PUISI-PUISI RINDU
Rasakan hadirku wahai kekasih
menyeruak pelan-pelan
laksana nyala lilin
dari korek api sanubari
Hadirmu kembali seperti hantu
Tak terlihat
tapi terasa
Tak ada kesalahan
tapi menggelisahkan
Tidakkah boleh lebih nyata
bila kau berwujud saja?
Beri belaimu di bibirku
menyentuh birahi rasa
Pengganti raga
penghela luka
Manakah kau sentuhkan pasti
dada ini di kulit ari?
(when i miss my honey, 27 Maret 2007)
Beritanya ada di : http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/032007/14/0204.htm

PESAN LAUT
Nak,
jika pantai bergemuruh
bukan berarti
keringat kita luruh
Sebab kita masih punya dada
untuk kita jadikan jala
bagi perpanjangan nafas, pada hidup kita nan keras
(selat sunda, 7 Maret 2007)
LAYAR TERKEMBANG
Jika layar terkembang
aku ingin kau mengerti
kan selalu kubawa jiwamu dalam dekapan
meski garis pantai bisa jadi memisahkan
Aku ingin kau mengerti
balutan hangat lampin
menjadi penambah ikatan
di saat layar terkembang kembali
(selat sunda, 7 Maret 2007)
RUMAH KECIL
Di bangku kecil itu
pernah ada suara tangis
karena makan malam tak habis
dibentak bapak, dibela ibu
(rumah kecilku, 8 maret 2007)
KE PASAR
Ada yang pernah tahu
pisang ambon sesisir berharga seribu?
Ada yang pernah lihat
kangkung dua ikat, lima ratus perak?
Ada yang pernah mengerti
diantara murahnya harga untuk dibeli
pasar ini
dikelilingi
pusat perbelanjaan moderen yang sepi
(pasaku, 9 Maret 2007)
TAK INGIN DIKENANG
Aku tak pernah ingin dikenang untuk dijadikan kenyataan
Aku tak pernah mau dikejutkan untuk dijadikan cerita seru
Aku tak pernah harap dimanjakan untuk dijadikan bulan-bulanan
Aku cuma berangan..., biarkan aku menelusuri jalan yang kusendiri tahu telah kupilih, tanpa ragu
biarkan aku merapatkan nada-nada sumbang yang meski letih di telinga, tapi dia telah menjadi bagian indah dalam kidung hidupku
dan biarkan aku melayang untuk memungut yang seharusnya memang boleh kupungut karena telah kulakukan dengan segala pikiran,
tanpa halangan
SEPIKU
Sepiku berlari ke jalan, biarkan aspal mengilas senyap merayap
Sepiku terbanglah ke langit, relakan hujan melerai sendu derai
Sepiku padamlah ke api, serahkan pada balok kayu biar terbunuh waktu
Lalu....
lepaskan aku tuk merajut pilar-pilar yang sedang mekar
agar tak gentar, agar asaku bisa kelar
INGIN KU MENCIUMIMU
Membayangkan berciuman denganmu
menjadi gairahku semu
Membayangkan boleh duduk bersanding denganmu begini
membikin laksana geli
Membayangkan hari senja meluruh
pada malam terasa dendam
Lalu, tak pernah ku tahu
bagaimana aku boleh
mengenalmu
lebih dalam
lebih berarti
(dalam macet Jakarta, 8 Nop 02, 17.07)
SEMPIT
Debu jalan meratakan keringat
Dalam penat
ku tahu waktuku kian padat
Sekiranya perasaanku tetap sama,
bisakah hari-hari itu selalu ada?
Leraikan lelahku,
wahai waktuku
(bandar lampung, 11 Maret 07)
PASANG LAMPU
Tak ada lelaki di rumah ini
Lampu padam, rumah suram
Pacarku bilang,
“biarkan!”
Kupaksa naik tangga
pasang lampu,
dan byarpet
Rumah gelap gulita,
lebih lama
(bandar lampung, 11 Maret 07)
JALAN KE MOL DENGAN BAPAK
Aku lihat boneka
Bapak lihat pramuniaga
(mo-ka, 11 Maret 07)
TITIPAN IBU
Jangan lupa,
belikan ibu
satu,
baju,
Buat pengganti yang dulu,
Lima ahun lalu
(mo-ka, 11 Maret 07)
Aku sedikit terluka, ketika bintang yang kupikir mulai menerangkan malam, nyatanya masih juga dihalangi rembulan
Aku sedikit terluka, ketika angin terhembus di tengah kemarau panjang, akhirnya harus terhempas oleh derasnya hujan yang mendadak datang
Aku sedikit terluka, sesaat mulut menyatakan kepastian, nyatanya di luar masih ada debu-debu yang tak hendak dihempaskan
Lalu...
Ketika kelukaan ini menjadi kian membangkitkan bentuk kecintaan tiada kunjung habisnya,
bisakah ia terubah oleh sisa sinar bintang, belai angin atau hening kata?
Aku kini takut menjadikan hayalan ini menjadi harapan
(sore dengan segala luka... 15 Feb 07)
Sesaat embun pagi merekahkah bayu
terujarkan sebentuk harap yang telah lama terbentang
harap pada bentuk kehidupan, kemarin, kini dan nanti
Embun segar itu memang berebutan merapat
Seolah ingin menawarkan diri kepada alam
agar harap yang terbentang
mendapat jalan terindah, tak terputus hingga ke tujuan
Terima kasih…
Sesaat pagi tarikan nafas ini memang kian panjang menyambut hari
Diantara riak keringat atau senandung fals buah pikiran
Nyatanya bayu yang selalu merekah
mampu menghelanya menjadi kekuatan
menggapai asa
di sepanjang titian detik yang diberikan…
…untukku
(sehari sebelum ku, 31 Januari 2007)
(kenangan lamaku dari seseorang yang entah ada dimana sekarang, terima kasih mas...)
Sesaat lagi kau akan mengetahui perbedaan yang halus
antara
bergandengan tangan,
dan
merantai jiwa
Dan, kau akan mengetahui
bahwa kasih,
bukan berarti sandaran
dan teman,
bukan berarti rasa aman
Dan, kau akan mulai mengetahui,
bahwa perhatian,
bukanlah kontrak
bahwa hadiah, bukanlah janji
Dan, kau akan mulai menerima kekalahan
dengan kepala tegak dan mata terbuka,
dengan kebesaran hati seorang dewasa,
bukan dengan kemurungan anak-anak
Dan, kau akan belajar membangun semua jalanmu
hari ini
Karena jalan esok terlalu tak pasti untuk rencana
Sesaat lagi kau akan mengetahui
bahwa sinar matahari,
bisa membakar
kalau kau menerimanya terlalu banyak
Karena itu...,
tanamlah kebunmu sendiri,
dan hiasilah jiwamu sendiri
daripada menunggu seseorang
memberimu bunga
Dan, kau akan tahu
bahwa
kau sungguh-sungguh dapat memikul beban
bahwa kau,
benar-benar kuat
dan, bahwa kau,
benar-benar berharga
(Jakarta, 22 Mei 1997)
Aku tak pernah ingin dikenang untuk dijadikan kenyataan
Aku tak pernah mau dikejutkan untuk dijadikan cerita seru
Aku tak pernah harap dimanjakan untuk dijadikan bulan-bulanan
Aku cuma berangan..., biarkan aku menelusuri jalan yang kusendiri tahu telah kupilih, tanpa ragu
biarkan aku merapatkan nada-nada sumbang yang meski letih di telinga, tapi dia telah menjadi bagian indah dalam kidung hidupku
dan biarkan aku melayang untuk memungut yang seharusnya memang boleh kupungut karena telah kulakukan dengan segala pikiran,
tanpa halangan
(tetap berjuang, dek!)
ATRIUM SENEN DUA TAHUN LALU
(sebuah napak tilas atas 26 april 1997-1999)
Aku ke Atrium Senen lagi hari ini
Menatap gedungnya nan megah,
melihat hilr mudiknya keramaian,
mendulang nostalgia, tanpa hadirmu….
Senyumku berkembang memulai angan
Bermula janjian kita di AhA
Kemeja sportif menemani cukuran rambut
yang dengan bangga kau jadikan
pembuka cerita sore kita….
Ke ATM BCA menggiring kaki kita
Kubiarkan kau mengotak-atik rekeningmu
Ku hanya ditemani Intan dan langit magrib
yang bisa meraba suka citaku bisa bertemu
sang pujaan hati
McDonald menjadi tujuan
Kusadar bangku-bangku telah berubah warna,
tapi, tidak dengan nuansa di pojokkan
Di sana terkias senyummu
mengangkut baki berisi makanan paket,
menghaturkan silahkan, bertanda
kita mulai menyantap
Senyumku berkembang mengiring angan
Malam merambah bumi
Menggelapkan suasana, tapi tidak dengan rasa hatiku
meski Intan membiarkan sisa waktu,
buat kita berdua. Cuma berdua,
dan kita mengantarnya sampai seberang
Kau ajak aku lagi ke Optik Seis
seberapa langkah dari McD….
