Tuhan Sang Sumber Segala itu bekerja dengan cara ajaibNya?
Ini sungguh cerita yang saya alami kemarin, hri Senin, 15 Oktober 2007 sekitar pukul 13.30 sampai 16.00 WIB di sekitar Jl Sultan Agung Bandung.
Cerita bermula ketika saat saya masih bersedih atas sebuah kejutan peristiwa hidup yang luar biasa menimpa saya, medapat email dari seseorang yang tidak saya kenal. Panggil dia Alex. (dan dia memanggil saya dengan sebutan "Bu", aduh….!) Isi email itu adalah perkenalan karena merasa ada yang kena ketika membaca buku saya berjudul "Apa Kabar Kang Je?" terbitan OBOR-Jakarta. (Kang Je = Kang Jesus)
Dia bilang, adiknya juga bisa berkomunikasi dengan Seseorang yang menjadi junjungan kami, tapi memang saya personifikasikan dalam buku itu selayaknya teman biasa.
Saya balas email itu dengan menyatakan bahwa kumpulan cerita tentang Kang Je adalah kumpulan cerita hasil dari refleksi saya dan sekitar saya. Perkara apakah saya bisa ngobrol selayaknya manusia biasa dengan yang dimaksud Kang Je itu, saya bilang tidak. Tapi, kalau seperti dintuntun ya karena cerita Kang Je kan bukan fiksi belaka. Ada bagian-bagian yang berhubungan dengan kisah nyata yang dihubungkan dengan ajaran dariNya langsung, baik dari Kitab Suci atau buku-buku lain yang berhubungan.
Rupanya nggak sampai di situ saja kepenasaran Mas Alex.
Dia minta nomor HP saya.
Begitu saya beri, nggak lama dia langsung menelpon dan bercerita tentang Mbak Yanti, adiknya yang dia bilang sebelumnya bisa "berbicara" dengan Kang Je tersebut.
Inti dari obrolan awal kami itu adalah bahkan sebelum Mas Alex dan keluarga membaca buku saya tersebut mereka merasa bahwa mereka harus ketemu dengan saya (terutama Mbak Yanti) supaya bisa saling sharing dan menguatkan. Mereka bilang, ini adalah perintah dari Kang Je sendiri lewat mulut Mbak Yanti. Disebutnya saya sebagai "Gembala dan Domba dari Selatan". Mereka berasal dari daerah Depok yang kalau menuju Bandung adalah arah selatan.
Wah, saya sempat merinding disebut demikian sekaligus merasa tersanjung juga.
Saya sempat melancarkan protes dengan sebutan tersebut. Lha wong saya masih belajar dan terus mencari kerajaanNya kok bisa-bisanya disebut demikian.
Apalagi kemudian disebutkan beberapa hal lain yang kembali dinyatakan hal-hal yang selama ini jauh dari pemikiran saya. Sama sekali.
Saya nulis itu kan buat sekadar sharing. Nggak ada maksud penyombongan religius atau hal duniawi lainnya. Buku Kang Je adalah wujud rasa syukur dan terima kasih saya untuk segala yang terjadi selama ini, baik kepada diri saya pribadi maupun orang lain.
Belakangan saya tanya, kok bisa menemukan alamat email saya.
Mas Alex bilang, karena di buku tersebut tidak saya cantumkan email saya maka dia search ke internet. Dan, ternyata nggak susah mendapatkannya.
Well.
Sampai segitunya.
Masih dalam kondisi yang bercampur baur (jeprut, sedih, kecewa juga tidak menyangka, merasa tersanjung) saya dapat berita kejutan lagi dari Mas Alex bahwa ia dan sekeluarga besar akan datang ke Bandung khusus untuk menemui saya. Kebetulan kan ada libur Lebaran yang cukup panjang, maka mereka mau memanfaatkan satu hari liburnya untuk berkunjung tersebut.
Waduh.
Saya jadi makin merasa dibela-belain deh.
Nah, hari kemarin, lewat acara ritual nyasar dan muacet di Bandung (luar biasa kota Bandung kalau libur panjang begini… mobil dikuasai plat polisi daerah lain…) saya bertemu juga dengan Mas Alex dan Mbak Yanti.
Bukan Cuma berdua, tapi bener-bener sekeluarga besar!
Mungkin ada 15 orang atau lebih termasuk anak-anak. Saya nggak sempat hitung saking banyaknya.
Awal kami bertemu, saya merasa canggung sekali. Biar akhirnya keluar juga sifat asli saya yang suka norak-norak bergembira untuk menutupi kecanggungan saya, tapi sungguh saya merasa sangat tersanjung dibela-belain datang oleh orang yang baru seminggu ini saya kenal.
Luar biasa.
Ketika obrolan mulai digelar, akhirnya ketahuan bahwa sebenarnya selama ini Mbak Yanti memang dikaruniai sebentuk talenta yang membuat dia bingung. Ia bingung apakah talenta itu adalah pemberian dari Kang Je atau "Kang Je" jadi-jadian. Selama ini ia mencoba mencari tahu, tapi merasa tidak pernah lega sebab jawabannya yang ia dapat masih menggantung.
Maka begitu ada bisikan untuk ke Selatan, ia berusaha menuruti.
Talenta yang ia maksud adalah bisa tiba-tiba menjadi perantara seseorang yang oleh sekeluarga besarnya itu diketahui sebagai suara Kang Je atau bahkan Bunda Maria. Mungkin semcam keadaan trans. Beberapa hal membuktikan hal itu. Mbak Yanti juga bisa menyembuhkan penyakit.
