Pasar Tradisional (bag 1)
PASAR TRADISIONAL, PASAR SEPANJANG MASA
Dua Pasar Dalam Ingatan Saya Kecil
Saat saya SMP, di kota kelahiran saya, muncul yang namanya Supermarket. Memang hanya ada dua buah waktu itu, bertitel King dan Flora. Tapi, kehadirannya mampu menyedot perhatian masyarakat kota saya yang terkenal agraris. Dua supermarket yang sebenarnya lokasinya saling membelakangi itu tiada sepi dikunjungi pengunjung. Bagi yang telah mengenal jenis pasar ini, tempat ini menjadi semacam prestise baru di kota saya. Bukan hanya belanja, tapi ada gengsinya juga. Sementara yang baru mengenal, seperti saya yang waktu itu masih ABG, ini adalah sebuah tempat yang baru, lain dari yang lain, layak dan pantas dikunjungi. Biar tidak membeli apa-apa, tapi masuk ke dalam ruangan yang adem, bersih, banyak pilihan barang dalam satu ruangan itu serta tanpa harus membuang banyak waktu, rasanya adalah sebuah petualangan tersendiri.
Di belakang rumah saya, kira-kira 5 menit begitu kaki melangkah ke luar rumah, saya sudah menemukan sebuah pasar tradisional. Pasar yang sudah ada bahkan sejak sebelum saya lahir. Kalau sekarang terbagi dua, pasar lama dan baru, maka waktu seumur supermarket itu hadir di kota saya, baru ada pasar lama. Sementara pasar baru hanya sebagai “pasar bayangan”, tempat sementara para penjual dari daerah di luar kota ini menaruh atau bertransaksi dengan pedagang sebelum kepada pembeli.
Mungkin karena jarak antara rumah dan pasar yang dekat, sejak kecil saya memang dibiasakan oleh Ibu saya untuk bisa berbelanja di sana, membeli barang kebutuhan sehari-hari. Awalnya memang ikut Ibu, menurut kemana atau apa saja yang dilakukan oleh Ibu. Lama-lama setelah saya besar (sekitar kelas 5 SD) saya dibiarkan oleh Ibu untuk berbelanja kebutuhan hari itu. Tentu saja dengan catatan belanjaan yang telah disiapkan oleh Ibu.
Setiap pagi, sekitar pukul 06.00, sebelum sekolah, saya selalu datang ke pasar itu. Membeli semua pesanan Ibu yang berhubungan dengan kebutuhan makan kami sekeluarga hari itu. Sebab sudah diberitahu bagaimana cara memilih barang dan menawarnya saya tidak menemui kesulitan. Saat-saat seperti inilah yang sangat saya sukai. Entah kenapa. Mungkin karena ada bentuk sensasi tersendiri ketika begitu melihat barang yang dibutuhkan, memilih yang pas di hati atau ke langganan saja, ditanya harga, ditawar, ditimbang, dibayar lalu jadi deh barang itu menjadi milik saya. Ada rasa puas ketika barang itu bisa menjadi milik sesuai dengan kebutuhan dan duit yang ada.
Mbok Pasar, Penjual Sejati
Seperti yang tertulis di atas, salah satu tantangan saya untuk selalu bersemangat ketika berada dalam sebuah pasar tradisional adalah ketika saya berhasil deal harga dengan pedagang yang menjual barang dagangan yang saya butuhkan. Karena terbiasa melihat barang dagangan, mencoba membandingkan barang dagangan yang sama dengan pedagang lain, saya bisa mengira-ngira berapa harga yang pantas bisa saya tawar untuk mencapai deal tadi.
Tapi, ada satu hal yang menjadi pertimbangan pribadi saya juga. Pertimbangan tadi menyangkut pedagang yang menjual.
Kebetulan, rumah saya dekat dengan jalan raya dimana semua lalu lintas yang melintas bisa terlihat. Saat saya ke pasar pagi-pagi itu, saya harus melewati jalan raya itu.Di sana saya sering berpapasan dengan para pedagang yang kebanyakan perempuan paruh baya, yang biasa dipanggil “Mbok-mbok”, membawa barang dagangannya. Mereka menggunakan sepeda sebagai alat transportasi menuju pasar sekaligus alat angkut barang-barang dagangan mereka.
Seringkali, barang dagangan yang mereka bawa terlihat tidak begitu imbang dengan kekuatan sepeda itu sendiri. Malah kadang, karena saking banyaknya barang yang mereka bawa, si pengendaranya tidak terlihat, tertutup barang bawaannya.
Ada lagi pemandangan lain yang menarik sehubungan dengan cara mereka membawa barang tersebut. Beberapa kali terlihat, yang mengendarai sepeda adalah laki-laki, entah anak atau suaminya, sementara sang Mbok dengan jalan pelan membawa barang dagangannya dengan cara nya sendiri, yaitu menggendongnya di punggung di belakang yang membawa sepeda itu. Kalau dilihat dari caranya menggengong itu, sepertinya barang yang digendong itu tergolong berat. Bisa berisi sayuran atau barang lain. Meski saya tidak terlalu tahu dari sejauh mana mereka melakukan hal itu, tapi tidak dapat dibayangkan mereka lakukan itu berkilo-kilometer menuju pasar untuk dijualkan.
Setelah mereka sampai di pasar, ada pilihan menjualkan barang yang mereka bawa, ada yang langsung dijualkan, ada juga dijual kepada kulak yang menampung. Masing-masing memang punya resikonya sendiri-sendiri.
Tapi, saya pernah melihat ketika pulang dari les atau kegiatan sekolah menjelang sore, tidak sedikit diantara mereka masih menenteng sisa barang dagangan (biasanya berupa buah-buahan) lalu sengaja dijual murah kepada siapa saja yang berminat. Mungkin, daripada dibawa pulang lagi ke rumah.
(bersambung...)



Recent Comments