Semua Orang Ingin Boleh Bicara
Semua Orang Ingin Boleh Bicara
Hari-hari terakhir ini saya sedang memperhatikan tiga buah acara mencari bakat yang terbaik di 3 televisi swasta. Tiga acara itu adalah AFI Yunior di Indosiar, Babak Audisi Indonesian Idol di RCTI dan Be A Man di Global TV.
AFI Yunior adalah acara lama yang kembali diadakan. Peminatnya cukup banyak meski di stasiun lain juga sedang ada ajang yang mirip. Mungkin perbedaanya, selain di role acaranya, juga cara menempatkan pemenang dari setiap episode. Dengan hadirnya 50 juri vote lock yang tidak mengenal para peserta dan mempunyai hak penuh untuk menentukan sendiri peserta yang mereka suka, acara ini (dianggap) cukup fair karena tidak melibatkan orang dalam.
Terus terang saja, salah satu alasan saya tertarik mengikuti lagi acara tersebut karena di sana ada adik Bagas, seorang anak laki-laki asal Cimahi Bandung, usia 12 tahun. Ketika pertama diberitahu oleh seorang sahabat, saya nggak menaruh kebanggaan atasnya. Meski saya mengenal baik orang tua Bagas, tapi saya pikir kompetisi ini pastilah diikuti orang-orang yang bisa jauh lebih darinya. Apalagi belakangan saya tahu, Bagas punya keterbatasan dalam penglihatan. Matanya hanya 50% bisa melihat. Biar begitu, bukan bermaksud mengekor seniornya di ajang yang mirip yang bahkan tidak bisa melihat sama sekali, Bagas memperlihatkan kebisaannya.
Ketika hari Minggu 19 April 2008 lalu Bagas kembali menunjukkan kebiasaannya di dunia tarik suara, ternyata ia lolos masuk ke 12 besar AFI Yunior. Prestasi yang pasti melegakan dirinya dan keluarganya.
Yang menarik adalah ketika Ibu Bapak Bagas yang berprofesi sebagai pendidik menyebarkan semacam poster kecil (termasuk ke kantor saya), ada tulisan supaya Bagas tetap meneruskan perjuangan tanpa harus terbebani menang atau kalah. Lalu ketika Bagas beraksi, Ibu Bapaknya itu pun membawa poster bertuliskan hal yang mirip, agar Bagas mau menggenggam “matahari”nya. (kondisi ini sempat dikomentari Sofi Navita sebagai sesuatu hal yang positif karena bisa membangkitkan daya juang anak yang bersangkutan)
Lalu…, acara Babak Audisi Indonesian Idol di RCTI.
Saya tidak dapat melihat semua berita audisi yang terjadi di banyak daerah. Tapi, ada berita dari beberapa tempat yang kemudian meloloskan para calon the hext Indonesian Idol yang sempat saya lihat.
Diantaranya ada tiga orang perjaka-perjaka gagah yang ketika suaranya disatukan membentuk harmoni lagu yang indah. Sayangnya, hingga babak eliminasi cuman satu orang saja yang berhasil. Ada juga polisi lalu lintas dengan suara lantangnya, supir truk hingga pengamen yang dianggap over PD ternyata saat dikritik juri (Anang, Titi dan Indra Lesmana) malah ciut meski ia bisa masuk ke babak selanjutnya.
Yang menarik perhatian saya adalah seorang perempuan muda bernama Wulan, lupa dari daerah mana, menyatakan bahwa selain untuk mengubah nasib keluarga dan dirinya, alasan ia mengikuti Indonesian Idol adalah untuk menyatakan kepada khalayak bahwa keluarganya tidak semua jelek atau buruk seperti anggapan masyarakat di sekitarnya. Sambil menangis, gadis dengan paras Jawa banget itu menceritakan kejadian beberapa waktu lalu ketika sang kakak harus mati diterjang timah panas karena melakukan tindakan kriminal. Dengan terisak, Wulan ingin membersihkan nama keluarganya itu dengan keberhasilannya melewati babak demi babak di Indonesian Idol ini. (Titi DJ berbaik hati menyediakan pelukan simpatinya untuk mengurangi beban tangis Wulan)
Dan, sejauh ini keinginannya itu berhasil.
Acara ketiga yang sedang saya seriusi lihat adalah acara baru di Global TV : Be A Man.
Acara yang baru sekali putar di hari Minggu 20 April 2008 itu adalah acara yang berbeda sebab mengetengahkan para waria. Para wanita-pria yang sehari-hari terlihat kemayu itu sengaja diajak ke sebuah lokasi pelatihan militer di daerah Bogor. Dengan kesadaran dan gaya mereka masing-masing, 18 waria tersebut mengikuti semacam pelatihan selama 5 hari.
Be A Man atau “Menjadi Pria Sejati” ini memang baru tayang sekali di hari Minggu itu. Akan ada kelanjutannya di setiap hari Minggu malam pukul 22.30 WIB hingga beberapa episode. Tapi, ada satu hal yang membuat saya tersenyum sekaligus kagum.
Saat pembaca acaranya menyambut para ke-18 kontestan itu di pinggir lapangan, ada acara “selamat datang” dengan menggeledah koper yang bawa. Macam-macam saja jenis kopernya itu. Macam-macam pula isinya.
Bisa ditebak, meski bermacam-macam koper dan isi itu, ada 1 kesamaan yang nggak lupa mereka bawa, kesamaan itu adalah alat make-up! Wuih…, saya saja kalah. Biar akhirnya mereka tahu akan mengikuti pelatihan, nyatanya alat make-up itu nggak bisa ketinggalan.
Tapi, bukan itu yang menyita perhatian saya.
Mata saya awas menonton ketika beberapa kali didapati dari isi koper itu adalah sejadah dan sarung untuk sholat.
Salut.
Lewat seorang teman di PH pembuat acara itu, saya dapat bocoran kalau para waria itu memang rajin sholat. Bahkan ada yang bukan membawa sarung saja, tapi juga bawa mukenah!
Sementara yang non-muslim, mereka pun rajin berdoa sesuai kepercayaannya masing-masing.
Dari 3 acara mencari bakat itu, ada yang mengusik…
Bahwa manusia memang mempunyai kekurangan dan kelebihan dari dalam diri dan lingkungannya. Kekurangan dan kelebihan yang tidak bisa begitu saja mereka hindari.
Ketika salah satu bentuk kemanusiaan mereka adalah sebuah kekurangan, maka sebagai manusia berakal budi, pastilah mereka hendak menyatakan kepada khalayak bahwa mereka tetap memiliki kelebihan yang bisa dibanggakan atau minimal supaya kekurangannya tidak terlalu terlihat amat.
Bagas yang tidak sempurna melihat, memiliki suara bagus dan orang tua yang mendukung. Wulan yang tanpa sengaja memiliki kakak yang berhubungan dengan hukum, mendapat kesempatan tampil dan membuktikan eksistensinya untuk membersihkan nama keluarganya. Ajeng dkk warianya, meski keberadaannya masih dilihat sebelah mata, diperlihatkan tetap mau mengingat sang penciptanya.
Lepas apakah mereka kelak bisa memanfaatkan awal yang baik ini menjadi kesempatan hidup yang tidak boleh disia-siakan, acara itu telah menjadi tempat untuk mengumpulkan kembali banyak kelebihan dari sisi seorang anak manusia.
Kelebihan yang hendak dinyatakan untuk menutupi kekurangan itu memang membutuhkan orang lain. Orang lain yang mau menampung ketika mereka susah bicara sendiri. Susah mengungkapkan bahwa mereka “ada” dan “bisa”. Sebab pada dasarnya semua manusia punya hak penuh menyatakan diri seutuhnya.
Lalu, ketika semua orang ingin boleh bicara, masihkah kita mau menyediakan telinga untuk sekadar mendengarkan?
(thx to bagas, wulan & ajeng dkk, 25 April 2008)


Comments