« Serial Mudik 08 : "Ke 'rumah' Ibu/Bapak" | Main | Serial Mudik 08 : "Duda-Duda Perkasa" »

Banyak Hal Harus Saya Relakan...

Pulang dari Jakarta, nikahannya Anto-Angel, semalam, sembari mata udah 5 watt saya masih memandangi lemari baju saya yang terbuat dari plastik. Memang harus segera diganti. Bukan saja nampaknya sudah nggak muat, tapi emang kwalitas lemari plastik jaman sekarang jelek banget. Baru setahun udah reot. Padahal lemari itu udah 4 tahun umurnya.

Saya jadi kepikiran untuk mengurangi isinya dulu.
Di sana, selain pakaian-pakaian saya, juga ada beberapa barang lain yang bukan pakaian.
Maklum, masih kos. Kamar sempit pula. Jadi harus pintar-pintar menyimpan semua barang yang ada.
Lalu, tadi sehabis mandi, saya menemukan selembar pakaian terusan berwarna putih bermerek Free & Free.
Ini bukan urusan merek kalau saya mempertahankan pakaian itu meski jarang banget dipakai.
Mungkin turunan dari Ibu saya alm, kalau saya suka eman-eman (kata orang Jawa) dengan segala barang terutama barang yang didapatnya penuh perjuangan, punya ceritanya sendiri dan atau yang diberi orang lain.
Rasanya sayang sekali kalau harus dibuang.
Seringnya, saya bela-belain barang tersebut untuk dipertahankan biar berarti harus nyari tempat untuk tempat penyimpanannya yang berarti pula bisa nambah menuh-menuhin kamar saya yang sempit itu.
Alhasil, banyak barang yang sebenarnya sudah bisa "dipensiunkan", masih tetap setia saya simpan.
Saran beberapa teman dekat biasanya saya cuekin.
Alasannya ya seperti di atas, lebih karena saya merasa punya cerita sendiri terhadap barang-barang itu.
Sekitar menjelang 7 hari setelah kematian Ibu, saya sengaja beberes rumah.
Selain memang supaya rumah lebih bersih, saya tahu, ada barang-barang milik Ibu yang harus direlakan untuk dipensiunkan. Entah itu dibuang atau diberikan kepada orang lain yang membutuhkan, seperti pakaian atau barang lain yang bisa digunakan.
Saat itulah saya sadar bahwa banyak barang Ibu yang saya tahu punya cerita sendiri harus saya relakan dipensiunkan.
Ada beberapa barang yang saya tahu persis sangat disayangi Ibu. Benda itu termasuk yang dipelihara dan dirawat dengan baik. Tapi, dengan kondisi saya yang ada di kota lain sementara kalau minta tolong ke orang rasanya nggak mungkin, apa boleh buat, harus saya relakan untuk diberikan kepada orang lain.
Demikian juga dengan pakaian berwarna putih yang saya ceritakan di atas.
Akhirnya barusan saya putuskan untuk saya berikan kepada Mbak Wati, pembantu di tempat kos saya. Berharap, pakaian itu masih cukup dipakai oleh anaknya yang masih ABG. Secara kondisi fisik pakaian, masih bagus karena saya jarang memakainya dan nggak ketinggalan jaman.
Sempat ada bagian dalam diri saya yang masih belum rela memberikan barang itu.
Bukan apa-apa.
Pakaian itu ada sejarahnya sendiri. Gimana saya harus menabung dulu hanya untuk membeli pakaian yang waktu itu harganya cukup mahal sementara kondisi keuangan saya nggak memadai.
Tapi..., saya tahu.
Daripada menuh-menuhin, dan jarang dipakai pula, saya harus membiarkan ia berlalu dan bisa berguna untuk orang lain.
Dan, karena beberapa kejadian di atas saya jadi belajar lagi.
Belajar merelakan banyak hal dalam hidup saya untuk bisa dilepaskan dengan iklas.
Tanpa harus melihat ke belakang lagi, maju mundur atau bahkan membuat batal rencana.
Memang kudu dipikirkan matang-matang sih... Nggak asal aja biar tidak ada penyesalan.
Tapi, bentuk kerelaan dan keiklasan ini menjadi pelajaran tersendiri bagi saya.
Pelajaran bagaimana membiarkan masa lalu menjadi bagian dari masa lalu, entah suka atau duka. Banyak kejadian yang harus menjadi kenangan dan HARUS TETAP MAU menjadi kenangan, tanpa memaksa untuk tetap boleh terjadi terus ada di saat ini.
Sebab segala kenangan itu adalah bekal menuju hari ini.
Sebab kerelaan dan keiklasan hati menerima masa lalu adalah kekuatan dan dorongan sendiri menghadapi saat ini.
........................................
                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .