Dari Mereka Saya Menghormati Perbedaan 1
Satu kali di Gereja saya ada sebuah ibadat yang mengharuskan saya mencari seorang Ulama dari Agama Islam untuk menerangkan kepada kami, umat Katolik di gereja itu sehubungan dengan tema yang diangkat.
Saya kepikiran ke Aa’ Gym yang saat itu lagi tenar-tenarnya. Lalu, surat pun dibuat dan dialamatkan ke Darul Tauhid, markasnya Aa’ Gym.
Tapi…, nggak tahu gimana, kok surat itu nyasar entah kemana. (belakangan ternyata ketahuan terselip di Sekertariatan DT, diantara surat lama karena dianggap Aa’ Gym sudah melaksanakan kegiatan yang dimaksud)
Saat mendekati waktu pelaksanaan ibadat, dr. Esther, seorang adik damping saya menawarkan nama Ua’ nya yang bernama Bapak Tatit Palgunadi. Setelah ditelusuri ternyata Ua’ Gun, saya biasa memanggilnya begitu, istrinya bersaudara dekat dengan Aa’ Gym. Jadi, ya kebetulan banget deh, nggak dapet Aa’ Gym, dapet Ua’nya
Singkat cerita Ua’ Gym yang saat itu baru sampai dari luar negeri, tapi bela-belain memberi Tasawuf di gereja saya mendapat sambutan baik. Waktu 45 menit yang disediakan sedikit molor bahkan kurang.
Nggak sampai di situ saja….
Setelah kegiatan itu, saya, Romo Bimo, beberapa teman lain malah makin dekat dengan Ua’ Gun. Kami sering janjian ketemu dengannya di suatu tempat. Termasuk ketika makan sate di belakang stasiun dan bertemu Tanri Abeng di sana. Wuih…, ternyata Ua’ Gun termasuk orang penting dan terkenal.
Dari Ua’ yang usianya sekarang lebih dari 60 tahun ini, saya belajar banyak Bukan saja tentang ajaran-ajaran Islam yang universal, tetapi juga tentang bagaimana cara menghormati sebuah perbedaan.
Saya ingat ceritanya ketika suatu hari ke sebuah kota yang sulit mencari mesjid. Padahal ia harus melaksanakan sholat 5 waktunya. Kalau di lapangan terbuka nggak mungkin karena kondisinya nggak memungkinkan. (saya lupa alasannya apa) Alhasil, setelah membaca bismilh, Ua’ Gun mendatangi sebuah gereja yang sedang kosong, nggak ada orang. Ia lalu mencari arah kabah yang kebetulan bertolak belakang dari arah salib terpampang, menggelar sajadahnya dan sholatlah di sana.
Waktu saya tanya, emang boleh sholat di sana?
Ua’ jawab, “Gereja dan Mesjid sama-sama rumah Tuhan meski secara bangunan dan umat yang datang berbeda. Tapi, iman saya kepada Tuhan yang saya sebut Allah justru menguatkan saya bahwa ada Allah di sana. Jadi, dengan niat bersih dan sedang tidak menggangu kegiatan Gereja, saya melakukan sholat di sana. Tentu saja setelah mendapat ijin dari petugas gerejanya…”
Well.
Di waktu lain, saya bertanya tentang pasangan hidup. Kalau seandainya pasangan saya ternyata Muslim, bukan sesama Katolik, gimana?
“Pada dasarnya hidup, mati, jodoh orang memang Allah yang mengatur. Kita manusia hanya melaksanakan saja. Ya, syukur kalau dapat yang seiman. Nah, kalo nggak, tanyalah pada dirimu sendiri? Berani dan siapkah mengarungi seumur hidup dengan segala perbedaan yang ada? Kalau Ua’ sih menyarankan sebaiknya dipikirkan masak-masak dulu. Bukan Cuma nafsu atau urusan duniawi yang kadang suka bikin kita buru-buru saja maunya. Ua’ cuman ngingatin bahwa ada banyak hal lain di luar kalian berdua yang berasal dari bentuk sebuah perbedaan yang dapat menimbulkan masalah dan mau nggak mau harus manusia hadapi.”
Sejak saya bersahabat baik dengan Bapak yang telah menjadi Kakek itu, saya kok malah merasa bukannya saya jadi tertarik pindah kepercayaan, tapi justru sebaiknya. Ada yang menguatkan dalam diri saya untuk menjaga iman ini sampai raga terpisah jiwa. Kok bisa ya?
Penasaran saya tanya apa tujuan Ua’ mau bersharing kepada banyak orang bahkan yang non-Muslim?
Dengan wajah bersih yang selalu menampakkan kebapakaan dan kedamaian itu, Ua’ yang aslinya orang Jawa dan istrinya asli Sunda itu menjawab, “Ua’ ingin yang Islam makin menjadi Islam yang baik dan yang Katolik tetap menjadi Katolik yang taat.”
Dari sinilah saya sangat menaruh hormat pada Bapak satu itu dan mencoba terus menerapkan apa pun yang diajarkan/disharingkan kepada saya. Meski jarang ketemu, tapi beberapa kali kami sering ber-SMS, sekadar tanya kabar bahkan curhat. Termasuk ketika masalah KDRT menimpa saudara sepupu saya.
Ua’ Gun salah satu orang yang begitu prihatin atas kejadian itu. Ketika sepupu saya masih ada, ia sering mengirimkan ayat-ayat Al Quran kepada saya untuk diteruskan kepada sepupu saya tersebut agar ada sedikit ketenangan dalam mengatasi cobaan dalam hidupnya itu. Saat sepupu saya sudah tidak tertolong, Ua’ Gun begitu terpukul. Bukan saja rencana ketemuan dengan sepupu saya yang nggak kesampaian, tapi juga karena ia merasa kedekatan hubungan kami. Ia telah menganggap saya sebagai anaknya.
Semalam saya baru bertukar kabar dengannya. Ternyata Ua’ masih tetap semangat jalan-jalan. Ia baru saja sampai dari Garut dan akan pergi lagi keliling Jawa, nengok PLTU di 7 tempat.
Luar biasa.
Tapi, ada 1 SMS-nya yang sangat menyentuh dan masih saya simpan sekarang. Ua’ kirimkan SMS itu dari Masjidil Haram menjelang bulan Ramadhan tahun lalu. Nampaknya ia kirimkan SMS itu kepada semua orang yang dekat dengannya:
08.09.07 10.47
Ua Palgunadi
Sedang di Multazam menunggu subuh, teringat saudara2, handai taulan, kerabat, khususnya Anda. Semoga selalu dalam limpahan karunia nikmat, kesabaran, pandai bersykur, selalu khusnudhon kepadaNya, dalam ampunan dan kasih sayangnya. Amin. Pal, di Masjidil Haram Mekah, maaf lahir batin. Selamat memasuki Ramadhan
Indah yaaa…
Terima kasih Ua’ Gun…

Comments