Apa Lagi Namanya Selain Cinta?
APA LAGI NAMANYA SELAIN CINTA?
Beberapa hari lalu, di kantor saya didatangi rekanan yang masih 1 institusi dengan tempat saya bekerja. Karena sebelumnya saya memang kenal baik dengannya, maka kedatangannya itu saya sambut dengan hangat.
Adapun kedatangannya ke kantor saya adalah menyerahkan undangan sebuah kegiatan yang diadakan oleh bagian dari tempatnya bekerja. Saya sempat bersenda gurau dengannya.
Begitu sampai pada niatnya mengundang adik-adik damping saya untuk ikut berpartisipasi, saya bilang saya nggak berani janji dulu. Selain kebetulan bos saya sedang ada di luar daerah, saya pun juga akan ke luar kota untuk beberapa hari karena ada tugas. So, nggak mungkin dalam waktu mepet begini mencari orang yang bersedia sesuai kriteria. Dari sini, rekanan saya yang sudah berkeluarga itu mulai ngoceh banyak hal yang pada intinya sepertinya dia tahu banget kondisi tempat saya bekerja ini. Bahkan dia selayaknya orang yang merasa punya kepentingan atas tempat saya bekerja ini sehingga sempat nyentil atas beberapa hal yang memang bukan menjadi ruang lingkup kerja tempat saya bekerja ini.
Saya sempat panas dibuatnya.
Setiap kali saya mencoba menjelaskan, dipotong lagi dengan anggapannya sendiri yang nggak sepenuhnya benar. Posisinya malah jadi seolah-olah dia yang paling mengerti ketimbang saya sendiri.
Sempat bingung juga, enaknya diapain ngadepin orang yang serasa paling mengerti sendiri begini? Akhirnya saya memilih diam saja dan meng-iyakan apa pun yang dikatakannya. (sembari tetep rada dongkol juga sih hehe…)
Beberapa saat kemudian, saya ceritakan hal itu kepada seorang teman yang juga kenal dengan orang yang dimaksud tersebut. Jawabnya, “Biasa itu mah, Njar… Orangnya memang gitu. Sok tahu. Tapi, kalo dia ditantang untuk mengerjakan sesuatu, nggak tahu apa-apa. Udah berapa orang aja yang dibuat BT seperti kamu karena sikapnya itu.”
Well.
Pada tayangan sebuah televisi seminggu lalu (kalau tidak salah) ada kisah cinta Mbak Diana Syarif dan Mas Eko suaminya. Mbak Diana ini pengidap penyakit Lupus sekailgus aktivis dari penyakit yang katanya paling banyak diderita oleh perempaun tersebut.
Tayangan memang berkisar tentang bagaiman pasangan tersebut melalui hari-hari yang tidak mudah bersama penyakit yang diderita Mbak Diana itu. Suka duka diceritakan. Memang sih, lebih banyak diambil dari sudut pandang Mas Eko selaku suami Mbak Diana. Bagaimana ia dengan iklas menemani hari-hari Mbak Diana bahkan di saat ia sendiri merasa sulit. Atau ketika rahim Mbak Diana harus diangkat karena penyakitnya itu sementara mereka belum memperoleh keturunan.
Ada doa yang saya ingat, diucapkan oleh Mas Eko setelah ia selesai sholat (dan diperagakan dalam tayangan tersebut). Kalau tidak salah inti doanya menyatakan supaya Mas Eko diberi petunjuk untuk tetap mencintai Mbak Diana bukan karena kecantikan, kepintaran atau bahkan karena penyakitnya. Tetapi, ia masih mau dan terus mencintai istrinya itu karena Gusti Allah yang mencintainya lewat sang istri. Ia ingin terus mendampingi istrinya itu sampai kapan pun.
Ketika sang istri sempat putus asa karena penyakitnya yang kian parah sementara di lain pihak ia melihat sikap suaminya yang tetap mau terus mendampingi, Mas Eko pun berkomentar, bahwa ia melakukan semua sebab baginya sang istri adalah ladang amalnya yang harus terus dipupuk sampai maut memisahkan.
Pagi tadi saya baru menelpon sepupu saya di Cirebon.
Kebetulan ayah dari sepupu saya itu sudah 2 minggu ini masuk Rumah Sakit. Karena saya masih belum punya waktu untuk menjenguk (mereka ada di luar kota) maka saya hanya bisa terus mengikuti perkembangan Om saya itu dengan menelpon anaknya saja.
Intinya penyakit Om saya itu naik turun. Kadang stabil, lain hari drop.
Sebenarnya penyakit tersebut bisa segera sembuh kalau tidak ada penyakit lain yang diam-diam menyerang jiwa Om saya.
Ya, sejak anak bungsunya meninggal 2 tahun lalu, kesehatan Om saya itu menurun. Entah apa yang dipikirkannya sehingga ia sampai demikian. Padahal seluruh keluarga dan ia sendiri sudah mengiklaskan kepergian anaknya tersebut.
Kalau sudah begini peran seluruh keluarganya yang masih ada penting sekali. Terutama sang istri tercinta.
Yang pernah saya tahu, Tante saya itu termasuk berbadan ringkih. Beberapa kali saya sempat mendengar kalau Tante saya itu sakit. Memang tidak parah apalagi masuk rumah sakit. Tapi, kalau dilihat sekilas saja, fisiknya itu memang bukanlah fisik orang yang kuat.
Dan, dalam kondisi seperti sekarang ini, Tante saya itu adalah orang yang mau nggak mau harus lebih kuat dari suaminya. Tidak saja kuat secara lahir, sebab harus bolak balik ke rumah sakit dan tetap mengurusi anak-anaknya, namun juga harus kuat secara batin.
Kematian anak bungsunya tentu saja tetap menyisakan kesedihan yang tak kalah dalam seperti yang masih dialami suaminya hingga sakit begitu. Tapi, dengan kekuatan yang entah datang darimana, nampaknya Tante saya itu menjadi orang paling kuat di saat ini untuk menghadapi kondisi sang suami. Lahir batin.
Dari cerita di atas, seharian ini saya berikir, apa penyebab yang bisa membuat pasangan hidup dari rekanan saya yang menyebalkan tadi, Mbak Diana atau Om saya itu sehingga mau menghadapi segala kekurangan dari pasangannya?
Adakah definisi “cinta” yang ribet dan bisa bikin mumet itu bisa disederhanakan sebagai penerimaan diri seorang yang paling menyebalkan sedunia untuk menjadi bagian dalam hidupnya, selamanya?
Mungkinkah “si cinta” ini yang mengubah penerimaan diri obsesi seorang suami seperti Mas Eko untuk mendapat keturunan, tak kesampaian lalu berubah menjadi semangat beramal bagi kehidupannya di akherat kelak?
Atau, inikah “cinta” yang diributkan banyak orang, ternyata bisa mengubah fisik orang yang dulunya tak berdaya menjadi mendadak kuat hingga bisa mendampingi sang suami yang gantian kini sedang berhadapan dengan ketidakberdayan tubuhnya?
Hm.
Jika demikian, tak mudah rasanya menyatakan “ya” atau “tidak”.
Sebab saya pikir, masih ada satu kata lagi yang harus terus digali dan membutuhkan keberanian lebih dari biasa.
Satu kata itu adalah: ketulusan.
(siang terik 15:14, 4 April 2008)

Comments