« October 2007 | Main | February 2008 »

Anak Tunggal Tahun Baruan

Happy Pernah berpikir bahwa menyenangkan menjadi seorang anak tunggal?

Pernah menduga bahwa menjadi anak tunggal itu segala perhatian dan kasih sayang berlimpah tercurah?
Pernah berhayal bahwa anak tunggal adalah anak paling berbahagia di dunia?
Anjar, Natal dan Tahun Baru kemana? Sori baru tanya sekarang. Mobil hilang di Jakarta. Lagi pusing cari gantinya”.
Begitu SMS yang saya dapat sore ini dari kakak sepupu saya yang membuat saya senyum-senyum sendiri.
Bukan saja otak saya langsung iseng berpikir, “gila barang segede itu (mobil maksudnya) bisa hilang? Gimana caranya…?” :) , tapi juga ternyata di sela kebingungan dan kepusingannya atas barang besar berharganya yang ilang itu, kakak saya yang berbeda keyakinan dengan saya itu masih mau meluangkan sedikit perhatiannya kepada saya. Dan, ini membuat saya senang sekali.
Lalu…
Apa hubungannya dengan anak tunggal tadi?
Hm.
Kalau Anda pernah berpikir anak tunggal itu menyenangkan, tercurah segala perhatian dan kasih sayang atau adalah orang yang paling berbahagia di dunia, nampaknya Anda sedikit salah.
Sedikit saja.
Soalnya, saya yang dianugerahi gelar sebagai salah satu anak tunggal di dunia ini merasa kalau segala yang “katanya” di atas tadi nggak sepenuhnya benar.
Kata menyenangkan yang dimaksud di atas sebenarnya relatif kok. Tergantung gimana kita yang menjalani saja. Bahkan yang punya saudara selusin juga bisa saja merasa senang atau tidak. (saya suka merasa iri juga lho kalau pas momen-momen tertentu hanya bisa melewati sendiri, tidak bisa berbagi dengan yang namanya “kakak” atau “adik”)
Kalau soal segala perhatian dan kasih sayang tercurah, ya mau gimana lagi? Lha objeknya Cuma satu itu doang… Mau nggak mau kan.
Tapi…, hal ini bukan berarti sama dengan manja lho yaa… Sebab dalam hidup saya sendiri, orang tua saya nggak begitu saja melakukan hal itu. Saya sudah dibiasakan mandiri sekaligus sesekali dimanja pada porsinya.
Lha, kalo soal berbahagia… Saya ingat hasil wawancara saya hari ini dengan seorang teman yang menyatakan “kita bisa bahagia jika kita bisa menerima kondisi kita sekarang”. Biar kadang sulit, tapi sekian lama saya diberi hidup, saya mencoba untuk menerima apa pun kondisi yang diberi dan terjadi. Dan, ternyata itu memang menyenangkan. Melegakan. Membahagiakan.
So…, begitu saya mendapat SMS dari kakak sepupu, yang sejak kecil bahkan sebelum saya lahir telah ikut orang tua saya, seperti di atas, saya merasa sangat bahagia.
Bahagia karena saya masih punya seorang kakak tidak sekandung yang dengan segala masalah dan kondisi pribadinya masih mau berbagi dengan saya.
Bahagia karena saya boleh merasakan langsung menjadi anak tunggal sehingga merasakan sendiri suka dukanya.
Dan, bahagia karena saya percaya akan ada bahagia lain yang akan saya songsong di tahun depan sebagai manusia utuh. Tanpa peduli jabatan sebagai anak tunggal atau bukan.
SELAMAT MENYONGSONG YANG TAHUN BARU dengan bahagia dan rasa syukur mendalam.
Banyak berkat untuk Anda di tahun 2008
(diantara angin dingin, sore 28 Desember 07, 16.28)

                            

34 Jam Si anjar Di Surabaya: Seri 8 JAM TERAKHIR DI SURABAJA (abis bok!)

Cerita si anjar 34 jam di Surabaya, Rek…

Seri : 8 JAM TERAKHIR DI SURABAJA



07.00 Saya kesiangan bangun!

Hehe… niatnya pengen ke Gereja yang jam 5.30, baru bangun jam segitu. Itu juga separo nggak niat. Puegel awakku Rek…Jadinya, begitu ketemu Suster Pauline, CB di dpn Hening Griya (msh dng mata yg nggak rela melek), saya Cuma bilang “Titip doa aja buat Kang Je ya, Suster…”


08.15 Makan pagi di Biara CB.

Ternyata penghuni Biara jg bnyk yg msh teler hehe… Terbukti yg menemani saya dan Betty makan cm 1 Suster saja.


