« Serial Mudik 08: "I'm coming home" | Main | Serial Mudik 08 : "Ke 'rumah' Ibu/Bapak" »

Serial Mudik 08 : "Demi Rumah Tambah Cuti"

SERIAL MUDIK 08

Bagian 2

“Demi Rumah Tambah Cuti”

Sudah kebiasaan dari jaman dulu, tiap kali sampai di rumah Lampung dari perjalanan panjang Bandung-Lampung, saya harus bisa tidur cukup dulu. Biasanya kalau sampai rumah jam 6 pagi, maka saya harus bisa memejamkan mata sampai jam 12. Habis itu baru beberes badan bener-bener, makan siang, ngobrol-ngobrol, macem-macem lainnya lalu…, tidur lagi hehe…

Hari itu, Kamis 13 Maret 2008, Mbak Ris yang tinggal di rumah sengaja membiarkan saya melakukan ritual satu itu. Dia nggak menggangu saya bahkan ketika dia harus pergi mengajar. Pulas deh zzzz….zzzz…

Sekitar jam 12, saya terbangun. Menyadari dulu bahwa sedang berada di rumah, bukan di kos hehe… Setelah sadar, saya mandi. Tujuan utama saya hari itu adalah ke rumah Pak Romli, seorang ahli pertukangan yang saya kenal sejak saya masih kecil sekali. Dengan Pak Romli ini saya bermaksud mau meminta tolong untuk membetulkan rumah Ibu alm yang memang sudah semakin tua itu.

Menuju ke rumahnya yang nggak jauh dari rumah saya, saya terkagum-kagum dengan pembangunan yang ada. Hampir di setiap rumah di jalan Manggis itu halamannya dipakai untuk untuk ruko para pedagang sayur mayur, basah dan kering. Padahal tanah tempat rumah dan ruko berdiri itu adalah milik PJKA.

Hebat.

O ya, ketika subuh saya sampai di kota Tanjungkarang itu, mata saya juga kaget karena merasa kota kelahiran saya itu terasa gersang. Pepohonan yang tumbuh di median jalan, nggak kelihatan lagi. Dalam cahaya subuh, saya melihat median jalan mengecil, jalan pun sedikit melebar. Tapi, bangunan rumah (baik ruko atau rumah tinggal) juga ada. Wah… Makin padet aje.

Hal lain yang membuat saya tercengang adalah banyaknya motor berseliweran. Wuih…, bujubune deh. Motor-motor itu yang kemudian beralih fungsi menjadi ojek. Menggeser para tukang becak yang sehari-hari pun susah mendapat penumpang.

Sesampai di rumah Pak Romli, saya disambut dengan ramah oleh Bapak yang makin menua itu. Sebelumnya memang dia sakit dan saat saya berkunjung itu ia mengaku baru sembuh dari sakitnya tersebut. Sempat saya ragu-ragu hendak mengutarakan niat. Tapi, saya juga nggak tahu lagi harus kepada siapa orang yang bisa ahli di pertukangan dan bisa dipercaya.

Ternyata Pak Romli menyanggupi membantu.

Hanya saja dia nggak bisa cepat karena anak bungsunya baru saja melahirkan anak. Suami dari anaknya itu, juga baru saja meninggal 6 bulan lalu. Wah, sedang ditimpa banyak musibah nampaknya. Biar begitu Pak Romli berjanji akan datang esok hari untuk melihat apa saja yang harus dibeli.

Setelah terjadi kesepakatan, saya pamit pulang.

Tujuan saya berikutnya adalah makan miso alias mie bakso Mas Budi.

Miso Mas Budi ini sudah ada sejak saya masih SD. Dan, tiap kali saya datang, Mas Budi pasti akan menyambut dengan senyum lebarnya sembari tanya ini itu yang berhubungan dengan keluarga saya.

Benar saja.

Begitu saya datang, Mas Budi sudah menyambut saya. Warung baksonya sedang tidak terlalu penuh. Segera saja saya memesan mie baksonya yang khas seraya sambil mengobrol tentang kabar-kabar kami.

Sehabis kenyang, saya kembali pulang.

Mbak Ris sudah ada di rumah. Untuk keperluan esok harinya sekalian cari makan malam, sore itu saya sepakat mau jalan-jalan ke luar dengan Mbak Ris. Maka setelah siang mereda, saya pun jalan dengannya.

Pisang_goreng Eh, sebelumnya saya sempat beli gorengan pisang yang memang enak karena dari pisang kapok. Ada juga tahu bunting alias tahu isi dan bakwan alias bala-bala. Pengganjal perut sore yang enak deh…

Besok harinya, saya sengaja bermalas-malasan sambil menunggu Pak Romli datang.

Sebelum ia datang, sebenarnya saya juga janji dengan seorang “penjaga tanah” rumah saya yang beberapa waktu lalu sempat bikin pusing saya karena mempunyai standar uang sewa yang weleh-weleh… Kepulangan saya ke rumah juga untuk urusan satu itu.

Ketika dia datang, biar sempet deg-degan, saya berusaha tenang. Ladeni saja dulu apa pun yang ia perbincangkan. Dari soal Pilkada, gosip-gosip tanah PJKA, sayur mayur di pasar dan premanismenya dia dulu. Dengerin aja deh dulu sambil sesekali ditimpali.

Dia memang salah satu preman yang disegani karena tindak tanduknya. Penjara adalah makanan yang tidak asing lagi. Salah satu kakaknya ada yang meninggal karena bermasalah dengan orang sekitar. Rada syerem lah track record-nya…

Berhubung saya kenal dia sejak masih kecil…, jadi saya nggak terlalu aneh juga. Pun ketika dia ngaku secara nggak langsung bahwa dia nggak berani kembali ke kampung itu. Mungkin karena masa lalunya itu. Maka, demi melangsungkan hidupnya dan keluarganya, selain bekerja sebagai pedagang dan tukang parkir, ya dia menjadi “penjaga tanah”

Untuk saat ini saya “mengalah”. Tapi, kalau dia sudah di luar logika dan tambah berulah, saya juga nggak akan tinggal diam.

Setelah dia pulang, mendadak anak Pak Romli datang dan memberitahu kalau mertua Pak Romli meninggal. Padahal baru 6 bulan mantunya Pak Romli alias suami dari anak Pak Romli yang baru saja melahirlan itu alias anak dari almarhum mertua Pak Romli itu meninggal. Wah, musibah kok datangnya beruntun?

Saya jadi nggak tega.

Maka, ketika Pak Romli menyatakan ketidaksanggupannya untuk mulai bekerja hari Sabtu besoknya, saya nggak bisa menolak. Biar begitu saya dan dia sudah sepakat tentang harga dan barang-barang yang akan dibeli sebelum hari Senin.

Tinggal saya yang habis itu bingung, rencana cuti hanya akan sampai Senin saja, ini terpaksa akan molor. Jangan-jangan saya Paskahan di Lampung deh. Lalu, gimana bilangnya ke bos? Apakah dia mau membiarkan sekertarisnya ini menambah cuti meski saya tahu akan ada kesibukan menjelang Paskah?

Waaaahhh….

(bersambung)

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .