« March 2008 | Main | May 2008 »

Semua Orang Ingin Boleh Bicara

Semua Orang Ingin Boleh Bicara

Hari-hari terakhir ini saya sedang memperhatikan tiga buah acara mencari bakat yang terbaik di 3 televisi swasta. Tiga acara itu adalah AFI Yunior di Indosiar, Babak Audisi Indonesian Idol di RCTI dan Be A Man di Global TV.

AFI Yunior adalah acara lama yang kembali diadakan. Peminatnya cukup banyak meski di stasiun lain juga sedang ada ajang yang mirip. Mungkin perbedaanya, selain di role acaranya, juga cara menempatkan pemenang dari setiap episode. Dengan hadirnya 50 juri vote lock yang tidak mengenal para peserta dan mempunyai hak penuh untuk menentukan sendiri peserta yang mereka suka, acara ini (dianggap) cukup fair karena tidak melibatkan orang dalam.

Terus terang saja, salah satu alasan saya tertarik mengikuti lagi acara tersebut karena di sana ada adik Bagas, seorang anak laki-laki asal Cimahi Bandung, usia 12 tahun. Ketika pertama diberitahu oleh seorang sahabat, saya nggak menaruh kebanggaan atasnya. Meski saya mengenal baik orang tua Bagas, tapi saya pikir kompetisi ini pastilah diikuti orang-orang yang bisa jauh lebih darinya. Apalagi belakangan saya tahu, Bagas punya keterbatasan dalam penglihatan. Matanya hanya 50% bisa melihat. Biar begitu, bukan bermaksud mengekor seniornya di ajang yang mirip yang bahkan tidak bisa melihat sama sekali, Bagas memperlihatkan kebisaannya.

Ketika hari Minggu 19 April 2008 lalu Bagas kembali menunjukkan kebiasaannya di dunia tarik suara, ternyata ia lolos masuk ke 12 besar AFI Yunior. Prestasi yang pasti melegakan dirinya dan keluarganya.

Yang menarik adalah ketika Ibu Bapak Bagas yang berprofesi sebagai pendidik menyebarkan semacam poster kecil (termasuk ke kantor saya), ada tulisan supaya Bagas tetap meneruskan perjuangan tanpa harus terbebani menang atau kalah. Lalu ketika Bagas beraksi, Ibu Bapaknya itu pun membawa poster bertuliskan hal yang mirip, agar Bagas mau menggenggam “matahari”nya. (kondisi ini sempat dikomentari Sofi Navita sebagai sesuatu hal yang positif karena bisa membangkitkan daya juang anak yang bersangkutan)

Lalu…, acara Babak Audisi Indonesian Idol di RCTI.

Saya tidak dapat melihat semua berita audisi yang terjadi di banyak daerah. Tapi, ada berita dari beberapa tempat yang kemudian meloloskan para calon the hext Indonesian Idol yang sempat saya lihat.

Diantaranya ada tiga orang perjaka-perjaka gagah yang ketika suaranya disatukan membentuk harmoni lagu yang indah. Sayangnya, hingga babak eliminasi cuman satu orang saja yang berhasil. Ada juga polisi lalu lintas dengan suara lantangnya, supir truk hingga pengamen yang dianggap over PD ternyata saat dikritik juri (Anang, Titi dan Indra Lesmana) malah ciut meski ia bisa masuk ke babak selanjutnya.

Yang menarik perhatian saya adalah seorang perempuan muda bernama Wulan, lupa dari daerah mana, menyatakan bahwa selain untuk mengubah nasib keluarga dan dirinya, alasan ia mengikuti Indonesian Idol adalah untuk menyatakan kepada khalayak bahwa keluarganya tidak semua jelek atau buruk seperti anggapan masyarakat di sekitarnya. Sambil menangis, gadis dengan paras Jawa banget itu menceritakan kejadian beberapa waktu lalu ketika sang kakak harus mati diterjang timah panas karena melakukan tindakan kriminal. Dengan terisak, Wulan ingin membersihkan nama keluarganya itu dengan keberhasilannya melewati babak demi babak di Indonesian Idol ini. (Titi DJ berbaik hati menyediakan pelukan simpatinya untuk mengurangi beban tangis Wulan)

Dan, sejauh ini keinginannya itu berhasil.

Acara ketiga yang sedang saya seriusi lihat adalah acara baru di Global TV : Be A Man.

Acara yang baru sekali putar di hari Minggu 20 April 2008 itu adalah acara yang berbeda sebab mengetengahkan para waria. Para wanita-pria yang sehari-hari terlihat kemayu itu sengaja diajak ke sebuah lokasi pelatihan militer di daerah Bogor. Dengan kesadaran dan gaya mereka masing-masing, 18 waria tersebut mengikuti semacam pelatihan selama 5 hari.

Be A Man atau “Menjadi Pria Sejati” ini memang baru tayang sekali di hari Minggu itu. Akan ada kelanjutannya di setiap hari Minggu malam pukul 22.30 WIB hingga beberapa episode. Tapi, ada satu hal yang membuat saya tersenyum sekaligus kagum.

Saat pembaca acaranya menyambut para ke-18 kontestan itu di pinggir lapangan, ada acara “selamat datang” dengan menggeledah koper yang bawa. Macam-macam saja jenis kopernya itu. Macam-macam pula isinya.

Bisa ditebak, meski bermacam-macam koper dan isi itu, ada 1 kesamaan yang nggak lupa mereka bawa, kesamaan itu adalah alat make-up! Wuih…, saya saja kalah. Biar akhirnya mereka tahu akan mengikuti pelatihan, nyatanya alat make-up itu nggak bisa ketinggalan.

Tapi, bukan itu yang menyita perhatian saya.

Mata saya awas menonton ketika beberapa kali didapati dari isi koper itu adalah sejadah dan sarung untuk sholat.

Salut.

Lewat seorang teman di PH pembuat acara itu, saya dapat bocoran kalau para waria itu memang rajin sholat. Bahkan ada yang bukan membawa sarung saja, tapi juga bawa mukenah!

Sementara yang non-muslim, mereka pun rajin berdoa sesuai kepercayaannya masing-masing.

Dari 3 acara mencari bakat itu, ada yang mengusik…

Bahwa manusia memang mempunyai kekurangan dan kelebihan dari dalam diri dan lingkungannya. Kekurangan dan kelebihan yang tidak bisa begitu saja mereka hindari.

Ketika salah satu bentuk kemanusiaan mereka adalah sebuah kekurangan, maka sebagai manusia berakal budi, pastilah mereka hendak menyatakan kepada khalayak bahwa mereka tetap memiliki kelebihan yang bisa dibanggakan atau minimal supaya kekurangannya tidak terlalu terlihat amat.

Bagas yang tidak sempurna melihat, memiliki suara bagus dan orang tua yang mendukung. Wulan yang tanpa sengaja memiliki kakak yang berhubungan dengan hukum, mendapat kesempatan tampil dan membuktikan eksistensinya untuk membersihkan nama keluarganya. Ajeng dkk warianya, meski keberadaannya masih dilihat sebelah mata, diperlihatkan tetap mau mengingat sang penciptanya.

Lepas apakah mereka kelak bisa memanfaatkan awal yang baik ini menjadi kesempatan hidup yang tidak boleh disia-siakan, acara itu telah menjadi tempat untuk mengumpulkan kembali banyak kelebihan dari sisi seorang anak manusia.

Kelebihan yang hendak dinyatakan untuk menutupi kekurangan itu memang membutuhkan orang lain. Orang lain yang mau menampung ketika mereka susah bicara sendiri. Susah mengungkapkan bahwa mereka “ada” dan “bisa”. Sebab pada dasarnya semua manusia punya hak penuh menyatakan diri seutuhnya.

Lalu, ketika semua orang ingin boleh bicara, masihkah kita mau menyediakan telinga untuk sekadar mendengarkan?


(thx to bagas, wulan & ajeng dkk, 25 April 2008)

                            

Apa Lagi Namanya Selain Cinta?

APA LAGI NAMANYA SELAIN CINTA?

Beberapa hari lalu, di kantor saya didatangi rekanan yang masih 1 institusi dengan tempat saya bekerja. Karena sebelumnya saya memang kenal baik dengannya, maka kedatangannya itu saya sambut dengan hangat.

Adapun kedatangannya ke kantor saya adalah menyerahkan undangan sebuah kegiatan yang diadakan oleh bagian dari tempatnya bekerja. Saya sempat bersenda gurau dengannya.

Begitu sampai pada niatnya mengundang adik-adik damping saya untuk ikut berpartisipasi, saya bilang saya nggak berani janji dulu. Selain kebetulan bos saya sedang ada di luar daerah, saya pun juga akan ke luar kota untuk beberapa hari karena ada tugas. So, nggak mungkin dalam waktu mepet begini mencari orang yang bersedia sesuai kriteria. Dari sini, rekanan saya yang sudah berkeluarga itu mulai ngoceh banyak hal yang pada intinya sepertinya dia tahu banget kondisi tempat saya bekerja ini. Bahkan dia selayaknya orang yang merasa punya kepentingan atas tempat saya bekerja ini sehingga sempat nyentil atas beberapa hal yang memang bukan menjadi ruang lingkup kerja tempat saya bekerja ini.

Saya sempat panas dibuatnya.

Setiap kali saya mencoba menjelaskan, dipotong lagi dengan anggapannya sendiri yang nggak sepenuhnya benar. Posisinya malah jadi seolah-olah dia yang paling mengerti ketimbang saya sendiri.

Sempat bingung juga, enaknya diapain ngadepin orang yang serasa paling mengerti sendiri begini? Akhirnya saya memilih diam saja dan meng-iyakan apa pun yang dikatakannya. (sembari tetep rada dongkol juga sih hehe…)

Beberapa saat kemudian, saya ceritakan hal itu kepada seorang teman yang juga kenal dengan orang yang dimaksud tersebut. Jawabnya, “Biasa itu mah, Njar… Orangnya memang gitu. Sok tahu. Tapi, kalo dia ditantang untuk mengerjakan sesuatu, nggak tahu apa-apa. Udah berapa orang aja yang dibuat BT seperti kamu karena sikapnya itu.”

Well.

Pada tayangan sebuah televisi seminggu lalu (kalau tidak salah) ada kisah cinta Mbak Diana Syarif dan Mas Eko suaminya. Mbak Diana ini pengidap penyakit Lupus sekailgus aktivis dari penyakit yang katanya paling banyak diderita oleh perempaun tersebut.

Tayangan memang berkisar tentang bagaiman pasangan tersebut melalui hari-hari yang tidak mudah bersama penyakit yang diderita Mbak Diana itu. Suka duka diceritakan. Memang sih, lebih banyak diambil dari sudut pandang Mas Eko selaku suami Mbak Diana. Bagaimana ia dengan iklas menemani hari-hari Mbak Diana bahkan di saat ia sendiri merasa sulit. Atau ketika rahim Mbak Diana harus diangkat karena penyakitnya itu sementara mereka belum memperoleh keturunan.

Ada doa yang saya ingat, diucapkan oleh Mas Eko setelah ia selesai sholat (dan diperagakan dalam tayangan tersebut). Kalau tidak salah inti doanya menyatakan supaya Mas Eko diberi petunjuk untuk tetap mencintai Mbak Diana bukan karena kecantikan, kepintaran atau bahkan karena penyakitnya. Tetapi, ia masih mau dan terus mencintai istrinya itu karena Gusti Allah yang mencintainya lewat sang istri. Ia ingin terus mendampingi istrinya itu sampai kapan pun.

Ketika sang istri sempat putus asa karena penyakitnya yang kian parah sementara di lain pihak ia melihat sikap suaminya yang tetap mau terus mendampingi, Mas Eko pun berkomentar, bahwa ia melakukan semua sebab baginya sang istri adalah ladang amalnya yang harus terus dipupuk sampai maut memisahkan.

Pagi tadi saya baru menelpon sepupu saya di Cirebon.

Kebetulan ayah dari sepupu saya itu sudah 2 minggu ini masuk Rumah Sakit. Karena saya masih belum punya waktu untuk menjenguk (mereka ada di luar kota) maka saya hanya bisa terus mengikuti perkembangan Om saya itu dengan menelpon anaknya saja.

Intinya penyakit Om saya itu naik turun. Kadang stabil, lain hari drop.

Sebenarnya penyakit tersebut bisa segera sembuh kalau tidak ada penyakit lain yang diam-diam menyerang jiwa Om saya.

Ya, sejak anak bungsunya meninggal 2 tahun lalu, kesehatan Om saya itu menurun. Entah apa yang dipikirkannya sehingga ia sampai demikian. Padahal seluruh keluarga dan ia sendiri sudah mengiklaskan kepergian anaknya tersebut.

Kalau sudah begini peran seluruh keluarganya yang masih ada penting sekali. Terutama sang istri tercinta.

Yang pernah saya tahu, Tante saya itu termasuk berbadan ringkih. Beberapa kali saya sempat mendengar kalau Tante saya itu sakit. Memang tidak parah apalagi masuk rumah sakit. Tapi, kalau dilihat sekilas saja, fisiknya itu memang bukanlah fisik orang yang kuat.

Dan, dalam kondisi seperti sekarang ini, Tante saya itu adalah orang yang mau nggak mau harus lebih kuat dari suaminya. Tidak saja kuat secara lahir, sebab harus bolak balik ke rumah sakit dan tetap mengurusi anak-anaknya, namun juga harus kuat secara batin.

Kematian anak bungsunya tentu saja tetap menyisakan kesedihan yang tak kalah dalam seperti yang masih dialami suaminya hingga sakit begitu. Tapi, dengan kekuatan yang entah datang darimana, nampaknya Tante saya itu menjadi orang paling kuat di saat ini untuk menghadapi kondisi sang suami. Lahir batin.

Dari cerita di atas, seharian ini saya berikir, apa penyebab yang bisa membuat pasangan hidup dari rekanan saya yang menyebalkan tadi, Mbak Diana atau Om saya itu sehingga mau menghadapi segala kekurangan dari pasangannya?

Adakah definisi “cinta” yang ribet dan bisa bikin mumet itu bisa disederhanakan sebagai penerimaan diri seorang yang paling menyebalkan sedunia untuk menjadi bagian dalam hidupnya, selamanya?

Mungkinkah “si cinta” ini yang mengubah penerimaan diri obsesi seorang suami seperti Mas Eko untuk mendapat keturunan, tak kesampaian lalu berubah menjadi semangat beramal bagi kehidupannya di akherat kelak?

Atau, inikah “cinta” yang diributkan banyak orang, ternyata bisa mengubah fisik orang yang dulunya tak berdaya menjadi mendadak kuat hingga bisa mendampingi sang suami yang gantian kini sedang berhadapan dengan ketidakberdayan tubuhnya?

Hm.

Jika demikian, tak mudah rasanya menyatakan “ya” atau “tidak”.

Sebab saya pikir, masih ada satu kata lagi yang harus terus digali dan membutuhkan keberanian lebih dari biasa.

Satu kata itu adalah: ketulusan.

(siang terik 15:14, 4 April 2008)