Die Hard 4.0
Kemaren jam 16.30 aku, Eva dan 2 orang teman gurunya nonton filmnya Om Bruce Willis di “Die Hard 4.0” di bioskop 21 Ciwalk. Karena ada program beli karcis murah di sebuah Bank yang diikuti salah satu teman Eva, maka sore itu hanya dengan mengeluarkan 10 ribu perak, bisa nonton deh di tempat yang lumayan nyaman dah.
Cerita filmnya sendiri dimulai dengan sebuah transaksi antara seorang pemuda (yang kemudian menjadi partner main bintang utama di film itu) dengan seorang perempuan keturunan China – Eropa gitu. Transaksi yang dilakukan secara virtual tersebut, sempat diragukan oleh sang pemuda dengan pertanyaan “Apakah ini legal?”. Dan, dengan suara seksinya, sang perempuan berhasil meyakinkan pemuda tadi untuk mengirim hasil kerja. Film selanjutnya menunjukkan serangkaian pembunuhan dengan cara di bom-nya beberapa rumah tiap kali sang pemilik rumah menekn tombol “delete” di komputer dan serangan lain yang satu-satu menyerang Washington DC. Sembari itu muncul credit tittle dari pemain dan kru film tersebut.
Film bener-bener dimulai ketika Om Bruce yang berperen sebagai Jhon McClane (tua-tua keladi euy… biar udah keliatan tua, teteup ganteng rek!) mendapati putrinya yang lagi indehoy dengan calon pacarnya (pembicaraan mereka menjadi guyonan segar dengan istilah “calon pacar” tadi). Maksudnya si Om Jhon itu sih baek, tapi anaknya, Lucy, menganggap sebagai turut campur sang bapak yang berlebihan. Bahkan kemudian dia nggak mau make nama belakang bapaknya sebagai nama belakangnya juga.
Habis itu, Jhon mendapat tugas dari FBI, tempat dia bekerja untuk mencari seorang hacker komputer yang nama belakangnya “Mattew”. Berbekal dengan itu, nggak tahu gimana caranya, Jhon berhasil mendapatkan rumah pemuda pertama tadi yang kemudian ketahuan namanya sebagai Mattew Farrel (apa Farrel Mattew ya? Halah….) Awalnya si Dek Farrel ini malas menerima kedatangan Jhon yang ternyata bertitel “detektif”, tapi karena ketahuan juga bahwa di saat yang sama ada percobaan pembunuhan kepada dirinya dan Jhon berusaha menyelamatkan, maka seharian itu mereka berdua jadi teman jalan.
Cerita berlanjut dengan cerita keduanya menyusuri jalan dan keadaan kota DC yang makin kacau balau dengan serangan virtual yang FBI sendiri nggak tahu darimana. Sarana-sarana umum mulai diutak atik jadi berantakan, tabrakan di sana sini, kebingungan masyarakat nggak bisa dihindari bahkan virtual gedung putih yang hancur (untung boongan meski sempat buat waktir semua penguasa FBI) dan banyak lagi yang intinya membuat khawatir kota tempat berdiam Presiden US itu. Tentu saja, karena hal ini jadi sibuk semua deh…
Nah, ketika Jhon membawa Farrel, yang tersadar bahwa apa yang diperbuatnya menimbulkan masalah besuar begitu, Jhon sempat dicuekin Bowman selaku pimpinan di sana. Apalagi ketika ia melihat Farrel, pemuda kurus, berantakan, stres dan sedang kelaparan akibat dikejar-kejar daritadi. Tapi, ketika Farrel mengatakan semua itu adalah serangan total dan menyatakan beberapa bukti, mereka berdua diminta untuk ke Dept. Pertahanan saja.
Sayangnya, sebelum sampai di sana, keduanya masih juga diburu oleh orang-orang yang memang bertugas untuk membunuh Farrel.
Untungnya, si pemuda ceking itu bersama seorang jagoan, maka ia nggak perlu kuatir dan akan merasa aman ketika bersamanya. Bahkan dengan mobil polisi yang udah nabrak sana sini, setelah Jhon keluar dari mobilnya, tiba-tiba aja mobil itu melayang dan menabrak helikopter yang sedari tadi mengincar mereka dan terbang rendah. *Bom* meledaklah mobil dan helikopternya. Hebat.
Lebih hebatnya, ternyata salah satu penumpangnya masih selamat tuh dan memberi laporan kepada bosnya yang makin BT aja, inceran utama mereka lolos bersama sang jagoan.(ckckckck... dasar pilem)
Selanjutnya cerita berlanjut tentang penyelamatan Pak Jhon dan Farrel atas yang terjadi di kota penting itu. Jhon yang gaptek dan Farrel yang penakut menyatu bersama untuk mencoba meminimalisir serangan lebih lanjut. Mereka saling melengkapi. Misi jug aditambah dengan penyelamatan atas Lucy yang ditawan Thomas Gabriel selaku otak dari rangkaian teror selama ini. (nggak basi juga ide cerita seperti itu ya?) Seperti kebanyakan film heroik Hollywood lainnya, film ini memang mau menampilkan seorang tokoh utama yang sangat jagoan untuk menyelamatkan kota. Biar separah apa pun luka yang diderita, bahkan sampe berdarah-darah (hiii… aku sebel sebenernya kalo ada adegan pake darah begini) atau diserbu sama banyak musuh bahkan berkelahi dengan sang cewek bersuara seksi yang ternyata jagoan kungfu dan punya nyawa 10 itu (saking susah matinya), nyatanya pahlawan mah teteup pahlawan.
Akhir cerita sih bisa ditebak deh.
Nggak jauh-jauh kok dari glory.
Tapi, ada satu perbincangan yang bagiku sangat menarik. Perbincangan ini terjadi antara Jhon dan Farrel ketika mereka mencoba lepas dari pembunuhan kesekian kali dan berusaha menyelamatkan kota dengan menuju pusat kendali listrik di sebelah Virginia Barat. Kurang lebih obrolannya begini:
Farrel : Kamu memang pahlawan (sambil melirik Jhon)
Jhon : (senyum-senyum saja) Apa sih pahlawan itu? Hanya sebuah sebutan. Selebihnya? Dicerai istri, tidak diaku ayah oleh anaknya dan hanya dapat pujian sambil tepukan di punggung lalu bla-bla-bla. Selanjutnya? Dilupakan.
Farrel : Tapi dalam 6 jam ini kamu sudah menyelamatkanku 10 kali. Lalu, kenapa kamu mau menjadi seorang pahlawan?
Jhon : Ya, karena kalau tidak ada yang mau, siapa yang mau lagi? Harus ada yang memulai.
Well.
Jadi, bakal tetep jadi pahlawan nih, Om Jhon bin Bruce?
Berarti bakal ada Die Hard 5,6,7,8…nih….

Recent Comments