09.10 Ada SMS dari Mas Heru, Grasindo-Surabaya.

Ternyata Mas yg berjanji mau membawa saya keliling Surabaya sdh datang, tepat di dpn Hening Griya.

Mas Heru dan Dina namanya, saat itu siap membawa saya keliling Surabaya.

Saya malah ditantangi mau kemana?

Lha ya saya nggak ngerti Surabaya je. Jd pasrah saja mau dibawa kemana saja.

Tapi, sebelumnya saya sempat bergurau bahwa saya mau dibawa kemana saja asal nggak dicemplungi ke Lapindo saja. Ternyata, sodara-sodara…!!! Saya dibawa menuju ke sana. Waaa..

Sepanjang jalan tol menuju ke sana, kami bertiga ketawa-tawa dan tukar cerita ttg segala sesuatu berbau buku dan kegiatan di Surabaya.

Jalan tol yg kami lintasi ternyata mengingatkan saya pada situasi di jln tol Cikampek. Jadi, saya sempat bingung, saya ada di Surabaya atau Jakarta ya? Hehe…


10.00 Sampai deh di “LuSi” alias Lumpur Sidoarjo

Begitu mobil parkir, layaknya tmp wisata umum, kami disambut dng retribusi Rp. 2000,00 per-orang. Kami harus naik ke atas dulu untuk melihat kondisi sebenarnya.


Well…, antara takjub dan merasa simpati jg saya begitu melihat sejauh mata memandang hanya lumpur yang menyerupai lautan nan luas.

Di ujung sana, masih terlihat kepulan asap putih yg konon berasal dari pusat semburan lumpur. Sementara tepat di depan saya, lumpur yang berenti jg keluar itu telah memendampakan sekian puluh ribu rumah penduduk (fotonya mejeng duluan di list fotoku)


Ngenes deh liatnya.

Sedang melihat-lihat begitu, rupanya kedatangan kami sudah “diincar” oleh para tukang ojek yang ternyata adalah penduduk setempat. Mereka berusaha merayu kami untuk diajak keliling dng imbalan 10.000 per orang, bolak balik.

Krn saya ikut Mas Heru, saya nurut saja dng si Mas satu itu.

Akhirnya kami bertiga naik 3 motor menuju dataran yg lbh tinggi. Sebelum masuk ke sana, kami diminta lagi 2000 per-orang. Wah…, udah beneran obyek wisata beneran nih.

Dng kalimat, “Yah…, itung-itung bantu penduduk setempat yg nggak punya kerjaan lagi lah Bu… Nggak pa-pa kan?”


Sampai di atas, pemandangan nggak jauh beda.

Bbrp org mulai ikut jg naik ke atas. Tukang ojek yg nggak punya penumpang malah nawarin CD peristiwa yg konon direkam dari awal peristiwa Lapindo itu muncul.

Entah sampai bertahan kapan, tanggul yg dibuat itu.


Ketika hendak pulang, Mas Heru sempat menunjukkan batas lumpur yg sempet mbeleber ke jalanan kereta api menuju Malang. Wah.


10.30 Liat tas di Tunggulangin

Ini beneran cm buat memuaskan keinginan hati liat tas “made in Surabaya” deh…

Soale begitu sampai di sana malah nggak beli hehe… Selain krn memang cm punya waktu setengah jam, ternyata kalo dipikir-pikir harga tas dan modelnya sama dgn di Bdg. So, daripada berat-berat mending beli di Bandung aja deh.

Kami nggak bisa berlama-lama di sana krn jam 12 hrs sdh ada di Sonora FM yg katanya ada di ujung-ujungan. Halah…


11.45 Sampai di Sonora FM.

Ada yg istimewa sesampai saya di sana.

Bkn cm krn tempat itu tempat baru (ya iyalah…), tp jg krn di sana saya bertemu dng si cantik Yuli.

Dia ini adalah salah satu pembaca saya di Sby yg dr awal tau saya akan ke Sby, semangat sekali mendukung dan ingin bertemu. Sampai-sampai selama dlm perjalanan dia selalu bertanya dimana saya berada saat itu hehe…

Ada jg perwakilan lain dr Grasindo.


