« May 2008 | Main

Dari Mereka Saya Menghormati Perbedaan 2

Sebelum saya lahir ke dunia, Ibu dan Bapak saya memungut seorang anak dari Bude (kakak Ibu) di Jawa. Kebetulan Bude saya itu anaknya cowok semua dan berjumlah 7 orang. Jadi kalau diambil 1 mungkin nggak kerasa

Saya biasa memanggil dengan panggilan Ak. Biar nama aslinya Mas Tio.

Jangan tanya kenapa itu bisa terjadi. Jaman saya kecil, nggak tahu kenapa bisa manggil begitu. Terbawa hingga sekarang.

Ak tinggal dengan keluarga saya dari sebelum saya lahir hingga dia lulus SMA. Karena ingin meneruskan ke ITB, maka kembalilah ia ke sana.

Ketika masih bersama Ibu danBapak, kebetulan Ak bersekolah di sekolah swasta Katolik. Mungkin karena ia melihat sesuatu dari ajaran Katolik maka nggak heran kalau ia ingin menjadi Katolik. Cerita ini pernah diceritakan Ibu alm saya.

Tapi, baik Ibu atau Bapak nggak pernah memaksakan Ak untuk berpindah keyakinan. Malah berkesan dibiarkan menggantung. Hingga akhirnya ia kembali kepada keluarga kandungnya, di sana ia malah menemukan kembali ke jalan lama yang mungkin sekian waktu ia tinggalkan sementara.

Saya sendiri dipermandikan ketika umur 10 tahun. Ini juga karena bukan paksaan. Saya sendiri yang mau.

Biar begitu, hubungan saya dengan Ak nggak berubah. Malah makin dekat. Tiap libur sekolah, saya selalu minta untuk berkunjung ke rumah Ak yang waktu itu masih berkuliah di Bandung. Bukan cuman untuk plesiran alias liburan, tapi dengan Ak ini saya memang merasa dekat. Saya merasa punya saudara biar bukan saudara kandung. Saya sangat menyayangi kakak saya itu. Begitu juga sebaliknya. Perbedaan usia sekitar 15 tahun bukan jadi halangan.

Pada saat saya liburan itu, saya mendapatkan sebuah kejadian yang nggak akan pernah saya lupa hingga kini.

Sore itu, Ak sedang sholat magrib. Saya lupa kenapa saya menunggui dia di belakangnya. Mungkin Ak berjanji mengajak saya jalan-jalan sehabis sholat. Maklum, dia memang sangat memanjakan adik perempuan satu-satunya ini. Bisa semua mau saya, ia kabulkan.

Sehabis sholat, Ak hendak berdoa dulu.

Saya melihat ada yang aneh karena ia melakukan hal lain dari kaum muslim biasanya berdoa sehabis sholat. Yang biasanya saya lihat, kedua tangan tengadah ke atas hingga mencapai batas wajah. Kepala pun tengadah, menghadap ke atas.

Beda dengan Ak.

Ia justru mengatupkan kedua tangannya dan kepalanya tertunduk. Persis sebagaimana orang Kristen berdoa.

Saya kecil penasaran, lalu bertanya, “Ak, kok berdoanya begitu, nggak kayak yang lain?”

Jawab Ak, “Ya, Ak merasa nyaman saja begitu. Kan intinya sama berdoa juga.”

Lain hari (kayaknya di liburan yang berbeda) saya lihat dia lagi asyik membaca Alkitab.

Saya sempat kaget. Ngapain dia baca Alkibat?

Ak senyum-senyum saja, “Biar untuk pengetahuan, kenapa enggak tho? Kamu juga boleh kalau mau membaca Al Quran.”

Tapi, aku kan nggak bisa bahasa Arabnya.”

Kan ada terjemahannya.”

Saya pun diprsilahkan membaca beberapa buku yang menjadi koleksinya.

Ketika Bapak meninggal, dengan segala keterbatasan waktunya, Ak menyempatkan diri untuk melayat ke Lampung. Ke rumah masa kecilnya. Demikian pula ketika Ibu sakit dan akhirnya meninggal. Meski baru sempat ke rumah itu setelah Ibu meninggal, tapi saya sangat terharu ketika dia menyatakan, “Anjar… Ak, ingin bantu kamu. Tapi, Ak nggak tahu soal penguburan secara Katolik. Jadi, kasih tahu Ak ya gimana-gimananya. Ak pasti bantu.”

My God.

Diantara rasa kehilangan saya karena harus ditinggal orang tua, saya merasa masih punya orang yang mau perhatian dengan tulus tanpa harus melihat perbedaan yang ada. Bahkan agar tidak ada masalah, ia berkenan untuk diajarkan.

Sekarang Ak sudah berkeluarga. Ia menjadi Ayah dari 2 putri yang cantik-cantik.

Gantian, saya sekarang yang sangat dekat dengan anak-anaknya.

Pernah, ketika saya main ke rumahnya, salah satu dari anaknya itu bertanya, “Ayah, Tante anjar kok nggak ikut sholat?”

Karena kaget dan nggak siap dengan kalimat yang mudah dimengerti seorang anak kecil, saat itu saya hanya bisa tersenyum. Lain waktu saya bermain lagi ke rumahnya, adik-adik cantik malah bertanya apakah saya sudah ke gereja?

Sungguh, saya bahagia karenanya…

Keluarga besar saya yang mayoritas muslim nyatanya bisa rukun dan saling mendukung. Perbedaan prinsip agama tidak menghalangi. Saya jadi merasa aman berada di dekat mereka. Gurauan yang kadang nyentil, bukan alasan untuk saling menuduh apalagi menghakimi. Malah kami diperkaya karena boleh saling tahu yang sebenarnya terjadi.

Dan, khusus kepada Mas Tio, Ak yang saya sayangi itu saya merasa telah menemukan bentuk pengertian hidup yang mungkin tidak bisa saya temui di lain tempat. Sekaligus, semua yang ia berikan itu menguatkan diri saya sendiri untuk tetap pada pendirian tanpa harus membuat orang lain merasa tidak nyaman atas keberadaan saya di sekitar mereka.

Damai di hati, damai di bumi”

                            

Dari Mereka Saya Menghormati Perbedaan 1

Satu kali di Gereja saya ada sebuah ibadat yang mengharuskan saya mencari seorang Ulama dari Agama Islam untuk menerangkan kepada kami, umat Katolik di gereja itu sehubungan dengan tema yang diangkat.

Saya kepikiran ke Aa’ Gym yang saat itu lagi tenar-tenarnya. Lalu, surat pun dibuat dan dialamatkan ke Darul Tauhid, markasnya Aa’ Gym.

Tapi…, nggak tahu gimana, kok surat itu nyasar entah kemana. (belakangan ternyata ketahuan terselip di Sekertariatan DT, diantara surat lama karena dianggap Aa’ Gym sudah melaksanakan kegiatan yang dimaksud)

Saat mendekati waktu pelaksanaan ibadat, dr. Esther, seorang adik damping saya menawarkan nama Ua’ nya yang bernama Bapak Tatit Palgunadi. Setelah ditelusuri ternyata Ua’ Gun, saya biasa memanggilnya begitu, istrinya bersaudara dekat dengan Aa’ Gym. Jadi, ya kebetulan banget deh, nggak dapet Aa’ Gym, dapet Ua’nya

Singkat cerita Ua’ Gym yang saat itu baru sampai dari luar negeri, tapi bela-belain memberi Tasawuf di gereja saya mendapat sambutan baik. Waktu 45 menit yang disediakan sedikit molor bahkan kurang.

Nggak sampai di situ saja….

Setelah kegiatan itu, saya, Romo Bimo, beberapa teman lain malah makin dekat dengan Ua’ Gun. Kami sering janjian ketemu dengannya di suatu tempat. Termasuk ketika makan sate di belakang stasiun dan bertemu Tanri Abeng di sana. Wuih…, ternyata Ua’ Gun termasuk orang penting dan terkenal.

Dari Ua’ yang usianya sekarang lebih dari 60 tahun ini, saya belajar banyak Bukan saja tentang ajaran-ajaran Islam yang universal, tetapi juga tentang bagaimana cara menghormati sebuah perbedaan.

Saya ingat ceritanya ketika suatu hari ke sebuah kota yang sulit mencari mesjid. Padahal ia harus melaksanakan sholat 5 waktunya. Kalau di lapangan terbuka nggak mungkin karena kondisinya nggak memungkinkan. (saya lupa alasannya apa) Alhasil, setelah membaca bismilh, Ua’ Gun mendatangi sebuah gereja yang sedang kosong, nggak ada orang. Ia lalu mencari arah kabah yang kebetulan bertolak belakang dari arah salib terpampang, menggelar sajadahnya dan sholatlah di sana.

Waktu saya tanya, emang boleh sholat di sana?

Ua’ jawab, “Gereja dan Mesjid sama-sama rumah Tuhan meski secara bangunan dan umat yang datang berbeda. Tapi, iman saya kepada Tuhan yang saya sebut Allah justru menguatkan saya bahwa ada Allah di sana. Jadi, dengan niat bersih dan sedang tidak menggangu kegiatan Gereja, saya melakukan sholat di sana. Tentu saja setelah mendapat ijin dari petugas gerejanya…”

Well.

Di waktu lain, saya bertanya tentang pasangan hidup. Kalau seandainya pasangan saya ternyata Muslim, bukan sesama Katolik, gimana?

Pada dasarnya hidup, mati, jodoh orang memang Allah yang mengatur. Kita manusia hanya melaksanakan saja. Ya, syukur kalau dapat yang seiman. Nah, kalo nggak, tanyalah pada dirimu sendiri? Berani dan siapkah mengarungi seumur hidup dengan segala perbedaan yang ada? Kalau Ua’ sih menyarankan sebaiknya dipikirkan masak-masak dulu. Bukan Cuma nafsu atau urusan duniawi yang kadang suka bikin kita buru-buru saja maunya. Ua’ cuman ngingatin bahwa ada banyak hal lain di luar kalian berdua yang berasal dari bentuk sebuah perbedaan yang dapat menimbulkan masalah dan mau nggak mau harus manusia hadapi.”

Sejak saya bersahabat baik dengan Bapak yang telah menjadi Kakek itu, saya kok malah merasa bukannya saya jadi tertarik pindah kepercayaan, tapi justru sebaiknya. Ada yang menguatkan dalam diri saya untuk menjaga iman ini sampai raga terpisah jiwa. Kok bisa ya?

Penasaran saya tanya apa tujuan Ua’ mau bersharing kepada banyak orang bahkan yang non-Muslim?

Dengan wajah bersih yang selalu menampakkan kebapakaan dan kedamaian itu, Ua’ yang aslinya orang Jawa dan istrinya asli Sunda itu menjawab, “Ua’ ingin yang Islam makin menjadi Islam yang baik dan yang Katolik tetap menjadi Katolik yang taat.”

Dari sinilah saya sangat menaruh hormat pada Bapak satu itu dan mencoba terus menerapkan apa pun yang diajarkan/disharingkan kepada saya. Meski jarang ketemu, tapi beberapa kali kami sering ber-SMS, sekadar tanya kabar bahkan curhat. Termasuk ketika masalah KDRT menimpa saudara sepupu saya.

Ua’ Gun salah satu orang yang begitu prihatin atas kejadian itu. Ketika sepupu saya masih ada, ia sering mengirimkan ayat-ayat Al Quran kepada saya untuk diteruskan kepada sepupu saya tersebut agar ada sedikit ketenangan dalam mengatasi cobaan dalam hidupnya itu. Saat sepupu saya sudah tidak tertolong, Ua’ Gun begitu terpukul. Bukan saja rencana ketemuan dengan sepupu saya yang nggak kesampaian, tapi juga karena ia merasa kedekatan hubungan kami. Ia telah menganggap saya sebagai anaknya.

Semalam saya baru bertukar kabar dengannya. Ternyata Ua’ masih tetap semangat jalan-jalan. Ia baru saja sampai dari Garut dan akan pergi lagi keliling Jawa, nengok PLTU di 7 tempat.

Luar biasa.

Tapi, ada 1 SMS-nya yang sangat menyentuh dan masih saya simpan sekarang. Ua’ kirimkan SMS itu dari Masjidil Haram menjelang bulan Ramadhan tahun lalu. Nampaknya ia kirimkan SMS itu kepada semua orang yang dekat dengannya:

08.09.07 10.47

Ua Palgunadi

Sedang di Multazam menunggu subuh, teringat saudara2, handai taulan, kerabat, khususnya Anda. Semoga selalu dalam limpahan karunia nikmat, kesabaran, pandai bersykur, selalu khusnudhon kepadaNya, dalam ampunan dan kasih sayangnya. Amin. Pal, di Masjidil Haram Mekah, maaf lahir batin. Selamat memasuki Ramadhan

Indah yaaa…

Terima kasih Ua’ Gun…