Serial Mudik 08 : "Duda-Duda Perkasa"
SERIAL MUDIK 08
Bagian 4
“Duda-Duda Perkasa”
Hari Senin, 17 Maret 2008, saya awali dengan bangun pagi. Hari ini Pak Romli akan mulai membetulkan kondisi rumah saya yang memang harus dibetulkan.
Tapi, sebelum ia datang, saya sengaja ke pasar dulu untuk membeli kopi dan memang berniat berjalan-jalan saja ke pasar penuh kenangan itu. Saya nggak pernah melewatkan satu hal ini tiap kali mudik. Bagi saya, wajib hukumnya untuk ke pasar tradisional yang jaraknya Cuma 5 menit dari rumah saya itu. Dulu ada jalan pintasnya. Tapi, jalan itu sengaja ditutup. Jadi, saya harus memutar.
Di pasar itu saya membeli kopi dan panganan yang nggak ada di Bandung.
Hehe… Itu makanan kecil saya. Baru sebagian saja.
Saya nggak bisa lama-lama di pasar kesukaan saya itu karena takut ditunggu Pak Romli. Pulang dari pasar, saya bertemu Mbak Mira. Mbak satu ini adalah adik dari pemilik Warung Jamu Cak Umar yang menempati temat, dua rumah dari rumah saya.
Ada yang berbeda dengan penampilan Mbak satu ini. Selain terlihat lebih gaul, dia sekarang berani memakai kaos ketat. Dan, hei… ada yang *menyembul* di balik kaosnya.
Hihi… Pasti pada berpikir, gitu aja kok dipermasalahkan sih?
Kalau Anda pernah membaca postingan saya yang berjudul “Jenis Kelamin Itu Pilihan” maka Anda akan paham siapa Mbak Mira yang saya maksud.
Yup.
Mbak Mira adalah waria. Waria cantik yang menempatkan diri sebagai perempuan muslimah yang berkerudung. Soal sah atau tidaknya dia begitu, saya nggak mau sok tahu. Yang jelas, selain pernah membuat Ibu alm ketar ketir tiap kali Mbak Mira cipika cipiki kalau ketemu saya (Ibu beranggapan Mbak Mira tetap seorang laki-laki), saya juga sering mendapati Mbak satu itu lupa memotong kumis tipis yang masih tetap tumbuh di bawah hidungnya hehe…
Setelah bertukar sapa dengan Mbak Mira (pasti dengan “bonus” cipika cipikinya”), saya kembali ke rumah. Rupanya Pak Romli sudah datang. Ia bersama Pak No yang akan membantunya. (Pak Romli menyebut Pak No dengan sebutan “kenek” karena yang akan membantunya bekrja di rumah saya mulai hari itu). Pak No ini seorang tukang becak, “pendekar” alias pendek kekar, berkulit hitam legam, berkumis lebat dan berksan anger. Tapi, begitu ngobrol lebih dekat, ternyata orangnya suka guyon. Sempet bikin *surpraise*, seperti contoh di bawah:
Pak No : “Neng tinggal di Bandung?”
Saya : “Iya, Pak. Sekarang saya di Bandung.”
Pak No : “Tiasa bahasa Sunda atuh…”
Saya : “Lho… kok Bapak bisa bisa ngomong Sunda? Bukannya Bapak dari Jawa?”
Pak No : “Istri saya almarhum kan orang Sukabumi. Jadi dikit-dikit mah bisa.”
Saya : “Oh, istri Bapak sudah meninggal? Sudah lama, Pak?”
Pak No : “Sudah 6 tahun lalu, Neng… Saya bujang lagi nih sekarang. Jadi kalo
lagi pengen, terpaksa beli.”
Ups.
Oow.
Saya nggak bisa komentar apa-apa lagi deh begitu Pak No mengatakan kalimat terakhir itu. Cuma senyum-senyum saja. Tapi, pada waktu-waktu berikutnya, Pak No ternyata laki-laki yang sopan. Dia tetap memanggil saya “Neng” atau “Mbak”. Kadang di sela kerjanya tetap memberi joke-joke yang bikin saya tertawa.
