Papaku berdasi

Hari-hari gini nih, hari-hari dimana anak sekolah memulai tahun ajaran barunya. Jalanan suka mendadak ramai dengan anak-anak sekolah yang memakain seragam baru.

Fira, keponakan tercintaku, anaknya Mas Tio, sudah jadi anak SMP sekarang. Puji Tuhan, Alhamdulilah, dia diterima di SMPN 5, salah satu SMP terkenal di Bandung. Padahal dulu-dulunya diragukan. Dibanding Nadin, adeknya, si Teteh Fira ini secara hasil nilai rapor selama ini sedikit di bawah adeknya. Jadi, Ayahnya pun nggak berharap banyak dia bisa masuk di Negri. Si Adek Nadin saja yang berani ngatain Tetehnya, "Ah, paling Teteh juga bakal balik lagi sama Nadin di Darul Hikam (sekolah mereka sejak TK). Tenang aja, Teh..."

Dan, ternyata Teteh Fira berhasil membuktikan dia mampu untuk membuktikan tantangan masuk ke sekolah negri. Sebagai Tante tercintanya, bangga dong keponakannya bisa begitu.

Tapi, yang pengen aku ceritakan hari ini bukan itu sebenernya.

Di depan kantorku itu, ada TK yang konon uang masuknya aja bisa 5-10 juta!

Bujubuneng... hehe... (kalo kata temanku, mending gua masukin langsung aja anak gue ke perguruan tinggi daripada ke TK dulu...)

Nah, hari gini nih, buat TK A alias kelas 0 kecil, adalah hari pertama mereka dilatih untuk nggak ditungguin orang tuanya. Biar orang tuanya suka nyuri-nyuri cara biar bisa nungguin, tetep aja susah untuk mengamati gerak gerik mereka. Alhasil, tangisan dan jeritan karena ditinggal Mama Papanya jelas banget terdengar di telingaku. Lha wong kantorku dan TK itu deketan banget.

Aku sih nggak masalah. Malah kadang jadi hiburan tersendiri. Habis suka lucu-lucu sih. Udah pipinya tembem, rada ndut, kulitnya putih jadi begitu dia nangis atau teriak, merah deh semuanya. Huaa... pengen nyubit.

Cuman, diantara kelucuan anak-anak itu, 1 hal yang bikin aku suka tertegun sekaligus terharu. Ini nggak ada hubungannya dengan mereka. Justru berhubungan dengan orang tua mereka.

Sekitar jam 10.00 WIB, waktunya anak-anak kelas A itu pulang sekolah. Nah, pas saat itu tuh orang tua mereka akan berkerubung di depan pintu sekolah. Kalo pas bubaran gini, segala macam jenis penjemput ada deh. Dari supir, baby sitter, Mama-mamanya (yg sering banget jadi bahan cuci mata karena dandanan mereka ya *wow* dan dapet julukan "macan" = mak-mak cantik) sampe..., yang ini nih yg tadi aku bilang bikin terharu: Papa mereka yang masih berdasi.

Kalo Mamanya jemput, itu biasa. Supir atau baby sitternya malah sudah sangat biasa. Tapi, kalo Papanya yang masih mengenakan dasi rapi, baju juga masih belum kusut dan terlihat sekali membagi waktu antara kerja dan menjemput anak (terlihat dari sibuk nelpon nyuruh ini itu, tapi begitu anaknya keluar menyudahi), kalau aku menjadi anaknya, aku pasti akan merasa senang dan bangga. Sesibuk apa pun Papaku ternyata masih mau meluangkan waktu untuk menjemputku. Uhhh..., ini pemandangan indah buatku.

Perkara nantinya belum tentu ada waktu lagi, momen awal-awal sekolah itu pasti punya kesan tersendiri. Setidaknya itulah salah satu cara supaya sang Papa yang sibuk bisa dekat dengan anaknya.

Jadi inget si kembar Lintang-Wahyu. Tiap pagi, ayahnya nggak lupa "pa-pung" alias mandikan mereka. Setelah mandi, pasti mereka bertiga akan nonton VCD lagu atau permainan anak-anak sambil makan pagi. Buat Koko, sang ayah, ini adalah tugas wajib yang nggak bisa ditinggalkan. Kalo mandi sore, Koko mengusahakan karena dia kan karena pulang kerjanya suka ga tentu. Paling Endah, sang istri, Ibu Lintang-Wahyu yang menggantikan.

Ahhh... senang ya dapat perhatian dari ortu gini. Meski mungkin dianggap kecil dan sepele.

                            

Yogya di Amplas

Ini sisa ceritaku seminggu lalu ketika kota Gudeg itu aku kunjungi.

Ceritanya, seorang kakakku sejak sebelum ada rencana ke Yogya sudah berjanji akan mengajakku nonton. Waktu itu dengan nada bergurau nanya ke dia, “Emang bioskop ada di Yogya? Bukannya yang terakhir kebakaran?”. Kakakku jelas nggak terima dituduh begitu. “Jangan salah, sekarang kan ada Amrukmo Plaza. Ada bioskop 21 di sana.” Bisa bangga deh orang Yogya karena hal itu hehe… Soale emang terakhir aku dengar dari teman-teman yang tinggal di sana, di Yogya lebih terkenal VCD/DVD ketimbang bioskop.

Dengan adanya mol kebanggaan Yogya yang konon ikut retak-retak saat gempa bumi tahun lalu itu pastinya banyak wong Yojo yang bergaul di sana. Aku jadi penasaran karenanya.

Nah, pas hari Sabtu sore setelah beristirahat sejenak di rumah kakakku, jadi deh aku ke sana. Naik motor melewati jalan-jalan yang, bener deh, nggak tau jalan apa saja. Hihi… Bukan saja karena menjelang magrib, tetapi juga karena baru kali itu aku lewat jalanan itu.

Setelah sampai di tempat parkir yang buanyuak, terdiri dari sekitar 3 tempat, (dan semuanya penuh oleh motor ckckckck....)kakakku memarkir motornya, jalan deh kami ke Amplas yang kini jadi sering bahan cerita teman-temanku di Yogya.

Begitu kaki menginjakkan gedung megah itu, ada yang lain melingkupi diriku.

Kenapa?

Awalnya sih nggak aku pedulikan, tapi lama-lama, baru aku sadar, aku sekarang lagi ada dimana ya? Kok nggak berasa Yogya-yogyanya? Saat ada kesempatan sedikit berkeliling karena film belum diputer dan kami bermaksud makan dulu, perasaan itu makin nambah jadi. Bener ya kakiku menginjak tanah Sultan? Kayak masih ada di Bandung atau malah di Jakarta. Nggak Cuma karena bentuk bangunan atau pertokoan modern yang ada di sana, tapi orang yang lalu lalang di sana juga, wahhh… seperti bukan orang Yogya yang pernah aku temui waktu lalu, sebelum hari ini. Ketika aku utarakan pada kakakku, dia cuma senyum-senyum saja. Secara dia orang Yogya gitu loh… Nggak kerasa kale…

Lalu esok harinya, aku diculik Ukki-Vera untuk berjalan keliling Yogya setelah sebelumnya ke rumah mereka dulu di Klaten. Pasangan yang tergolong pengantin baru itu menceritakan banyak tempat dan hal yang berhubungan dengan Klaten dan Yogya.

Saat kami hendak makan malam (jangan tanya arahnya kemana hehe…, nggak hapal lah) yang letaknya di pusat kota, Ibunda Ukki yang ikut serta menunjukkan sebuah bangunan lama nan megah yang nampaknya sudah tidak terurus dan gelap. Kalo nggak teliti, nggak tahu deh ada bangunan di sana. Saking gelapnya.

Itu Hotel Ambarukmo yang sudah tutup. Tapi, ada kamar yang lampunya masih nyala. Katanya itu kamar Kanjeng Putri Roro Kidul,” jelas Ibunda Ukki.

Aku ngangguk-ngangguk saja.

Kemaren waktu ke sana dengan kakakku, aku nggak sempat merhatikan gedung lama itu. Nggak tau kenapa aku tertarik saja memperhatikan gedung yang pernah berfungsi jadi Hotel terkenal itu. Rasanya aku punya kenangan di sana deh. Tapi, aku lupa.

Kok sayang ya nggak dimanfaatkan? Dibiarkan membusuk begitu.

Kata Ibunda Ukki lagi, mestinya gedung hotel itu akan dijadikan bagian dari Amplas. Cuman, nggak tau kenapa, nggak ada yang berani merobohkannya. Jadi dibiarkan begitu saja. Nggak termanfaatkan. Waktu kutanya kenapa nggak difungsikan lagi, Ibunda Ukki bilang karena kalah bersaing dengan hotel-hotel lain.

Ah, sayang sekali…

Secara kacamata awam, aku pikir hotel yang kepemilikannya adalah milik Sultan itu kalo dibenahi lagi dengan baik, rasanya bisa deh menjadi hotel yang menarik, bersejarah dan mencerminkan kota Yogya. Seandainya aku punya duit aja. Atau andaikata bangunan itu bisa dibeli pake daun plus kayu bakar…(maksudnyaaaa…???)

Hari Seninnya, 25 Juni 2007, kuniatkan juga menemui Dewi, teman baikku saat di Bandung yang pindah ke Yogya. Dewi ini pernah motret aku untuk buku keduaku, “Kidung Senandung Cinta Untukku”. Sebuah fotonya juga kugunakan di novel teenlit. Kini, Dewi sedang menunggu hari melahirkan. Jadi, begitu ketemu, dia sedang “membawa” perutnya yang besar. Sempet kuatir kalau dia nekad bepergian bawa mobil untuk menemuiku sementara perutnya membesar begitu. Tapi, dasar Dewi, dia tetep nggak berubah dari jaman masih jomblo dulu. Selain dia memang sedang bersiap untuk menanti kelahiran sang buah hati, dia juga masih boleh dan kuat untuk kemana-mana. So, begitu kita sudah deal janjian di radionya Endah untuk bertemu, selanjutnya dia malah yang bermaksud untuk mengajakku keliling Yogya lagi.

Berhubung belum makan siang, Dewi ngajak makan siang dulu. Setelah rundingan beberapa tempat, terpilihlah food court di Amplas. Lagi-lagi Dewi nggak masalah dengan kondisi perut ndutnya. (padahal hari Sabtu sebelumnya, kakakku paling males ke food court itu, entah apa alasannya)

Sambil makan siang, kami bercerita ngalur ngidul. Salah satunya tentang internet gratis di pusat perbelanjaan itu. Rupanya, suami Dewi adalah penyelenggara hal itu bisa terjadi. Pemilik provider-nya maksude. Kata dia biasanya memang laptop yang bekerja di sana dan hanya diberi jatah 2 jam saja. Ooo…, pantes ketika kakakku nyoba make poselnya, nggak bisa. Tapi, Dewi nggak jelasin lebih lanjut kenapa hal itu lebih lanjut. Kami lebih tertarik bercerita tentang teman-teman yang sudah tersebar luas kemana-mana.

Disela obrolan itu, Dewi bercerita tentang bangunan hotel tua di sebelah Amplas ini. Dia membenarkan apa yang diceritakan Ibunda Ukki itu. Dewi malah menambahkan bahwa ada sebuah bangunan semacam pendopo di belakang Amplas persis yang sama sekali tidak berani disentuh oleh kontraktor mol satu itu. Tepatnya dimana, Dewi juga nggak tau persis. Pokoknya bangunan itu dianggap keramat.

Dewi juga setuju ketika kukatakan tentang rasaku yang seperti nggak di Yogya. “Alfred yang sering ke Yogya juga bilang begitu kalo ke tempat ini,” jawab Dewi menyetujui.

Saat bercerita ngalur ngidul itu tercetus nama Deny dan Rita, sepasang teman kami yang kini berdomisili di Jepang.

Ah ya…

Baru ingat sekarang… Mantan Hotel Ambarukmo itu adalah tempat resepsi Deny dan Rita sekitar tahun 2001 arau 2002 lalu. Kami, teman-teman pengantin yang berbahagia saat itu beramai-ramai datang ke Hotel tersebut. Kami memang diinapkan di hotel megah tersebut, tetapi di sebuah hotel lain di seberang jalan.

Tapi, yang nggak aku lupa adalah pesta resepsinya yang tidak terlalu mewah, tapi sangat berkesan. Buktinya begitu disebut Hotel Ambarukmo, ingatanku seperti kembali ke masa lalu meski teteup… lupa dulu hehe…

Diantara hari-hariku di dekat Ambarukmo bersejarah dan megah itu, aku juga sempat melewaati dan atau berkunjung sejenak ke Marlioboro, Pasar Beringharjo dan tempat lain yang Yogya banget deh… Nah…, kalo di tempat-tempat itu, aku benar-benar yakin bahwa kaki dan tubuhku saat itu memang sedang berada di sebuah kota yang membikin banyak orang ingin tinggal di sana. Entah berapa seniman mengabadikan kota yang nggak pernah mati bahkan ketika malam melingkupi bumi.

Adakah kondisi yang “Yogya banget” masih tetap dirasakan hingga masa nanti atau akan tergeser kemoderan yang sering dijadikan alasan agar mengikuti jaman?

Nyasar Di Bandung, nyok!!!

Selamat siang semua...
Di hari ketiga libur Lebaran ini saya tergelitik untuk cerita sedikit ttg yg hampir selalu terjadi di Bdg setiap kali libur panjang spt skarang.
Biasanya Bdg di libur panjang sekarang sepertinya bkn milik org Bdg lg krn dimana2 ada banyak mobil (yg buat macet jalanan) dng plat non "D". Kebanyakan malah ber-plat "B".
Luar biasa.
Rasanya org2 bknnya silahturahmi di tmp saudara-saudaranya. Tp, mrk lbh memilih silahturahmi di FO-FO, tmp makan atau tempat hiburan lainnya.
Tp, bkn itu yg bikin menarik.
Buat saya, yg bikin menarik itu adalah ke-pe-de-an mrk di jalanan seputar kota Bdg.
Dan saking pe-denya, saya selalu mendapati mobil2 yg spt nyasar atau kebingungan arah. Kalo sdh begini, apalagi kalo tdk tanya ke org2 yg kira2 "bisa dipercaya" atau "meyakinkan".
Dan saya jg gak tau, knapa saya sering menjadi org "pilihan" itu. Hehe...
Untungnya krn saya biasa ngukur jalan, jd tiap kali mobil yg ujug2 berhenti dan bertanya pd saya, bs jawab deh. (meski suka sulit jg menerangkan krn jalurnya kadang hrs muter2)
Ini bbrp percakapan yg sering saya dapat begitu saya diberhentikan oleh mrk untuk ditanya:
Tamu : "Mbak kalo ke Dago kemana ya?"
(saat itu dia ada di sekitar daerah Taman Sari yg juga sebenarnya masuk dlm lingkungan Dago)
Saya : "Ini Dago, Pak. Dagonya mana?"
Tamu : (bingung) "Saya sdh drtd muter2, tp gak ketemu2 jg jalannya."
Saya : (gantian bingung) "Maksudnya mau kemana, Pak?"
Tamu : "Itu lho yg banyak Factory Outlet-nya"
Saya : "Oalaaahhh... Jalan Juanda maksudnya, Pak?"
Tamu : (tersenyum senang) "Betul-betul..."
atau :
(masih di daerah Taman Sari)
Tamu : "Mbak, kalo ke Dago kemana?"
Saya : "Ibu tinggal muter balik saja."
Tamu : (rada kebingungan) "Trus dr sn kalo mau ke Cipanas, kemana?"
Saya : (gantian bingung) "Ke Cipanas, maksudnya kemana?"
Tamu : "Itu lho saya mau kembali lg ke Jkt, mau lewat Cipanas. Kan hrs lewat tol dulu."
Saya : (hihi... saya ketawa sendiri) "Maksudnya mau ke Pasteur trus ke Padalarang ya, Bu?"
Tamu : "Nah itu maksudnya..."
yg br saja terjadi :
Tamu : "Dek, numpang tanya yah... Kalo mau ke Aloysius, kemana ya?"
Saya : "Om mau ke sekolahan itu atau mau ke Jalan menuju tempat itu?"
Tamu : "Saya mau ke distro yg ktnya dkt sekolahan itu."
Saya : "Oooo..., jalan Sultan Agung maksudnya?"
Tamu : (ngangguk-ngangguk...)
Selamat lieur deh kalo udah nyampe Bandung hehe...
SELAMAT LEBARAN juga...
                                                 Bip04

Oleh-oleh Yogya (telu)

Djendelo Koffie and Tee, 15 Oktober 2005 pkl 19 lewat 102
Dng rada terburu-buru, gw ce-es nyampe jg di tmp yang memang pas di atas Toko Buku Toga Mas yang terkenal itu.
Suasana msh sepi. Belum terlalu banyak pengunjungnya.
Sudah ada Endah, Iin dan bbrp temannya.
Mrk nampaknya gelisah resah menunggu bintang utama datang. Hiiiyaaa…   

Secara pribadi gw sdh mengantisipasi kalau ternyata acara ini nggak seramai yang diperkirakan. Dng publikasi yang boleh dibilang rada tergesa, mepet banget. Sdh bbrp kali gw ngalami hal serupa.
Tp, biar bagaimana pun gw hrs berterima kasih kpd banyak orang (terutama Om Benny) yang udah mau repot2 ngurus acr ini.
Luar biasa.
Gw jg msh kaga percaya, kok ada ya org yang mau bela2in berbuat sesuatu buat acr gw di Yogya? Hehe… Niat banget buat beginian.
Makanya gw seneng2 aja dng kondisi apa pun.

Tanpa gw duga, gw ketemu sm tmn lama gw yang ketemu di chatting.
Dulu kenalan, namanya Kubis. Nggak taune nama asline Andika.
Hehe… Soal nama, akhir2 ini gw memang payah.
Gampang lupa.
Untung si Kubis nggak lupa.

Pengunjung tmp itu pun makin malam makin nambah.
Meski lebih bnyk yang pasif, tp yang nanya ternyata gencar jg kpd kami.

Ibu Endah yang sdh terbiasa cuap2, menyediakan dirinya sbg MC dadakan sekaligus pembicara. Ibu yang biasanya lincah itu kali ini hrs membagi tenaganya jg buat sang jabang bayi. 120
Jd nggak heran kalo dia sepertinya ngos-ngosan sehabis bnyk ngomong gitu.
Sementara kalo Iin, msh dng gaya ceplas ceplosnya jg menikmati malam itu.
Dng bergantian sbg pembawa acr, Iin jg berbagi ttng proses menulis kreatifnya.
Tiga jam yang kami pikir akan lama, ternyata cuma sebentar.
Malah ada sesi tambahan di luar jam yang disediakan.

Eeehhh... ada yg mau baca puisiku jg lho!117

Orangnya ganteng rek! Matur nuwun yo Mas... 

Nyaris pukul 22.30, kami mulai berpamitan.
Dua gaetku sudah siap mengantarkanku pulang ke hotel.
Cipika cipiki dng Endah dan Iin menjadi pengganti salam perpisahan.
Semoga lain waktu bisa bertemu di acr yang lbh indah lagi.
Terima kasih, Djendelo…

Menuju ke hotel, gw bilang sm Benny, “Anterin gw ke tmp yang nggak mengharuskan gw bnyk ngoceh dong…”
Iya nih.
Seharian gw ngoceh mulu.
Mulutnya rasanya udah nggak jelas. Nggak bs mingkem krn kudu standby jawab semua pertanyaan.

Akhirnya Benny dan Romy ngajak gw ke alun2 dng harapan ada tmp lumayan sepi di sana. Soale kalo ke angkringan Pak Man pasti rame (pdhal gw udah pengen ke sana lagi hiks-hiks…)
Tp, ndilalah di alun2 ternyata sedang ada acr dangdutan.
Lha ya rame deh.
Motor pun balik arah lg. Lalu diputuskanlah untuk duduk2 saja di jalan Marlioboro.

Malam itu, jajanan sepanjang jalan yang terkenal lg sepi.
Nggak terlalu ramai.
Nggak tau kenapa.
Jd kami memutuskan duduk di salah satu warung lesehan yang bnyk di sana.
Lumayan lah buat memanjangkan kaki dan nggak perlu bnyk cerita lagi.
O ya, sepanjang kami nongkrong itu, sering melintas gang motor yang bnyk bener anggotanya.
Heran.
BBM naek begini, mrk tetep aja beraksi yaaa… Hebatlah.

Nggak lama, kami dihibur sm serombongan pengame. Rasanya sih ini bkn pengamen sembarangan. Soalnya niat bener bw alat2nya. Pake perkusi segala.
Awalnya mrk nyanyi “Why Do You Love Me”nya Koes Ploes. Tp, di tengah jln gak diterusin krn katanya “Aku lali lagune” walah… Piye tho Mas?
Akhirnya diteruskan dng lagu country pilihannya Benny dan Romy.

the time has come
that we must be apart
the memory is still in 
my mind
but you have gone
and you leave me alone

#
why do you love me
so sweet and tenderly
I do everything
to make you happy
huu...

but now everything
it's only a dream
a dream that never comes
I only wait
till true love will come...

Sampe sekitar 24 lewat dikit gw nongkrong di sn.
Narimo sempet sms ngajak ke Pak Man.
Weh, wis mbengi ngene kok niat ke sn. Moh aku…
Lalu gw putuskanlah ke hotel sj.
Dua gaet setiaku itu menghantarkanku lagi hingga hotel.

Gw bener2 kehabisan kalimat deh untuk mengucapkan banyak terima kasih tak terhingga sekali buat mereka. Mau dibayar segimana jg, rasanya belum pantes buat membayar kebaikan mrk itu. Perhatian dan ketulusan mrk benar2 luar biasa. Bahkan pada kondisi kami br saling mengenal begini.
Gw sangat bersyukur, Gusti bolehin gw mengenal dua org sahabat sebaik kalian.
Sungguh… Hatur nuhun, Benny, Romy…
Banyak berkat buat kalian berdua yaaa…
(kapling jatah di Surga bakal nambah besar deh buat kalian hihi…)

Hotel Oryza, pagi2 16 Oktober 2005
Gw tidur nyenyak semalam. Saking capenya kali.
Malah, saking capenya nyuwun ngapuro karo Gusti ga iso ngapelin di Gereja.
Rencananya kan mau ikut Misa di Gereja Kota Baru.
Apa boleh buat… Kali ini raga gw bener nggak kuat.
Yanti, Kristin dan Ibu ke pasar Bringharjo aja gw gak jd ikut. Badan gw bener2 cape bgt.

Waktu enak2nya mau leha2, ternyata si Dono dateng.
Rupanya sms gw semalam yang ngasih tau gw absen ke Grj nggak nyampe.
Pdhal dia udah bela2in bangun pagi. Matane aja belum rela melek.
Tp, tetep ngganteng kok, Don… (ciiiieee… gubrak!!!)

Setelah aku sendiri mandi, gw diajak sarapan di jln Marlioboro yang mmg tidak jauh dari hotel. Qt mkn bubur Yogya di sn.
Rada mirip bubur di Lampung.
Bedanya kalo di sn sandingannya selalu teh manis dan nggak gratis hehe…
Kalo di Lampung mah minumannya gratis lah. Kalo minta teh manis, baru deh bayar.
Eeehhh…, gw sempet minum jamu beras kencur plus kunyit asam. Cuma seribu perak.
Murah ya?
Kalo rasanya mah standar aja. Seperti yang biasa gw minum.

Sembari mkn, Dono cerita bnyk. Gak akan muat ditulis di sini.
Selaen ada yang rhs jg sih… Hehe… itu kan bs jd bahan cerita di novel gw berikutnya gitu loh…
Tp, diantara crt Dono itu ada 1 bagian yang membuat gw berpikir ngr tercinta gw ini bener sdg bobrok yaaa… Mau diubah pake jln apa aja, rd sulit. Ini menyangkut mentalitas rakyatnya sendiri. Udah kebiasaan enak kale. Biasa menghalalkan bnyk hal.
Ckckck… Syerem jg.

Pas lg rame2nya crt gitu, rombongan crew-nya Rudy Sudjarwo  nongol dng bis besuarnya itu.
Se-bis warnanya hitam. Nampaknya bekas bis Kramat Jati. Menurut pembaca gw yang org sana jg, mrk mmg ada audisi/casting di sana. Ya pantesan deh…

Nggak lama, gw dan Dono balik deh ke Hotel.
Papasan dng Benny yang nganter barang gw yang tertinggal.
Kami ngobrol bntr di teras hotel.
Krn Benny mau ada urusan dan Dono jg hrs buka2 resto-nya, kami pun berpisahlah. Gw kan jg mau siap2 pulang.
Ya sudah…
Pesan terima kasih, selamat jalan, hati2, good luck, sampai ketemu lagi, jng kapok, salam buat yang laen menjadi penghantar perpisahan kami.

Sepeninggal mrk, gw beberes deh.
Ah, 2 malam, 2 hari gak kerasa yaaa… Rasanya br kemaren ke hotel itu, skarang hrs kembali lg ke Bdg. Perjalanan panjang menanti.
Dono yang sempat kembali sebentar ke hotel, mengiring kepergian kami kembali ke Bdg.

"Gerangan apa sahabat itu? hingga kau senantiasa mencarinya, untuk sekedar bersama dalam membunuh waktu?"
(Kahlil Gibran - Sang Nabi)

Dan gw sudah menemukan sahabat-sahabat itu di Yogyakarta.
Matur nuwun, Yogyakarta….
dalam derai waktu yang mungkin belum bisa terancang pasti,
percaya saja kita akan bertemu lagi

Oleh-oleh Yogya (loro)

Bsk paginya, 15 Oktober 2005, gw mkn pagi bareng rombongan.
Gw pasrah aja mau dibw kemana. Lha gw kan kaga ngerti tempatnya.
Ternyata kami dibawa Narimo sbg gaet ke daerah Wijil (kalo nggak salah). Mkn gudeg di sana.
Welah, pdhal gw tadinya nggak mau mkn gudeg krn mmg gak terlalu suka mkn itu. Tp, oke deh ntoba aja. Ternyata, gudeg Yogya mmg beda ya sm gudeg Bdg.
Ya iya dong ah…

Di sini ada kejadian unik.
Si Kristin, adeknya Yanti kan mesen Fresh Tea yg kt Mbak penjaga warung diyakinkan ada.
Pasti di otak Kristin, dia bakal minum minuman segar itu segera.
Tp, ternyata yg keluar Fruit Tea, sodara2!
Lha, emang Fresh Tea sama Fruit Tea sama gitu? Minimal pengucapannya dah.
Ealah…

Sesuai kesepakatan, gw akan berpisah sementara dng Yanti dan keluarga. Kami masing2 punya rencana sendiri untuk mengisi hari itu.
Gw bakal dibawa Domo, salah satu adek gw dari NHI.
Dia dateng tepat waktu. Jd, setelah makan pagi itu, kami bener berpisah.

Waktu dibonceng Domo, gw sempat ketar ketir krn ternyata dia nggak apal2 bgt jalan di Yk. Modalnya cm peta dan pede aja. Hayah….
Untungnya pilingnya itu bagus. Tujuan kami pertama adalah nengok warung makan yg ia kelola bersama seorang temannya.
Tempatnya di Anugerah Lembah Resto A-12 Jl. Clinton, Babarsari Yk.
Menurut gw sih, tmpnya strategis. Nyaman lagi.
Asyik banget lah.
Tp, berhubung bukanya jam 17, jd gw nggak sempet liat aktivitas mrk. (bkn cm krn bln puasa aja) Mau ketemu Mia jg nggak jd krn Ibu satu itu sdg di jln, susah dihubungi.
Akhirnya kami menuju jalan Sagan aja.
Mau nengok warung es Eny yg dikelola Mia.

Lagi enak2nya makan gitu, Dono nelpon dan bilang dia sdh ada di Gramedia Sudirman.
Gw emang janjian jg sm dia dan Iin sebelum siaran jam 13. So, bergegaslah kami menyantap makanan. Pdhal lg asyik2nya cerita tuh…

Di Gramed gw ketemu jg dng Kang Bambang Trim.
Wah, si Akang satu ini bkn cm kakak angkatanku aja, tp jg penulis terkenal. Buku dan pelatihannya ada dimana2.
Yg bikin gw pangling, dulu waktu msh kuliah, Kang Bambang mah termasuk jankis menjulang. Hehe…, maksudnya kurus, tinggi menjulang. Eeee…, skarang malah rada gemukan. Nyaris pangling gw.

Setelah ngobrol bntr dng Kang Bambang, Dono dan Iin (jg ngecek buku2 gw di Gramed hehe…, biasa), gw langsung menuju radio Eltira 102,1 FM yg ada di blk Gramed.
Sampe di studio, Ibu Endah alias Velista Nova belum muncul.
Padahal gw udah pengen ngelus2 perutnya huehehehe…
Calon ponakan je! Kembar pula.
Nyaris jam 14.00, Bu Endah datang.
Waaahhh…, cah cilik kuwi keliatan ibu-ibu sekali hehe…
Jam 14 lbh dikit, gw sdh siap buat ngoceh di radio itu.
Weks.
Biar udah berulangkali diwawancara di radio, grogi teh tetep ada euy!
Kalo udah begini, gw suka norak deh….

Syukurlah, semua terlewati dng baik.
Sms2 yg masuk banyak jg. Yg nanya jg ada. Ada yg borongan malah.
Bisa dapet bonus ember dia huahaha….
Terima kasih radio Eltira…

Selesai siaran, gw memilih pulang aja ke hotel. Soale gaet gw msh ada tamu, katanya. Mending dia jemput gw di hotel. Selaen ngantuk jg sih…

Sekitar jam 15 gw dijemput juga oleh sang gaet: Benny dan Romy…!!!!
Hooorreeee….
Rencananya kami akan ke Ganjuran. Itu semacam tempat ziarah gitu. Yanti dan keluarga sdh ada di sana sejak pagi. Tujuan mereka ke Yogya kan emang mau ke sana. Maka gw jg berniat nyusul.
Yah, sekalian ziarah jg.

Sepanjang jalan, kami bertiga nggak pernah diam. Ada yg curhat malah hihi…
Ati2 lho curhat sama si anjar ini…
Emang dasar tukang cerita semua kali yaaa… Jadi jarak Yogya – Bantul nggak kerasa.
Nyampe deh kita.

60_2 Ternyata tempatnya jawa banget.
Maksudnya, bkn cuma Misanya yg berbahasa Jawa, tp di blk Gereja ada semacam candi yg diibaratkan tabernakel (tmp khusus untuk bersemayam Tuhan) yg boleh didatangi oleh para peziarah.
Yg unik, kalo mau ke sana, kita mesti semacam wudhu dulu dng air yg ada dan dipercaya berkhasiat di dkt sana. Kalo udah, blh deh ikut antri ke candi itu krn mmg cuma muat satu orang saja.
Kalo udah selese berdoa, turun dari candi kudu jalan mundur.
Takut jatoh?
Ya ati2 dong…
Katanya ini tradisi sekitar.
Inkulturasi gitu…

Tapi… Gw nggak siap mengikuti tradisi ini.
Rada aneh gitu. Hati gw belum bs gitu aja nerima.
Biar gw org Jawa, tetep aja ada yg aneh gitu…
So, gw janji sm Gusti, laen waktu gw pasti akan “soan” ke sana. Krn gw tetep ingin ke sana lagi.
Semoga.

Tambah sore, tambah rame tempat itu. Kami pun segera beranjak krn udah mau jam 17.
Perjalanan satu jam menuju Yogyakarta ditempuh lagi.
Sampe Yogya, kami sepakat makan malam dulu.
Ke-idean deh buat makan di Wadjan-nya Domo. Langsung deh kami menuju ke sana.

70 Domo dan teman2nnya sdh siap ternyata. Dia rd kaget ngeliat gw ujug2 ada di sn hehe…
Supaya cpt, kami memesan makanan cpt aja. Semacam nasi goreng tp, versi baked gitu deh.        
Enak lho!
Beneran.           77
Murah lagi.

Berhubung agak terburu2, kita nggak bisa lama2 di sana. Pdhal Benny dan Romy msh betah. Tmpnya strategis buat ngenyangin mata jg sih… Betul nggak jek? Hihi…
Kelar makan di Wadjan, gw mampir ke kos Benny dulu buat ganti baju. Kos mrk itu ternyata gak jauh dari tmp acara. Nggak sempet mandi sih (ssstt…), tapi sedikit lebih segar lah.

nyambung yooo....

Oleh-oleh Yogya (siji)

Boro_1 

Ini oleh-oleh lain dalam perjalanan gw ke Yogyakarta kemaren. (selaen cape tentunya hehe…)

Gw berangkat dari Bdg jam 11 siang, 14 Oktober 2005,  bersama Yanti dan keluarga. Naek mini bus.
Waktu berangkat, gw udah lieur gak jelas gitu krn angkot menuju rumah Yanti bikin pusing. Mabok. Gw udah khawatir aja, jangan2 maboknya kebawa sampe dalam perjalanan ke Yk.
Untungnya enggak sih.
Selaen dijejelin sama vitamin, dibalur minyak kayu putih, dengan amat terpaksa, gw jg nggak bs nikmati pemandangan selama perjalanan krn…. Tidur!!!
Ya daripada nyusahin orang kan mending gw jaga diri aja deh dng tidur itu.

Sekitar jam 13, kami beristirahat di Rumah Makan Puja Seda Ciamis. Ini restoran Sunda gitu deh. Di halaman parkirnya, ada org yg jualan sandal Tasik.
Wuaaahhh…, kt Yanti, sandal yg akhirnya gw beli kalo di toko bisa jadi 30 ribu. Sementara di sn cm dijual 12.500 saja.
Gile yaaa…

Menjelang masuk Yk, kami berniat makan malam dulu krn udah jam 20. Tp berhubung gak tau lokasi mana yg bisa kami datangi, akhirnya langsung aja deh ke hotel di Jalan Sosrowijayan. Hotelnya bernama Oryza. Lebih mirip losmen kali ya.
Rame banget suasananya. Rame dng anak2 muda gitu deh. Tadinya gw curiga lg pada study tour.
Nah, pas lagi nurun2in barang, gw denger2 mrk itu ternyata crew-nya Rudy Sudjarwo yg sdg casting pemain film “9 Naga”. Welah…
Tapi, yg paling heboh ketika gw lg repot2nya nuruin barang, tiba2 ada seorang cewek ragu2 menegurku sambil nunjuk2 gitu.
Ih, hare gene, di tmp yg baru sekali ini aku injakkan kaki kok ya ada yg gw kenal jg ya?
Hebat bener…
Akhirnya setelah cewek itu berhasil mengingat, ternyata dia salah satu pembaca beraja!
Weladalah… Teman2nya yg laen menjadi saksi gmn dia berusaha mengingat2 tadi.

Hihi…, gw sih surpraise aja.
Si Beraja itu teh kayak bintang pelem aja yaaa… Penggemar fanatiknya banyak tersebar…

Setelah nelpon ke Rini, sepupu gw (si Kakak mau kawin bln dpn euy! Kaga kebayang si kembar itu jd penganten hihi…) gw mkn bareng Yanti dan keluarga.
Gw lupa di jalan apa. Pokoknya dr hotel belok kanan, belok kiri lg trus ada Rumah Makan Ye-ye.
Mengingat sdh malam, laper dan cape, kami sepakat mesen makan yg kira2 cpt saja.
Tercatat ada pemesanan 2 nasi goreng, 1 mie goreng dan 2 soto ayam. Minumannya jg standar deh. Es teh. (kalo di sana nggak perlu disebutin “es teh manis” krn mmg selalu disajikan teh manis).
Tapi, niat kami biar cepet makan rada tertunda ckp lama.
Kenapa?
Krn ternyata kokinya punya cara sendiri memasaknya.
Dia memasak pesanan tuh satu2!
Jd yg 2 nasi goreng itu, dia masak 1 dulu, baru berikutnya. Nggak langsung dua sekaligus.
Yo wis… sing sensoro la ya aku rek! Mesen mie gorengnya belakangan.
Nasib. Nasib.

Pulang ke Hotel ada Narimo dkk. Yanti nemenin sementara gw mandi dulu.
Narimo dkk ini yg bantu publikasi acr di Djendelo. Mrk nyebarin semacam pamflet gitu. Ktnya sih ada 2000 lmbr keseluruh toko2 buku.
Weks.
Kyk acara apa gitu…
But… terima kasih Narimo, Anton dan kawan2 di Youth Camp
Tetap semangat yaa…

Nggak lama, Bpk Benny sang promotor dan Romy temannya dateng.
Hihi… biar kalo di chat gw bs segitu hebohnya, waktu pertama kenalan itu, gw tetep grogi. Ya baru pertema kali ketemu gitu loh… Ada dong grogi2nya. Gw ngaku kok sm dia kalo grogi. Huuueeee…, norak banget gw ya? Abis… emang begono, gimane?
Untungnya Benny dan Romy nggak ikutan grogi.
Dua org sahabat itu, bisa gila jg ternyata.
Hehe…, seneng punya sahabat baru spt mereka.
(bkn cm krn urusan “sate” dan “sosis” aja yaaa…)

nyambung yooo...