Dari Mereka Saya Menghormati Perbedaan 2
Sebelum saya lahir ke dunia, Ibu dan Bapak saya memungut seorang anak dari Bude (kakak Ibu) di Jawa. Kebetulan Bude saya itu anaknya cowok semua dan berjumlah 7 orang. Jadi kalau diambil 1 mungkin nggak kerasa
Saya biasa memanggil dengan panggilan Ak. Biar nama aslinya Mas Tio.
Jangan tanya kenapa itu bisa terjadi. Jaman saya kecil, nggak tahu kenapa bisa manggil begitu. Terbawa hingga sekarang.
Ak tinggal dengan keluarga saya dari sebelum saya lahir hingga dia lulus SMA. Karena ingin meneruskan ke ITB, maka kembalilah ia ke sana.
Ketika masih bersama Ibu danBapak, kebetulan Ak bersekolah di sekolah swasta Katolik. Mungkin karena ia melihat sesuatu dari ajaran Katolik maka nggak heran kalau ia ingin menjadi Katolik. Cerita ini pernah diceritakan Ibu alm saya.
Tapi, baik Ibu atau Bapak nggak pernah memaksakan Ak untuk berpindah keyakinan. Malah berkesan dibiarkan menggantung. Hingga akhirnya ia kembali kepada keluarga kandungnya, di sana ia malah menemukan kembali ke jalan lama yang mungkin sekian waktu ia tinggalkan sementara.
Saya sendiri dipermandikan ketika umur 10 tahun. Ini juga karena bukan paksaan. Saya sendiri yang mau.
Biar begitu, hubungan saya dengan Ak nggak berubah. Malah makin dekat. Tiap libur sekolah, saya selalu minta untuk berkunjung ke rumah Ak yang waktu itu masih berkuliah di Bandung. Bukan cuman untuk plesiran alias liburan, tapi dengan Ak ini saya memang merasa dekat. Saya merasa punya saudara biar bukan saudara kandung. Saya sangat menyayangi kakak saya itu. Begitu juga sebaliknya. Perbedaan usia sekitar 15 tahun bukan jadi halangan.
Pada saat saya liburan itu, saya mendapatkan sebuah kejadian yang nggak akan pernah saya lupa hingga kini.
Sore itu, Ak sedang sholat magrib. Saya lupa kenapa saya menunggui dia di belakangnya. Mungkin Ak berjanji mengajak saya jalan-jalan sehabis sholat. Maklum, dia memang sangat memanjakan adik perempuan satu-satunya ini. Bisa semua mau saya, ia kabulkan.
Sehabis sholat, Ak hendak berdoa dulu.
Saya melihat ada yang aneh karena ia melakukan hal lain dari kaum muslim biasanya berdoa sehabis sholat. Yang biasanya saya lihat, kedua tangan tengadah ke atas hingga mencapai batas wajah. Kepala pun tengadah, menghadap ke atas.
Beda dengan Ak.
Ia justru mengatupkan kedua tangannya dan kepalanya tertunduk. Persis sebagaimana orang Kristen berdoa.
Saya kecil penasaran, lalu bertanya, “Ak, kok berdoanya begitu, nggak kayak yang lain?”
Jawab Ak, “Ya, Ak merasa nyaman saja begitu. Kan intinya sama berdoa juga.”
Lain hari (kayaknya di liburan yang berbeda) saya lihat dia lagi asyik membaca Alkitab.
Saya sempat kaget. Ngapain dia baca Alkibat?
Ak senyum-senyum saja, “Biar untuk pengetahuan, kenapa enggak tho? Kamu juga boleh kalau mau membaca Al Quran.”
“Tapi, aku kan nggak bisa bahasa Arabnya.”
“Kan ada terjemahannya.”
Saya pun diprsilahkan membaca beberapa buku yang menjadi koleksinya.
Ketika Bapak meninggal, dengan segala keterbatasan waktunya, Ak menyempatkan diri untuk melayat ke Lampung. Ke rumah masa kecilnya. Demikian pula ketika Ibu sakit dan akhirnya meninggal. Meski baru sempat ke rumah itu setelah Ibu meninggal, tapi saya sangat terharu ketika dia menyatakan, “Anjar… Ak, ingin bantu kamu. Tapi, Ak nggak tahu soal penguburan secara Katolik. Jadi, kasih tahu Ak ya gimana-gimananya. Ak pasti bantu.”
My God.
Diantara rasa kehilangan saya karena harus ditinggal orang tua, saya merasa masih punya orang yang mau perhatian dengan tulus tanpa harus melihat perbedaan yang ada. Bahkan agar tidak ada masalah, ia berkenan untuk diajarkan.
Sekarang Ak sudah berkeluarga. Ia menjadi Ayah dari 2 putri yang cantik-cantik.
Gantian, saya sekarang yang sangat dekat dengan anak-anaknya.
Pernah, ketika saya main ke rumahnya, salah satu dari anaknya itu bertanya, “Ayah, Tante anjar kok nggak ikut sholat?”
Karena kaget dan nggak siap dengan kalimat yang mudah dimengerti seorang anak kecil, saat itu saya hanya bisa tersenyum. Lain waktu saya bermain lagi ke rumahnya, adik-adik cantik malah bertanya apakah saya sudah ke gereja?
Sungguh, saya bahagia karenanya…
Keluarga besar saya yang mayoritas muslim nyatanya bisa rukun dan saling mendukung. Perbedaan prinsip agama tidak menghalangi. Saya jadi merasa aman berada di dekat mereka. Gurauan yang kadang nyentil, bukan alasan untuk saling menuduh apalagi menghakimi. Malah kami diperkaya karena boleh saling tahu yang sebenarnya terjadi.
Dan, khusus kepada Mas Tio, Ak yang saya sayangi itu saya merasa telah menemukan bentuk pengertian hidup yang mungkin tidak bisa saya temui di lain tempat. Sekaligus, semua yang ia berikan itu menguatkan diri saya sendiri untuk tetap pada pendirian tanpa harus membuat orang lain merasa tidak nyaman atas keberadaan saya di sekitar mereka.
“Damai di hati, damai di bumi”


Recent Comments