Oleh karena kapasitas saya yang tidak kompeten mengurusi hal-hal bersifat lebih dalam begini, maka dengan setengah memaksa saya minta tolong Romo Rosaryanto, OSC yang kebetulan juga mengomentari buku Kang Je saya, untuk mendampingi. Untung Romo Rosa bersedia. (matur nuwun, Romo…)
Di sela kesibukannya memberesi rumah, Romo Rosa kemudian datang ke tempat dimana rombongan Mbak Yanti masih berkumpul.
Setelah saling berkenalan. Mbak Yanti mengungkapkan apa yang menjadi keresahannya selama ini. Dia berusaha terbuka kepada Gembala Tuhan yang baru dikenalnya itu.
Romo Rosa sendiri dalam wejangannya menyatakan bahwa karya Tuhan tidak pernah kita tahu nemploknya kemana. Kadang memang kepada orang yang dianggap "suci" seperti dirinya, tapi kadang kepada orang lain yang tidak disangka-sangka.
Untuk mengetahui apakah itu karya Allah, Romo Rosa sempat menanyakan beberapa hal yang berhubungan dengan hasil atau buah dari apa yang dilakukan Mbak Yanti. Karena buahnya dianggap baik, maka ia bilang Mbak Yanti tidak perlu kuatir. Selama itu bisa membuat orang lain semakin dekat kepadaNya dan tidak menyusahkan orang lain (tetangga misalnya) maka Mbak Yanti jalani saja semuanya tanpa harus takut dengan perasaan apakah yang ia lakukan itu benar dari Allah atau bukan.
Romo Rosa sempat memberi contoh peristiwa Pak Thomas di Surabaya.
Pak Thomas pernah menobatkan sekian orang. Meski ia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, itu urusan dia pribadi dengan Tuhan. Yang paling penting adalah kesediaannya selama hidup menjadi alatNya bagi sesama.
Romo juga menyentil tentang Yudas. Baginya, ia tidak peduli kenapa atau bagaimana peristiwa penghianatan Yudas terjadi. Yang penting adalah penggenapan kehendak Allah bisa terjadi lewat perantaranya. Urusan pribadi, biarlah itu urusan pribadi orang yang bersangkutan. Yang penting bahwa Allah memang telah menyatakan sesuatu yang lebih berguna bagi manusia.
Soal pengakuan dosa juga tidak luput dari obrolan kami.
Menurut Romo Rosa, pengakuan dosa adalah masalah kerendahan hati yang mengaku kepada seseorang yang dianggap perantara Allah.
Di sela obrolan yang lumayan panjang itu, Mbak Yanti sempat trans juga sambil bernyanyi yang menyatakan terima kasih telah menerima ia dan rombongan untuk dikuatkan.
Saya sempat merinding juga mendengar ia seperti itu.
Tapi, saya percaya bahwa itu bukan sekadar suara iseng Mbak Yanti.
Ada sesuatu atau seseorang yang membuatnya demikian.
Sekitar pukul 16 lewat Mbak Yanti dan rombongan pamit pulang.
Meski nggak sempat ziarah ke Karmel – Lembang, karena macet luar biasa, Mbak Yanti mengundang saya untuk main ke Depok.
Dunia sempit kok.
Seorang kakak angkat yang saya kenal baik dan berasal dari Depok ternyata dikenal baik oleh salah satu adiknya.
O ya, keluarga Mbak Yanti ini 12 orang bersaudara! Yang masih hidup 11 orang. Wew.
Kepada saya, Mbak Yanti bilang Kang Je menitipkan pesan untuk tidak menyimpan kesedihan itu sendirian. Padahal saya belum cerita apa-apa kepada MbakYanti.
Saya jadi senyum-senyum mendengarnya meski ada emosi juga yang tertahan..
Saya percaya, Kang Je sendiri yang menitipkan pesan itu. Sebab Ia memang yang paling tahu apa pun yang terjadi pada saya.
Tak lama kami berpisah sambil berharap suatu saat boleh datang kembali.
Lepas dari apa yang baru saja terjadi, sepulang tamu-tamu saya itu, saya merasa cara kerja Tuhan memang luar biasa sekali kali ini.
Saya memang sering mengalami kalau seorang pembaca novel-novel saya pernah ada yang segitu niatnya nyari saya. Dengan berbagai caranya.
Tapi, ketika gara-gara buku Kang Je saya membuat serombongan keluarga ngobrol serasa sudah kenal lama dengan saya, *wow*… siapalah aku ini, Tuhan?
Saya memang percaya bahwa setiap orang diberi misi oleh Tuhan dengan cara dan talentanya masing-masing untuk bisa saling menguatkan, menghibur dan mendampingi. Tetapi, ketika saya pribadi mendapat kesempatan dengan cara begini, saya menjadi sangat terhormat sekali.
Seperti kata seorang teman baik saya dalam SMS-nya begitu saya ceritakan kejadian hari kemarin itu, dia bilang "Siapalah kita ini yang otaknya Cuma seotak udang, tapi ternyata mendapat peristiwa luar biasa yang tidak tertampung dalam otak itu."
Terima kasih, Kang Je…
Peristiwa kemarin menguatkan sekaligus menghibur saya.
Bahwa ada Sesuatu atau Seseorang yang lebih besuar dan kuat dari apa pun yang ada di jagat raya memang adalah benar adanya. Mengalahkan kecemasan, kesedihan, keraguan atau segala yang diperbuat manusia.
Terima kasih, Mbak Yanti, Mas Alex dan keluarga besarnya.
Berkat Kang Je selalu menyertai kita semua…
(bandung nan panas, 16 Oktober 2007, 08.47)

Recent Comments