Gaji Lu Berape?

Seorang teman siang tadi bercerita:

Gua kemaren ketemu temen gua yang kerja di sebuah Lembaga Pendidikan Tinggi. Gajinya udah masuk golongan 2A. Belum termasuk tunjangan dan fasilitas lain karena dia udah kerja lebih dari 5 tahun. Waktu ketemu gua itu, mukanya kusut banget deh. Setelah gua ajak ngopi, keluar deh cerita dari dia. Rupanya dia nggak puas dengan apa yang dia dapet sekarang. Padahal, gajinya dia itu separo dari gaji gua sekarang. Apalagi sekarang tempatnya kerja punya kebijakan yang nggak terlalu menguntungkan seperti dulu. Pokoknya dia termasuk pegawai yang dapet enaknya deh… Pas gua kasih tahu kalo gaji gua separo dia, sempet mikir juga sih. Tapi, ternyata dia ngeluh lagi kurang ini itu. Wah…, gua aja jujur ngiri denger jumlah penghasilannya, dia malah masih kurang mulu.”

Seorang teman lain beda ceritanya:

Selama ini aku memang menjalani ini semua untuk sebuah misi kemanusiaan. Nggak perhitungan untung ruginya. Nggak ada paksaan apa pun, apakah ada kompensasi atau nggak. Tapi, apa salah kalau aku mulai memikirkan diri sendiri setelah sekian lama memberi diriku untuk pelayanan dan kegiatan sosial? Apa nggak boleh aku mendapat penghidupan yang lebih layak dari sekarang? Ya, kalo dari hasil misi itu bisa menjamin kehidupanku selanjutnya sih, nggak pa-pa. Tapi, kalau enggak?....”

Saya kenal seorang adik di Lampung bekerja di sebuah Farmasi.

Jam kerjanya memang nggak terlalu jelas. Bisa masuk jam 10.00, pulang jam 19.00. Atau masuk jam 14.00, pulang bisa jam 24.00. Atau lebih heboh lagi, masuk jam 07.00 sampai jam 13.00, istirahat sebentar masuk lagi jam 16.00 pulang jam 24.00.

Ketika saya mengetahui hal itu, saya malah yang protes, kok ya mau kerja seberat itu. Adik saya itu hanya senyum-senyum. Saya kira karena ia dapat gaji yang tinggi atau tambahan uang lembur.

Ternyata, enggak tuh.

Saya sempet kaget ketika tahu gajinya tidak lebih dari sekitar Rp. 500.00,00.

Wow.

Hare gene dapat gaji segitu? Apa cukup?

Nyatanya cukup-cukup saja tuh. Dia masih bisa bayar kos, makan sehari-hari bahkan beli baju tiap bulannya. Ini bukan saja pengaruh biaya hidup yang cukup rendah di sana, tapi dia punya cara untuk mensiasati segala kebutuhannya itu.

Gimana cara? …. Saya belum sempat bertanya.

Pada saat manusia sudah masuk jenjang menerusi hidup dengan memperoleh pekerjaan (entah seperti yang dia inginkan atau tidak) dan mendapat hasil nyata dari apa yang dikerjakan berupa sejumlah nilai nominal rupiah, bisa jadi awalnya terasa cuku-cukup saja. Tapi, begitu sudah mulai diserang segala macam keperluan, baru deh kerasa bahwa apa yang didapat itu ternyata kurang.

Dalam kondisi seperti ini, ada beberapa hal yang biasanya dikerjakan: mengubah pola hidup, cari sambilan untuk tambahan, mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan atau nerimo tapi sambil ngumpat-ngumpat. (seperti cerita pertama)

Memang sih, kalau dipikir-pikir nggak ada yang cukup kok di dunia ini.

Mau dikasih berapa juga, adaaaaa aja yang membuatnya nggak cukup. Kayaknya, bisa tercukupi satu hal, adalagi hal lain yang harus dicukupi. Gitu terus…. Palagi cukup nggak cukup itu relatif banget buat masing-masing orang.

Maka bisa dimengerti kalau banyak disarankan untuk rajin menabung.

Saya pikir, bukan masalah gimana cara untuk mencukupi segala kebutuhan itu.

Masalahnya adalah bagaimana kita bisa menyiasati semua itu dengan bijak. Kita sendiri yang paling ngerti pos mana yang bisa ditekan, pos mana yang bisa ditunda/dikurangi atau bahkan dibuang. Banyak cara dan celah kok kalau kita memang mau melakukan hal itu. Nggak usah yang ribet-ribet. Yang sampe harus pake daftar atau membuat pemerintah campur tangan juga untuk memberi usulan-usulan. Yang sederhana dan sehari-hari bisa kita jalani saja.

Dengan begitu, berapa pun yang masuk ke kantong kita bisa tercukupi.

Tapi, lepas dari itu semua…, satu hal terpenting yang saya tarik dari banyak hal yang pernah saya lihat dan alami dengan hal ini adalah RASA BERSYUKUR.

Bersyukur bahwa masih diberi modal untuk menerusi hidup, segimana pun kita berhasil memanfaatkannya.

Bersyukur berapa pun kita mendapat rupiah.

Bersyukur bahwa ada orang-orang yang memberi rejeki kepada kita sebagai perpanjanganNya.

Dan, bersyukur bahwa kita lebih baik dibanding banyak manusia lain yang jauh hidupnya berkekurangan dari kita.

(setelah ngobrol-ngobrol, 7 Mei 08 siang)

                            

Semua Orang Ingin Boleh Bicara

Semua Orang Ingin Boleh Bicara

Hari-hari terakhir ini saya sedang memperhatikan tiga buah acara mencari bakat yang terbaik di 3 televisi swasta. Tiga acara itu adalah AFI Yunior di Indosiar, Babak Audisi Indonesian Idol di RCTI dan Be A Man di Global TV.

AFI Yunior adalah acara lama yang kembali diadakan. Peminatnya cukup banyak meski di stasiun lain juga sedang ada ajang yang mirip. Mungkin perbedaanya, selain di role acaranya, juga cara menempatkan pemenang dari setiap episode. Dengan hadirnya 50 juri vote lock yang tidak mengenal para peserta dan mempunyai hak penuh untuk menentukan sendiri peserta yang mereka suka, acara ini (dianggap) cukup fair karena tidak melibatkan orang dalam.

Terus terang saja, salah satu alasan saya tertarik mengikuti lagi acara tersebut karena di sana ada adik Bagas, seorang anak laki-laki asal Cimahi Bandung, usia 12 tahun. Ketika pertama diberitahu oleh seorang sahabat, saya nggak menaruh kebanggaan atasnya. Meski saya mengenal baik orang tua Bagas, tapi saya pikir kompetisi ini pastilah diikuti orang-orang yang bisa jauh lebih darinya. Apalagi belakangan saya tahu, Bagas punya keterbatasan dalam penglihatan. Matanya hanya 50% bisa melihat. Biar begitu, bukan bermaksud mengekor seniornya di ajang yang mirip yang bahkan tidak bisa melihat sama sekali, Bagas memperlihatkan kebisaannya.

Ketika hari Minggu 19 April 2008 lalu Bagas kembali menunjukkan kebiasaannya di dunia tarik suara, ternyata ia lolos masuk ke 12 besar AFI Yunior. Prestasi yang pasti melegakan dirinya dan keluarganya.

Yang menarik adalah ketika Ibu Bapak Bagas yang berprofesi sebagai pendidik menyebarkan semacam poster kecil (termasuk ke kantor saya), ada tulisan supaya Bagas tetap meneruskan perjuangan tanpa harus terbebani menang atau kalah. Lalu ketika Bagas beraksi, Ibu Bapaknya itu pun membawa poster bertuliskan hal yang mirip, agar Bagas mau menggenggam “matahari”nya. (kondisi ini sempat dikomentari Sofi Navita sebagai sesuatu hal yang positif karena bisa membangkitkan daya juang anak yang bersangkutan)

Lalu…, acara Babak Audisi Indonesian Idol di RCTI.

Saya tidak dapat melihat semua berita audisi yang terjadi di banyak daerah. Tapi, ada berita dari beberapa tempat yang kemudian meloloskan para calon the hext Indonesian Idol yang sempat saya lihat.

Diantaranya ada tiga orang perjaka-perjaka gagah yang ketika suaranya disatukan membentuk harmoni lagu yang indah. Sayangnya, hingga babak eliminasi cuman satu orang saja yang berhasil. Ada juga polisi lalu lintas dengan suara lantangnya, supir truk hingga pengamen yang dianggap over PD ternyata saat dikritik juri (Anang, Titi dan Indra Lesmana) malah ciut meski ia bisa masuk ke babak selanjutnya.

Yang menarik perhatian saya adalah seorang perempuan muda bernama Wulan, lupa dari daerah mana, menyatakan bahwa selain untuk mengubah nasib keluarga dan dirinya, alasan ia mengikuti Indonesian Idol adalah untuk menyatakan kepada khalayak bahwa keluarganya tidak semua jelek atau buruk seperti anggapan masyarakat di sekitarnya. Sambil menangis, gadis dengan paras Jawa banget itu menceritakan kejadian beberapa waktu lalu ketika sang kakak harus mati diterjang timah panas karena melakukan tindakan kriminal. Dengan terisak, Wulan ingin membersihkan nama keluarganya itu dengan keberhasilannya melewati babak demi babak di Indonesian Idol ini. (Titi DJ berbaik hati menyediakan pelukan simpatinya untuk mengurangi beban tangis Wulan)

Dan, sejauh ini keinginannya itu berhasil.

Acara ketiga yang sedang saya seriusi lihat adalah acara baru di Global TV : Be A Man.

Acara yang baru sekali putar di hari Minggu 20 April 2008 itu adalah acara yang berbeda sebab mengetengahkan para waria. Para wanita-pria yang sehari-hari terlihat kemayu itu sengaja diajak ke sebuah lokasi pelatihan militer di daerah Bogor. Dengan kesadaran dan gaya mereka masing-masing, 18 waria tersebut mengikuti semacam pelatihan selama 5 hari.

Be A Man atau “Menjadi Pria Sejati” ini memang baru tayang sekali di hari Minggu itu. Akan ada kelanjutannya di setiap hari Minggu malam pukul 22.30 WIB hingga beberapa episode. Tapi, ada satu hal yang membuat saya tersenyum sekaligus kagum.

Saat pembaca acaranya menyambut para ke-18 kontestan itu di pinggir lapangan, ada acara “selamat datang” dengan menggeledah koper yang bawa. Macam-macam saja jenis kopernya itu. Macam-macam pula isinya.

Bisa ditebak, meski bermacam-macam koper dan isi itu, ada 1 kesamaan yang nggak lupa mereka bawa, kesamaan itu adalah alat make-up! Wuih…, saya saja kalah. Biar akhirnya mereka tahu akan mengikuti pelatihan, nyatanya alat make-up itu nggak bisa ketinggalan.

Tapi, bukan itu yang menyita perhatian saya.

Mata saya awas menonton ketika beberapa kali didapati dari isi koper itu adalah sejadah dan sarung untuk sholat.

Salut.

Lewat seorang teman di PH pembuat acara itu, saya dapat bocoran kalau para waria itu memang rajin sholat. Bahkan ada yang bukan membawa sarung saja, tapi juga bawa mukenah!

Sementara yang non-muslim, mereka pun rajin berdoa sesuai kepercayaannya masing-masing.

Dari 3 acara mencari bakat itu, ada yang mengusik…

Bahwa manusia memang mempunyai kekurangan dan kelebihan dari dalam diri dan lingkungannya. Kekurangan dan kelebihan yang tidak bisa begitu saja mereka hindari.

Ketika salah satu bentuk kemanusiaan mereka adalah sebuah kekurangan, maka sebagai manusia berakal budi, pastilah mereka hendak menyatakan kepada khalayak bahwa mereka tetap memiliki kelebihan yang bisa dibanggakan atau minimal supaya kekurangannya tidak terlalu terlihat amat.

Bagas yang tidak sempurna melihat, memiliki suara bagus dan orang tua yang mendukung. Wulan yang tanpa sengaja memiliki kakak yang berhubungan dengan hukum, mendapat kesempatan tampil dan membuktikan eksistensinya untuk membersihkan nama keluarganya. Ajeng dkk warianya, meski keberadaannya masih dilihat sebelah mata, diperlihatkan tetap mau mengingat sang penciptanya.

Lepas apakah mereka kelak bisa memanfaatkan awal yang baik ini menjadi kesempatan hidup yang tidak boleh disia-siakan, acara itu telah menjadi tempat untuk mengumpulkan kembali banyak kelebihan dari sisi seorang anak manusia.

Kelebihan yang hendak dinyatakan untuk menutupi kekurangan itu memang membutuhkan orang lain. Orang lain yang mau menampung ketika mereka susah bicara sendiri. Susah mengungkapkan bahwa mereka “ada” dan “bisa”. Sebab pada dasarnya semua manusia punya hak penuh menyatakan diri seutuhnya.

Lalu, ketika semua orang ingin boleh bicara, masihkah kita mau menyediakan telinga untuk sekadar mendengarkan?


(thx to bagas, wulan & ajeng dkk, 25 April 2008)

Apa Lagi Namanya Selain Cinta?

APA LAGI NAMANYA SELAIN CINTA?

Beberapa hari lalu, di kantor saya didatangi rekanan yang masih 1 institusi dengan tempat saya bekerja. Karena sebelumnya saya memang kenal baik dengannya, maka kedatangannya itu saya sambut dengan hangat.

Adapun kedatangannya ke kantor saya adalah menyerahkan undangan sebuah kegiatan yang diadakan oleh bagian dari tempatnya bekerja. Saya sempat bersenda gurau dengannya.

Begitu sampai pada niatnya mengundang adik-adik damping saya untuk ikut berpartisipasi, saya bilang saya nggak berani janji dulu. Selain kebetulan bos saya sedang ada di luar daerah, saya pun juga akan ke luar kota untuk beberapa hari karena ada tugas. So, nggak mungkin dalam waktu mepet begini mencari orang yang bersedia sesuai kriteria. Dari sini, rekanan saya yang sudah berkeluarga itu mulai ngoceh banyak hal yang pada intinya sepertinya dia tahu banget kondisi tempat saya bekerja ini. Bahkan dia selayaknya orang yang merasa punya kepentingan atas tempat saya bekerja ini sehingga sempat nyentil atas beberapa hal yang memang bukan menjadi ruang lingkup kerja tempat saya bekerja ini.

Saya sempat panas dibuatnya.

Setiap kali saya mencoba menjelaskan, dipotong lagi dengan anggapannya sendiri yang nggak sepenuhnya benar. Posisinya malah jadi seolah-olah dia yang paling mengerti ketimbang saya sendiri.

Sempat bingung juga, enaknya diapain ngadepin orang yang serasa paling mengerti sendiri begini? Akhirnya saya memilih diam saja dan meng-iyakan apa pun yang dikatakannya. (sembari tetep rada dongkol juga sih hehe…)

Beberapa saat kemudian, saya ceritakan hal itu kepada seorang teman yang juga kenal dengan orang yang dimaksud tersebut. Jawabnya, “Biasa itu mah, Njar… Orangnya memang gitu. Sok tahu. Tapi, kalo dia ditantang untuk mengerjakan sesuatu, nggak tahu apa-apa. Udah berapa orang aja yang dibuat BT seperti kamu karena sikapnya itu.”

Well.

Pada tayangan sebuah televisi seminggu lalu (kalau tidak salah) ada kisah cinta Mbak Diana Syarif dan Mas Eko suaminya. Mbak Diana ini pengidap penyakit Lupus sekailgus aktivis dari penyakit yang katanya paling banyak diderita oleh perempaun tersebut.

Tayangan memang berkisar tentang bagaiman pasangan tersebut melalui hari-hari yang tidak mudah bersama penyakit yang diderita Mbak Diana itu. Suka duka diceritakan. Memang sih, lebih banyak diambil dari sudut pandang Mas Eko selaku suami Mbak Diana. Bagaimana ia dengan iklas menemani hari-hari Mbak Diana bahkan di saat ia sendiri merasa sulit. Atau ketika rahim Mbak Diana harus diangkat karena penyakitnya itu sementara mereka belum memperoleh keturunan.

Ada doa yang saya ingat, diucapkan oleh Mas Eko setelah ia selesai sholat (dan diperagakan dalam tayangan tersebut). Kalau tidak salah inti doanya menyatakan supaya Mas Eko diberi petunjuk untuk tetap mencintai Mbak Diana bukan karena kecantikan, kepintaran atau bahkan karena penyakitnya. Tetapi, ia masih mau dan terus mencintai istrinya itu karena Gusti Allah yang mencintainya lewat sang istri. Ia ingin terus mendampingi istrinya itu sampai kapan pun.

Ketika sang istri sempat putus asa karena penyakitnya yang kian parah sementara di lain pihak ia melihat sikap suaminya yang tetap mau terus mendampingi, Mas Eko pun berkomentar, bahwa ia melakukan semua sebab baginya sang istri adalah ladang amalnya yang harus terus dipupuk sampai maut memisahkan.

Pagi tadi saya baru menelpon sepupu saya di Cirebon.

Kebetulan ayah dari sepupu saya itu sudah 2 minggu ini masuk Rumah Sakit. Karena saya masih belum punya waktu untuk menjenguk (mereka ada di luar kota) maka saya hanya bisa terus mengikuti perkembangan Om saya itu dengan menelpon anaknya saja.

Intinya penyakit Om saya itu naik turun. Kadang stabil, lain hari drop.

Sebenarnya penyakit tersebut bisa segera sembuh kalau tidak ada penyakit lain yang diam-diam menyerang jiwa Om saya.

Ya, sejak anak bungsunya meninggal 2 tahun lalu, kesehatan Om saya itu menurun. Entah apa yang dipikirkannya sehingga ia sampai demikian. Padahal seluruh keluarga dan ia sendiri sudah mengiklaskan kepergian anaknya tersebut.

Kalau sudah begini peran seluruh keluarganya yang masih ada penting sekali. Terutama sang istri tercinta.

Yang pernah saya tahu, Tante saya itu termasuk berbadan ringkih. Beberapa kali saya sempat mendengar kalau Tante saya itu sakit. Memang tidak parah apalagi masuk rumah sakit. Tapi, kalau dilihat sekilas saja, fisiknya itu memang bukanlah fisik orang yang kuat.

Dan, dalam kondisi seperti sekarang ini, Tante saya itu adalah orang yang mau nggak mau harus lebih kuat dari suaminya. Tidak saja kuat secara lahir, sebab harus bolak balik ke rumah sakit dan tetap mengurusi anak-anaknya, namun juga harus kuat secara batin.

Kematian anak bungsunya tentu saja tetap menyisakan kesedihan yang tak kalah dalam seperti yang masih dialami suaminya hingga sakit begitu. Tapi, dengan kekuatan yang entah datang darimana, nampaknya Tante saya itu menjadi orang paling kuat di saat ini untuk menghadapi kondisi sang suami. Lahir batin.

Dari cerita di atas, seharian ini saya berikir, apa penyebab yang bisa membuat pasangan hidup dari rekanan saya yang menyebalkan tadi, Mbak Diana atau Om saya itu sehingga mau menghadapi segala kekurangan dari pasangannya?

Adakah definisi “cinta” yang ribet dan bisa bikin mumet itu bisa disederhanakan sebagai penerimaan diri seorang yang paling menyebalkan sedunia untuk menjadi bagian dalam hidupnya, selamanya?

Mungkinkah “si cinta” ini yang mengubah penerimaan diri obsesi seorang suami seperti Mas Eko untuk mendapat keturunan, tak kesampaian lalu berubah menjadi semangat beramal bagi kehidupannya di akherat kelak?

Atau, inikah “cinta” yang diributkan banyak orang, ternyata bisa mengubah fisik orang yang dulunya tak berdaya menjadi mendadak kuat hingga bisa mendampingi sang suami yang gantian kini sedang berhadapan dengan ketidakberdayan tubuhnya?

Hm.

Jika demikian, tak mudah rasanya menyatakan “ya” atau “tidak”.

Sebab saya pikir, masih ada satu kata lagi yang harus terus digali dan membutuhkan keberanian lebih dari biasa.

Satu kata itu adalah: ketulusan.

(siang terik 15:14, 4 April 2008)

Serial Mudik 08 : "Duda-Duda Perkasa"

SERIAL MUDIK 08

Bagian 4

Duda-Duda Perkasa”

Hari Senin, 17 Maret 2008, saya awali dengan bangun pagi. Hari ini Pak Romli akan mulai membetulkan kondisi rumah saya yang memang harus dibetulkan.

Tapi, sebelum ia datang, saya sengaja ke pasar dulu untuk membeli kopi dan memang berniat berjalan-jalan saja ke pasar penuh kenangan itu. Saya nggak pernah melewatkan satu hal ini tiap kali mudik. Bagi saya, wajib hukumnya untuk ke pasar tradisional yang jaraknya Cuma 5 menit dari rumah saya itu. Dulu ada jalan pintasnya. Tapi, jalan itu sengaja ditutup. Jadi, saya harus memutar.

Di pasar itu saya membeli kopi dan panganan yang nggak ada di Bandung.

Hehe… Itu makanan kecil saya. Baru sebagian saja.

Saya nggak bisa lama-lama di pasar kesukaan saya itu karena takut ditunggu Pak Romli. Pulang dari pasar, saya bertemu Mbak Mira. Mbak satu ini adalah adik dari pemilik Warung Jamu Cak Umar yang menempati temat, dua rumah dari rumah saya.

Ada yang berbeda dengan penampilan Mbak satu ini. Selain terlihat lebih gaul, dia sekarang berani memakai kaos ketat. Dan, hei… ada yang *menyembul* di balik kaosnya.

Hihi… Pasti pada berpikir, gitu aja kok dipermasalahkan sih?

Kalau Anda pernah membaca postingan saya yang berjudul “Jenis Kelamin Itu Pilihan” maka Anda akan paham siapa Mbak Mira yang saya maksud.

Yup.

Mbak Mira adalah waria. Waria cantik yang menempatkan diri sebagai perempuan muslimah yang berkerudung. Soal sah atau tidaknya dia begitu, saya nggak mau sok tahu. Yang jelas, selain pernah membuat Ibu alm ketar ketir tiap kali Mbak Mira cipika cipiki kalau ketemu saya (Ibu beranggapan Mbak Mira tetap seorang laki-laki), saya juga sering mendapati Mbak satu itu lupa memotong kumis tipis yang masih tetap tumbuh di bawah hidungnya hehe…

Setelah bertukar sapa dengan Mbak Mira (pasti dengan “bonus” cipika cipikinya”), saya kembali ke rumah. Rupanya Pak Romli sudah datang. Ia bersama Pak No yang akan membantunya. (Pak Romli menyebut Pak No dengan sebutan “kenek” karena yang akan membantunya bekrja di rumah saya mulai hari itu). Pak No ini seorang tukang becak, “pendekar” alias pendek kekar, berkulit hitam legam, berkumis lebat dan berksan anger. Tapi, begitu ngobrol lebih dekat, ternyata orangnya suka guyon. Sempet bikin *surpraise*, seperti contoh di bawah:

Pak No : “Neng tinggal di Bandung?”

Saya : “Iya, Pak. Sekarang saya di Bandung.”

Pak No : “Tiasa bahasa Sunda atuh…”

Saya : “Lho… kok Bapak bisa bisa ngomong Sunda? Bukannya Bapak dari Jawa?”

Pak No : “Istri saya almarhum kan orang Sukabumi. Jadi dikit-dikit mah bisa.”

Saya : “Oh, istri Bapak sudah meninggal? Sudah lama, Pak?”

Pak No : “Sudah 6 tahun lalu, Neng… Saya bujang lagi nih sekarang. Jadi kalo

lagi pengen, terpaksa beli.”

Ups.

Oow.

Saya nggak bisa komentar apa-apa lagi deh begitu Pak No mengatakan kalimat terakhir itu. Cuma senyum-senyum saja. Tapi, pada waktu-waktu berikutnya, Pak No ternyata laki-laki yang sopan. Dia tetap memanggil saya “Neng” atau “Mbak”. Kadang di sela kerjanya tetap memberi joke-joke yang bikin saya tertawa.

Seperti ketika saya menawarkan kopi. Pak No bilang, “Wah, saya sudah hitam gini, masa ditawarin kopi yang hitam juga?” saya becandain lagi dengan menawarkan kopi putih kalau ada. Pak Romli yang mendengarkan jadi tertawa-tawa.

Harus diakui, dengan sistem borongan seperti yang Pak Romli mau (dan baru kali ini saya *ngeh* dengan istilah borongan dan atau harian itu) memacu keduanya untuk menyelesaikan tugas secepatnya. Pak Romli yang rapi bekerja mendapat partner kerja yang memiliki tenga ekstra seperti Pak No. Keduanya saling bahu membahu. Target 5 hari nampaknya bisa selesai dalam 3 hari saja.

Iya sih… Secara hitung-hitungan saya sedikit mrugi karena membayar dengan sistem borongan bukan harian. Tapi, mengingat pekerjaan mereka yang rapi dan membuat saya puas, saya pikir cingcay lah…

Pak No ini mempunyai anak 6 orang. Ada yang sudah menikah, tapi yang paling kecil baru berumur 7 tahun. Saat Ibunya meninggal, si bungsu ini baru berusia 2 tahun. Di posting saya berikutnya saya akan bercerita siapa yang dimaksud. Yang jelas, ia menjadi salah satu orang yang karena kehadirannya bisa membuat wawasan saya bertambah lagi.

Pada hari keempat bekerja, Pak Romli memang sengaja tidak menggunakan tenaga Pak No. Ia sengaja menyelesaikan sisa pekerjaan sendiri. Saat itulah saya baru tahu kalau Bapak beranak 8 (dan istrinya juga sudah meninggal) berusia 66 tahun!

Luar biasa.

Padahal kalau dilihat dari fisiknya, mungkin lebih pantas dia berusia 50-an tahun.

Tapi, nggak aneh juga kalau ia berusia segitu sebab saya mengenalnya sejak saya masih kecil. Salah satu anaknya ada yang seumuran dengan saya. Ya pantaslah kalau demikian.

Pada hari Jumat, 21 Maret 2008, pekerjaan Pak Romli rampung.

Rumah saya pun sudah terlihat lebih apik.

Ada kebanggaan yang pela-pelan menyelinap dalam diri saya. Kebanggan boleh menepati janji meski baru sedikit demi sedikit. Kalau orang bilang ini adalah perbuatan yang sedikit terlambat, bagi saya tidak. Sebab, saya percaya Sang Maha Pengatur memang telah membuatnya sedemikian rupa. Lengkap dengan segala peristiwa yang menyertainya.

Pada Jumat siang itu, saya memang berniat memanggil tukang kasur untuk membetulkan kasur kapuk di rumah yang kempes dan nggak layak ditiduri.

Entah kenapa, pilihan saya tertuju pada seorang Bapak tukang kasur yang belakangan bernama Pak Sailiki.

Dari perawakannya orang pasti sudah bisa menduga usianya di atas 60 tahun.

Tapi, saya tetap kaget ketika dia mengatakan berusia 82 tahun!

Walah.

Padahal untuk menyelesaikan pekerjaannya ini, dia harus menggotong 5 kilo kapuk dari rumahnya menuju rumah saya meski tetap dibantu dibawakan bersama becak sih… Cuman, tetap saja membuat saya kagum.

Luar biasa.

Dan, lagi-lagi…, Bapak beranak 3 ini sudah ditinggal istrinya 7 tahun lalu. Sementara ia sudah tinggal di Lampung sejak tahun 1955.

Fuih.

Nampaknya kali ini saya memang dipertemukan dengan orang-orang kuat. Kuat dalam arti sebenarnya. Masalah umur, terbukti bukan halangan. Biar pun itu seringkali menjadi kendala (seperti Pak Romli yang baru sembuh dari sakitnya), keinginan untuk tetap menerusi hidup semampunya, menjadi kekuatan tersendiri.

Pak No, Pak Romli dan Pak Sailiki contoh konkrit manusia ciptaan Tuhan yang nggak menyerah pada kondisi apa pun. Bahkan saat raganya memang harus terbatas oleh sebab peristiwa yang menimpa mereka.

Saya salut pada mereka.

Tetap semangat, Bapak-bapak…!!


(bersambung)

Banyak Hal Harus Saya Relakan...

Pulang dari Jakarta, nikahannya Anto-Angel, semalam, sembari mata udah 5 watt saya masih memandangi lemari baju saya yang terbuat dari plastik. Memang harus segera diganti. Bukan saja nampaknya sudah nggak muat, tapi emang kwalitas lemari plastik jaman sekarang jelek banget. Baru setahun udah reot. Padahal lemari itu udah 4 tahun umurnya.

Saya jadi kepikiran untuk mengurangi isinya dulu.
Di sana, selain pakaian-pakaian saya, juga ada beberapa barang lain yang bukan pakaian.
Maklum, masih kos. Kamar sempit pula. Jadi harus pintar-pintar menyimpan semua barang yang ada.
Lalu, tadi sehabis mandi, saya menemukan selembar pakaian terusan berwarna putih bermerek Free & Free.
Ini bukan urusan merek kalau saya mempertahankan pakaian itu meski jarang banget dipakai.
Mungkin turunan dari Ibu saya alm, kalau saya suka eman-eman (kata orang Jawa) dengan segala barang terutama barang yang didapatnya penuh perjuangan, punya ceritanya sendiri dan atau yang diberi orang lain.
Rasanya sayang sekali kalau harus dibuang.
Seringnya, saya bela-belain barang tersebut untuk dipertahankan biar berarti harus nyari tempat untuk tempat penyimpanannya yang berarti pula bisa nambah menuh-menuhin kamar saya yang sempit itu.
Alhasil, banyak barang yang sebenarnya sudah bisa "dipensiunkan", masih tetap setia saya simpan.
Saran beberapa teman dekat biasanya saya cuekin.
Alasannya ya seperti di atas, lebih karena saya merasa punya cerita sendiri terhadap barang-barang itu.
Sekitar menjelang 7 hari setelah kematian Ibu, saya sengaja beberes rumah.
Selain memang supaya rumah lebih bersih, saya tahu, ada barang-barang milik Ibu yang harus direlakan untuk dipensiunkan. Entah itu dibuang atau diberikan kepada orang lain yang membutuhkan, seperti pakaian atau barang lain yang bisa digunakan.
Saat itulah saya sadar bahwa banyak barang Ibu yang saya tahu punya cerita sendiri harus saya relakan dipensiunkan.
Ada beberapa barang yang saya tahu persis sangat disayangi Ibu. Benda itu termasuk yang dipelihara dan dirawat dengan baik. Tapi, dengan kondisi saya yang ada di kota lain sementara kalau minta tolong ke orang rasanya nggak mungkin, apa boleh buat, harus saya relakan untuk diberikan kepada orang lain.
Demikian juga dengan pakaian berwarna putih yang saya ceritakan di atas.
Akhirnya barusan saya putuskan untuk saya berikan kepada Mbak Wati, pembantu di tempat kos saya. Berharap, pakaian itu masih cukup dipakai oleh anaknya yang masih ABG. Secara kondisi fisik pakaian, masih bagus karena saya jarang memakainya dan nggak ketinggalan jaman.
Sempat ada bagian dalam diri saya yang masih belum rela memberikan barang itu.
Bukan apa-apa.
Pakaian itu ada sejarahnya sendiri. Gimana saya harus menabung dulu hanya untuk membeli pakaian yang waktu itu harganya cukup mahal sementara kondisi keuangan saya nggak memadai.
Tapi..., saya tahu.
Daripada menuh-menuhin, dan jarang dipakai pula, saya harus membiarkan ia berlalu dan bisa berguna untuk orang lain.
Dan, karena beberapa kejadian di atas saya jadi belajar lagi.
Belajar merelakan banyak hal dalam hidup saya untuk bisa dilepaskan dengan iklas.
Tanpa harus melihat ke belakang lagi, maju mundur atau bahkan membuat batal rencana.
Memang kudu dipikirkan matang-matang sih... Nggak asal aja biar tidak ada penyesalan.
Tapi, bentuk kerelaan dan keiklasan ini menjadi pelajaran tersendiri bagi saya.
Pelajaran bagaimana membiarkan masa lalu menjadi bagian dari masa lalu, entah suka atau duka. Banyak kejadian yang harus menjadi kenangan dan HARUS TETAP MAU menjadi kenangan, tanpa memaksa untuk tetap boleh terjadi terus ada di saat ini.
Sebab segala kenangan itu adalah bekal menuju hari ini.
Sebab kerelaan dan keiklasan hati menerima masa lalu adalah kekuatan dan dorongan sendiri menghadapi saat ini.
........................................

Serial Mudik 08 : "Ke 'rumah' Ibu/Bapak"

SERIAL MUDIK 08

Bagian 3

“Ke Rumah bu/Bapak”

Hari Sabtu 15 Maret 2008, rencananya saya mau ke SMP saya di SMP Xaverius Tanjungkarang. Jaraknya Cuma 10 menit dari rumah saya. Sudah lama nggak ke sana, sekalian nengokin Bu Ali, seorang Ibu yang pernah merawat alm Ibu saya saat masih sakit dulu. Habis dari sana rencananya saya ingin membeli karpet untuk sebuah kamar yang masih kosong. Biar kelihatan lebih rapi.

Tapi, rencana itu nggak bisa saya laksanakan karena ternyata seorang teman wartawan meminta saya untuk segera menjawab pertanyaan yang ia ajukan lewat email. Hari sebelumnya dia memang sudah minta ijin untuk mewawancarai saya. Apa boleh buat deh… Padahal warnet lumayan jauh dari rumah saya lagi… Ada acara mati lampu 2x pula. Huaaa…

Pokoknya hari Sabtu itu setelah beli karpet dan menggelarkannya di kamar yang dimaksud, saya nggak kemana-mana lagi. Berdiam saja di rumah.

Besok paginya, sekitar jam 5.30 saya sudah siap ke gereja.

Gerejaku_2 Soal ke gereja ini, malamnya saya sempat ngotot-ngototan dengan Mbak Ris. Biar sudah lama nggak ke gereja Lampung, tapi saya yakin kalau gereja pagi jadwalnya jam 06.30 WIB. Tapi, Mbak Ris ngotot kalau sekarang jam 06.00 Karena saya pikir mungkin memang ada perubahan maka saya menurut saja. Meski itu berarti saya harus bangun lebih pagi.

Dan, ternyata sodara-sodara…

Begitu kami keluar dari rumah, di jalanan masih gelap. Belum banyak orang yang lalu lalang. Mbak Ris saja bingung karena biasanya kalau hari Minggu begini sudah banyak orang-orang yang berjalan menuju gereja. Kok sekarang sepi-sepi saja?

Kecurigaan Mbak Ris terjawab ketika sesamai di gereja tempat aku dibaptis, menerima komuni pertama dan menerima Sakramen Penguatan itu memang belum banyak orang. Ketika ditanya jam berapa Misa Minggu Palma dimulai, jawabnya jam 06.30 sodara!

Hehe… Mbak Ris jadi malu sendiri.

Kami memutuskan untuk menunggu saja. Tidak kembali pulang meski jarak rumah dan Gereja Katedral Kristus Raja ini Cuma sekitar 5 menit saja. Dekat sekali.

Sembari menunggu, satu-satu orang datang. Diantaranya ada Suster Emma, FSRG. Ia sekarang adalah Kepala Sekolah SD Fransiskus (dulu Xaverius) Tanjungkarang, tempat saya bersekolah dulu juga.

Suster Emma ini adalah Suster yang menggembleng saya sejak kelas 5 SD. Biar berkesan angker dan galak, nyatanya beliau adalah Suster yang sangat setia mendamingi para misdinar alias para pembantu Pastor dari jaman saya SD itu.

Saya sempat menggodanya supaya cepat pensiun. Kok betah bertahun-tahun mendampingi misdinar yang hilir mudik sekian lama. Jawab Suster Emma, “Mendampingi anak-anak itu kan sebuah pelayanan. Dan, yang namanya pelayanan itu seumur hidup.” Saya Cuma bisa geleng-geleng kepala saja. Hebat lah Suster satu ini.

Sempat juga Suster Emma mengundang saya untuk datang menjenguk adik-adik misdinar. Karena waktu, sampai saya pulang, saya nggak bisa memenuhi undangan itu.

Pulang dari gereja, saya sudah sepakatan dengan Mbak Ris untuk nyekar ke rumah Ibu/Bpk alm di Negeri Sakti. Kira-kira 45 menit jauhnya dari rumah saya.

Sebelum ke sana, saya membeli dulu makanan buat Bapak/Ibu alm seperti yang pernah saya postingkan sebelumnya. Ternyata bunga di Lampung cukup mahal. Tapi, karena memang sudah niat, saya beli saja.

Kira-kira pukul 12.30 saya dan Mbak Ris berangkat ke makam. Mbak Ris sempat tertidur sepulang dari beli bunga.

Makam_negri_sakti Sampai di makam Negeri Sakti yang masuk dalam Kecamatan Kurungan Nyawa (ini asli namanya memang begitu loh…), saya langsung menuju ke blok 9 dimana makam Ibu berada. Warna hijau segar yang memang jadi ciri khas makam Ibu seperti menuntun saya dan Mbak Ris untuk segera ke sana.

Waktu ngijing alias membetulkan makam 2 tahun lalu, saya sengaja memilihkan warna hijau untuk batu marmer yang menghiasi sekitar makam. Itu bukan karena saya yang suka warna hijau, tapi justru Ibu yang suka banget warna satu itu. Bahkan ketika meninggal, kebaya yang dipakai menghiasi jekazahnya adalah kebaya hijau. Makam Bapak yang lebih dulu dikijing, juga berwarna hijau meski hijau lumut. Jadi, kami memang dari keluarga pecinta warna hijau.

Hidup ijo lah…

Begitu sampai di depan makam Ibu, saya memang sudah menyiapkan cat untuk menebalkan tulisan di batu nisannya. Saya pikir itu mudah, ternyata enggak. Susah. Kebetulan juga kuas yang saya bawa ternyata kebesaran. Jadi…, mau nggak mau, tulisan di batu nisan Ibu itu nggak bisa ditebalkan. Mungkin kesempatan lain, saya akan coba perbaiki.

Di depan makam Ibu itu, saya berdoa setelah sebelumnya meletakkan bunga di makamnya.

Saya juga minta ijin dan restu untuk boleh sedikit membongkar rumah peninggalan Ibu mulai hari Seninnya. Semoga semua berjalan lancar dan sesuai rencana.

Di atas langit, terik memancar membuat panas sekitar saya. Meski ada tetumbuhan, tidaklah cukup meneduhkan luas makam yang tanahnya merupakan hibah dari seorang juragan tanah, salah satu umat dari Gereja Katedral Kristus Raja Tanjungkarang. Dermawan itu pun, jasadnya juga dimakamkan di tanah sekian hektar yang ia hibahkan menjadi tempat pemakaman tersebut.

Karena panas terik tersebut, saya nggak bisa berlama-lama berkangen-kangen di depan makam Ibu. Saya percaya, Ibu sudah bahagia dan senang saya menepati janji untuk menjenguk rumahnya. Selanjutnya, masih bersama Mbak Ris, saya menuju ke makam Bapak di blok 4, beda 5 blok dari makam Ibunda tercinta.

Tiap kali melihat makam yang usianya lebih dari 10 tahun itu, sebenarnya saya sangat trenyuh. Keadaannya jauh berbeda dari makam Ibu.

Mungkin sebagian orang nggak terlalu percaya akan aturan ngijing alias betulin makam adalah setelah 1000 hari atau 3 tahun setelah kematian yang bersangkutan. Mungkin dianggapnya hanya karena adat dan budaya saja.

Tapi, di pemakaman Negri Sakti itu, struktur tanahnya memang nggak langsung padat. Maka kalau ada yang meninggal, baru dikijing setelah 1000 hari, itu sangat membantu. Terbukti dengan tempat Ibu saya itu. Masih terlihat padat meski sedikit turun tanahnya. Ada celah lobang yang nggak terlalu mencolok.

Beda dengan makam Bapak. Sejak setahun kurang setelah dikijing, makam itu terlihat anjlok. Itu krena dibetulkan/dikijing setelah 100 hari walau saat itu sempat diprotes oleh beberapa keluarga. Biar tanahnya sudah pernah dinaikkan lagi, tetap anjlok lagi hingga membuat terlihat lobang besar. Saat ini, baru diganjel dengan bebatuan.

“PR” saya berikutnya adalah membetulkan makam Bapak.

Semoga boleh terlaksana.

Selesai “berkunjung”, Mbak Ris mendadak memberi usul untuk makan duren yang dijual di sawung di depan kompleks makam ini (juga ada buah rambutan dan salak, tergantung musim buahnya saja apa). Usul menarik biar sebenarnya kepala saya sudah nyut-nyutan. Saya memang suka begitu, kalau udara sangat kontras, sebentar biasa saja cenderung dingin lalu mendadak panas luar biasa, maka bersiaplah saya akan drop.

Berhubung saya pikir, belum tentu saya akan ke sana lagi, maka pusing dan badan yang tidak enak, saya tahan saja. Lalu, 2 buah durian sedang pun akhirnya kami beli. Saya bilang ke Mbak Ris, asal dimakan, silahkan saja dia memilih. Pak Kuat, penjaga makam dan istri yang mengelola sawung itu membantu kami membukakan buah berduri tajam itu agar isinya bisa dimakan.

Ternyata isinya enak, manis-manis sedikit pahit. Dan, yang di luar Duren_enyak perhitungan kami, isinya banyak bo! Mbak Ris nggak sanggup menghabiskan. Saya ketawa-tawa ketika saya paksa Mbak Ris untuk menghabiskan. “Nggak sanggup, aku”, hehe…

Alhasil, setengah buah duren, nggak sanggup lagi kami habiskan. Biar buat bonus untuk penjualnya. (lho… nggak kebalik ya? hehe…) Sempet sih Ibu penjualnya menawarkan untuk dibungkus saja supaya bisa dibawa pulang. Perkaranya, sehabis ini kami mau ke sebuah mol (ala Lampung) sebentar. Nggak jadi bekel deh….

Dalam perjalanan, ketahuan kalau Mbak Ris juga nyut-nyutan karena kondisi cuaca yang luar biasa itu. Saya sendiri sudah sadar betul bakal terjadi sesuatu pada saya kalau saya tetap nekad jalan berlama-lama di luar.

Tapi, karena telanjur sudah janji hendak ke mol Kartini, yang konon adalah mol paling ramai saat ini di Lampung, saya paksakan juga.

Di mol yang rasanya sih lebih menyerupai Plaza karena memang tidak terlalu luas itu, Mbak Ris berniat membeli baju untuk persiapan Paskah. Saya sendiri sebenarnya cuman bawa 1 baju yang pantas untuk ke gereja. Padahal dengan perpanjangan cuti berarti saya akan sempat 2x lagi ke gereja di Lampung: Kamis Putih dan Jumat Agung. Dan, saya nggak punya baju yang pantas lagi untuk dipakai ke gereja. Sempat ingin membeli, tapi kepala ini seperti sudah menyatakan nggak bisa diajak kompromi lagi.

Kondisi ini nampaknya dibaca Mbak Ris karena ia pun merasakan hal yang sama. Akhirnya kami pun pulang.

Sampai di rumah, seperti dugaan saya, tubuh saya pun melancarkan protes keras karena perubahan cuaca yang drastis tadi. Semua kenikmatan duren yang sempat tertelan belum 3 jam lalu termuntahkan. Apa boleh buat dah…

Sisa hari itu pun saya habiskan dengan tidur dan memulihkan kondisi.

Ukh.

Pulang-pulang kok ya sakit tho…

(bersambung)

Serial Mudik 08 : "Demi Rumah Tambah Cuti"

SERIAL MUDIK 08

Bagian 2

“Demi Rumah Tambah Cuti”

Sudah kebiasaan dari jaman dulu, tiap kali sampai di rumah Lampung dari perjalanan panjang Bandung-Lampung, saya harus bisa tidur cukup dulu. Biasanya kalau sampai rumah jam 6 pagi, maka saya harus bisa memejamkan mata sampai jam 12. Habis itu baru beberes badan bener-bener, makan siang, ngobrol-ngobrol, macem-macem lainnya lalu…, tidur lagi hehe…

Hari itu, Kamis 13 Maret 2008, Mbak Ris yang tinggal di rumah sengaja membiarkan saya melakukan ritual satu itu. Dia nggak menggangu saya bahkan ketika dia harus pergi mengajar. Pulas deh zzzz….zzzz…

Sekitar jam 12, saya terbangun. Menyadari dulu bahwa sedang berada di rumah, bukan di kos hehe… Setelah sadar, saya mandi. Tujuan utama saya hari itu adalah ke rumah Pak Romli, seorang ahli pertukangan yang saya kenal sejak saya masih kecil sekali. Dengan Pak Romli ini saya bermaksud mau meminta tolong untuk membetulkan rumah Ibu alm yang memang sudah semakin tua itu.

Menuju ke rumahnya yang nggak jauh dari rumah saya, saya terkagum-kagum dengan pembangunan yang ada. Hampir di setiap rumah di jalan Manggis itu halamannya dipakai untuk untuk ruko para pedagang sayur mayur, basah dan kering. Padahal tanah tempat rumah dan ruko berdiri itu adalah milik PJKA.

Hebat.

O ya, ketika subuh saya sampai di kota Tanjungkarang itu, mata saya juga kaget karena merasa kota kelahiran saya itu terasa gersang. Pepohonan yang tumbuh di median jalan, nggak kelihatan lagi. Dalam cahaya subuh, saya melihat median jalan mengecil, jalan pun sedikit melebar. Tapi, bangunan rumah (baik ruko atau rumah tinggal) juga ada. Wah… Makin padet aje.

Hal lain yang membuat saya tercengang adalah banyaknya motor berseliweran. Wuih…, bujubune deh. Motor-motor itu yang kemudian beralih fungsi menjadi ojek. Menggeser para tukang becak yang sehari-hari pun susah mendapat penumpang.

Sesampai di rumah Pak Romli, saya disambut dengan ramah oleh Bapak yang makin menua itu. Sebelumnya memang dia sakit dan saat saya berkunjung itu ia mengaku baru sembuh dari sakitnya tersebut. Sempat saya ragu-ragu hendak mengutarakan niat. Tapi, saya juga nggak tahu lagi harus kepada siapa orang yang bisa ahli di pertukangan dan bisa dipercaya.

Ternyata Pak Romli menyanggupi membantu.

Hanya saja dia nggak bisa cepat karena anak bungsunya baru saja melahirkan anak. Suami dari anaknya itu, juga baru saja meninggal 6 bulan lalu. Wah, sedang ditimpa banyak musibah nampaknya. Biar begitu Pak Romli berjanji akan datang esok hari untuk melihat apa saja yang harus dibeli.

Setelah terjadi kesepakatan, saya pamit pulang.

Tujuan saya berikutnya adalah makan miso alias mie bakso Mas Budi.

Miso Mas Budi ini sudah ada sejak saya masih SD. Dan, tiap kali saya datang, Mas Budi pasti akan menyambut dengan senyum lebarnya sembari tanya ini itu yang berhubungan dengan keluarga saya.

Benar saja.

Begitu saya datang, Mas Budi sudah menyambut saya. Warung baksonya sedang tidak terlalu penuh. Segera saja saya memesan mie baksonya yang khas seraya sambil mengobrol tentang kabar-kabar kami.

Sehabis kenyang, saya kembali pulang.

Mbak Ris sudah ada di rumah. Untuk keperluan esok harinya sekalian cari makan malam, sore itu saya sepakat mau jalan-jalan ke luar dengan Mbak Ris. Maka setelah siang mereda, saya pun jalan dengannya.

Pisang_goreng Eh, sebelumnya saya sempat beli gorengan pisang yang memang enak karena dari pisang kapok. Ada juga tahu bunting alias tahu isi dan bakwan alias bala-bala. Pengganjal perut sore yang enak deh…

Besok harinya, saya sengaja bermalas-malasan sambil menunggu Pak Romli datang.

Sebelum ia datang, sebenarnya saya juga janji dengan seorang “penjaga tanah” rumah saya yang beberapa waktu lalu sempat bikin pusing saya karena mempunyai standar uang sewa yang weleh-weleh… Kepulangan saya ke rumah juga untuk urusan satu itu.

Ketika dia datang, biar sempet deg-degan, saya berusaha tenang. Ladeni saja dulu apa pun yang ia perbincangkan. Dari soal Pilkada, gosip-gosip tanah PJKA, sayur mayur di pasar dan premanismenya dia dulu. Dengerin aja deh dulu sambil sesekali ditimpali.

Dia memang salah satu preman yang disegani karena tindak tanduknya. Penjara adalah makanan yang tidak asing lagi. Salah satu kakaknya ada yang meninggal karena bermasalah dengan orang sekitar. Rada syerem lah track record-nya…

Berhubung saya kenal dia sejak masih kecil…, jadi saya nggak terlalu aneh juga. Pun ketika dia ngaku secara nggak langsung bahwa dia nggak berani kembali ke kampung itu. Mungkin karena masa lalunya itu. Maka, demi melangsungkan hidupnya dan keluarganya, selain bekerja sebagai pedagang dan tukang parkir, ya dia menjadi “penjaga tanah”

Untuk saat ini saya “mengalah”. Tapi, kalau dia sudah di luar logika dan tambah berulah, saya juga nggak akan tinggal diam.

Setelah dia pulang, mendadak anak Pak Romli datang dan memberitahu kalau mertua Pak Romli meninggal. Padahal baru 6 bulan mantunya Pak Romli alias suami dari anak Pak Romli yang baru saja melahirlan itu alias anak dari almarhum mertua Pak Romli itu meninggal. Wah, musibah kok datangnya beruntun?

Saya jadi nggak tega.

Maka, ketika Pak Romli menyatakan ketidaksanggupannya untuk mulai bekerja hari Sabtu besoknya, saya nggak bisa menolak. Biar begitu saya dan dia sudah sepakat tentang harga dan barang-barang yang akan dibeli sebelum hari Senin.

Tinggal saya yang habis itu bingung, rencana cuti hanya akan sampai Senin saja, ini terpaksa akan molor. Jangan-jangan saya Paskahan di Lampung deh. Lalu, gimana bilangnya ke bos? Apakah dia mau membiarkan sekertarisnya ini menambah cuti meski saya tahu akan ada kesibukan menjelang Paskah?

Waaaahhh….

(bersambung)

Serial Mudik 08: "I'm coming home"

SERIAL MUDIK 08

Bagian 1

Silahkan_mampirI’m coming home…”

Rabu, 12 Maret 2008 akhirnya saya bisa juga berkesempatan untuk mudik ke Lampung, tepatnya ke kota Tanjungkarang, tempat saya dilahirkan dan dibesarkan. Setelah sebelumnya Romo Eddy sempet kaget ketika saya pamit, mungkin pikirnya saya masih minggu depan mudiknya, sekitar jam 18.55 saya sudah siap di pool bis Damri, Jl. Kebon Kawung depan stasiun, Bandung. Hujan lumayan deras dan angkot yang ngetem cukup lama, menyertai langkah saya hingga sampai pool Damri tersebut.

Setelah laporan, saya naik ke atas bis.

Tempat duduk saya adalah nomor 8. Dekat jendela, seperti pilihan saya sendiri ketika membeli tiket. Penumpang lain tidak begitu banyak dalam perjalanan kali ini. Dan, saya pastikan mereka adalah memang penduduk asli Lampung yang sedang di Bandung lalu akan kembali atau mudik juga ke Lampung.

Kok bisa tahu?

Logatnya nggak bisa menipu kuping saya yang meski sudah nyaris 20 tahun menjadi penghuni Bandung. Legok-legok dan gaya bahasanya masih saya hapal betul. So, saya jadi merasa “aman” bersama banyak saudara di bis itu.

Karena tadi buru-buru, saya memang nggak sempat makan malam. Mau turun bis, membeli makanan kok ya males. Hujan masih turun pula. Alhasil, saya hanya memakan buah apel dan coklat yang memang sengaja saya sediakan buat jaga-jaga. Ketika kotakan datang, saya sempat geleng-geleng kepala. Soalnya dengan tiket 135 ribu rupiah, para penumpang cuman diberi air minum mineral gelas dan roti yang mungkin hanya seharga 2500 rupiah saja. Tapi, ya sudah. Toh, siang harinya saya sudah cukup kenyang. Jadi, perut masih bisa bertahan.

Yang bikin saya nggak tahan adalah “serangan” AC yang luar biasa.

Sudah minta dikecikan, ternyata sudah paling kecil volumenya. Ditambah udara dingin di luat. Lengkaplah sudah.

Kaos kaki, jaket, syal dan selimut nggak bisa jauh-jauh menutupi tubuh saya. Bahkan ketika bis sudah berjalan meninggalkan Bandung. Saya Cuma berharap saya nggak diapelin masuk angin seperti biasanya kalau ada serangan AC deras begini.

Selama perjalana, MP3 yang sengaja saya pinjam dari Yanti menemani rasa hati yang sekian lama memang berniat mudik, baru kali itu kesampaian. Seiring kilometer jalanan tol yang terlewati, lagu-lagu yang sengaja saya pilihkan supaya bisa menemani terdengar di telinga. Meski sesekali saya lepas karena memang nggak tahan lama-lama (jadi ingat postingan saya tentang bahaya berlama-lama memakai ear-phone…), lagu-lagu ini memang mengobati kesenduan akibat hujan dan perjalanan panjang ini.

Saat telinga mendengar lagu “HOME” dari Michael Buble, sesaat hati terhenyak. Kepala yang tersender di jendela seperti ikut menghayati bait-demi bait yang terdengar.

"Home"

Another summer day
Has come and gone away
In Paris and Rome
But I wanna go home
Mmmmmmmm

Maybe surrounded by
A million people I
Still feel all alone
I just wanna go home
Oh, I miss you, you know

And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you
Each one a line or two
“I’m fine baby, how are you?”
Well I would send them but I know that it’s just not enough
My words were cold and flat
And you deserve more than that

Another aeroplane
Another sunny place
I’m lucky I know
But I wanna go home
Mmmm, I’ve got to go home

Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home

.............................................

Ahh… syair-syair itu sungguh melangutkan diri saya.

Tanpa terasa air mata saya jatuh berderai, nyaris sama dengan hujan di luar yang nggak mau berhenti juga.

Ada rasa tak terkatakan begitu Michael menyuarakan bait itu satu-satu.

Saya memang akan pulang. Saya memang ingin melampiaskan kerinduan ini. Saya memang termasuk orang beruntung yang boleh merasakan banyak hal dan akhirnya bisa pulang seperti sekarang. Tiada keindahan lain selain bisa boleh pulang seperti sekarang…

Tapi… Ketika ingatan saya teringat kalau kepulangan saya kesekian kali ini tak kan ada lagi yang menyambut, air mata itu kian deras jatuh di pipi. Kerinduan yang semula saya pikir akan terlampiaskan begitu nanti kaki menginjakkan rumah kecil penuh kenangan itu, nampaknya tak kan bisa kesampaian seperti yang terpikirkan. Sambutan, pelukan serta ciuman penuh kerinduan dari Ibu seperti waktu itu, tak kan bisa saya dapatkan lagi…

Hingga mata saya tiba-tiba saja sudah mengatup. Dan, MP3 itu ternyata saya matikan tanpa sadar karena memang telinga saya mulai panas.

Roda bis pun terus melaju hingga menuju pelabuhan Merak.

Di pelabuhan itu ada sedikit antri untuk bisa masuk ke dalam kapal. Lumayan banyak kendaraan yang bermaksud sama nampaknya. Saya yang masih diantara dua dunia rada nggak peduli. Tetep aja mata merem melek gitu hehe....

Cuma, ternyata ada 2 hal yang mengganggu lanjutan tidurku selama perjalanan tadi. Yang pertama, perut yang mulai grujug-grujug minta diisi dan yang kedua kebelet pipis!!

Aduh.

Untuk urusan yang kedua ini saya tahu akan susah. Selain bisnya emang nggak ada toiletnya, di lantai paling dasar kapal gini, mana ada WC?

Tapi, daripada nahan-nahan nggak enak, akhirnya saya bilang ke supir. Setelah bertanya pada seorang penjaga kapal, saya harus naik ke tingkat 3 untuk pipis doang! Untung nggak telanjur bocor deh. Hehe...

Pulang dari WC, tinggal ngurus perut deh. Jam menunjukkan sekitar pukul 01.00 dini hari. Ada 1 hal yang saya suka di jam segini ketika ada di kapal. Hal yang berhubungan dengan makanan.

Nggak tahu kenapa, kalo pas jam segini laper pas di pelabuhan atau kapal, trus makan Popmie, kerasa ennnnaaakkkk banget. Berasa deh bumbu-bumbunya. Mungkin suasana yang menunjang juga kali yaa... Maka tanpa ragu-ragu saya membeli Popmie yang harganya mendadak melambung menjadi 5000 rupiah saja. Begitu saya bawa ke bis, aroma yang dibawa asap... wuaaaa... bikin orang lain pengen beli juga deh hehe...

Setelah perut kenyang dan hangat (serangan AC masih berlanjut), saya lanjutkan tidur saya. Perjalanan masih seperempat waktu lagi. Biar mata terpejam gitu, saya tetap tahu kapan dan sedang dimana Bis ini berjalan. So, begitu sudah menginjakkan kaki di Sang Bumi Ruwa Jurai, saya bersiap (sedikit terkaget karena nyawa belum terkumpul) untuk turun.

Sekitar pukul 5.30 pagi.

Lampung..., I'm coming home....”

Emha Ainun Nadjib: Gusti Allah Tidak Ndeso

Emha Ainun Nadjib: Gusti Allah Tidak Ndeso


Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. "Cak Nun," kata sang penanya, "misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?"

Cak Nun menjawab lantang, "Ya, nolong orang kecelakaan."

"Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?" kejar si penanya.

"Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu," jawab Cak Nun.

"Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak. Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi."

Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata

Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu.

Seraya bertanya balik, Emha berujar, "Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini. Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara. Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.

Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?"

Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga.

Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran. Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama.

Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh'afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan.

29 Februari: Iklan Bank Mandiri

Ini tanggal keramat, 29 Februari 2008.
Harus nunggu 4 tahun lagi biar bisa meninggalkan jejak kenangan di tanggal yg sama.
Jadi, dibela-belain deh punya catatan sendiri di tanggal ini hehe...

Sebenarnya aku mau nulis tentang sedikit kegelisahanku melihat sebuah iklan yang menurutku sedikit berlebihan. Mungkin beda ya cara pandangnya dari segi periklanan.
Yg jelas iklan itu kemaren-kemaren ini jadi bahan obrolanku dng teman-teman di tempatku.
Itu iklan dari Bank Mandiri yang terbaru.
Di sana diceritakan tentang sebuah keluarga yg melakukan apa pun demi pendidikan anaknya.
Yg bikin aku sedikit nggak setuju adalah krn jln cerita yg diungkapkan.
Masa tiap kali anaknya melanjutkan sekolah ke tingkat yg lbh tinggi, diceritakan selalu menjual barang-barang yg ada? Malah bagian pertama ada kesan orang tuanya (sang kakek nenek) memberi amplop kpd Ibu dari anak itu.
Lalu, ada cerita Ibunya menjual kalung, jual mobil, akhirnya jual rumah pas anak itu mau kuliah.
Duhhh..., emang sekolah dimana sih? Kuliah dimana? Sampe segitunya.
Padhal kalo dari barang-barang yg dijual, nampaknya mrk bkn dr keluarga berkekurangan. Ada kalung emas, mobil bahkan rumahnya boleh dibilang rumah yg bagus. Rumah orang menengah ke atas.

Hiyaaa...
Ibu Bpkku alm yg dr keluarga amat sangat sederhana sj nggak sampai segitunya.
Mrk msh bs berusaha dng segala cara tanpa hrs menjual barang dng segitunya.
Lagian, bukankah apa yg dikeluarkan hrs disesuaikan dng pendapatan?
Nggak kebayang deh kalo maksain si anak sekolah atau kuliah di tempat yg mahal atau jauh sementara gajinya pas-pasan.
Biar nabung dr jmn kapan-kapan juga, rasanya siulit deh...

Aku berpikir, mungkin akan baik klo ada selipan cerita yg membuat keluarga itu bener-bener bangkrut, jd banyak kehilangan lalu pendidikan anaknya deh jd korban.
Jd nggak kliatan terlalu dipaksa atau dibuat-buat.
Dan, yg jelas mendidik.

Anak Tunggal Tahun Baruan

Happy Pernah berpikir bahwa menyenangkan menjadi seorang anak tunggal?

Pernah menduga bahwa menjadi anak tunggal itu segala perhatian dan kasih sayang berlimpah tercurah?
Pernah berhayal bahwa anak tunggal adalah anak paling berbahagia di dunia?
Anjar, Natal dan Tahun Baru kemana? Sori baru tanya sekarang. Mobil hilang di Jakarta. Lagi pusing cari gantinya”.
Begitu SMS yang saya dapat sore ini dari kakak sepupu saya yang membuat saya senyum-senyum sendiri.
Bukan saja otak saya langsung iseng berpikir, “gila barang segede itu (mobil maksudnya) bisa hilang? Gimana caranya…?” :) , tapi juga ternyata di sela kebingungan dan kepusingannya atas barang besar berharganya yang ilang itu, kakak saya yang berbeda keyakinan dengan saya itu masih mau meluangkan sedikit perhatiannya kepada saya. Dan, ini membuat saya senang sekali.
Lalu…
Apa hubungannya dengan anak tunggal tadi?
Hm.
Kalau Anda pernah berpikir anak tunggal itu menyenangkan, tercurah segala perhatian dan kasih sayang atau adalah orang yang paling berbahagia di dunia, nampaknya Anda sedikit salah.
Sedikit saja.
Soalnya, saya yang dianugerahi gelar sebagai salah satu anak tunggal di dunia ini merasa kalau segala yang “katanya” di atas tadi nggak sepenuhnya benar.
Kata menyenangkan yang dimaksud di atas sebenarnya relatif kok. Tergantung gimana kita yang menjalani saja. Bahkan yang punya saudara selusin juga bisa saja merasa senang atau tidak. (saya suka merasa iri juga lho kalau pas momen-momen tertentu hanya bisa melewati sendiri, tidak bisa berbagi dengan yang namanya “kakak” atau “adik”)
Kalau soal segala perhatian dan kasih sayang tercurah, ya mau gimana lagi? Lha objeknya Cuma satu itu doang… Mau nggak mau kan.
Tapi…, hal ini bukan berarti sama dengan manja lho yaa… Sebab dalam hidup saya sendiri, orang tua saya nggak begitu saja melakukan hal itu. Saya sudah dibiasakan mandiri sekaligus sesekali dimanja pada porsinya.
Lha, kalo soal berbahagia… Saya ingat hasil wawancara saya hari ini dengan seorang teman yang menyatakan “kita bisa bahagia jika kita bisa menerima kondisi kita sekarang”. Biar kadang sulit, tapi sekian lama saya diberi hidup, saya mencoba untuk menerima apa pun kondisi yang diberi dan terjadi. Dan, ternyata itu memang menyenangkan. Melegakan. Membahagiakan.
So…, begitu saya mendapat SMS dari kakak sepupu, yang sejak kecil bahkan sebelum saya lahir telah ikut orang tua saya, seperti di atas, saya merasa sangat bahagia.
Bahagia karena saya masih punya seorang kakak tidak sekandung yang dengan segala masalah dan kondisi pribadinya masih mau berbagi dengan saya.
Bahagia karena saya boleh merasakan langsung menjadi anak tunggal sehingga merasakan sendiri suka dukanya.
Dan, bahagia karena saya percaya akan ada bahagia lain yang akan saya songsong di tahun depan sebagai manusia utuh. Tanpa peduli jabatan sebagai anak tunggal atau bukan.
SELAMAT MENYONGSONG YANG TAHUN BARU dengan bahagia dan rasa syukur mendalam.
Banyak berkat untuk Anda di tahun 2008
(diantara angin dingin, sore 28 Desember 07, 16.28)

34 Jam Si anjar Di Surabaya: Seri PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA

 

Cerita si anjar 34 jam di Surabaya, Rek…

Seri : Biarkan Kole-Kole Terus Melaju

Setelah sempat ngobrol ngalur ngidul dng Suster Paulina, CB selaku Kepala Sekolah dan beberapa Suster yang lain, saya bergegas menuju kamar di Hening Griya. Msh ada waktu buat istirahat lalu bersiap kembali untuk acara pukul 17.00 WIB.

Sdh diwanti-wanti bahwa acara nggak pake ngaret. Diharap para pengisi acara sdh siap paling lambat jam segitu. Makanya saya berusaha untuk nahan keinginan untuk skadar tidur. Hehe…

Setelah mandi, saya, Betty dan Dina (yg sama-sama tidur di Hening Griya) bersama menuju lokasi acara. Sdh bnyk panitia yg melakukan persiapan untuk acara yg sebentar lg akan dimulai.

Sambil menunggu waktu, saya melihat segala situasi yg ada.

Satu-satu tamu pun berdatangan. Mrk adalah para orang tua murid, masyarakat sekitar, Pastor Paroki, utusan dari Konggresi lain, alumni serta pemerhati atau pemuka masyarakat.

Kalau ditotal-total, yg dtg sore menjelang mlm itu, krg lbh berjumlah 300 org.

Ketika waktu menunjukkan pukul 17.30, acara resmi dibuka.

Doa, permainan kolintang oleh murid-murid SMA St. Carolus kemudian saya dan para pembicara (Sr. Terry, CB, Bpk anggoro dan moderator ) dipanggil menuju panggung.

Kami pun bersiap untuk memberikan semacam ulasan dari cerita dalam buku “Biarkan Kole-Kole Terus Melaju”.

Buku satu itu unik.

Bukan saja karena berisi refleksi dr perjalanan hidup para Suster CB, tetapi jg ttg bagaimana menjaga komitmen dari awal hingga akhir.

Pada pembahasan buku ini, boleh terbilang unik. Soalnya bukan kami saja yg ngecap di depan. Tapi, sebelumnya ada pendramatisasian atas cerita yg dimaksud.

Ada 4 cerita dari kumpulan cerita di buku itu yg diangkat dlm bentuk teater dan kemudian dibahas oleh para pembahas.

4 cerita itu adalah: “Dituntun Cowok Cakep”, “Biarkan Kole-kole Terus Melaju”, “Bandel Kok Jadi Guru”, dan “Setelah Vonis Kuterima”.

Teaterikal yg dibawakan memang adalah bagian dr crt itu. Meski terpenggal-penggal, tp orang yg melihat pasti bisa ngeh dng isi cerita. Apalagi kemudian satu-satu dibahas oleh para pembahas.

Anak-anak SMA yg membawakan teater itu membawakannya dng penghayatan yg bagus. Mrk seolah-olah adalah pelaku dr crt yg dimaksud. Bahkan bbrp kali disambut tawa lucu oleh para hadirin krn mmg cerita yg dibawakan bernuanasa gembira.

Pd cerita terakhir yg berjudul “Setelah Vonis Kuterima”, suasana yg semula cerita tadi ceria berubah menjadi sendu.

Dlm crt itu diceritakan ttg perjuangan seorang Sr. Martinia, CB yg mengidap penyakit kanker payudara. Kalau org lain, bs jd setelah divonis akan down dan tdk bergairah menerusi hdp, maka “perempuan perkasa” satu ini justru bersemengat menerusi hdp dan setia dlm komitmennya.

Bahkan, dlm kesakitannya sendiri, dia mau dan berusaha menyemangati org untuk tetap hdp. Bnyk crt haru yg belakangan ketauan atas apa pun yg dibuat almarhumah sebelum ia dipanggil kira-kira 3-4 bln lalu.

Luar biasa.

Crt yg luar biasa ini kebetulan dimandatkan kpd saya untuk dibahas lbh lanjut.

Duh, saya sempat ketar ketir. Bisa nggak yaaa…

Apalagi crt ttg kematian begini, pasti mengingatkan saya kpd Bpk/Ibu alm. Bisa-bisa saya terbawa suasana deh.

Teaterikal yg dibawakan pun nyaris bikin saya menangis.

Brebe mili kalo org Prancis bilang (hihi….)

Dlm hati, saya sempat “nyuwun sewu” kpd Suster Martinia untuk membantu dan mengijinkan saya membahas ttg kehidupannya. Saya mmg nggak mau membahas ttg kematiannya.

Coret-coret pd sebuah buku sudah saya siapkan.

Kebetulan jg ada Bapak/Ibu almarhumah yg berkesempatan hadir saat itu.

Moderator mengenalkan kpd para hadirin. Keharuan, tdk bs disembunyikan.

Puji Tuhan… Meski sempat menahan emosi dr dlm, saya bs membawakan ulasan dari cerita “Setelah Vonis Kuterima” itu dng baik.

Intinya, saya hanya ingin membawa para hadirin yg jg nanti akan bs membaca kisah itu (gratis diberikan bo!), bs menjadikan apa yg dilakukan oleh Suster Martin sbg sebuah motivasi hidup dlm kehidupan kita ini. Tdk menjadikan kelemahan sebagai keburukan dan penghancuran dlm hdp, tetapi justru menjadi semangat untuk menerusi hidup. Tentu saja dng bantuan dan kepasrahan kepada Sang Pemberi hidup.

Bukan berapa lama kita hidup. Tapi, bagaimana kita hidup.”

Setelah semua dibahas, ada sessi tanya jawab.

Saya sempat keder jg ketika ditanyakan sebuah pertanyaan yg sebenarnya berhubungan dng Suster-Suster CB saja. Bkn awam spt saya.

Untungnya, ya saya kok punya persediaan kalimat.

Selamet deh saya hehe…

Pukul 20.30-an acara selesai.

Dilajutkan dng makan malam yg unik jg.

Tersedia para tukang makanan yg sengaja dipanggil oleh orang tua murid yg jg ingin berpartisipasi dlm acara itu.

Kalau dlm istilah mrk, kalo nggak salah itu disebut dng “robongan”. Hehe… lali aku…

Sekitar pukul 21.30 satu-satu tamu meninggalkan tempat acara.

Tmp acara sendiri pun mulai dibersihkan.

Saya sendiri nggak langsung kembali ke Hening Griya. Ngobrol dl dong dng banyak teman baru saya yg memang pada rame semua.

Ya nggak Kep-Seknya, gurunya, bahkan anak muridnya, waaaa…, saya baru kali ini menemukan kedekatan dan keakbran yg hangat. Meski begitu mrk tetap tau posisi masing-masing.

Pukul 22.30 saya kembali ke Hening Griya.

Tp, nggak bs langsung istirahat soale Thomas dan Agnes, 2 sahabat baik yg pernah menjadi teman main selama mrk menjadi mhs di Bdg dl, akan datang.

Sebenarnya badan sdh penat, tp berhubung sdh lm nggak ketemu pasangan suami istri itu, saya tunggu deh merek. Dibela-belain.

Nggak lama mrk pun datang.

Dan, obrolan kami pun menyita malam hingga pukul 00.30.

Nggak kerasa.

Tp, apa boleh buat… Badanku udah pedot kalo terus-terusan diminta “on”.

Begitu Thomas-Agnes pulang, saya sdh terbayang bantal, guling dan kasur yg ada.

Cuman….

Ukh.

Nyamuk-nyamuk nakal itu membuat sekitar 1 jam saya harus berjuang melawannya meski sdh diberi lotion anti nyamuk.

Alhasil… Jam 1.30 br bener-bener bs memejamkan mata. Tanpa gangguan.

Cape deh….

(bersambung lagih...)

34 Jam Si anjar Di Surabaya: Seri PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA

Cerita si anjar 34 jam di Surabaya, Rek…

Seri : Perempuan-Perempuan Perkasa

Kompleks Sekolahan St Carolus Surabaya terdiri dari tingkatan TK-SMA.

Menempati tempat yg cukup luas, sekolahan yang dikelola oleh Suster-suster CB itu nampak cukup ramai karena ada yang menjelang bubaran sekolah.

Yg menarik, kompleks sekolahan St. Carolus tersebut ternyata bertetangga sangat dekat dng sekolah Petra. Karena posisi 2 sekolahan itu di kompleks perumahan, bayangkan sj kalau dua sekolahan itu sedang berkegiatan. Ramainya itu lho…

Bu Ilin dan Betty menceritakan suka dukanya berkegiatan ajar mengajar di sana.

Saya lupa memotret batas kedua sekolahan tersebut yg hanya berupa pagar memanjang saja.

Lalu, kembali kepada saya yg serasa org asing di planet baru…

Rupanya panitia telah menyiapkan saya untuk beristirahat di rumah retret Hening Griya. Persis di sebelah sekolahan St. Carolus. Di hadapannya, biara Suster CB.

Setelah beristirahat sejenak, mandi, saya dikontak oleh Mas yg jaga bahwa saya ditunggu oleh pembicara lain di ruangan lain, di sekitar sana jg.

Wah, lha saya kan nggak kenal siapa-siapa selain Bu Ilin waktu itu. Jd, ya ragu jg kalo ujug-ujug menongolkan diri. Isin…

Sampai akhirnya Bu Ilin muncul lg dan mengajak saya untuk bertemu dengan para pembicara lain.

Di ruangan yg dimaksud, sdh ada 2 Suster, Pak Anggoro dan Rm. Sindhunata.

Di luar perkiraan saya, ternyata sambutan mereka kpd saya membuat saya jd merasa nggak deg-degan lagi. Terutama Rm Sindhu.

Sebuah penghormatan tersendiri buat saya bakal bs berdampingan dng Rm Sindhu dan pembicara lainnya.

Sekitar 1 jam kami bersama di ruangan itu untuk membicarakan acara sore harinya.

Sempat terjadi kesalahpahaman dng menu makanan yg disediakan.

Maksudnya, rujak cingur yg dibelikan Suster untuk icip-icip saja. Ternyata krn porsinya yg besar, dianggap sbg makan siang. Ya sudah…, makanan yg disediakan para Suster CB di Biara nggak laku deh… Hehe…

Cuma saya sendiri yg mkn siang di sana.

Habis makan siang, saya dipersilahkan melihat-lihat sekolahan dan tempat “mentas” nanti.

Benar kata Rm Sindhu, acara ini benar-benar telah disiapkan dng baik oleh para panitia. Terbukti dengan segala perlengkapan dan panggung yg telah siap.

Sebagian adalah hasil krj dari para murid SMA St. Carolus.

Saya juga berkesempatan masuk ke ruangan Kepala Sekolah SMA St. Carolus yg saat ini dipegang oleh Suster Paulina, CB.

Di ruangan ini, sempat bikin saya terkagum-kagum. Soale, nggak seperti ruang Kep-Sek lainnya, ruangan Kep-Sek satu ini sangat welcome pd siapa sj yg datang.

Bs jd krn AC-nya yg menyegarkan diantara hawa udara Surabaya nan panas, bs jd jg krn keramahan dan keakraban yg diberikan oleh Sr. Paulina, CB selaku sang empunya.

Saya sempat ngobrol dan foto-foto bareng jg dng mrk.

Saya menyebutnya sebagai perempuan-perempuan perkasa sebab dng segala keterbatasannya, mrk mau berkomitmen seumur hidup untuk sesama dan Dia.

Kalau dengar cerita dr mrk, wuih… memang hebat mahluk yg dinamai perempuan itu.

Sbg sesama perempuan, sy pantas bersyukur karenanya.

(bersambung)