Setelah saling berkenalan, kami menuju ke ruang studio.

Sebelum on-air saya sempat ditanya macam-macam dulu oleh penyiarnya. Hehe… rupanya buku “Lelana” br ada di tangan sang penyiar (Mas Ekki namanya) mlm harinya. Ya nggak sempat baca habis deh…

Untung ada Yuli yg detik itu mendadak jadi marketing dadakan untuk tulisan saya khususnya “Lelana”. Hehe… Dia bersama Mas Heru didaulat untuk ikut “jual kecap”…


12.00 – 13.00 Siaran di Sonora FM Surabaya….


13.10 Pulang dari Sonora laper, ada yg janji mau ngajak makan rujak cingur!

Setelah sekian lama penasaran sm yg namanya rujak cingur Surabaya aslinya gmn, akhirnya sepulang dari Sonora, Yuli, Mas Heru dan Dina mengajak saya ke Delta Mol yg katanya ada rujak cingur paling enak.


Tp, siapa sangka sebelum ke sana saya dibawa dl ke sebuah jalan nan panaajaaang ternyata adalah jalan “Prostitusi Legal” alias yg lbh sering dikenal dng nama “Gang Dolly”.

Sayangnya, krn siang, saya nggak sempat melihat “keramaian” yg ada. Cm sempat liat ada taksi yg membawa 2 perempuan dng 1 cowok. Nggak tau kemana.


14.15 Selesai makan siang, ngambil tiket ke ITS, rumah Thomas-Agnes.

Hbs mkn, sempet jalan-jalan dl deh.


16.05 Sampe ke Hening Griya, beberes lalu pamitan.


16.15 Ke toko oleh-oleh, beli oleh-oleh sebentar.


16.40 Sampai di Stasiun Gubeng Surabaya

Di dpn Stasiun, Bu Ilin yg hari sebelumnya sbg penjemputku, sudah menunggu. Hendak mengantarkanku kembali ke Bdg. Hiks….


16.55 Naek kereta


17.05 Keretaku melaju. Membawaku kembali ke Bandung tercinta…


Terima kasih Surabaya.

Terima kasih Bu Ilin, Betty, Sr. Pauline, CB, Mas Bagyo-Hening Griya, Suster-suster di Biara CB Surabaya, Thomas-Agnes, Mas Heru, Dina, Yuli, Mas Ekky, Grasindo-Sby dan semuanya saja. Kenangan indah 34 jam di Surabaya ini nggak mungkin akan terlupa deh…

Khusus buat Monik yg udah bisa jadi-in cerita ini terjadi... Nuhun pisan Neng... Nggak nolak kok kalo jadi "menejer marketing"ku lg untuk kesempatan lain hehe....


Kapan-kapan masih boleh ya kita bercanda riang lagi…

34 Jam Si anjar Di Surabaya: Seri PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA

 

Cerita si anjar 34 jam di Surabaya, Rek…

Seri : Biarkan Kole-Kole Terus Melaju

Setelah sempat ngobrol ngalur ngidul dng Suster Paulina, CB selaku Kepala Sekolah dan beberapa Suster yang lain, saya bergegas menuju kamar di Hening Griya. Msh ada waktu buat istirahat lalu bersiap kembali untuk acara pukul 17.00 WIB.

Sdh diwanti-wanti bahwa acara nggak pake ngaret. Diharap para pengisi acara sdh siap paling lambat jam segitu. Makanya saya berusaha untuk nahan keinginan untuk skadar tidur. Hehe…

Setelah mandi, saya, Betty dan Dina (yg sama-sama tidur di Hening Griya) bersama menuju lokasi acara. Sdh bnyk panitia yg melakukan persiapan untuk acara yg sebentar lg akan dimulai.

Sambil menunggu waktu, saya melihat segala situasi yg ada.

Satu-satu tamu pun berdatangan. Mrk adalah para orang tua murid, masyarakat sekitar, Pastor Paroki, utusan dari Konggresi lain, alumni serta pemerhati atau pemuka masyarakat.

Kalau ditotal-total, yg dtg sore menjelang mlm itu, krg lbh berjumlah 300 org.

Ketika waktu menunjukkan pukul 17.30, acara resmi dibuka.

