« Serial Mudik 08 : "Demi Rumah Tambah Cuti" | Main | Banyak Hal Harus Saya Relakan... »

Serial Mudik 08 : "Ke 'rumah' Ibu/Bapak"

SERIAL MUDIK 08

Bagian 3

“Ke Rumah bu/Bapak”

Hari Sabtu 15 Maret 2008, rencananya saya mau ke SMP saya di SMP Xaverius Tanjungkarang. Jaraknya Cuma 10 menit dari rumah saya. Sudah lama nggak ke sana, sekalian nengokin Bu Ali, seorang Ibu yang pernah merawat alm Ibu saya saat masih sakit dulu. Habis dari sana rencananya saya ingin membeli karpet untuk sebuah kamar yang masih kosong. Biar kelihatan lebih rapi.

Tapi, rencana itu nggak bisa saya laksanakan karena ternyata seorang teman wartawan meminta saya untuk segera menjawab pertanyaan yang ia ajukan lewat email. Hari sebelumnya dia memang sudah minta ijin untuk mewawancarai saya. Apa boleh buat deh… Padahal warnet lumayan jauh dari rumah saya lagi… Ada acara mati lampu 2x pula. Huaaa…

Pokoknya hari Sabtu itu setelah beli karpet dan menggelarkannya di kamar yang dimaksud, saya nggak kemana-mana lagi. Berdiam saja di rumah.

Besok paginya, sekitar jam 5.30 saya sudah siap ke gereja.

Gerejaku_2 Soal ke gereja ini, malamnya saya sempat ngotot-ngototan dengan Mbak Ris. Biar sudah lama nggak ke gereja Lampung, tapi saya yakin kalau gereja pagi jadwalnya jam 06.30 WIB. Tapi, Mbak Ris ngotot kalau sekarang jam 06.00 Karena saya pikir mungkin memang ada perubahan maka saya menurut saja. Meski itu berarti saya harus bangun lebih pagi.

Dan, ternyata sodara-sodara…

Begitu kami keluar dari rumah, di jalanan masih gelap. Belum banyak orang yang lalu lalang. Mbak Ris saja bingung karena biasanya kalau hari Minggu begini sudah banyak orang-orang yang berjalan menuju gereja. Kok sekarang sepi-sepi saja?

Kecurigaan Mbak Ris terjawab ketika sesamai di gereja tempat aku dibaptis, menerima komuni pertama dan menerima Sakramen Penguatan itu memang belum banyak orang. Ketika ditanya jam berapa Misa Minggu Palma dimulai, jawabnya jam 06.30 sodara!

Hehe… Mbak Ris jadi malu sendiri.

Kami memutuskan untuk menunggu saja. Tidak kembali pulang meski jarak rumah dan Gereja Katedral Kristus Raja ini Cuma sekitar 5 menit saja. Dekat sekali.

Sembari menunggu, satu-satu orang datang. Diantaranya ada Suster Emma, FSRG. Ia sekarang adalah Kepala Sekolah SD Fransiskus (dulu Xaverius) Tanjungkarang, tempat saya bersekolah dulu juga.

Suster Emma ini adalah Suster yang menggembleng saya sejak kelas 5 SD. Biar berkesan angker dan galak, nyatanya beliau adalah Suster yang sangat setia mendamingi para misdinar alias para pembantu Pastor dari jaman saya SD itu.

Saya sempat menggodanya supaya cepat pensiun. Kok betah bertahun-tahun mendampingi misdinar yang hilir mudik sekian lama. Jawab Suster Emma, “Mendampingi anak-anak itu kan sebuah pelayanan. Dan, yang namanya pelayanan itu seumur hidup.” Saya Cuma bisa geleng-geleng kepala saja. Hebat lah Suster satu ini.

Sempat juga Suster Emma mengundang saya untuk datang menjenguk adik-adik misdinar. Karena waktu, sampai saya pulang, saya nggak bisa memenuhi undangan itu.

Pulang dari gereja, saya sudah sepakatan dengan Mbak Ris untuk nyekar ke rumah Ibu/Bpk alm di Negeri Sakti. Kira-kira 45 menit jauhnya dari rumah saya.

Sebelum ke sana, saya membeli dulu makanan buat Bapak/Ibu alm seperti yang pernah saya postingkan sebelumnya. Ternyata bunga di Lampung cukup mahal. Tapi, karena memang sudah niat, saya beli saja.

Kira-kira pukul 12.30 saya dan Mbak Ris berangkat ke makam. Mbak Ris sempat tertidur sepulang dari beli bunga.

Makam_negri_sakti Sampai di makam Negeri Sakti yang masuk dalam Kecamatan Kurungan Nyawa (ini asli namanya memang begitu loh…), saya langsung menuju ke blok 9 dimana makam Ibu berada. Warna hijau segar yang memang jadi ciri khas makam Ibu seperti menuntun saya dan Mbak Ris untuk segera ke sana.

Waktu ngijing alias membetulkan makam 2 tahun lalu, saya sengaja memilihkan warna hijau untuk batu marmer yang menghiasi sekitar makam. Itu bukan karena saya yang suka warna hijau, tapi justru Ibu yang suka banget warna satu itu. Bahkan ketika meninggal, kebaya yang dipakai menghiasi jekazahnya adalah kebaya hijau. Makam Bapak yang lebih dulu dikijing, juga berwarna hijau meski hijau lumut. Jadi, kami memang dari keluarga pecinta warna hijau.

Hidup ijo lah…

Begitu sampai di depan makam Ibu, saya memang sudah menyiapkan cat untuk menebalkan tulisan di batu nisannya. Saya pikir itu mudah, ternyata enggak. Susah. Kebetulan juga kuas yang saya bawa ternyata kebesaran. Jadi…, mau nggak mau, tulisan di batu nisan Ibu itu nggak bisa ditebalkan. Mungkin kesempatan lain, saya akan coba perbaiki.

Di depan makam Ibu itu, saya berdoa setelah sebelumnya meletakkan bunga di makamnya.

Saya juga minta ijin dan restu untuk boleh sedikit membongkar rumah peninggalan Ibu mulai hari Seninnya. Semoga semua berjalan lancar dan sesuai rencana.

Di atas langit, terik memancar membuat panas sekitar saya. Meski ada tetumbuhan, tidaklah cukup meneduhkan luas makam yang tanahnya merupakan hibah dari seorang juragan tanah, salah satu umat dari Gereja Katedral Kristus Raja Tanjungkarang. Dermawan itu pun, jasadnya juga dimakamkan di tanah sekian hektar yang ia hibahkan menjadi tempat pemakaman tersebut.

Karena panas terik tersebut, saya nggak bisa berlama-lama berkangen-kangen di depan makam Ibu. Saya percaya, Ibu sudah bahagia dan senang saya menepati janji untuk menjenguk rumahnya. Selanjutnya, masih bersama Mbak Ris, saya menuju ke makam Bapak di blok 4, beda 5 blok dari makam Ibunda tercinta.

Tiap kali melihat makam yang usianya lebih dari 10 tahun itu, sebenarnya saya sangat trenyuh. Keadaannya jauh berbeda dari makam Ibu.

Mungkin sebagian orang nggak terlalu percaya akan aturan ngijing alias betulin makam adalah setelah 1000 hari atau 3 tahun setelah kematian yang bersangkutan. Mungkin dianggapnya hanya karena adat dan budaya saja.

Tapi, di pemakaman Negri Sakti itu, struktur tanahnya memang nggak langsung padat. Maka kalau ada yang meninggal, baru dikijing setelah 1000 hari, itu sangat membantu. Terbukti dengan tempat Ibu saya itu. Masih terlihat padat meski sedikit turun tanahnya. Ada celah lobang yang nggak terlalu mencolok.

Beda dengan makam Bapak. Sejak setahun kurang setelah dikijing, makam itu terlihat anjlok. Itu krena dibetulkan/dikijing setelah 100 hari walau saat itu sempat diprotes oleh beberapa keluarga. Biar tanahnya sudah pernah dinaikkan lagi, tetap anjlok lagi hingga membuat terlihat lobang besar. Saat ini, baru diganjel dengan bebatuan.

“PR” saya berikutnya adalah membetulkan makam Bapak.

Semoga boleh terlaksana.

Selesai “berkunjung”, Mbak Ris mendadak memberi usul untuk makan duren yang dijual di sawung di depan kompleks makam ini (juga ada buah rambutan dan salak, tergantung musim buahnya saja apa). Usul menarik biar sebenarnya kepala saya sudah nyut-nyutan. Saya memang suka begitu, kalau udara sangat kontras, sebentar biasa saja cenderung dingin lalu mendadak panas luar biasa, maka bersiaplah saya akan drop.

Berhubung saya pikir, belum tentu saya akan ke sana lagi, maka pusing dan badan yang tidak enak, saya tahan saja. Lalu, 2 buah durian sedang pun akhirnya kami beli. Saya bilang ke Mbak Ris, asal dimakan, silahkan saja dia memilih. Pak Kuat, penjaga makam dan istri yang mengelola sawung itu membantu kami membukakan buah berduri tajam itu agar isinya bisa dimakan.

Ternyata isinya enak, manis-manis sedikit pahit. Dan, yang di luar Duren_enyak perhitungan kami, isinya banyak bo! Mbak Ris nggak sanggup menghabiskan. Saya ketawa-tawa ketika saya paksa Mbak Ris untuk menghabiskan. “Nggak sanggup, aku”, hehe…

Alhasil, setengah buah duren, nggak sanggup lagi kami habiskan. Biar buat bonus untuk penjualnya. (lho… nggak kebalik ya? hehe…) Sempet sih Ibu penjualnya menawarkan untuk dibungkus saja supaya bisa dibawa pulang. Perkaranya, sehabis ini kami mau ke sebuah mol (ala Lampung) sebentar. Nggak jadi bekel deh….

Dalam perjalanan, ketahuan kalau Mbak Ris juga nyut-nyutan karena kondisi cuaca yang luar biasa itu. Saya sendiri sudah sadar betul bakal terjadi sesuatu pada saya kalau saya tetap nekad jalan berlama-lama di luar.

Tapi, karena telanjur sudah janji hendak ke mol Kartini, yang konon adalah mol paling ramai saat ini di Lampung, saya paksakan juga.

Di mol yang rasanya sih lebih menyerupai Plaza karena memang tidak terlalu luas itu, Mbak Ris berniat membeli baju untuk persiapan Paskah. Saya sendiri sebenarnya cuman bawa 1 baju yang pantas untuk ke gereja. Padahal dengan perpanjangan cuti berarti saya akan sempat 2x lagi ke gereja di Lampung: Kamis Putih dan Jumat Agung. Dan, saya nggak punya baju yang pantas lagi untuk dipakai ke gereja. Sempat ingin membeli, tapi kepala ini seperti sudah menyatakan nggak bisa diajak kompromi lagi.

Kondisi ini nampaknya dibaca Mbak Ris karena ia pun merasakan hal yang sama. Akhirnya kami pun pulang.

Sampai di rumah, seperti dugaan saya, tubuh saya pun melancarkan protes keras karena perubahan cuaca yang drastis tadi. Semua kenikmatan duren yang sempat tertelan belum 3 jam lalu termuntahkan. Apa boleh buat dah…

Sisa hari itu pun saya habiskan dengan tidur dan memulihkan kondisi.

Ukh.

Pulang-pulang kok ya sakit tho…

(bersambung)

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .