« February 2008 | Main | April 2008 »

Serial Mudik 08 : "Duda-Duda Perkasa"

SERIAL MUDIK 08

Bagian 4

Duda-Duda Perkasa”

Hari Senin, 17 Maret 2008, saya awali dengan bangun pagi. Hari ini Pak Romli akan mulai membetulkan kondisi rumah saya yang memang harus dibetulkan.

Tapi, sebelum ia datang, saya sengaja ke pasar dulu untuk membeli kopi dan memang berniat berjalan-jalan saja ke pasar penuh kenangan itu. Saya nggak pernah melewatkan satu hal ini tiap kali mudik. Bagi saya, wajib hukumnya untuk ke pasar tradisional yang jaraknya Cuma 5 menit dari rumah saya itu. Dulu ada jalan pintasnya. Tapi, jalan itu sengaja ditutup. Jadi, saya harus memutar.

Di pasar itu saya membeli kopi dan panganan yang nggak ada di Bandung.

Hehe… Itu makanan kecil saya. Baru sebagian saja.

Saya nggak bisa lama-lama di pasar kesukaan saya itu karena takut ditunggu Pak Romli. Pulang dari pasar, saya bertemu Mbak Mira. Mbak satu ini adalah adik dari pemilik Warung Jamu Cak Umar yang menempati temat, dua rumah dari rumah saya.

Ada yang berbeda dengan penampilan Mbak satu ini. Selain terlihat lebih gaul, dia sekarang berani memakai kaos ketat. Dan, hei… ada yang *menyembul* di balik kaosnya.

Hihi… Pasti pada berpikir, gitu aja kok dipermasalahkan sih?

Kalau Anda pernah membaca postingan saya yang berjudul “Jenis Kelamin Itu Pilihan” maka Anda akan paham siapa Mbak Mira yang saya maksud.

Yup.

Mbak Mira adalah waria. Waria cantik yang menempatkan diri sebagai perempuan muslimah yang berkerudung. Soal sah atau tidaknya dia begitu, saya nggak mau sok tahu. Yang jelas, selain pernah membuat Ibu alm ketar ketir tiap kali Mbak Mira cipika cipiki kalau ketemu saya (Ibu beranggapan Mbak Mira tetap seorang laki-laki), saya juga sering mendapati Mbak satu itu lupa memotong kumis tipis yang masih tetap tumbuh di bawah hidungnya hehe…

Setelah bertukar sapa dengan Mbak Mira (pasti dengan “bonus” cipika cipikinya”), saya kembali ke rumah. Rupanya Pak Romli sudah datang. Ia bersama Pak No yang akan membantunya. (Pak Romli menyebut Pak No dengan sebutan “kenek” karena yang akan membantunya bekrja di rumah saya mulai hari itu). Pak No ini seorang tukang becak, “pendekar” alias pendek kekar, berkulit hitam legam, berkumis lebat dan berksan anger. Tapi, begitu ngobrol lebih dekat, ternyata orangnya suka guyon. Sempet bikin *surpraise*, seperti contoh di bawah:

Pak No : “Neng tinggal di Bandung?”

Saya : “Iya, Pak. Sekarang saya di Bandung.”

Pak No : “Tiasa bahasa Sunda atuh…”

Saya : “Lho… kok Bapak bisa bisa ngomong Sunda? Bukannya Bapak dari Jawa?”

Pak No : “Istri saya almarhum kan orang Sukabumi. Jadi dikit-dikit mah bisa.”

Saya : “Oh, istri Bapak sudah meninggal? Sudah lama, Pak?”

Pak No : “Sudah 6 tahun lalu, Neng… Saya bujang lagi nih sekarang. Jadi kalo

lagi pengen, terpaksa beli.”

Ups.

Oow.

Saya nggak bisa komentar apa-apa lagi deh begitu Pak No mengatakan kalimat terakhir itu. Cuma senyum-senyum saja. Tapi, pada waktu-waktu berikutnya, Pak No ternyata laki-laki yang sopan. Dia tetap memanggil saya “Neng” atau “Mbak”. Kadang di sela kerjanya tetap memberi joke-joke yang bikin saya tertawa.

Seperti ketika saya menawarkan kopi. Pak No bilang, “Wah, saya sudah hitam gini, masa ditawarin kopi yang hitam juga?” saya becandain lagi dengan menawarkan kopi putih kalau ada. Pak Romli yang mendengarkan jadi tertawa-tawa.

Harus diakui, dengan sistem borongan seperti yang Pak Romli mau (dan baru kali ini saya *ngeh* dengan istilah borongan dan atau harian itu) memacu keduanya untuk menyelesaikan tugas secepatnya. Pak Romli yang rapi bekerja mendapat partner kerja yang memiliki tenga ekstra seperti Pak No. Keduanya saling bahu membahu. Target 5 hari nampaknya bisa selesai dalam 3 hari saja.

Iya sih… Secara hitung-hitungan saya sedikit mrugi karena membayar dengan sistem borongan bukan harian. Tapi, mengingat pekerjaan mereka yang rapi dan membuat saya puas, saya pikir cingcay lah…

Pak No ini mempunyai anak 6 orang. Ada yang sudah menikah, tapi yang paling kecil baru berumur 7 tahun. Saat Ibunya meninggal, si bungsu ini baru berusia 2 tahun. Di posting saya berikutnya saya akan bercerita siapa yang dimaksud. Yang jelas, ia menjadi salah satu orang yang karena kehadirannya bisa membuat wawasan saya bertambah lagi.

Pada hari keempat bekerja, Pak Romli memang sengaja tidak menggunakan tenaga Pak No. Ia sengaja menyelesaikan sisa pekerjaan sendiri. Saat itulah saya baru tahu kalau Bapak beranak 8 (dan istrinya juga sudah meninggal) berusia 66 tahun!

Luar biasa.

Padahal kalau dilihat dari fisiknya, mungkin lebih pantas dia berusia 50-an tahun.

Tapi, nggak aneh juga kalau ia berusia segitu sebab saya mengenalnya sejak saya masih kecil. Salah satu anaknya ada yang seumuran dengan saya. Ya pantaslah kalau demikian.

Pada hari Jumat, 21 Maret 2008, pekerjaan Pak Romli rampung.

Rumah saya pun sudah terlihat lebih apik.

Ada kebanggaan yang pela-pelan menyelinap dalam diri saya. Kebanggan boleh menepati janji meski baru sedikit demi sedikit. Kalau orang bilang ini adalah perbuatan yang sedikit terlambat, bagi saya tidak. Sebab, saya percaya Sang Maha Pengatur memang telah membuatnya sedemikian rupa. Lengkap dengan segala peristiwa yang menyertainya.

Pada Jumat siang itu, saya memang berniat memanggil tukang kasur untuk membetulkan kasur kapuk di rumah yang kempes dan nggak layak ditiduri.

Entah kenapa, pilihan saya tertuju pada seorang Bapak tukang kasur yang belakangan bernama Pak Sailiki.

Dari perawakannya orang pasti sudah bisa menduga usianya di atas 60 tahun.

Tapi, saya tetap kaget ketika dia mengatakan berusia 82 tahun!

Walah.

Padahal untuk menyelesaikan pekerjaannya ini, dia harus menggotong 5 kilo kapuk dari rumahnya menuju rumah saya meski tetap dibantu dibawakan bersama becak sih… Cuman, tetap saja membuat saya kagum.

Luar biasa.

Dan, lagi-lagi…, Bapak beranak 3 ini sudah ditinggal istrinya 7 tahun lalu. Sementara ia sudah tinggal di Lampung sejak tahun 1955.

Fuih.

Nampaknya kali ini saya memang dipertemukan dengan orang-orang kuat. Kuat dalam arti sebenarnya. Masalah umur, terbukti bukan halangan. Biar pun itu seringkali menjadi kendala (seperti Pak Romli yang baru sembuh dari sakitnya), keinginan untuk tetap menerusi hidup semampunya, menjadi kekuatan tersendiri.

Pak No, Pak Romli dan Pak Sailiki contoh konkrit manusia ciptaan Tuhan yang nggak menyerah pada kondisi apa pun. Bahkan saat raganya memang harus terbatas oleh sebab peristiwa yang menimpa mereka.

Saya salut pada mereka.

Tetap semangat, Bapak-bapak…!!


(bersambung)

                            

Banyak Hal Harus Saya Relakan...

Pulang dari Jakarta, nikahannya Anto-Angel, semalam, sembari mata udah 5 watt saya masih memandangi lemari baju saya yang terbuat dari plastik. Memang harus segera diganti. Bukan saja nampaknya sudah nggak muat, tapi emang kwalitas lemari plastik jaman sekarang jelek banget. Baru setahun udah reot. Padahal lemari itu udah 4 tahun umurnya.

Saya jadi kepikiran untuk mengurangi isinya dulu.
Di sana, selain pakaian-pakaian saya, juga ada beberapa barang lain yang bukan pakaian.
Maklum, masih kos. Kamar sempit pula. Jadi harus pintar-pintar menyimpan semua barang yang ada.
Lalu, tadi sehabis mandi, saya menemukan selembar pakaian terusan berwarna putih bermerek Free & Free.
Ini bukan urusan merek kalau saya mempertahankan pakaian itu meski jarang banget dipakai.
Mungkin turunan dari Ibu saya alm, kalau saya suka eman-eman (kata orang Jawa) dengan segala barang terutama barang yang didapatnya penuh perjuangan, punya ceritanya sendiri dan atau yang diberi orang lain.
Rasanya sayang sekali kalau harus dibuang.
Seringnya, saya bela-belain barang tersebut untuk dipertahankan biar berarti harus nyari tempat untuk tempat penyimpanannya yang berarti pula bisa nambah menuh-menuhin kamar saya yang sempit itu.
Alhasil, banyak barang yang sebenarnya sudah bisa "dipensiunkan", masih tetap setia saya simpan.
Saran beberapa teman dekat biasanya saya cuekin.
Alasannya ya seperti di atas, lebih karena saya merasa punya cerita sendiri terhadap barang-barang itu.
Sekitar menjelang 7 hari setelah kematian Ibu, saya sengaja beberes rumah.
Selain memang supaya rumah lebih bersih, saya tahu, ada barang-barang milik Ibu yang harus direlakan untuk dipensiunkan. Entah itu dibuang atau diberikan kepada orang lain yang membutuhkan, seperti pakaian atau barang lain yang bisa digunakan.
Saat itulah saya sadar bahwa banyak barang Ibu yang saya tahu punya cerita sendiri harus saya relakan dipensiunkan.
Ada beberapa barang yang saya tahu persis sangat disayangi Ibu. Benda itu termasuk yang dipelihara dan dirawat dengan baik. Tapi, dengan kondisi saya yang ada di kota lain sementara kalau minta tolong ke orang rasanya nggak mungkin, apa boleh buat, harus saya relakan untuk diberikan kepada orang lain.
Demikian juga dengan pakaian berwarna putih yang saya ceritakan di atas.
Akhirnya barusan saya putuskan untuk saya berikan kepada Mbak Wati, pembantu di tempat kos saya. Berharap, pakaian itu masih cukup dipakai oleh anaknya yang masih ABG. Secara kondisi fisik pakaian, masih bagus karena saya jarang memakainya dan nggak ketinggalan jaman.
Sempat ada bagian dalam diri saya yang masih belum rela memberikan barang itu.
Bukan apa-apa.
Pakaian itu ada sejarahnya sendiri. Gimana saya harus menabung dulu hanya untuk membeli pakaian yang waktu itu harganya cukup mahal sementara kondisi keuangan saya nggak memadai.
Tapi..., saya tahu.
Daripada menuh-menuhin, dan jarang dipakai pula, saya harus membiarkan ia berlalu dan bisa berguna untuk orang lain.
Dan, karena beberapa kejadian di atas saya jadi belajar lagi.
Belajar merelakan banyak hal dalam hidup saya untuk bisa dilepaskan dengan iklas.
Tanpa harus melihat ke belakang lagi, maju mundur atau bahkan membuat batal rencana.
Memang kudu dipikirkan matang-matang sih... Nggak asal aja biar tidak ada penyesalan.
Tapi, bentuk kerelaan dan keiklasan ini menjadi pelajaran tersendiri bagi saya.
Pelajaran bagaimana membiarkan masa lalu menjadi bagian dari masa lalu, entah suka atau duka. Banyak kejadian yang harus menjadi kenangan dan HARUS TETAP MAU menjadi kenangan, tanpa memaksa untuk tetap boleh terjadi terus ada di saat ini.
Sebab segala kenangan itu adalah bekal menuju hari ini.
Sebab kerelaan dan keiklasan hati menerima masa lalu adalah kekuatan dan dorongan sendiri menghadapi saat ini.
........................................

Serial Mudik 08 : "Ke 'rumah' Ibu/Bapak"

SERIAL MUDIK 08

Bagian 3

“Ke Rumah bu/Bapak”

Hari Sabtu 15 Maret 2008, rencananya saya mau ke SMP saya di SMP Xaverius Tanjungkarang. Jaraknya Cuma 10 menit dari rumah saya. Sudah lama nggak ke sana, sekalian nengokin Bu Ali, seorang Ibu yang pernah merawat alm Ibu saya saat masih sakit dulu. Habis dari sana rencananya saya ingin membeli karpet untuk sebuah kamar yang masih kosong. Biar kelihatan lebih rapi.

Tapi, rencana itu nggak bisa saya laksanakan karena ternyata seorang teman wartawan meminta saya untuk segera menjawab pertanyaan yang ia ajukan lewat email. Hari sebelumnya dia memang sudah minta ijin untuk mewawancarai saya. Apa boleh buat deh… Padahal warnet lumayan jauh dari rumah saya lagi… Ada acara mati lampu 2x pula. Huaaa…

Pokoknya hari Sabtu itu setelah beli karpet dan menggelarkannya di kamar yang dimaksud, saya nggak kemana-mana lagi. Berdiam saja di rumah.

Besok paginya, sekitar jam 5.30 saya sudah siap ke gereja.

Gerejaku_2 Soal ke gereja ini, malamnya saya sempat ngotot-ngototan dengan Mbak Ris. Biar sudah lama nggak ke gereja Lampung, tapi saya yakin kalau gereja pagi jadwalnya jam 06.30 WIB. Tapi, Mbak Ris ngotot kalau sekarang jam 06.00 Karena saya pikir mungkin memang ada perubahan maka saya menurut saja. Meski itu berarti saya harus bangun lebih pagi.

Dan, ternyata sodara-sodara…

Begitu kami keluar dari rumah, di jalanan masih gelap. Belum banyak orang yang lalu lalang. Mbak Ris saja bingung karena biasanya kalau hari Minggu begini sudah banyak orang-orang yang berjalan menuju gereja. Kok sekarang sepi-sepi saja?

Kecurigaan Mbak Ris terjawab ketika sesamai di gereja tempat aku dibaptis, menerima komuni pertama dan menerima Sakramen Penguatan itu memang belum banyak orang. Ketika ditanya jam berapa Misa Minggu Palma dimulai, jawabnya jam 06.30 sodara!

Hehe… Mbak Ris jadi malu sendiri.

Kami memutuskan untuk menunggu saja. Tidak kembali pulang meski jarak rumah dan Gereja Katedral Kristus Raja ini Cuma sekitar 5 menit saja. Dekat sekali.

Sembari menunggu, satu-satu orang datang. Diantaranya ada Suster Emma, FSRG. Ia sekarang adalah Kepala Sekolah SD Fransiskus (dulu Xaverius) Tanjungkarang, tempat saya bersekolah dulu juga.

Suster Emma ini adalah Suster yang menggembleng saya sejak kelas 5 SD. Biar berkesan angker dan galak, nyatanya beliau adalah Suster yang sangat setia mendamingi para misdinar alias para pembantu Pastor dari jaman saya SD itu.

Saya sempat menggodanya supaya cepat pensiun. Kok betah bertahun-tahun mendampingi misdinar yang hilir mudik sekian lama. Jawab Suster Emma, “Mendampingi anak-anak itu kan sebuah pelayanan. Dan, yang namanya pelayanan itu seumur hidup.” Saya Cuma bisa geleng-geleng kepala saja. Hebat lah Suster satu ini.

Sempat juga Suster Emma mengundang saya untuk datang menjenguk adik-adik misdinar. Karena waktu, sampai saya pulang, saya nggak bisa memenuhi undangan itu.

Pulang dari gereja, saya sudah sepakatan dengan Mbak Ris untuk nyekar ke rumah Ibu/Bpk alm di Negeri Sakti. Kira-kira 45 menit jauhnya dari rumah saya.

Sebelum ke sana, saya membeli dulu makanan buat Bapak/Ibu alm seperti yang pernah saya postingkan sebelumnya. Ternyata bunga di Lampung cukup mahal. Tapi, karena memang sudah niat, saya beli saja.

Kira-kira pukul 12.30 saya dan Mbak Ris berangkat ke makam. Mbak Ris sempat tertidur sepulang dari beli bunga.

Makam_negri_sakti Sampai di makam Negeri Sakti yang masuk dalam Kecamatan Kurungan Nyawa (ini asli namanya memang begitu loh…), saya langsung menuju ke blok 9 dimana makam Ibu berada. Warna hijau segar yang memang jadi ciri khas makam Ibu seperti menuntun saya dan Mbak Ris untuk segera ke sana.

Waktu ngijing alias membetulkan makam 2 tahun lalu, saya sengaja memilihkan warna hijau untuk batu marmer yang menghiasi sekitar makam. Itu bukan karena saya yang suka warna hijau, tapi justru Ibu yang suka banget warna satu itu. Bahkan ketika meninggal, kebaya yang dipakai menghiasi jekazahnya adalah kebaya hijau. Makam Bapak yang lebih dulu dikijing, juga berwarna hijau meski hijau lumut. Jadi, kami memang dari keluarga pecinta warna hijau.

Hidup ijo lah…

Begitu sampai di depan makam Ibu, saya memang sudah menyiapkan cat untuk menebalkan tulisan di batu nisannya. Saya pikir itu mudah, ternyata enggak. Susah. Kebetulan juga kuas yang saya bawa ternyata kebesaran. Jadi…, mau nggak mau, tulisan di batu nisan Ibu itu nggak bisa ditebalkan. Mungkin kesempatan lain, saya akan coba perbaiki.

Di depan makam Ibu itu, saya berdoa setelah sebelumnya meletakkan bunga di makamnya.

Saya juga minta ijin dan restu untuk boleh sedikit membongkar rumah peninggalan Ibu mulai hari Seninnya. Semoga semua berjalan lancar dan sesuai rencana.

Di atas langit, terik memancar membuat panas sekitar saya. Meski ada tetumbuhan, tidaklah cukup meneduhkan luas makam yang tanahnya merupakan hibah dari seorang juragan tanah, salah satu umat dari Gereja Katedral Kristus Raja Tanjungkarang. Dermawan itu pun, jasadnya juga dimakamkan di tanah sekian hektar yang ia hibahkan menjadi tempat pemakaman tersebut.

Karena panas terik tersebut, saya nggak bisa berlama-lama berkangen-kangen di depan makam Ibu. Saya percaya, Ibu sudah bahagia dan senang saya menepati janji untuk menjenguk rumahnya. Selanjutnya, masih bersama Mbak Ris, saya menuju ke makam Bapak di blok 4, beda 5 blok dari makam Ibunda tercinta.

Tiap kali melihat makam yang usianya lebih dari 10 tahun itu, sebenarnya saya sangat trenyuh. Keadaannya jauh berbeda dari makam Ibu.

Mungkin sebagian orang nggak terlalu percaya akan aturan ngijing alias betulin makam adalah setelah 1000 hari atau 3 tahun setelah kematian yang bersangkutan. Mungkin dianggapnya hanya karena adat dan budaya saja.

Tapi, di pemakaman Negri Sakti itu, struktur tanahnya memang nggak langsung padat. Maka kalau ada yang meninggal, baru dikijing setelah 1000 hari, itu sangat membantu. Terbukti dengan tempat Ibu saya itu. Masih terlihat padat meski sedikit turun tanahnya. Ada celah lobang yang nggak terlalu mencolok.

Beda dengan makam Bapak. Sejak setahun kurang setelah dikijing, makam itu terlihat anjlok. Itu krena dibetulkan/dikijing setelah 100 hari walau saat itu sempat diprotes oleh beberapa keluarga. Biar tanahnya sudah pernah dinaikkan lagi, tetap anjlok lagi hingga membuat terlihat lobang besar. Saat ini, baru diganjel dengan bebatuan.

“PR” saya berikutnya adalah membetulkan makam Bapak.

Semoga boleh terlaksana.

Selesai “berkunjung”, Mbak Ris mendadak memberi usul untuk makan duren yang dijual di sawung di depan kompleks makam ini (juga ada buah rambutan dan salak, tergantung musim buahnya saja apa). Usul menarik biar sebenarnya kepala saya sudah nyut-nyutan. Saya memang suka begitu, kalau udara sangat kontras, sebentar biasa saja cenderung dingin lalu mendadak panas luar biasa, maka bersiaplah saya akan drop.

Berhubung saya pikir, belum tentu saya akan ke sana lagi, maka pusing dan badan yang tidak enak, saya tahan saja. Lalu, 2 buah durian sedang pun akhirnya kami beli. Saya bilang ke Mbak Ris, asal dimakan, silahkan saja dia memilih. Pak Kuat, penjaga makam dan istri yang mengelola sawung itu membantu kami membukakan buah berduri tajam itu agar isinya bisa dimakan.

Ternyata isinya enak, manis-manis sedikit pahit. Dan, yang di luar Duren_enyak perhitungan kami, isinya banyak bo! Mbak Ris nggak sanggup menghabiskan. Saya ketawa-tawa ketika saya paksa Mbak Ris untuk menghabiskan. “Nggak sanggup, aku”, hehe…

Alhasil, setengah buah duren, nggak sanggup lagi kami habiskan. Biar buat bonus untuk penjualnya. (lho… nggak kebalik ya? hehe…) Sempet sih Ibu penjualnya menawarkan untuk dibungkus saja supaya bisa dibawa pulang. Perkaranya, sehabis ini kami mau ke sebuah mol (ala Lampung) sebentar. Nggak jadi bekel deh….

Dalam perjalanan, ketahuan kalau Mbak Ris juga nyut-nyutan karena kondisi cuaca yang luar biasa itu. Saya sendiri sudah sadar betul bakal terjadi sesuatu pada saya kalau saya tetap nekad jalan berlama-lama di luar.

Tapi, karena telanjur sudah janji hendak ke mol Kartini, yang konon adalah mol paling ramai saat ini di Lampung, saya paksakan juga.

Di mol yang rasanya sih lebih menyerupai Plaza karena memang tidak terlalu luas itu, Mbak Ris berniat membeli baju untuk persiapan Paskah. Saya sendiri sebenarnya cuman bawa 1 baju yang pantas untuk ke gereja. Padahal dengan perpanjangan cuti berarti saya akan sempat 2x lagi ke gereja di Lampung: Kamis Putih dan Jumat Agung. Dan, saya nggak punya baju yang pantas lagi untuk dipakai ke gereja. Sempat ingin membeli, tapi kepala ini seperti sudah menyatakan nggak bisa diajak kompromi lagi.

Kondisi ini nampaknya dibaca Mbak Ris karena ia pun merasakan hal yang sama. Akhirnya kami pun pulang.

Sampai di rumah, seperti dugaan saya, tubuh saya pun melancarkan protes keras karena perubahan cuaca yang drastis tadi. Semua kenikmatan duren yang sempat tertelan belum 3 jam lalu termuntahkan. Apa boleh buat dah…

Sisa hari itu pun saya habiskan dengan tidur dan memulihkan kondisi.

Ukh.

Pulang-pulang kok ya sakit tho…

(bersambung)

Serial Mudik 08 : "Demi Rumah Tambah Cuti"

SERIAL MUDIK 08

Bagian 2

“Demi Rumah Tambah Cuti”

Sudah kebiasaan dari jaman dulu, tiap kali sampai di rumah Lampung dari perjalanan panjang Bandung-Lampung, saya harus bisa tidur cukup dulu. Biasanya kalau sampai rumah jam 6 pagi, maka saya harus bisa memejamkan mata sampai jam 12. Habis itu baru beberes badan bener-bener, makan siang, ngobrol-ngobrol, macem-macem lainnya lalu…, tidur lagi hehe…

Hari itu, Kamis 13 Maret 2008, Mbak Ris yang tinggal di rumah sengaja membiarkan saya melakukan ritual satu itu. Dia nggak menggangu saya bahkan ketika dia harus pergi mengajar. Pulas deh zzzz….zzzz…

Sekitar jam 12, saya terbangun. Menyadari dulu bahwa sedang berada di rumah, bukan di kos hehe… Setelah sadar, saya mandi. Tujuan utama saya hari itu adalah ke rumah Pak Romli, seorang ahli pertukangan yang saya kenal sejak saya masih kecil sekali. Dengan Pak Romli ini saya bermaksud mau meminta tolong untuk membetulkan rumah Ibu alm yang memang sudah semakin tua itu.

Menuju ke rumahnya yang nggak jauh dari rumah saya, saya terkagum-kagum dengan pembangunan yang ada. Hampir di setiap rumah di jalan Manggis itu halamannya dipakai untuk untuk ruko para pedagang sayur mayur, basah dan kering. Padahal tanah tempat rumah dan ruko berdiri itu adalah milik PJKA.

Hebat.

O ya, ketika subuh saya sampai di kota Tanjungkarang itu, mata saya juga kaget karena merasa kota kelahiran saya itu terasa gersang. Pepohonan yang tumbuh di median jalan, nggak kelihatan lagi. Dalam cahaya subuh, saya melihat median jalan mengecil, jalan pun sedikit melebar. Tapi, bangunan rumah (baik ruko atau rumah tinggal) juga ada. Wah… Makin padet aje.

Hal lain yang membuat saya tercengang adalah banyaknya motor berseliweran. Wuih…, bujubune deh. Motor-motor itu yang kemudian beralih fungsi menjadi ojek. Menggeser para tukang becak yang sehari-hari pun susah mendapat penumpang.

Sesampai di rumah Pak Romli, saya disambut dengan ramah oleh Bapak yang makin menua itu. Sebelumnya memang dia sakit dan saat saya berkunjung itu ia mengaku baru sembuh dari sakitnya tersebut. Sempat saya ragu-ragu hendak mengutarakan niat. Tapi, saya juga nggak tahu lagi harus kepada siapa orang yang bisa ahli di pertukangan dan bisa dipercaya.

Ternyata Pak Romli menyanggupi membantu.

Hanya saja dia nggak bisa cepat karena anak bungsunya baru saja melahirkan anak. Suami dari anaknya itu, juga baru saja meninggal 6 bulan lalu. Wah, sedang ditimpa banyak musibah nampaknya. Biar begitu Pak Romli berjanji akan datang esok hari untuk melihat apa saja yang harus dibeli.

Setelah terjadi kesepakatan, saya pamit pulang.

Tujuan saya berikutnya adalah makan miso alias mie bakso Mas Budi.

Miso Mas Budi ini sudah ada sejak saya masih SD. Dan, tiap kali saya datang, Mas Budi pasti akan menyambut dengan senyum lebarnya sembari tanya ini itu yang berhubungan dengan keluarga saya.

Benar saja.

Begitu saya datang, Mas Budi sudah menyambut saya. Warung baksonya sedang tidak terlalu penuh. Segera saja saya memesan mie baksonya yang khas seraya sambil mengobrol tentang kabar-kabar kami.

Sehabis kenyang, saya kembali pulang.

Mbak Ris sudah ada di rumah. Untuk keperluan esok harinya sekalian cari makan malam, sore itu saya sepakat mau jalan-jalan ke luar dengan Mbak Ris. Maka setelah siang mereda, saya pun jalan dengannya.

Pisang_goreng Eh, sebelumnya saya sempat beli gorengan pisang yang memang enak karena dari pisang kapok. Ada juga tahu bunting alias tahu isi dan bakwan alias bala-bala. Pengganjal perut sore yang enak deh…

Besok harinya, saya sengaja bermalas-malasan sambil menunggu Pak Romli datang.

Sebelum ia datang, sebenarnya saya juga janji dengan seorang “penjaga tanah” rumah saya yang beberapa waktu lalu sempat bikin pusing saya karena mempunyai standar uang sewa yang weleh-weleh… Kepulangan saya ke rumah juga untuk urusan satu itu.

Ketika dia datang, biar sempet deg-degan, saya berusaha tenang. Ladeni saja dulu apa pun yang ia perbincangkan. Dari soal Pilkada, gosip-gosip tanah PJKA, sayur mayur di pasar dan premanismenya dia dulu. Dengerin aja deh dulu sambil sesekali ditimpali.

Dia memang salah satu preman yang disegani karena tindak tanduknya. Penjara adalah makanan yang tidak asing lagi. Salah satu kakaknya ada yang meninggal karena bermasalah dengan orang sekitar. Rada syerem lah track record-nya…

Berhubung saya kenal dia sejak masih kecil…, jadi saya nggak terlalu aneh juga. Pun ketika dia ngaku secara nggak langsung bahwa dia nggak berani kembali ke kampung itu. Mungkin karena masa lalunya itu. Maka, demi melangsungkan hidupnya dan keluarganya, selain bekerja sebagai pedagang dan tukang parkir, ya dia menjadi “penjaga tanah”

Untuk saat ini saya “mengalah”. Tapi, kalau dia sudah di luar logika dan tambah berulah, saya juga nggak akan tinggal diam.

Setelah dia pulang, mendadak anak Pak Romli datang dan memberitahu kalau mertua Pak Romli meninggal. Padahal baru 6 bulan mantunya Pak Romli alias suami dari anak Pak Romli yang baru saja melahirlan itu alias anak dari almarhum mertua Pak Romli itu meninggal. Wah, musibah kok datangnya beruntun?

Saya jadi nggak tega.

Maka, ketika Pak Romli menyatakan ketidaksanggupannya untuk mulai bekerja hari Sabtu besoknya, saya nggak bisa menolak. Biar begitu saya dan dia sudah sepakat tentang harga dan barang-barang yang akan dibeli sebelum hari Senin.

Tinggal saya yang habis itu bingung, rencana cuti hanya akan sampai Senin saja, ini terpaksa akan molor. Jangan-jangan saya Paskahan di Lampung deh. Lalu, gimana bilangnya ke bos? Apakah dia mau membiarkan sekertarisnya ini menambah cuti meski saya tahu akan ada kesibukan menjelang Paskah?

Waaaahhh….

(bersambung)

Serial Mudik 08: "I'm coming home"

SERIAL MUDIK 08

Bagian 1

Silahkan_mampirI’m coming home…”

Rabu, 12 Maret 2008 akhirnya saya bisa juga berkesempatan untuk mudik ke Lampung, tepatnya ke kota Tanjungkarang, tempat saya dilahirkan dan dibesarkan. Setelah sebelumnya Romo Eddy sempet kaget ketika saya pamit, mungkin pikirnya saya masih minggu depan mudiknya, sekitar jam 18.55 saya sudah siap di pool bis Damri, Jl. Kebon Kawung depan stasiun, Bandung. Hujan lumayan deras dan angkot yang ngetem cukup lama, menyertai langkah saya hingga sampai pool Damri tersebut.

Setelah laporan, saya naik ke atas bis.

Tempat duduk saya adalah nomor 8. Dekat jendela, seperti pilihan saya sendiri ketika membeli tiket. Penumpang lain tidak begitu banyak dalam perjalanan kali ini. Dan, saya pastikan mereka adalah memang penduduk asli Lampung yang sedang di Bandung lalu akan kembali atau mudik juga ke Lampung.

Kok bisa tahu?

Logatnya nggak bisa menipu kuping saya yang meski sudah nyaris 20 tahun menjadi penghuni Bandung. Legok-legok dan gaya bahasanya masih saya hapal betul. So, saya jadi merasa “aman” bersama banyak saudara di bis itu.

Karena tadi buru-buru, saya memang nggak sempat makan malam. Mau turun bis, membeli makanan kok ya males. Hujan masih turun pula. Alhasil, saya hanya memakan buah apel dan coklat yang memang sengaja saya sediakan buat jaga-jaga. Ketika kotakan datang, saya sempat geleng-geleng kepala. Soalnya dengan tiket 135 ribu rupiah, para penumpang cuman diberi air minum mineral gelas dan roti yang mungkin hanya seharga 2500 rupiah saja. Tapi, ya sudah. Toh, siang harinya saya sudah cukup kenyang. Jadi, perut masih bisa bertahan.

Yang bikin saya nggak tahan adalah “serangan” AC yang luar biasa.

Sudah minta dikecikan, ternyata sudah paling kecil volumenya. Ditambah udara dingin di luat. Lengkaplah sudah.

Kaos kaki, jaket, syal dan selimut nggak bisa jauh-jauh menutupi tubuh saya. Bahkan ketika bis sudah berjalan meninggalkan Bandung. Saya Cuma berharap saya nggak diapelin masuk angin seperti biasanya kalau ada serangan AC deras begini.

Selama perjalana, MP3 yang sengaja saya pinjam dari Yanti menemani rasa hati yang sekian lama memang berniat mudik, baru kali itu kesampaian. Seiring kilometer jalanan tol yang terlewati, lagu-lagu yang sengaja saya pilihkan supaya bisa menemani terdengar di telinga. Meski sesekali saya lepas karena memang nggak tahan lama-lama (jadi ingat postingan saya tentang bahaya berlama-lama memakai ear-phone…), lagu-lagu ini memang mengobati kesenduan akibat hujan dan perjalanan panjang ini.

Saat telinga mendengar lagu “HOME” dari Michael Buble, sesaat hati terhenyak. Kepala yang tersender di jendela seperti ikut menghayati bait-demi bait yang terdengar.

"Home"

Another summer day
Has come and gone away
In Paris and Rome
But I wanna go home
Mmmmmmmm

Maybe surrounded by
A million people I
Still feel all alone
I just wanna go home
Oh, I miss you, you know

And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you
Each one a line or two
“I’m fine baby, how are you?”
Well I would send them but I know that it’s just not enough
My words were cold and flat
And you deserve more than that

Another aeroplane
Another sunny place
I’m lucky I know
But I wanna go home
Mmmm, I’ve got to go home

Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home

.............................................

Ahh… syair-syair itu sungguh melangutkan diri saya.

Tanpa terasa air mata saya jatuh berderai, nyaris sama dengan hujan di luar yang nggak mau berhenti juga.

Ada rasa tak terkatakan begitu Michael menyuarakan bait itu satu-satu.

Saya memang akan pulang. Saya memang ingin melampiaskan kerinduan ini. Saya memang termasuk orang beruntung yang boleh merasakan banyak hal dan akhirnya bisa pulang seperti sekarang. Tiada keindahan lain selain bisa boleh pulang seperti sekarang…

Tapi… Ketika ingatan saya teringat kalau kepulangan saya kesekian kali ini tak kan ada lagi yang menyambut, air mata itu kian deras jatuh di pipi. Kerinduan yang semula saya pikir akan terlampiaskan begitu nanti kaki menginjakkan rumah kecil penuh kenangan itu, nampaknya tak kan bisa kesampaian seperti yang terpikirkan. Sambutan, pelukan serta ciuman penuh kerinduan dari Ibu seperti waktu itu, tak kan bisa saya dapatkan lagi…

Hingga mata saya tiba-tiba saja sudah mengatup. Dan, MP3 itu ternyata saya matikan tanpa sadar karena memang telinga saya mulai panas.

Roda bis pun terus melaju hingga menuju pelabuhan Merak.

Di pelabuhan itu ada sedikit antri untuk bisa masuk ke dalam kapal. Lumayan banyak kendaraan yang bermaksud sama nampaknya. Saya yang masih diantara dua dunia rada nggak peduli. Tetep aja mata merem melek gitu hehe....

Cuma, ternyata ada 2 hal yang mengganggu lanjutan tidurku selama perjalanan tadi. Yang pertama, perut yang mulai grujug-grujug minta diisi dan yang kedua kebelet pipis!!

Aduh.

Untuk urusan yang kedua ini saya tahu akan susah. Selain bisnya emang nggak ada toiletnya, di lantai paling dasar kapal gini, mana ada WC?

Tapi, daripada nahan-nahan nggak enak, akhirnya saya bilang ke supir. Setelah bertanya pada seorang penjaga kapal, saya harus naik ke tingkat 3 untuk pipis doang! Untung nggak telanjur bocor deh. Hehe...

Pulang dari WC, tinggal ngurus perut deh. Jam menunjukkan sekitar pukul 01.00 dini hari. Ada 1 hal yang saya suka di jam segini ketika ada di kapal. Hal yang berhubungan dengan makanan.

Nggak tahu kenapa, kalo pas jam segini laper pas di pelabuhan atau kapal, trus makan Popmie, kerasa ennnnaaakkkk banget. Berasa deh bumbu-bumbunya. Mungkin suasana yang menunjang juga kali yaa... Maka tanpa ragu-ragu saya membeli Popmie yang harganya mendadak melambung menjadi 5000 rupiah saja. Begitu saya bawa ke bis, aroma yang dibawa asap... wuaaaa... bikin orang lain pengen beli juga deh hehe...

Setelah perut kenyang dan hangat (serangan AC masih berlanjut), saya lanjutkan tidur saya. Perjalanan masih seperempat waktu lagi. Biar mata terpejam gitu, saya tetap tahu kapan dan sedang dimana Bis ini berjalan. So, begitu sudah menginjakkan kaki di Sang Bumi Ruwa Jurai, saya bersiap (sedikit terkaget karena nyawa belum terkumpul) untuk turun.

Sekitar pukul 5.30 pagi.

Lampung..., I'm coming home....”

Emha Ainun Nadjib: Gusti Allah Tidak Ndeso

Emha Ainun Nadjib: Gusti Allah Tidak Ndeso


Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. "Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?"

Cak Nun menjawab lantang, "Ya, nolong orang kecelakaan."

"Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya.

"Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun.

"Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak. Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi."

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata

Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara. Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.

Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga.

Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran. Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama.

Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.

Pasar Tradisional (bag 2)

Harga Bersaing, Mutu Tak Pasti 

Kota kelahiran saya penduduknya lebih banyak yang bertani. Maka meski sekarang sudah termasuk kota moderen, tapi kota agraris masih tetap disandang. Ini berkaitan dengan sejarah Propinsi tempat kota saya tersebut sebagai salah satu Propinsi tempat penampungan para transmigran dari Jawa.

Tidak heran juga kalau para petani dan penjual di Pasar Tradisional banyak yang berasal dari suku Jawa. Bahasa Jawa menjadi semacam bahasa wajib untuk urusan komunikasi mereka, baik komunikasi perdagangan atau relasi biasa sesama pedagang dan penjual.

Di sinilah ada yang sedikit menarik.

Jika kita sebagai pembeli bukan berasal dari daerah setempat maka harga yang ditawarkan pertama kali bisa melonjak dua kali lipat. Begitu ditawar dengan bahasa Indonesia tanpa ada logat-logat Jawanya, maka harga pun akan sedikit turunnya.

Beda ketika dengan gaya bahasa setempat atau sedikit medok berbahasa Jawa, maka tanpa perlu ngotot-ngototan harga yang semula hanya naik sedikit, akan banyak turun. Bahasa Jawa di sana yang telah tercampur logat setempat bisa menjadi semacam media barter yang bagus untuk urusan tawar menawar. Apalagi kalau kita benar bisa bahasa Jawa asli. Bukan saja harga termurah didapat, tetapi juga perkenalan dalam balutan keramahan. Ini satu sisi lain yang saya dapat. Betapa kekerabatan ini benar mengikat mereka tanpa peduli apakah “asli dari pulau Jawa” atau “asli suku Jawa saja”. Pertukaran budaya melebur dalam satu tempat saja. Tidak harus mencari jauh-jauh.

Satu hal yang sampai sekarang tidak bisa habis saya mengerti adalah tentang penentuan harga dari masing-masing barang yang mereka dagangkan. Bisa jadi satu pedagang dengan pedagang lain berbeda.

Akan sangat berbeda kalau pedangan yang dimaksud adalah Mbok-mbok seperti yang saya ceritakan di atas. Harga bisa relatif lebih murah. Ini yang tidak bisa saya mengerti. Sudah membawa ke pasar ini jauh, membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, bersaing dengan pedagang lain yang bisa jadi harga relatif sama dengan kualitas lebih baik, bagaimana mereka bisa membuat barang dagangannya itu bisa menguntungkan?

Bisa jadi karena pengaruh tanah kampung halaman saya nan subur, yang memungkinkan banyak jenis tanaman tumbuh di sana sehingga harga bisa ditawarkan lebih murah ketimbang di daerah lain atau karena pengaruh budaya Jawa yang kuat (tentang bagaimana menerima sesuatu dengan iklas atau tentang mau berbagi kepada orang lain) sehingga terjadi hal tersebut?

Contoh konkrit adalah ketika sayur mayur di daerah lain seikat bisa dihargai Rp. 1000, maka di pasar tradisional itu Rp. 1000 bisa mendapat tiga ikat. Atau, pepaya di daerah lain dijual per-kilogram Rp. 1500, maka di pasar tradisional pepaya dijual per-buah rata-rata Rp. 750.

Memang betul, masalah pajak, pungutan atau hitungan hal lain bisa berpengaruh. Tapi, sekali lagi, soal hitung menghitung begini, saya pikir tidak masuk dalam hitungan para Mbok-mbok penjual itu. Rasanya asal dagangan mereka laku, bisa memperoleh (sedikit) keuntungan, cukuplah.


Pasar Tradisional Never Ending Story

Di atas telah saya ceritakan tentang dua buah supermarket yang tiba-tiba muncul di kota saya diantara banyaknya Pasar Tradisional sebagai tempat jual beli. Dua buah supermarket pada tahunnya itu memang menjadi pasar alternatif bagi masyarakat agraris di kota saya. Ada kebanggaan ketika ditanya mau beli sayur kol di King. Atau ketika tahu ada buah kiwi yang dari Australia itu juga dipajang di jajaran stand buah-buahan. (saya tidak tahu apakah ada yang membeli atau Cuma sekadar pajangan saja)

Membeli gula pasir, susu anak, pembalut wanita (dengan segala merek), mie instan, kerupuk dan lain-lain akan terasa lebih keren jika plastik sebagai pembungkusnya bertuliskan salah satu dari supermarket di atas. Bahkan, yang dulu tidak mengenal tisyu, produk pembersih wajah segala rupa, minyak wangi dll, kini tidaklah asing lagi.

Tapi, bisa juga kok hanya lihat-lihat saja lalu iseng membanding-bandingkan harga yang bisa jadi lebih murah dengan hanya berbeda nilai nominal puluhan hingga ratusan rupiah saja dari harga di pasar biasa atau warung. Inilah yang menjadi daya tarik tersendiri jika berbelanja di supermarket. Masalah kenyamanan, kebersihan, kecepatan waktu, sekali waktu reward hadiah, keamanan menjadi tambahan fasilitas yang mungkin tidak didapat dalam sebuah Pasar Tradisional. Kadang-kadang soal merek juga berpengaruh. Banyak merek tertentu yang terkenal (terutama dari luar negeri) yang tidak mungkin didapat di Pasar Tradisional.

Namun, tahukah Anda… Ketika saya kuliah, meninggalkan kota kelahiran saya menuju kota lain yang lebih besar, begitu saya mudik, dua supermarket itu sudah tutup. Banyak cerita yang menjadi penyebab tutupnya supermarket itu. Saya tidak terlalu hapal cerita-cerita tersebut. Yang saya hapal betul adalah cerita dari seorang teman yang bekerja di instansi berhubungan dengan pertumbuhan penduduk di kota saya tercinta itu, menyatakan bahwa masyarakat kota transit dari Pulau Jawa menuju Pulau Sumatra itu, masih belum berubah. Agraris masih menjadi ciri khas. Biar kecanggihan dan kemajuan di segala bidang, ciri masyarakat Agraris yang rendah di daya belinya menjadi salah penyebab kedua pasar moderen itu harus tutup.

Pasar Tradisional yang lebih dahulu dikenal dan bahkan menjadi satu tempat perpanjangan dunia agraris mereka, kembali menjadi idola dan pilihan utama ketimbang Pasar Moderen tersebut. Segala kekurangan dan kelebihan Pasar Tradisional itu menjadi pilihan yang tidak ada saingannya lagi.

Walau di tahun-tahun belakangan ini, kota saya kembali dikepung oleh Pasar Moderen. Bukan saja berbentuk supermarket saja, tapi lebih meluas dari itu atau yang lebih keren disebut dengan Mol. Diantara Mol itu ada yang sedikit mengorbankan lahan Pasar Tradisional yang telah ada, biarpun (lagi-lagi) untuk urusan daya beli, orang masih memilih pilihan lamanya.

Terakhir saya mudik, saya sempat terkagum-kagum karenanya.


Pasar Tradisional Dan Saya

Sejak saya dikenalkan bentuk Pasar Tradisional oleh Ibu saya dan jatuh cinta karenanya, seperti ada gerakan otomatis tiap kali saya mudik, saya pasti akan mampir ke pasar tersebut. Tidak harus berbelanja, tetapi sekadar melihat-lihat suasana yang ada dan atau membeli panganan masa kecil saya yang tidak bisa saya dapat di supermarket mana pun.

Tidak hanya kalau mudik saja, kebiasaan ini saya lakukan.

Jika berkunjung ke daerah baru, meski hanya bisa melewati, saya selalu berusaha mencari tahu Pasar Tradisional setempat. Bukan untuk membeli makanan khas di sana saja, tetapi sejak saya jatuh cinta itu, saya merasa ada banyak hal bisa pelajari di dalamnya.

Saya menemukan sebentuk ketulusan serta keuletan tersebar di sana. Ketulusan untuk memberikan yang terbaik dari barang dagangan beserta harga yang menyertainya dan keuletan untuk menghantar barang dagangan itu sampai ke tempatnya hingga bisa dinikmati orang banyak sekaligus mendapat keuntungan.

Belum lagi tentang interaksi budaya yang terlibat di dalamnya.

Mbok-mbok yang kebanyakan berasal dari Jawa (dan tersebar nyaris di seluruh penjuru nusantara ini) menawarkan bentuk kehangatan dalam pelayanan mereka. Bukan masalah bahwa mereka memang berasal dari suku Jawa karena toh pada akhirnya mereka sangat-sangat bisa berbaur dengan adat setempat dan malah masuk ke dalamnya. Namun, yang saya maksud di sini adalah bahwa interaksi antara pedagang-pedangan, pedagang-pembeli, pedagang-bukan pedanga/pembeli, menjadikan semacam kekuatan tambahan mereka menjalani hidup. Budaya yang dibawa dan diterima masyarakat setemat menjadikan mereka, sadar tidak sadar membuat pertalian dan kesempatan hidup yang sangat berharga.