Doa, permainan kolintang oleh murid-murid SMA St. Carolus kemudian saya dan para pembicara (Sr. Terry, CB, Bpk anggoro dan moderator ) dipanggil menuju panggung.

Kami pun bersiap untuk memberikan semacam ulasan dari cerita dalam buku “Biarkan Kole-Kole Terus Melaju”.

Buku satu itu unik.

Bukan saja karena berisi refleksi dr perjalanan hidup para Suster CB, tetapi jg ttg bagaimana menjaga komitmen dari awal hingga akhir.

Pada pembahasan buku ini, boleh terbilang unik. Soalnya bukan kami saja yg ngecap di depan. Tapi, sebelumnya ada pendramatisasian atas cerita yg dimaksud.

Ada 4 cerita dari kumpulan cerita di buku itu yg diangkat dlm bentuk teater dan kemudian dibahas oleh para pembahas.

4 cerita itu adalah: “Dituntun Cowok Cakep”, “Biarkan Kole-kole Terus Melaju”, “Bandel Kok Jadi Guru”, dan “Setelah Vonis Kuterima”.

Teaterikal yg dibawakan memang adalah bagian dr crt itu. Meski terpenggal-penggal, tp orang yg melihat pasti bisa ngeh dng isi cerita. Apalagi kemudian satu-satu dibahas oleh para pembahas.

Anak-anak SMA yg membawakan teater itu membawakannya dng penghayatan yg bagus. Mrk seolah-olah adalah pelaku dr crt yg dimaksud. Bahkan bbrp kali disambut tawa lucu oleh para hadirin krn mmg cerita yg dibawakan bernuanasa gembira.

Pd cerita terakhir yg berjudul “Setelah Vonis Kuterima”, suasana yg semula cerita tadi ceria berubah menjadi sendu.

Dlm crt itu diceritakan ttg perjuangan seorang Sr. Martinia, CB yg mengidap penyakit kanker payudara. Kalau org lain, bs jd setelah divonis akan down dan tdk bergairah menerusi hdp, maka “perempuan perkasa” satu ini justru bersemengat menerusi hdp dan setia dlm komitmennya.

Bahkan, dlm kesakitannya sendiri, dia mau dan berusaha menyemangati org untuk tetap hdp. Bnyk crt haru yg belakangan ketauan atas apa pun yg dibuat almarhumah sebelum ia dipanggil kira-kira 3-4 bln lalu.

Luar biasa.

Crt yg luar biasa ini kebetulan dimandatkan kpd saya untuk dibahas lbh lanjut.

Duh, saya sempat ketar ketir. Bisa nggak yaaa…

Apalagi crt ttg kematian begini, pasti mengingatkan saya kpd Bpk/Ibu alm. Bisa-bisa saya terbawa suasana deh.

Teaterikal yg dibawakan pun nyaris bikin saya menangis.

Brebe mili kalo org Prancis bilang (hihi….)

Dlm hati, saya sempat “nyuwun sewu” kpd Suster Martinia untuk membantu dan mengijinkan saya membahas ttg kehidupannya. Saya mmg nggak mau membahas ttg kematiannya.

Coret-coret pd sebuah buku sudah saya siapkan.

Kebetulan jg ada Bapak/Ibu almarhumah yg berkesempatan hadir saat itu.

Moderator mengenalkan kpd para hadirin. Keharuan, tdk bs disembunyikan.

Puji Tuhan… Meski sempat menahan emosi dr dlm, saya bs membawakan ulasan dari cerita “Setelah Vonis Kuterima” itu dng baik.

Intinya, saya hanya ingin membawa para hadirin yg jg nanti akan bs membaca kisah itu (gratis diberikan bo!), bs menjadikan apa yg dilakukan oleh Suster Martin sbg sebuah motivasi hidup dlm kehidupan kita ini. Tdk menjadikan kelemahan sebagai keburukan dan penghancuran dlm hdp, tetapi justru menjadi semangat untuk menerusi hidup. Tentu saja dng bantuan dan kepasrahan kepada Sang Pemberi hidup.

Bukan berapa lama kita hidup. Tapi, bagaimana kita hidup.”

Setelah semua dibahas, ada sessi tanya jawab.

Saya sempat keder jg ketika ditanyakan sebuah pertanyaan yg sebenarnya berhubungan dng Suster-Suster CB saja. Bkn awam spt saya.