Kau berkutat memilih sesuatu
sementara ku memilih di luar,
berkutat dalam keramaian,
mengerti peta toko yang kubaca
meski akhirnya menyerah,
tak tahu apa-apa
Senyumku berkembang menerus angan
Lalu….
Kau pinta aku pilihkan kaos kaki
di bagian pria swalayan Matahari
Ku usul, kau berpikir
Ku pilih, kau menimbang
Hingga warna coklat dan abu-abu jadi ketetapan
Senyumku tak berhenti menemani angan
Ramainya Malam Minggu kian terasa
Langkah kaki kita berlenggang ke bawah
Segala komentar tak lepas
Banyak cerita keluar bebas
Aku bangga pada laki-laki gagah sepertimu
Dan, kita meneliti harga satu-satu
dari makanan sampai sabun
dari abon sampai sampo
Kau bilang, kebutuhan bulananmu habis
mengharuskan beberapa puluh fulus
keluar dari dompetmu
Sungguh…
Aku amat bangga
pada laki-laki di sampingku ini
Anak tangga satu eprsatu kita naiki
Di atas, kian banyak manusia berdesakan,
menghimpit, bertabrakan, berjalan cepat
sementara jarum jam makin rapat
Ku bingung, kau tenangkan
Ku takut, kau ulurkan tangan
Dan, kita menyeberang jalan
naik bajaj. Berdua
Hanya berdua
Senyumku kian melebar
mengingat segala kelakuan yang ada,
mengingat di dekatmu begini tercabik-cabik geliat jiwa
mengingat perpisaan bakal di depan mata
Hingga akhirnya kita tak banyak cerita….
Di Gambir….
Ku harus telepon rumah
“Pakai kartu teleponku saja,” tawarmu
“Nggak. di wartel aja,” elakku.
Kau tunggu aku
lalu berdua lagi kita melangkah
Tujuh menit lagi kereta berangkat
Kau masih mau sisa waktu kita tidak lewat
Canda menutup mata sedih,
titip nasehat mengaburkan hati pedih
Kau tahu itu
dan ku tahu pula
Hingga kereta melangkah pelan
kau tersadar, ku harus kau tinggalkan
Tanganmu menggenggam erat
Seolah merenggang beban berat
Seraya berkata pelan, “Hati-hati”
Lalu….
Cuma lambaian tangan
menyertai langkah kereta
nan kian cepat berlari
meninggalkan senyummu,
seonggokan kenangan
bak dongeng antah berantah,
dan, kegagahan seorang laki-laki
seperti kamu….
Sekarang…
Dua tahun setelah 26 April itu….
Kutatap senja memerah
di belakang tegaknya sang Monas berdiri
Kutatap langit nan membiru
bersemu aliran semburat jingga
Kutatap rel kereta menghitam
di bawah kaki tempat dudukku
Sendiri
Hanya sendiri
Adakah kau tahu,
aku ada di sini
buat mengenangmu, mengenang
semua yang pernah terjadi,
mengenang keindahan yang pernah ada
dalam alunan senyumku yang
tak akan ada habisnya bagimu ini??
ini juga puisi yg kuselamatkan dari blog lamaku :
SELINGKUH
“Apa kabar, sayang?” suaraku menjelmakan kerinduan, dari hati yang meradang.
“Oh, sangat baik, honey. Semakin baik dengan mendengar suaramu.” Jawabannya membikinku terpana, sejenak rasa.
Gelitik jiwa kurasakan merambat dari ujung kaki hingga di atas kepala.
Oh.
“Tadi malam aku memimpikanmu.”
“Tadi malam aku memang berjalan-jalan bersama bintang, ke tempatmu.”
“Aku tak melihat bintang semalam.”
“Karena yang kau lihat hanya wajahku seorang.”
Oh.
“Aku ingin bertemu lagi denganmu malam ini.”
“Pikirkan aku saja dengan segenap hati dan jiwa.”
“Tapi, aku susah membayangkanmu.”
“Dengar saja desahan nafasku, di situ wajahku menari-nari buatmu.
Oh.
“Aku sungguh merindukanmu.”
“Aku juga.”
“Aku ingin bertemu.”
“Aku ingin memelukmu.”
“Aku ingin dicium.”
“Aku ingin mencumbumu.”
“Argghhh…,” aku mendesah, mengeluarkan resah, melepaskan lelah, membiarkan hilang gerah. “Sudah lama kamu tak meraba sentuh sekujur tubuh.”
“Maka kemarilah kekasih. Datanglah di dadaku. Siapkan bibirmu untuk kucium, kulitmu untuk kusentuh, rambutmu untuk kebelai, tubuh mewangimu untuk kupeluk dan…”
Sedetik berlalu aku diamkan terpaku.
Merasakan sensasi yang mungkin bisa dirasai bila kudengar nafasmu mewakili gejolak jiwa yang dihantar oleh panjangnya kabel telepon penyambung rindu kita.
“Kamu sedang nelepon siapa? Mesra amat?”
Mendadak suara cempreng itu mengiang jelas di telinga
bikinku berang, menurunkan gelitik, berubah curiga
“Eh, wah… Besok saja aku telepon lagi ya.”
“Papa!!! Kamu telepon siapa?”
Pryang.
Brak.
Jek nong.
Tak perlu diragukan lagi telingaku menangkap serangan-serangan kalimat barusan.
Blas.
Rinduku mendadak melayang.
Jauh…, bersama malam kelam yang berlarian menuju peraduan
(siang bolong, 22 Juni 04)
![]()
Sepiku terbanglah ke langit, relakan hujan melerai sendu derai
Sepiku padamlah ke api, serahkan pada balok kayu biar terbunuh waktu
Lalu....
lepaskan aku tuk merajut pilar-pilar yang sedang mekar
agar tak gentar, agar asaku bisa kelar
(dari sebuah cerpenku di GADIS, 2004)
...Yogya di Dini Hari...
----------------------------------
Geliat sedih merangkul sepi
ketika tarikan nafas
pada yang sebelumnya terjadi
belum juga melegakan
Meski mata cuma bisa memandang
tapi, sebagian daksa*
menyemai persamaan rasa
Tentang kebingungan
Tentang kematian
Tentang ketidakpercayaan
Tentang ajur munur**
yang sapandurat*** muncul
pada sebuah dini hari
ketika embun belum lama merekah,
menyambut detik baru yang mendadak kelam
Duh Gusti,
nyuwun pangampuro****....
bila salah terlalu dibelai
bila alpa lebih menguasai
bila ego tak terbendung merajai
Ijinkan embun dini
tetap selalu bersemi,
bersama sandykala*****
serta bulat purnama
menyertai hari-hari bumi
yang lebih damai abadi
(dari Bdg untuk dukacita Yogya, 28 Mei 06)
* daksa = tubuh
** ajur munur = hancur lebur
*** sapandurat = sekejap mata
****nyuwun pangampuro = meminta maaf
***** sandykala = gurat merah di langit senja
Sekiranya ada tanda tanya, mungkinkah ini jawabanNya?
PADA SENJA LELAKIKU
Lihat ke atas lelakiku,
tepat di atas kepala, berenteng cahaya memergoki senja yang tengah malu-malu
mengintip senyum kita diantara rona cinta terhampar
Lihat ke samping, lelakiku,
deretan rumput menari, goyang kanan kiri melebihi penari yang katanya
menjadi idola tiap kali terlihat di tivi, mengujarkan rasa
yang harusnya mulut kita yang beradu
Lihat ke bawah lelakiku,
bumi yang kita pijak bersama, mampu menguatkan cerita dari pertama
mata kita bertemu, menguraikan kisah
sampai hari ini tubuh kita terdekap erat
Dan, lihat ke dalam benak lelakiku,
ada banyak bertumpuk kata sayang berlapis kasih, terukir lebih indah,
tajam lebih terasah, terang lebih benderang
bahkan tak kan teraih senja yang menjadi saksi
bahwa tak kan terpisah
raga dan jiwa kita
yang telah dipertemukan olehNya
(bagi lelakiku, untukmu hari ini)
Tuhanku,
Aku berdoa untuk seorang pria,
yang akan menjadi bagian dari hidupku.
Seorang yang sungguh mencintaiMU lebih dari segala sesuatu.
Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya
setelahEngkau.
Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri
tetapi untukMU.
Wajah ganteng dan daya tarik fisik tidaklah penting.
Yang paling penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai
dan haus akan Engkau
dan memiliki keinginan untuk menjadi seperti Engkau.
Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup,
sehingga hidupnya tidaklah sia-sia.
Seseorang yang memiliki hati yang bijak
bukan hanya otak yang cerdas.
Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku
tetapi juga menghormati aku.
Seorang pria yang tidak hanya memujaku
tetapi dapat juga menasehati ketika aku berbuat salah.
Seorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku
tetapi karena hatiku.
Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku
dalam tiap waktu dan situasi.
Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita
ketika berada di sebelahnya.
Aku tidak meminta seorang yang sempurna,
Namun aku meminta seorang yang tidak sempurna,
sehingga aku dapat membuatnya sempurna dimataMU.
Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya.
Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya.
Seseorang yang membutuhkan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya.
Seseorang yang membutuhkan diriku
untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.
Dan aku juga meminta :
Buatlah aku menjadi seorang perempuan
yang dapat membuat pria itu bangga.
Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintaiMU,
sehingga aku dapatmencintainya dengan cintaMU, bukan mencintainya dengan sekedar cintaku.
Berikanlah RohMU yang lembut
sehingga kecantikanku datang dariMU bukan dariluar diriku.
Berilah aku tanganMU sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya.
Berikanlah aku mataMU sehingga aku dapat melihat
banyak hal baik dalam dirinya
dan bukan hal buruk saja.
Berikan aku mulutMU
yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaanMU dan pemberisemangat,
sehingga aku dapat mendukungnya setiap hari.
Berikanlah aku bibirMU dan aku akan tersenyum padanya setiap pagi.
Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu,
aku berharap kami berdua dapat mengatakan
"betapa besarnya Tuhan itu karena Engkau telah memberikan
kepadaku seseorang yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna".
Aku mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu
pada waktu yang tepat
dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah
pada waktu yang Kautentukan
(for my honey in the sadnes and happines)
Suatu hari Mas Dany dari Grasindo Bandung memintaku membuat puisi untuk anak kecil. Awalnya buat anak SD, tp ternyata untuk anak TK. Niatnya juga buat dilombakan lagi.
Hayyyyaaahhhh... Anak SD aja gua udah mumet, ini buat anak TK. Susah kali... Tata bahasa dan diksinya kan beda.
Akhirnya, sambil mengerjakan tugas lain, aku minta teman-teman yg waktu itu lagi ngumpul untuk ngasih ide. Sempet nanya juga ke seorang guru TK. Dan hasilnya adalah...
Kategori TK :
MATAHARI
Pagi-pagi aku buka jendela
Matahari bersinar cerah
Hari ini aku akan kembali sekolah
Bertemu guru dan teman-teman
Matahari akan menemaniku
sampai aku pulang sekolah
BALON
Adikku berulantahun kedua
Banyak balon untuk menghias rumah
Warnanya merah, hijauh, kuning dan biru
Adikku memilih dua
Sisanya diberikan kepadaku
Selamat ulang tahun adikku…
KEBUN PAMAN
Kebun di rumah paman banyak tanamannya
Ada pepaya, mangga, rambutan dan jambu
Semua sedang berbuah
sebentar lagi akan dipetik
Paman berjanji akan membawakan untukku
Senangnya hatiku bisa memakan hasil dari kebun pamanku
BECAK
Rodanya tiga, jalannya pelan
Kududuk berdua bersama teman
Keliling kota
hatiku senang
Kategori SD :
BUKU
Tiap lembar kubuka halamanmu, aku jadi semakin merasa mendapat yang baru
Tiap halaman ceritamu kubaca, aku jadi seperti seorang ahli tiada tara
Meski mungkin tidak setiap saat dapat kubeli,
Tapi ilmu yang kudapat darimu sungguh tiada terkata
Oh, buku… kelak aku akan berbagi bersamamu
berbagi untuk teman-teman yang belum bisa merasakan manfaatmu
Terima kasih buku….
BURUNG KECIL DI DEPAN RUMAH
Tiap pulang sekolah, aku mendengar suaramu
Merdu
Ketika ku cari engkau diantara pepohonan, hanya ekormu yang kelihatan
berwarna kuning keemasan dan memanjang
Ketika kau tahu kalau sedang kupandang, engkau jadi terdiam
Suaramu mendadak hilang,
Aku ingin mendengar suara merdumu lagi
agar hariku selalu gembira
Bernyanyilah terus burung kecil
Aku tak kan mencari-carimu lagi supaya suaramu bebas terdengar kembali
ANAK KECIL DI PINGGIR JALAN
Anak kecil di pinggir jalan
menengadahkan tangan, meminta belas kasihan
Tiap kali orang yang lewat, mulutnya seperti berteriak
Tapi, sayang, orang-orang itu tidak tergerak
Mereka terus berjalan, teriakan anak kecil itu dibiarkan
Oh Tuhan…
Kuatkan anak kecil di pinggir jalan itu
Semoga kelak ia bisa mendapat kesempatan
untuk mendapat kehidupan yang lebih baik
Lahir dan batin
Meluncur Sepiku
Meluncur sepiku menatap malam tak juga sirna. Saat bintang gemintang bercahaya, tak satu pun uraikan nada. Kerlip cahayanya justru melalangbuanakan anganku pada sebentuk kalimat lalu yang dipendarkan serangkai langit tadi tanpa bulan bertahta.