Kekerabatan terjalin tanpa ada rasa persaingan lebih.

Kadang saya lihat sendiri bagaimana kalau ada pedagang satu kehabisan sesuatu, dengan sukarela dibantu oleh pedagang lain demi menyelesaikan transaksinya. Masalah pemabayaran, itu bisa urusan nanti. Pokoknya kepuasan pembeli didahulukan.

Hal ini sangat berbeda dengan yang terjadi diantara Pasar Moderen.

Setelah mulai mematikan lokasi Pasar Tradisional terdekat, mereka akan disibukkan dengan persaingan antar mereka sendiri, yang kadang saling berdekatan. Nyaris tanpa batas. Segala cara diupayakan yang kadang tanpa mempedulikan kepuasan pembelinya.

Jadi, bagi saya, Pasar Tradisional tetap pilihan pertama dan tidak akan pernah mati meski ada banyak tawaran yang dijeberkan oleh banyak Pasar Moderen saat ini.


(ditulis buat tesis Wahyu, 17.23, 27 Maret 08)

Pasar Tradisional (bag 1)

PASAR TRADISIONAL, PASAR SEPANJANG MASA


Dua Pasar Dalam Ingatan Saya Kecil

Saat saya SMP, di kota kelahiran saya, muncul yang namanya Supermarket. Memang hanya ada dua buah waktu itu, bertitel King dan Flora. Tapi, kehadirannya mampu menyedot perhatian masyarakat kota saya yang terkenal agraris. Dua supermarket yang sebenarnya lokasinya saling membelakangi itu tiada sepi dikunjungi pengunjung. Bagi yang telah mengenal jenis pasar ini, tempat ini menjadi semacam prestise baru di kota saya. Bukan hanya belanja, tapi ada gengsinya juga. Sementara yang baru mengenal, seperti saya yang waktu itu masih ABG, ini adalah sebuah tempat yang baru, lain dari yang lain, layak dan pantas dikunjungi. Biar tidak membeli apa-apa, tapi masuk ke dalam ruangan yang adem, bersih, banyak pilihan barang dalam satu ruangan itu serta tanpa harus membuang banyak waktu, rasanya adalah sebuah petualangan tersendiri.

Di belakang rumah saya, kira-kira 5 menit begitu kaki melangkah ke luar rumah, saya sudah menemukan sebuah pasar tradisional. Pasar yang sudah ada bahkan sejak sebelum saya lahir. Kalau sekarang terbagi dua, pasar lama dan baru, maka waktu seumur supermarket itu hadir di kota saya, baru ada pasar lama. Sementara pasar baru hanya sebagai “pasar bayangan”, tempat sementara para penjual dari daerah di luar kota ini menaruh atau bertransaksi dengan pedagang sebelum kepada pembeli.

Mungkin karena jarak antara rumah dan pasar yang dekat, sejak kecil saya memang dibiasakan oleh Ibu saya untuk bisa berbelanja di sana, membeli barang kebutuhan sehari-hari. Awalnya memang ikut Ibu, menurut kemana atau apa saja yang dilakukan oleh Ibu. Lama-lama setelah saya besar (sekitar kelas 5 SD) saya dibiarkan oleh Ibu untuk berbelanja kebutuhan hari itu. Tentu saja dengan catatan belanjaan yang telah disiapkan oleh Ibu.

Setiap pagi, sekitar pukul 06.00, sebelum sekolah, saya selalu datang ke pasar itu. Membeli semua pesanan Ibu yang berhubungan dengan kebutuhan makan kami sekeluarga hari itu. Sebab sudah diberitahu bagaimana cara memilih barang dan menawarnya saya tidak menemui kesulitan. Saat-saat seperti inilah yang sangat saya sukai. Entah kenapa. Mungkin karena ada bentuk sensasi tersendiri ketika begitu melihat barang yang dibutuhkan, memilih yang pas di hati atau ke langganan saja, ditanya harga, ditawar, ditimbang, dibayar lalu jadi deh barang itu menjadi milik saya. Ada rasa puas ketika barang itu bisa menjadi milik sesuai dengan kebutuhan dan duit yang ada.


Mbok Pasar, Penjual Sejati

Seperti yang tertulis di atas, salah satu tantangan saya untuk selalu bersemangat ketika berada dalam sebuah pasar tradisional adalah ketika saya berhasil deal harga dengan pedagang yang menjual barang dagangan yang saya butuhkan. Karena terbiasa melihat barang dagangan, mencoba membandingkan barang dagangan yang sama dengan pedagang lain, saya bisa mengira-ngira berapa harga yang pantas bisa saya tawar untuk mencapai deal tadi.

Tapi, ada satu hal yang menjadi pertimbangan pribadi saya juga. Pertimbangan tadi menyangkut pedagang yang menjual.

Kebetulan, rumah saya dekat dengan jalan raya dimana semua lalu lintas yang melintas bisa terlihat. Saat saya ke pasar pagi-pagi itu, saya harus melewati jalan raya itu.Di sana saya sering berpapasan dengan para pedagang yang kebanyakan perempuan paruh baya, yang biasa dipanggil “Mbok-mbok”, membawa barang dagangannya. Mereka menggunakan sepeda sebagai alat transportasi menuju pasar sekaligus alat angkut barang-barang dagangan mereka.

Seringkali, barang dagangan yang mereka bawa terlihat tidak begitu imbang dengan kekuatan sepeda itu sendiri. Malah kadang, karena saking banyaknya barang yang mereka bawa, si pengendaranya tidak terlihat, tertutup barang bawaannya.

Ada lagi pemandangan lain yang menarik sehubungan dengan cara mereka membawa barang tersebut. Beberapa kali terlihat, yang mengendarai sepeda adalah laki-laki, entah anak atau suaminya, sementara sang Mbok dengan jalan pelan membawa barang dagangannya dengan cara nya sendiri, yaitu menggendongnya di punggung di belakang yang membawa sepeda itu. Kalau dilihat dari caranya menggengong itu, sepertinya barang yang digendong itu tergolong berat. Bisa berisi sayuran atau barang lain. Meski saya tidak terlalu tahu dari sejauh mana mereka melakukan hal itu, tapi tidak dapat dibayangkan mereka lakukan itu berkilo-kilometer menuju pasar untuk dijualkan.

Setelah mereka sampai di pasar, ada pilihan menjualkan barang yang mereka bawa, ada yang langsung dijualkan, ada juga dijual kepada kulak yang menampung. Masing-masing memang punya resikonya sendiri-sendiri.

Tapi, saya pernah melihat ketika pulang dari les atau kegiatan sekolah menjelang sore, tidak sedikit diantara mereka masih menenteng sisa barang dagangan (biasanya berupa buah-buahan) lalu sengaja dijual murah kepada siapa saja yang berminat. Mungkin, daripada dibawa pulang lagi ke rumah.

(bersambung...)