Untungnya, ya saya kok punya persediaan kalimat.

Selamet deh saya hehe…

Pukul 20.30-an acara selesai.

Dilajutkan dng makan malam yg unik jg.

Tersedia para tukang makanan yg sengaja dipanggil oleh orang tua murid yg jg ingin berpartisipasi dlm acara itu.

Kalau dlm istilah mrk, kalo nggak salah itu disebut dng “robongan”. Hehe… lali aku…

Sekitar pukul 21.30 satu-satu tamu meninggalkan tempat acara.

Tmp acara sendiri pun mulai dibersihkan.

Saya sendiri nggak langsung kembali ke Hening Griya. Ngobrol dl dong dng banyak teman baru saya yg memang pada rame semua.

Ya nggak Kep-Seknya, gurunya, bahkan anak muridnya, waaaa…, saya baru kali ini menemukan kedekatan dan keakbran yg hangat. Meski begitu mrk tetap tau posisi masing-masing.

Pukul 22.30 saya kembali ke Hening Griya.

Tp, nggak bs langsung istirahat soale Thomas dan Agnes, 2 sahabat baik yg pernah menjadi teman main selama mrk menjadi mhs di Bdg dl, akan datang.

Sebenarnya badan sdh penat, tp berhubung sdh lm nggak ketemu pasangan suami istri itu, saya tunggu deh merek. Dibela-belain.

Nggak lama mrk pun datang.

Dan, obrolan kami pun menyita malam hingga pukul 00.30.

Nggak kerasa.

Tp, apa boleh buat… Badanku udah pedot kalo terus-terusan diminta “on”.

Begitu Thomas-Agnes pulang, saya sdh terbayang bantal, guling dan kasur yg ada.

Cuman….

Ukh.

Nyamuk-nyamuk nakal itu membuat sekitar 1 jam saya harus berjuang melawannya meski sdh diberi lotion anti nyamuk.

Alhasil… Jam 1.30 br bener-bener bs memejamkan mata. Tanpa gangguan.

Cape deh….

(bersambung lagih...)

34 Jam Si anjar Di Surabaya: Seri PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA

Cerita si anjar 34 jam di Surabaya, Rek…

Seri : Perempuan-Perempuan Perkasa

Kompleks Sekolahan St Carolus Surabaya terdiri dari tingkatan TK-SMA.

Menempati tempat yg cukup luas, sekolahan yang dikelola oleh Suster-suster CB itu nampak cukup ramai karena ada yang menjelang bubaran sekolah.

Yg menarik, kompleks sekolahan St. Carolus tersebut ternyata bertetangga sangat dekat dng sekolah Petra. Karena posisi 2 sekolahan itu di kompleks perumahan, bayangkan sj kalau dua sekolahan itu sedang berkegiatan. Ramainya itu lho…

Bu Ilin dan Betty menceritakan suka dukanya berkegiatan ajar mengajar di sana.

Saya lupa memotret batas kedua sekolahan tersebut yg hanya berupa pagar memanjang saja.

Lalu, kembali kepada saya yg serasa org asing di planet baru…

Rupanya panitia telah menyiapkan saya untuk beristirahat di rumah retret Hening Griya. Persis di sebelah sekolahan St. Carolus. Di hadapannya, biara Suster CB.

Setelah beristirahat sejenak, mandi, saya dikontak oleh Mas yg jaga bahwa saya ditunggu oleh pembicara lain di ruangan lain, di sekitar sana jg.

Wah, lha saya kan nggak kenal siapa-siapa selain Bu Ilin waktu itu. Jd, ya ragu jg kalo ujug-ujug menongolkan diri. Isin…

Sampai akhirnya Bu Ilin muncul lg dan mengajak saya untuk bertemu dengan para pembicara lain.

Di ruangan yg dimaksud, sdh ada 2 Suster, Pak Anggoro dan Rm. Sindhunata.

Di luar perkiraan saya, ternyata sambutan mereka kpd saya membuat saya jd merasa nggak deg-degan lagi. Terutama Rm Sindhu.

Sebuah penghormatan tersendiri buat saya bakal bs berdampingan dng Rm Sindhu dan pembicara lainnya.

Sekitar 1 jam kami bersama di ruangan itu untuk membicarakan acara sore harinya.

Sempat terjadi kesalahpahaman dng menu makanan yg disediakan.

Maksudnya, rujak cingur yg dibelikan Suster untuk icip-icip saja. Ternyata krn porsinya yg besar, dianggap sbg makan siang. Ya sudah…, makanan yg disediakan para Suster CB di Biara nggak laku deh… Hehe…

Cuma saya sendiri yg mkn siang di sana.

Habis makan siang, saya dipersilahkan melihat-lihat sekolahan dan tempat “mentas” nanti.

Benar kata Rm Sindhu, acara ini benar-benar telah disiapkan dng baik oleh para panitia. Terbukti dengan segala perlengkapan dan panggung yg telah siap.

Sebagian adalah hasil krj dari para murid SMA St. Carolus.

Saya juga berkesempatan masuk ke ruangan Kepala Sekolah SMA St. Carolus yg saat ini dipegang oleh Suster Paulina, CB.

Di ruangan ini, sempat bikin saya terkagum-kagum. Soale, nggak seperti ruang Kep-Sek lainnya, ruangan Kep-Sek satu ini sangat welcome pd siapa sj yg datang.

Bs jd krn AC-nya yg menyegarkan diantara hawa udara Surabaya nan panas, bs jd jg krn keramahan dan keakraban yg diberikan oleh Sr. Paulina, CB selaku sang empunya.

Saya sempat ngobrol dan foto-foto bareng jg dng mrk.

Saya menyebutnya sebagai perempuan-perempuan perkasa sebab dng segala keterbatasannya, mrk mau berkomitmen seumur hidup untuk sesama dan Dia.

Kalau dengar cerita dr mrk, wuih… memang hebat mahluk yg dinamai perempuan itu.

Sbg sesama perempuan, sy pantas bersyukur karenanya.

(bersambung)

34 Jam Si anjar Di Surabaya: Seri SURABAYA AKU DATANG

Cerita si anjar 34 jam di Surabaya, Rek…

Seri : Surabaya, Aku Datang…

Sekitar pukul 4.30an, petugas yg ngambil selimut datang dan ngambilin selimut para penumpang yg kebanyakan sdh melek.

Biasanya nih, kalo udah begini tandanya lokasi sudah sampai. Maka buru-buru saya meng-SMS Bu Ilin krn takutnya kereta datang lbh awal dari perkiraan.

Setelah selimut diambil, lg enak-enaknya melamun, mendadak sang pramugari tanpa ngomong apa-apa menyodorkan saya sepiring makanan.

Saya pikir itu makan pagi ala Kereta Turangga ini. Ya, saya ambil deh.

Rada aneh sih saya sarapan steak gitu. Sok bule banget. Pdhal bule jg belum tentu begitu. Tapi, ya daripada disia-siakan, ya wis… saya makan.

Rasanya?

Huaa…, membuat saya nggak bisa menghabiskan meski Cuma separuhnya saja. Saya akhirnya hanya bisa makan telor ceplok dan sayur-sayuran yg ada saja.

Tapi, ada satu hal yg di luar dugaan saya. Setelah ternyata di Stasiun Kertosono dan Wonokromo, KA-nya ngetem lama, hampir mau sampai Stasiun Gubeng, pramugari yg td memberi sarapan itu, memberi bon kpd saya.

Halah.

Ternyata mbayar tho?

Duapuluh ribu!

Ya ampun.

Udah rasanya nggak karuan, saya jg nggak niat makannya, hrs bayar 20 rb pula. Rugi bandar Rek!

Setelah sempat tertahan ckp lm di 2 stasiun itu, akhirnya nggak jd deh datang lbh awal di Gubeng. Bikin saya nggak enak sama Bu Ilin dan Betty yg jemput saya dan konon ckp lm nunggunya.

Tapi, begitu sampai di Stasiun Gubeng, 1 hal yg bikin saya rada kaget.

Bkn krn jetleg sebab saya pertama ke Surabaya. Tapiiii…, kok lagu selamat datangnya “Bubuy Bulan” ya? Lha saya ini sedang ada di Surabaya atau mandung?

Komentar Bu Ilin, “Itu tandanya orang Surabaya memang menyambutmu, Njar…”

Sebab sdh ckp siang, sementara sdh ada acr yg menanti, maka saya Bu Ilin dan Betty segera meninggalkan Stasiun.