Seperti ketika saya menawarkan kopi. Pak No bilang, “Wah, saya sudah hitam gini, masa ditawarin kopi yang hitam juga?” saya becandain lagi dengan menawarkan kopi putih kalau ada. Pak Romli yang mendengarkan jadi tertawa-tawa.
Harus diakui, dengan sistem borongan seperti yang Pak Romli mau (dan baru kali ini saya *ngeh* dengan istilah borongan dan atau harian itu) memacu keduanya untuk menyelesaikan tugas secepatnya. Pak Romli yang rapi bekerja mendapat partner kerja yang memiliki tenga ekstra seperti Pak No. Keduanya saling bahu membahu. Target 5 hari nampaknya bisa selesai dalam 3 hari saja.
Iya sih… Secara hitung-hitungan saya sedikit mrugi karena membayar dengan sistem borongan bukan harian. Tapi, mengingat pekerjaan mereka yang rapi dan membuat saya puas, saya pikir cingcay lah…
Pak No ini mempunyai anak 6 orang. Ada yang sudah menikah, tapi yang paling kecil baru berumur 7 tahun. Saat Ibunya meninggal, si bungsu ini baru berusia 2 tahun. Di posting saya berikutnya saya akan bercerita siapa yang dimaksud. Yang jelas, ia menjadi salah satu orang yang karena kehadirannya bisa membuat wawasan saya bertambah lagi.
Pada hari keempat bekerja, Pak Romli memang sengaja tidak menggunakan tenaga Pak No. Ia sengaja menyelesaikan sisa pekerjaan sendiri. Saat itulah saya baru tahu kalau Bapak beranak 8 (dan istrinya juga sudah meninggal) berusia 66 tahun!
Luar biasa.
Padahal kalau dilihat dari fisiknya, mungkin lebih pantas dia berusia 50-an tahun.
Tapi, nggak aneh juga kalau ia berusia segitu sebab saya mengenalnya sejak saya masih kecil. Salah satu anaknya ada yang seumuran dengan saya. Ya pantaslah kalau demikian.
Pada hari Jumat, 21 Maret 2008, pekerjaan Pak Romli rampung.
Rumah saya pun sudah terlihat lebih apik.
Ada kebanggaan yang pela-pelan menyelinap dalam diri saya. Kebanggan boleh menepati janji meski baru sedikit demi sedikit. Kalau orang bilang ini adalah perbuatan yang sedikit terlambat, bagi saya tidak. Sebab, saya percaya Sang Maha Pengatur memang telah membuatnya sedemikian rupa. Lengkap dengan segala peristiwa yang menyertainya.
Pada Jumat siang itu, saya memang berniat memanggil tukang kasur untuk membetulkan kasur kapuk di rumah yang kempes dan nggak layak ditiduri.
Entah kenapa, pilihan saya tertuju pada seorang Bapak tukang kasur yang belakangan bernama Pak Sailiki.
Dari perawakannya orang pasti sudah bisa menduga usianya di atas 60 tahun.
Tapi, saya tetap kaget ketika dia mengatakan berusia 82 tahun!
Walah.
Padahal untuk menyelesaikan pekerjaannya ini, dia harus menggotong 5 kilo kapuk dari rumahnya menuju rumah saya meski tetap dibantu dibawakan bersama becak sih… Cuman, tetap saja membuat saya kagum.
Luar biasa.
Dan, lagi-lagi…, Bapak beranak 3 ini sudah ditinggal istrinya 7 tahun lalu. Sementara ia sudah tinggal di Lampung sejak tahun 1955.
Fuih.
Nampaknya kali ini saya memang dipertemukan dengan orang-orang kuat. Kuat dalam arti sebenarnya. Masalah umur, terbukti bukan halangan. Biar pun itu seringkali menjadi kendala (seperti Pak Romli yang baru sembuh dari sakitnya), keinginan untuk tetap menerusi hidup semampunya, menjadi kekuatan tersendiri.
Pak No, Pak Romli dan Pak Sailiki contoh konkrit manusia ciptaan Tuhan yang nggak menyerah pada kondisi apa pun. Bahkan saat raganya memang harus terbatas oleh sebab peristiwa yang menimpa mereka.
Saya salut pada mereka.
Tetap semangat, Bapak-bapak…!!
(bersambung)

Comments