Meluncur sepiku menatap jingga di tingkah bayu yang hendak berpulang, beristirahat.
Ia seolah tak peduli betapa sepi ini tak pernah kumengerti meski ombak di laut menyampaikan isyarat bahwa ada gulungan ombak lain yang berupaya menembus setingkah bayu tadi berhembus.
Meluncur sepiku menatap hati yang kian hari pongah tak peduli meski dengan dalih karena cinta dan sayang ini tak kan ada yang menandingi.
Meluncur sepiku....
terus....
dari hari berganti malam lalu kembali pagi
(aku dalam dy)
dari "Kembara" halaman 1
------------------------------------------
Bu, belikan aku celana baru. Nanti malam aku nyanyi di gereja. Nyanyi sendiri untuk kedatangan Tuhan
Bu, belikan aku baju baru. Aku ingin yang melihat senang karena nyanyianku menggugah orang
Bu, jangan lupa ikut ke gereja nanti malam. Lihatlah anakmu ini gagah bernyanyi di depan. Tepuk tanganlah setelah lagu kuselesaikan.
Bu, aku sudah lama berlatih untuk Natal kali ini. Aku tak mau mengecewakan Ibu karena kebanggaan ini ingin kupersembahkan bagimu.
Ah, Bu…
Bisakah celana dan baju paling lambat kudapat sebelum senja?
Agar tersetrika rapi, seluruh umat mengagumi
Jangan diam saja, Bu
Bukankah tanah yang kini kau jadikan rumah tidak lagi basah?
Bukankah air mata Bapak sudah kering karena ada Tante Marni yang kini tinggal resmi bersama kami?
Ayolah, Bu…
Aku sungguh ingin Ibu membawakan celana dan baju baru
Untukku
Jangan sampai lupa
(bdg, sebelum Natal 05)
aku hanya bisa mencintaimu dari jauh
bersama terik mentari dikelilingi awan putih
tak terperih betapa tersiksanya hati
aku hanya bisa mencintaimu dari jauh
sesaat lagu menciptakan syahdu
melenakan hati bak sembilu
kala aku merindu seperti panjangnya kemarau
tidakkah lagi kau dapat menjelma menjadi hujan
yang bulir-bulirnya mengembuskan kesegaran?
saat ku letih menunggu malam berlalu
bisakah kau menjadi mimpi, meninanabobokkan kalbu?
aku hanya bisa mencintaimu dari jauh
hanya dari jauh
hingga kau pun tak lagi merasa luluh
(12 November 2005, 11:52)
Aku tak selamanya cantik,
ketika pepohonan di jalanan menutup raut rupa, tanpa cahaya
Padahal kuusahakan bersolek seadanya,
bergincu sedikit, berbedak segaris dan berpita sewarna
Aku tak selamanya cantik,
ketika malam yang kuhendak bisa tipukan rupa, memuram durja
Padahal sesiang keringatku sudah tercucurkan,
agar sekadar malam ini aku bisa bersenang
Aku tak selamanya cantik,
ketika banyak manusia mendapati asliku, tiada ada apa-apa
Padahal senyumku terulas tulus,
tak berpamrih biar aku sendiri menahan pedih
Aku tak selamanya cantik
Tak selamanya.
Karena aku tak selamanya demikian, maka aku
tak berkeinginan banyak pada nafas-nafas di sekelilingku.
Aku cuma mau, satu uluran tangan yang tak terpalingkan
yang tak tergeserkan,
bahkan pada kondisi aku tak selamanya cantik.
(Senen, 3 Nopember 2003)
Membayangkan berciuman denganmu
menjadi gairahku semu
Membayangkan boleh duduk bersanding denganmu begini
membikin laksana geli
Membayangkan hari senja meluruh
pada malam terasa dendam
Lalu, tak pernah ku tahu
bagaimana aku boleh
mengenalmu
lebih dalam
lebih berarti
(dalam macet Jakarta, 8 Nop 02, 17.07)
Recent Comments