Sebelum terus melaju ke SMA Carolus, Bu Ilin ngajak saya sarapan dl ke pecel Madiun “Bu Kus”. Wah, ini makanan baru saya dengar jg biar ada kata “pecel”nya yg nggak terlalu asing di telinga.

Waktu Bu Ilin meminta saya untuk milih lauk, saya pikir pecelnya ber porsi kecil. Maka saya milih lauk “Udang Gimbal”.

Begitu makananya dateng… halah-halah… lha rempeyeknya aja sdh menutupi pecelnya. Plus udang gimbal yg saya pesan.

Lalu bagaimana cara saya memakan sarapan yg nggak biasa itu?

Selesai dari sarapan, kami bertiga langsung cabut ke SMA Carolus…

(bersambung)

34 Jam Si anjar Di Surabaya: Seri DI KERETA

Cerita si anjar 34 jam di Surabaya, Rek…

Seri : Di Kereta

Setelah rada sibuk sepanjang Jumat 23 November 2007 siangnya, akhirnya jam 18.30 saya berangkat ke Stasiun Bandung biar nggak telat. Kereta yg akan membawa saya ke Surabaya adalah kereta api yg berjudul Turangga.

Begitu sampai di Stasiun, saya nggak meriksa lagi tiket yg ada di tangan.

Pokoknya di kepala ingatnya saya ada di gerbong 7 no 7D. Si gerbong ini ternyata belum tersambung dan entah sedang ada dimana. Jadi deh saya nunggu di dekat sana.

Begitu gerbong 7 tersambung, saya langsung naik.

Pas ada di dalam gerbong itu, saya baru sadar, jangan-jangan saya salah baca tiket nih. Nggak tau knapa pikiran itu mendadak aja ada di kepala. Lalu, ketika saya mendekati tempat duduk 7D, si Bapak di 7C nanya tiket saya.

Dan ternyata sodara-sodara…, sebenarnya saya harusnya berada di gerbong 1!!!

Lha itu kan judule dari ujung ke ujung.

Walah…

Karena waktu sdh mendekati pkl 19.00, waktu keberangkatan kereta maka saya disarankan untuk menyusuri gerbong demi gerbong saja.

Ya judule olahraga malam deh.

Lha dari gerbong 7 yg di ujung, paling belakang menuju gerbong 1 yg di ujung, paling depan.

Huaaa…

Belum 10 menit berjalan, mendadak ada keramaian di blk tmp duduk saya.

Rupanya ada kesalahpahaman antara seorang penumpang dng kondektur. Krn saya nggak merasa terlibat, jd saya kembali menulis SMS untuk memberitahukan kpd Bu Ilin yg akan menjemput saya di Stasiun Gubeng Surabaya.

Belum lama saya kembali asyik nulis SMS, mendadak ada suara seperti plastik yg digembungkan lalu dipecah. Lumayan keras. Krn td ada rame-rame di blk saya, ya saya otomatis liat ke belakang. Tp, ternyata Bapak-bapak dan dan sang kondektur udah nggak ada masalah. Lalu, suara apa itu.

Begitu saya kembali ke posisi duduk saya, kok orang-orang di sekitar saya malah nunjuk ke arah saya. Lha ya nambah bingung tho saya…

Ternyata, orang-orang itu nunjuk ke arah saya karena bunyi tadi adalah aksi vandalisme oknum yg nggak saya kenal.

Oknum itu sengaja melempar batu hingga membuat goresan kaca di sebelah saya.

Dan, pecahan kaca yg ada persis di sebelahku itu adalah pecahan kaca “terbagus” dibanding yg lain. Yang lain pecahannya lebih sadis.

Kok ya ada orang yg sampe segitunya yaaa…

Untung nggak bikin buat org lain jd cedera.

Nggak lama setelahnya, dibagikan makanan malam. Lauknya sih sayur telor, ayam balado, krupuk, pisang dan nasi.

Saya nggak berniat motret soale saya jg akhirnya memberikan lauk kpd sebelah saya.

Lha wong sebelumnya sdh makan je.

Habis itu, nggak nyampe 1 jam, selimut dibagikan.

AC memang dingin terasa. Meski udah membawa perlengkapan perang melawan dingin sendiri, tp selimut yg dibagikan, makin membuat saya ingin segera bobo… Pergi ke alam mimpi sembari membiarkan malam cepat berlalu di kereta itu…

Zzzzzz….zzzzzz….

(bersambung)