantian aku yang rada terkejut, untung aku segera bisa mengatasi kekagokan ini. Obrolan kami pun lancar mengalir. Tawa canda memenuhi pertemuan kami.

Jemmy terlihat sehat dan bahagia. Rambut keritingnya masih jelas terlihat. Muka bulatnya menunjukkan ia bertambah gemuk. Senang juga aku melihatnya.

Dan, yang membuatku lebih senang adalah keberadaannya itu tidak mempengaruhi ia untuk tetap beredar sebagaimana layaknya saat ia masih utuh dan sehat. Tidak ada kesan malu atau bahkan menghindar. Ia tetap Jemmy yang pernah kukenal.

Tetap semangat, Jem…

Salut.

Darimu aku belajar tentang semangat dan berjuang buat menerusi hidup. Apa pun yang terjadi.

Banyak berkat melimpah bagimu dan keluargamu.

Ketika Suatu Saat Kusadarkan...

Daun Ketika suatu saat, pulang dari gereja, aku melihat Iin menghilang. Dan, ketika kutemukan lagi dia, ada sisa air mata dan mata yang memerah terlihat di wajahnya.
Dan, tiba-tiba saja dia bilang, "Aku mau pulang sekarang". Kukira maksudnya mau pulang ke kosnya, tapi ternyata selepas Misa itu ada telepon dari kampung halamannya yang memberitakan kalau Neneknya sedang kritis. Berita yang mengagetkan ini membuatnya langsung berpikir untuk mudik, menemui sang Nenek meski beberapa jam kemudian, lewat sms, dia memberitahuku bahwa neneknya sudah membaik.
Tapi, Iin tetep pulang ke kampungnya dengan kondisi yang bisa jadi masih rusuh dan kaget tadi.
Saat itulah aku ingin sekali menangguhkan niatnya dan menyatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Dia tidak perlu mudik untuk urusan satu itu. Aku percaya, apa pun yang terjadi adalah yang terbaik dan dia memang harus melewati hal itu.

Ketika suatu saat, si Jova, anak Johan dan Woro kembali bertemu denganku hari Minggu itu setelah sekian lama tidak berjumpa. Terakhir kali aku bertemu dengannya awal tahun lalu, ketika bersama Papa Mamanya aku ke kondangan keloga kami.
Jova makin pintar dan lincah. Centil juga.
Sesaat matanya terbuka dari tidur dan melihat aku, dia seperti kebingungan. Siapa nih, mungkin pikirnya.
Nyaris setengah hari dari pertemuan kami itu, aku belum bisa menyentuhnya. Maksudnya menggendong atau bermain.
Saat itulah, kalau nurutin hati, aku ingin sekali melakukan apa pun yang bisa membuatnya mau aku pengaruhi. Tapi, baru kuingat aku sedang berhadapan dengan seorang anak kecil bukan seorang mahasiswa.

Ketika suatu saat, seorang penulis baru sengaja dipertemukan oleh pihak perwakilan penerbit lamaku di Bandung untuk berkumpul kembali dengan kami yang dianggap senior, lebih dulu punya karya.
Buku pertamanya cukup tebal, judulnya rada bisa sedikit menerjemahkan isi ceritanya. Covernya juga menarik. Dan, lebih dari itu, secara fisik sang penulis, ia pun juga mampu menarik pembeli untuk membaca karyanya.
Selain aku, ada penulis lainnya yang juga diundang dan berbagi sharing. Dari yang merasa memang sudah punya banyak pengalaman sampe yang sekadar mendukung saja.
Saat itulah, aku juga ingin banyak berbagi dengannya, sekadar berbagi dari apa yang pernah kualami. Tapi, hanya ada satu pengalaman yang kubagi, sisanya aku menahan diri sebab teman-teman lain sudah lebih banyak bercerita. Aku ingin, teman baruku itu berpengalaman sendiri saja nantinya.

Ketika suatu saat, dia pernah berkata bahwa dia hanya ingin punya teman sedikit, tapi yang selalu mau berbagi dan mengerti satu sama lain.
Dia pernah berkata, sahabat yang baik adalah sahabat yang mau peduli apa yang sedang terjadi dengan sahabatnya. Maka atas dasar itu juga, dia nggak mau punya banyak list teman di frendsternya.
Dia juga pernah berkata, hidup harus iklas, nggak ngoyo atau gamang. Buat apa punya harta, tapi nggak bahagia.
Saat itulah, ketika emailku tak dibalas, smsku tidak ditanggapi dan kutahu ia sedang berburu urusan duaniwinya, aku diberi ingatan kembali untuk menerima ia apa adanya. Lengkap ketika ia memutuskan untuk tidak mengontakku lagi, entah apa pun alasannya.

Ketika suatu saat, jalanan macet. Luar biasa macet padahal bukan week end.
Panas menyengat menambah gerah suasana. Apalagi aku ingin sekali cepat pulang. Kelelahan hari ini ingin kuselesaikan di tempat tidur. Tapi, kemacetan itu membuatku bertambah BT. Belum lagi bunyi klakson dimana-mana. Semua deretan mobil dan motor nggak sabaran nampaknya.
Aku jadi penasaran, ada apa gerangan di depan?
Dan, mau tahu ada apa di depan sana?
Bukan karena mobil mogok, bukan juga kecelakaan, apalagi lampu merah. Tapi, karena angkot yang menurunkan penumpang persis di prempatan jalan dan penumpangnya memberi ongkos yang mengharuskan angkot itu harus mencari uang kembalian dulu.
Saat itulah, gerahku sedikit luruh, karena aku tahu sekali waktu dulu aku pernah melakukan hal yang sama.

Ketika suatu saat, beda pendapatku dengan my honey di nun jauh di sana tidak bisa dihindari lagi.
Awalnya perkara kecil. Aku rasa bukan hal prinsip untuk dibahas. Tapi, baginya itu adalah perkara prinsip dan nggak bisa dicuekin begitu saja.
Kucoba pahami dan ikuti jalur pikirannya. Kesabaran dan rasa cinta mendalam menjadi penuntun utama agar aku tetap bertahan. Apalagi ini bukan hubungan sebulan dua bulan, tapi hitungan tahun dan sangat dalam. Namun, justru  kejadian itu yang sempat membuat hubungan kami "konslet" dan membuatku tidak nyaman beberapa saat.
Saat itulah, ketika kupikirkan lagi bahwa hubungan kami masih dibatasi jarak. Dan, komunikasi yang kami gunakan adalah komunikasi canggih yang tetap ada batasnya. Perkara sepele yang menurutku bukan perkara prinsip akan berbeda menurutnya sebab sudut pandang kami dibatas oleh teknologi ini.

Ketika suatu saat-ketika suatu saat tadi, membuatku banyak belajar.
Bukan saja belajar sabar, mau menahan diri untuk tidak memaksakan kehendak sendiri, makin dewasa atau bijak menyikapi alur hidup
Tapi, lebih dari itu, aku bisa belajar lebih memahami dan mengerti orang lain. Lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihannya.