Papaku berdasi
Hari-hari gini nih, hari-hari dimana anak sekolah memulai tahun ajaran barunya. Jalanan suka mendadak ramai dengan anak-anak sekolah yang memakain seragam baru.
Fira, keponakan tercintaku, anaknya Mas Tio, sudah jadi anak SMP sekarang. Puji Tuhan, Alhamdulilah, dia diterima di SMPN 5, salah satu SMP terkenal di Bandung. Padahal dulu-dulunya diragukan. Dibanding Nadin, adeknya, si Teteh Fira ini secara hasil nilai rapor selama ini sedikit di bawah adeknya. Jadi, Ayahnya pun nggak berharap banyak dia bisa masuk di Negri. Si Adek Nadin saja yang berani ngatain Tetehnya, "Ah, paling Teteh juga bakal balik lagi sama Nadin di Darul Hikam (sekolah mereka sejak TK). Tenang aja, Teh..."
Dan, ternyata Teteh Fira berhasil membuktikan dia mampu untuk membuktikan tantangan masuk ke sekolah negri. Sebagai Tante tercintanya, bangga dong keponakannya bisa begitu.
Tapi, yang pengen aku ceritakan hari ini bukan itu sebenernya.
Di depan kantorku itu, ada TK yang konon uang masuknya aja bisa 5-10 juta!
Bujubuneng... hehe... (kalo kata temanku, mending gua masukin langsung aja anak gue ke perguruan tinggi daripada ke TK dulu...)
Nah, hari gini nih, buat TK A alias kelas 0 kecil, adalah hari pertama mereka dilatih untuk nggak ditungguin orang tuanya. Biar orang tuanya suka nyuri-nyuri cara biar bisa nungguin, tetep aja susah untuk mengamati gerak gerik mereka. Alhasil, tangisan dan jeritan karena ditinggal Mama Papanya jelas banget terdengar di telingaku. Lha wong kantorku dan TK itu deketan banget.
Aku sih nggak masalah. Malah kadang jadi hiburan tersendiri. Habis suka lucu-lucu sih. Udah pipinya tembem, rada ndut, kulitnya putih jadi begitu dia nangis atau teriak, merah deh semuanya. Huaa... pengen nyubit.
Cuman, diantara kelucuan anak-anak itu, 1 hal yang bikin aku suka tertegun sekaligus terharu. Ini nggak ada hubungannya dengan mereka. Justru berhubungan dengan orang tua mereka.
Sekitar jam 10.00 WIB, waktunya anak-anak kelas A itu pulang sekolah. Nah, pas saat itu tuh orang tua mereka akan berkerubung di depan pintu sekolah. Kalo pas bubaran gini, segala macam jenis penjemput ada deh. Dari supir, baby sitter, Mama-mamanya (yg sering banget jadi bahan cuci mata karena dandanan mereka ya *wow* dan dapet julukan "macan" = mak-mak cantik) sampe..., yang ini nih yg tadi aku bilang bikin terharu: Papa mereka yang masih berdasi.
Kalo Mamanya jemput, itu biasa. Supir atau baby sitternya malah sudah sangat biasa. Tapi, kalo Papanya yang masih mengenakan dasi rapi, baju juga masih belum kusut dan terlihat sekali membagi waktu antara kerja dan menjemput anak (terlihat dari sibuk nelpon nyuruh ini itu, tapi begitu anaknya keluar menyudahi), kalau aku menjadi anaknya, aku pasti akan merasa senang dan bangga. Sesibuk apa pun Papaku ternyata masih mau meluangkan waktu untuk menjemputku. Uhhh..., ini pemandangan indah buatku.
Perkara nantinya belum tentu ada waktu lagi, momen awal-awal sekolah itu pasti punya kesan tersendiri. Setidaknya itulah salah satu cara supaya sang Papa yang sibuk bisa dekat dengan anaknya.
Jadi inget si kembar Lintang-Wahyu. Tiap pagi, ayahnya nggak lupa "pa-pung" alias mandikan mereka. Setelah mandi, pasti mereka bertiga akan nonton VCD lagu atau permainan anak-anak sambil makan pagi. Buat Koko, sang ayah, ini adalah tugas wajib yang nggak bisa ditinggalkan. Kalo mandi sore, Koko mengusahakan karena dia kan karena pulang kerjanya suka ga tentu. Paling Endah, sang istri, Ibu Lintang-Wahyu yang menggantikan.
Ahhh... senang ya dapat perhatian dari ortu gini. Meski mungkin dianggap kecil dan sepele.










Recent Comments