Hilman Maning-Hilman Maning
Hari Sabtu-Minggu kemarin saya berkesempatan lagi menemui dan kali ini menemani Mas motivator saya. Sapa lagi kalo bukan si Mas “Lupus”.
Hehe…
Ini pertemuan kesekian daku dengannya.
Bosen?
Nggak bangeds.
Soale setiap kali aku bisa bertemu dengannya, yang ada adalah rasa syukur bahwa hari ini (saat pertemuan itu) aku bisa berhadapan muka langsung dan bercakap-cakap dengan orang yang sekian tahun lalu Cuma bisa kulihat dari jauh. Nggak berani mendekat. Sungkan dan takyut…
Lho kok?
Iya.
Bermula di suatu hari pada sekitar bulan Feb 88, di SMP Xaverius Tanjungkarang itu, serombongan orang datang. Awalnya aku nggak tau siapa mereka. Padahal kehebohan atas kedatangan mereka sudah lama terjadi.
Dasar kuper, mana ku tahu kalau salah satu dari mereka kelak adalah orang yang akan menjadi penyemangatku untuk mencapai obsesi lama.
Beruntung ada Merry yang mengenalkan aku dengan yang namanya “Lupus” sekaligus siapa yang menulisnya. Dia memang Lupus mania, biar cewek tapi pecinta Lupus So, pas ketemu rombongan itu, aku jadi tahu bahwa mereka adalah rombongan dari buku serial Lupus yang lagi booming waktu itu.
Bersama Merry dan Yanti, aku duduk di tengah-tengah aula SD, sementara Mas Hilman, sang penulis beken itu bersama rombongan duduk di atas panggung yang sedikit tinggi. Selain ngobrol, dia juga menyanyikan beberapa lagu. Pertemuan itu sangat berkesan meski aku tetep nggak berani untuk lebih berinteraksi.
Tapi, sejak hari itulah ada sesuatu yang menyelinap dalam hatiku untuk mengikuti jejak langkahnya. Kayak ada keyakinan, suatu saat aku bisa seperti dia dan bahkan boleh duduk di dekatnya, nggak jauh-jauhan gitu. Wuiiihh…
Tapi, menuju jalan semirip orang yang telah menyemangatiku itu bukanlah hal yang mudah. Apalagi waktu itu aku dianggapnya orang daerah yang saat itu masih dianggap sebelah mata. Nggak laku kalau “dinaikkan”.
Begitu kuliah di Bandung, beruntung deh aku punya teman senasib yang punya keinginan sama. Intan namanya. Bersama dia, kamu menyusuri asa pelan-pelan, dari satu redaksi ke redaksi lain menawarkan naskah di Jakarta. Berjuang lah mewujudkan cita-cita kami.
Pernah ngalamin nggak diterima sama redaksinya, diusir Satpam sampe ada juga yang berhasil ketemu redaksinya dan berteman baik hingga sekarang. Pernah kekurangan duit juga selama di Jakarta. Harus ngirit sengiritnya. Maklum… Anak mahasiswa tea… Kadang kalo pas dapet honor dari tulisan yang akhirnya dimuat, aku dan Intan memilih memutarkan uang itu kembali untuk modal ke Jakarta, nawarin naskah lagi, door to door.
Dan, sekarang, dengan segala syukurku pengalaman itu menjadi pengalaman berharga buatku. Buat selalu menyemangati serta mengingatkanku untuk ingat gimana perjuangan dulu sehingga nggak sombong atas apa yang sudah kudapat sekarang.
Apalagi pas di Gramedia Paris Van Java ada seseorang yang curhat punya cerita kurang lebih sama denganku, berhubungan dengan obsesinya di dunia tulisan. Sayangnya, menurutku dia kurang giat. Kurang berjuang. Jadi karyanya cuma sampe sebatas yang dia tunjukkan ke Hilman. Belum seheboh yang seperti dia inginkan. (dia sendiri mengakui)
Ayo, Dek!!! Kamu pasti bisa...
Dan, setiap kali boleh bertemu dengan Mas Hilman seperti kemarin, aku seperti diajak untuk bermain-main lagi dengan masa lalu itu. Bukan untuk Cuma nostalgia saja, tapi untuk berusaha lebih baik lagi dongg…
So, biar kemaren kerasa cape banget…, aku enjoy banget deh.
Semalam sampe jam 23 aja (hebat nih, biasanya jam 21 aja udah setengah watt hehe…), masih mencoba bertahan untuk sekadar menemani rombongan Mas Hilman kali ini. (bukan rombongan dia jaman dulu itu hehe…) Selain karena senang, ya mungkin itulah caraku untuk berterima kasih atas apa pun yang telah Mas Hilman berikan biar mungkin dia nggak pernah tahu itu. (selain sekarang setelah ditulis hihi…)
Thanks being my motivator, Mas Hil…
Jangan kapok dan bosan berbagi buat semua orang yaaaa…

Recent Comments